Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 465 Pertemuan


__ADS_3

Parvati segera melesat meninggalkan padhepokan perempuan tua itu. Tanpa tahu kemana tujuan yang akan didatanginya, Parvati seperti diarahkan oleh kekuatan menuju tempat keberadaan Wisanggeni dan Rengganis berada. Tanpa melihat apalagi mengamati keadaan sekelilingnya, gadis muda itu terus berlari dan melompat. Kekuatan Parvati melonjak tajam, meskipun belum lama berlatih dengan perempuan tua itu, kekuatan meringankan tubuh  terlatih dengan baik.


"Siapa gadis muda yang barusan melintas di tempat ini kakang.., apakah kakang melihatnya.." tiba-tiba di tempat yang menjadi tempat perlewatan Parvati, ada dua laki-laki muda yang tersentak melihatnya melompat dan berlari cepat,


"Aku juga melihatnya rayi.. namun tidak begitu jelas siapakah gadis itu, dan untuk apa melesat secepat itu melewati tempat ini. Seperti ada sesuatu yang dikejarnya.. Bagaimana Rayi.. apakah kamu tertarik untuk mengejarnya, dan siapa tahu dapat berkenalan dengan lebih dekat.." laki-laki yang lebih tua menggoda laki-laki yang bertanya kepadanya. Laki-laki yang lebih muda itu tersenyum sedikit malu, namun kemudian mengangkat kembali wajahnya ke atas.


"Hanya penasaran saja kakang.. bolehkan jika rayimu ini penasaran untuk mengenal seorang gadis. Karena gadis yang barusan melintas itu, sepertinya bukan merupakan gadis sembarangan kakang. Dari caranya berlari dan melompat, ada kekuatan tenaga dalam yang kuat dalam setiap langkah kakinya. Rayi mau.. jika gadis itu berkenan untuk berkenalan denganku.." akhirnya tanpa malu, laki-laki yang lebih muda itu mengakui perasaannya.


Laki-laki yang lebih tua itu tersenyum, kemudian berdiri dan menepuk pelan punggung laki-laki muda itu tiga kali. Sepertinya, laki-laki itu ingin mewujudkan apa yang menjadi keinginan dari adik laki-lakinya itu.


"Ayolah ikuti kakang segera.." laki-laki yang lebih tua itu segera melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu.


"Sebentar kakang.. akan kemanakah kakang pergi. Tunggu Rayi kakang.." laki-laki yang lebih muda itu bergegas berdiri, mengikuti kakangmasnya itu.


"Di tempat sepi, kita akan mengikuti gadis muda itu. Kakang yakin, meskipun kecepatannya sangat tinggi, namun dari langkah kakinya, menunjukkan jika gadis itu sudah merasa sangat capai, Kakang berani untuk mengatakan, jika tidak lama lagi.. gadis muda itu akan berhenti untuk beristirahat. Kamu bisa mendekatinya, dan menawarkan air minum kepadanya.." sambil terus melangkahkan kakinya, laki-laki yang lebih tua itu menjelaskan apa yang akan dilakukannya.

__ADS_1


Laki-laki yang lebih muda itu tersenyum, kemudian keduanya mempercepat langkah mereka. Setelah melihat jika di sekitarnya tidak ada orang yang lalu lalang, keduanya segera berlari dan melompat mengejar Parvati.


*********


Sejak tadi mengeluarkan kekuatannya untuk melompat dan berlari, Parvati akhirnya merasa kelelahan. Gadis muda itu kemudian menghentikan langkah kakinya, namun ternyata Parvati salah perkiraan. Kali ini, ternyata Parvati berhenti di tengah hutan lebat, tidak ada kedai yang menjual makanan ataupun minuman. Terlalu asyik menikmati perjalanan, karena ingin segera menemui kedua orang tuanya, Parvati terlupakan untuk berhenti di kedai.


"Sepertinya aku salah perhitungan, dan tidak berpikir jika akan masuk ke dalam hutan lagi. Sejak pagi dari tempat Eyang, aku belum sempat mengisi perut baik dengan minuman ataupun makanan. Saat ini, barulah aku merasakan lapar dan haus... AKu harus mencari sumber mata air di hutan ini, jika ingin mengisi perutku dengan air.." Parvati bergumam sendiri, satu tangannya mengusap perutnya yang sudah mulai terasa melilit.


Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu, namun tidak menemukan keberadaan mata air di tempat itu. Menengadahkan wajah ke atas, untuk melihat apakah ada buah-buahan yang ada di atas pepohonan, juga tidak berhasil ditemukannya.


Baru beberapa langkah Parvati meninggalkan tempatnya berada, tiba-tiba di depannya sedang berjalan menuju ke arahnya, dua laki-laki muda. Melihat cara berpakaian, dan kulit bersihnya sepertinya dua laki-laki muda itu bukan berasal dari warga masyarakat biasanya. Mereka terlihat seperti terpelajar, dan berasal dari golongan ekonomi yang lebih tinggi. Parvati ingin menghindar, gadis muda itu memundurkan langkah kakinya ingin berlalu pergi dari tempat itu, tapi...


"Kenapa tergesa-gesa Nimas.. apakah ada yang bisa kami berdua bantu.." dengan nada sopan, kedua anak muda itu bertanya pada Parvati.


Parvati merasa bingung, ketika menoleh ke belakang memang tidak ada orang lain selain dirinya, Parvati baru menyadari jika kedua laki-laki muda itu sedang menyapanya.

__ADS_1


"Maaf jika kedatangan kami berdua mengejutkanmu Nimas.. kami lihat sepertinya Nimas sedang dalam keadaan kelelahan. Jika Nimas ingin menemukan mata air, tempat ini sangat jauh Nimas.. Jika berkenan, mungkin Nimas bisa berkenan menerima air minum kami berdua.." laki-laki yang lebih muda memberikan tempat air minum dari sebuah bumbung yang sudah dihaluskan.


Parvati merasa ragu untuk menerima bumbung itu, dan sepertinya kedua laki-laki muda itu memahami sikap kehati-hatian yang ditunjukkan oleh mereka, Laki-laki itu kemudian membuka bumbung, kemudian meminum air di dalamnya secara langsung di depan Parvati. Melihat kesegaran air yang mengalir di mulut laki-laki muda di depannya itu, tenggorokan Parvati seakan ikut bergerak-gerak.


"Sangat segar sekali Nimas.. air ini tidak beracun, dan kami juga tidak membubuhkan apapun dalam minuman ini. Tetapi itupun jika Nimas bersedia menerimanya, jika tidak.. kami akan segera berlalu dari tempat ini.." laki-laki muda itu kemudian menutup kembali bumbung tersebut,


Tidak diduga, Parvati langsung merampas bumbung tersebut dari tangan laki-laki itu. Kedua laki-laki muda itu melihat Parvati yang segera membuka bumbung, kemudian meminum air di dalamnya sampai habis. Laki-laki itu tersenyum melihat sikap Parvati..


"Rupanya Nimas sangatlah haus.. sampai tanpa bicara sudah menghabiskan minuman ini.." laki-laki muda itu berkata dengan nada sarkasme, dan Parvati tersenyum malu.


"Maafkan sikap lancangku kakang.. jujur kang. Sudah sejak tadi, Nimas merasa haus. Terakhir kali, tadi malam Nimas merasakan kesegaran air minum.." merasa malu dengan sikap dan tingkah lakunya, Parvati meminta maaf pada dua laki-laki di depannya itu.


"Tidak masalah Nimas.. kebetulan kita bisa bertemu di hutan ini. Kebetulan kami berdua sedang merasa lapar, dan tadi kami sempat menemukan buah-buahan tapi belum sempat untuk menikmatinya. Kalau kita menikmatinya bertiga, sepertinya akan lebih seru.." laki-laki yang lebih tua mengeluarkan beberapa buah-buahan segar dari dalam kepisnya. Air liur Parvati kembali hampir menetes melihat ranumnya buah-buahan yang ada di tangan laki-laki itu.


*********

__ADS_1


__ADS_2