Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 166 Kebesaran Hati


__ADS_3

Wisanggeni menatap punggung Maharani, yang sedang menyiapkan perlengkapannya untuk kembali ke hutan tempat kerajaan ular berada. Dengan hati tidak tenang, Wisanggeni memperhatikan bagaimana perempuan muda itu bersiap-siap.


"Nimas Maharani..., apakah kamu tidak akan mengurungkan niatmu untuk meninggalkanku?" kata Wisanggeni perlahan. Mendengar perkataan dari suaminya, Maharani menghentikan aktivitasnya, perempuan muda itu kemudian membalikkan badan, dan berjalan mendekati Wisanggeni yang sedang duduk di pinggir dipan.


"Apakah Akang akan merasakan kehilangan Nimas..?" tanya Maharani dengan mata bersinar.


"Duduklah dulu di samping Akang.. Nimas!" Wisanggeni memegang pinggang perempuan muda itu, kemudian mendudukannya di sampingnya. Perlahan tangan Wisanggeni meraih tangan Maharani, kemudian mencium lembut punggung tangan gadis itu. Mendapat perlakuan lembut itu, tubuh Maharani menjadi bergetar. Mata perempuan itu langsung menyipit.., dan nafasnya menjadi memburu.


"Akang akan selalu merindukanmu Nimas.., bau harum tubuhmu, kelembutan kulitmu sudah menyatu dengan panca inderaku. Jika Akang boleh memilih, aku menginginkanmu untuk selalu berada di sampingku." kembali Wisanggeni berkata-kata yang membuat angan-angan gadis itu melambung tinggi.


"Nimas.. merindukan kata-kata ini selalu menghujani Maharani Akang." Maharani menatap netra suaminya, tanpa diminta, perempuan muda itu menempelkan bibirnya di bibir laki-laki yang sudah berhasil menjadi miliknya itu. Meskipun dia harus berbagi dengan Rengganis, dan sering merasa menjadi yang nomor dua dalam hubungan mereka, tetapi Wisanggeni tidak pernah melupakan tanggung jawab untuk menggaulinya.


Aroma percintaan tercium jelas di senthong kamar itu..., kedua bibir itu saling menyatu, saling melu**mat. Saliva keduanya saling tertukar..., seperti orang yang sedang kehausan, mereka meraup dahaga dari ciuman itu. Perlahan tangan Wisanggeni menyusuri wajah, telinga, dan berakhir di leher perempuan muda itu.


"Ugh.., ugh.., Kang Wis..sang.." de**sahan kenikmatan terlontar keluar dari bibir Maharani, saat tangan Wisanggeni memijat lembut dan meraba kedua bukit kembarnya, dan bermain di puncak kecil di atasnya. Kedua tangan Maharani diangkat dan dikalungkan di leher laki-laki itu, dan ciuman Wisanggeni mulai merambat turun ke leher dan berakhir di kedua mainan kenyal itu.


"Puaskan aku malam ini Nimas..!" bisik pelan suara Wisanggeni di telinga Maharani.

__ADS_1


Perempuan itu sudah tidak mampu lagi berbicara, nafasnya terengah-engah dengan mata yang terpejam. Dia hanya menerima dan menikmati perlakuan intim dan memabukkan dari suaminya itu. Kedua pasangan suami istri menghabiskan malam berdua, sampai di pagi hari.


********


Rengganis mendatangi Wisanggeni yang sedang mengusap punggung Singa Ulung dan Singa Resti, di depan griya tempat mereka tinggal. Perempuan itu tersenyum melihat suaminya tampak penuh perhatian dan penuh kasih sayang, mengusap punggung kedua binatang itu.


"Akang..., minumlah dulu, mumpung masih panas! Nimas bawakan seduhan serai dicampur dengan gepukan jahe." perempuan muda itu mengulurkan cangkir kepada suaminya. Wisanggeni melepaskan pegangan tangannya pada kedua binatang itu, kemudian menerima cangkir dari tangan Rengganis. Tanpa bicara, Wisanggeni langsung menyesap minuman itu. Kehangatan mengalir ke tenggorokan, dan perlahan turun ke perutnya.


"Duduklah disini Nimas..., ada yang akan beritahukan kepadamu!" setelah meletakkan  cangkir di atas dipan dari bambu, Wisanggeni menepuk tempat kosong di sampingnya. Sambil tersenyum, Rengganis mengikuti perintah suaminya. Perempuan muda itu perlahan duduk di samping Wisanggeni.


"Nimas.., Akang bermaksud untuk memberi tugas pada Singa Resti. Dengan sangat terpaksa, Akang harus memisahkan kedua binatang ini, karena Singa Resti akan aku tugasi untuk mengantarkan Nimas Maharani." ucap Wisanggeni pelan.


"Maksud Akang?" tanya Rengganis, karena memang perempuan itu belum diberi tahu, tentang rencana dari Maharani yang akan meninggalkan Perbukitan Gunung Jambu.


Wisanggeni kembali mengambil cangkir, dan meneguk minuman yang sudah hampir dingin itu sampai habis. Setelah cangkir itu kosong, laki-laki itu kembali meletakkan cangkir di tempatnya semula.


"Begini Nimas..., Maharani tadi malam sudah menyampaikan ke Akang. Perempuan itu minta ijin untuk mengunjungi kerajaan ular. Sejak  dia menjalin ikatan dengan  Akang, perempuan itu belum memberi tahu pada leluhur dan para sesepuh yang berada di  sana." ucap Wisanggeni mengawali kalimatnya.

__ADS_1


Rengganis menoleh dan memperhatikan suaminya dengan lebih perhatian. Tampak sedikit guratan kekecewaan terlihat di mata suaminya. Perempuan itu menghela nafas.. kemudian tersenyum kecut.


"Akang bermaksud untuk meminta Singa Resti untuk mengantarkan dan menemani Maharani. Meskipun Akang yakin, perempuan itu akan menolaknya. Tetapi bagaimanapun juga, Maharani sudah menjalin sebuah ikatan dengan Akang .. Nimas.., oleh sebab itu Akang juga harus bertanggung jawab padanya. Akang berharap, Nimas Rengganis menyetujui apa yang Akang usulkan." Wisanggeni melanjutkan kalimatnya. Laki-laki itu mengangkat telapak tangan Rengganis, kemudian menciumnya lembut di punggung tangan gadis itu.


"Nimas akan selalu mendukung dan menyetujui usul Akang. Bahkan, jika Kang Wisang menemani Maharani untuk mengunjungi keluarga dan leluhurnya di istana ular, Nimas tidak memiliki pilihan lain untuk menyetujuinya Akang. Ikatan kalian berdua bisa terjadi, bukan merupakan kesalahan Akang. Nimas memiliki andil di belakangnya, maka perlakukan juga Nimas Maharani selayaknya seorang istri." dengan arif, tanpa diduga Rengganis menyampaikan pemikirannya. Dari nada bicaranya, tidak ditemukan ada aura kecemburuan pada perempuan itu.


Wisanggeni terkejut mendengar tanggapan dari Rengganis, laki-laki itu tidak menyangka jika istrinya memiliki kebesaran hati untuk menerima dan meningkatkan harkat Maharani sebagai seorang perempuan dan juga seorang istri. Senyuman lembut terus ditunjukkan Rengganis, ketika tanpa sadar Wisanggeni melihat wajah perempuan muda itu kembali.


"Jujur Nimas..., jika Akang mengantarkan Nimas Maharani kembali ke istana ular. Bagaimana dengan Nimas Rengganis dan Chakra Ashanka?? Sepertinya Akang tidak akan bisa jika harus meninggalkan kalian berdua." ucap Wisanggeni.


"Akang..., baru kali pertama Akang akan bertandang, dan menunjukkan bakti seorang menantu pada keluarga keturunan manusia ular. Akang harus menunjukkan pada mereka, jika Akang memang layak untuk menjadi menantu pada keluarga itu. Untuk itu Akang..., Akang harus pergi dulu sendiri kesana, dan menceritakan tentang status Akang sebenarnya. Baru untuk lain waktu.., jika masih ada nafas dan kesempatan, Akang bisa membawa Nimas dan Ashan kembali berkunjung kesana." kembali dengan tutur kata yang halus dan ketegaran hati, Rengganis menyampaikan saran pada laki-laki muda itu.


Wisanggeni merengkuh tubuh Rengganis, kemudian memeluknya erat dan memberi ciuman di kening perempuan muda itu. Dengan pipi semburat kemerahan, Rengganis menyandarkan wajahnya di dada suaminya itu.


"Terima kasih Nimas.., atas luasnya hatimu seperti samudera biru." bisik Wisanggeni dengan suara bergetar.


*************

__ADS_1


__ADS_2