
Chakra Ashanka mendekati Parvati yang tengah duduk berdampingan dengan Dananjaya dan Arya. Sekar Ratih masih terlihat sibuk menyajikan makanan dengan ditemani Ayodya Putri. Mereka menangkap seekor kancil yang melintas, kemudian membuatnya menjadi daging bakar. Harusnya suasana seperti itu merupakan hiburan untuk mereka dapat berkumpul dengan banyak anak muda, namun keadaan yang membuat suasana di tempat itu menjadi hening,
"Nimas Parvati.. apa yang terlintas dalam pikiranmu untuk kembali menyadarkan ayahnda dan ibunda Nimas.." dengan suara pelan, Chakra Ashanka bertanya pada adiknya.
Arya dan Dananjaya menggeser tempat duduknya, mereka memberikan kesempatan kedua saudara itu saling bertukar pikiran. Sesekali mereka memainkan batang rumput kering dengan menggigit-gigitnya, sambil mengarahkan pandangan mata mereka ke depan.
"Parvati kurang paham kakang.. tadi sekilas muncul gagasan yang melintas dalam pikiran Parvati. Setelah malam menjelang, Parvati berencana untuk mengalirkan energi dan kekuatan pada mereka kakang.. Nanti Parvati harap, kakang bisa membantu." gadis muda itu menjawab pertanyaan kakangmasnya. Terlihat dan nampak jelas gurat kesedihan terpahat di wajah cantik Parvati.
"Jangan pikirkan itu Nimas.. kakang pasti akan mendukungmu. Hanya saja.. menurut cerita dari ayahnda di waktu dulu.." tiba-tiba Chakra Ashanka menghentikan perkataannya.
Parvati menunggu kakangmasnya menyelesaikan kalimatnya, kemudian gadis itu menolehkan wajah dan melihat ke arah kakangmasnya.
"Maksud kakang, cerita tentang apa.." dengan perasaan ingin tahu, Parvati bertanya pada Chakra Ashanka.
Keadaan seperti ini pernah dialami oleh ayahnda, jauh sebelum ayahnda dan ibunda melangsungkan sebuah ikatan. Namun kala itu, ibunda Maharani yang berhasil memulihkan keadaan ayahnda. Entah menggunakan kekuatan apa yang digunakan untuk membuat ayahnda sadar kala itu.." Chakra Ashanka menghentikan ceritanya. Karena memang hanya itulah, yang masih teringat di kepalanya.
Parvati terdiam, mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh kakandanya. Gadis muda itu mengaitkan, kenapa ibundanya Maharani yang bisa memulihkan kondisi ayahndanya, terkait dengan proses regenerasi seekor ular atau naga. Setiap beberapa waktu sekali, seekor ular ataupun naga akan berganti kulit. dan membuang kulit lamanya.
__ADS_1
"Apakah teknik seperti itu yang digunakan oleh ibunda Maharani untuk menyembuhkan ayahnda.. Parvati.. kamu adalah keturunan dari ibunda Maharani. Tunjukkan jati dirimu sebagai seorang gadis keturunan manusia ular. Pikirkan caranya.." dalam sudut hatinya, Parvati merasa satu sisi hatinya mengajaknya berbicara seperti itu.
"Jangan konyol Parvati.. kamu hanya sebagian mendapatkan keturunan dari manusia ular. Sebagian tubuhnya berasal dari manusia murni Parvati.. jangan hancurkan dirimu dengan pikiran konyol seperti itu.." bagian hatinya yang lain melarangnya untuk berpikir bagaimana menyembuhkan ayahndanya.
Lumayan lama, gadis muda itu bergolak dalam perasaanya. Satu sudut hati menginginkan dia segera memberikan pertolongan pada kedua orang tuanya, namun sudut hatinya yang lain seakan menolaknya. Hal itu tidak mutlak hanya menjadi tanggung jawabnya sendiri.
"Apa yang kamu pikirkan Nimas.. apa ada yang merisaukan hatimu.." tiba-tiba Parvati dikagetkan dengan suara Dananjaya. Laki-laki muda itu menepuk punggungnya tiga kali, kemudian mengusap-usap ke bawah dan ke atas beberapa kali. Meskipun terkejut, namun muncul perasaan nyaman dalam hati gadis itu, seakan saat ini ada yang siap untuk memberinya penyelesaian masalah.
"Aku bingung kang Danan.. apa yang harus Nimas lakukan.." dengan mata yang berair, gadis muda itu bertanya pada Dananjaya.
"Jika ada pertentangan dalam hatimu Nimas.. ingat mereka berdua adalah orang tuamu. Ada kewajiban seorang anak yang sering dalam pepatah dikatakan harus "mikul dhuwur mendhem jero..", dimana untuk bisa menghargai orang tua kita setinggi-tingginya. Untuk itu.. jika Nimas merasa mampu.., lakukan kewajibanmu. Aku dan kang Arya akan membantumu Nimas.. jangan khawatir." dengan suara pelan meneduhkan, Dananjaya memberikan nasehat pada Parvati.
*********
Malam Hari
Ketika semua orang yang ada di puncak bukit itu sudah berada dalam mimpi di peraduannya, Parvati dengan ditemani Dananjaya dan Arya berjalan mendekati tempat Wisanggeni dan Rengganis dibaringkan. Senyuman diberikan Parvati, sambil mengusap wajah kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Ayahnda.. ibunda.. ijinkan putri kalian Parvati.. untuk menunaikan salah satu tugas sebagai putri kalian." Parvati berucap pelan.
Kemudian tanpa bicara, Arya dan Dananjaya menggeser tubuh pasangan suami istri itu agar sedikit menjauh, dan menyisakan tempat untuk satu orang lagi di tengah keduanya. Setelah mereka selesai melakukannya, Arya dan Dananjaya menatap pada Parvati.
"Apakah Nimas sudah siap untuk bersemedi sambil menyalurkan tenaga dan kekuatan Nimas.." dengan suara pelan, Dananjaya bertanya pada gadis muda itu. Parvati mengangguk, kemudian berdiri dan berjalan dengan dibantu oleh Dananjaya. Tubuh Parvati ternyata menyusup ke tengah-tengan antara Wisanggeni dan Rengganis. Perlahan Parvati membaringkan tubuhnya.
"Sudahkan kamu siapkan hati dan perasaanmu Nimas.. kedua orang tuamu, sangat berharap sekali kepadamu." ucap Dananjaya memastikan. Setelah mendengar kesanggupan Parvati, perlahan laki-laki muda itu menarik sehelai kain dari dalam kepisnya, kemudian menggunakannya untuk menyelimuti Parvati dan kedua ornag tuanya. Hati Parvati menghangat mendapat perlakuan-perlakuan kecil perhatian yang diberikan oleh laki-laki muda itu.
Tidak lama kemudian, Parvati memejamkan matanya. Kedua tangan gadis itu merangkul punggung kedua orang tuanya, dan perlahan kabut berwarna ungu muda keluar mengalir dari tubuh Parvati. Arya dan Dananjaya kemudian mengambil posisi bersiap, keduanya duduk bersila, masing-masing berada di sebelah tubuh Wisanggeni dan Rengganis.
"Ups.. ukh..." perlahan Parvati mengatur pernafasan dan tenaga dalamnya. Di dalam hati gadis muda itu, perlahan membuat sebuah isyarat memanggil keberadaan ular yang ada di wilayah tempat itu. Tidak lama kemudian, puluhan ular datang menghampiri mereka.
Arya dan Dananjaya terkejut melihat penampakan ular-ular itu, dan ketika Dananjaya akan menarik pedang dari dalam kepisnya untuk mengusir binatang itu, tiba-tiba Parvati menahan tangannya. Akhirnya Arya dan Dananjaya saling berpandangan. Dengan pandangan geli dan ketakutan, kedua laki-laki muda itu melihat dengan mata mereka sendiri, puluhan ular itu membelit tubuh Wisanggeni dan Rengganis. Sementara itu kabut ungu terus mengalir dari tangan Parvati.
"Rayi.. kita alihkan perhatian kita saja. Sepertinya Nimas Parvati sudah mulai kesulitan menyalurkan tenaga dan kekuatannya. Kita bisa membantunya, fokuskan pikiranmu.." tiba-tiba Arya meminta Dananjaya untuk lebih fokus.
Tanpa menjawab, Dananjaya kemudian kembali duduk bersila. Demikian juga dengan Arya, keduanya segera menngangkat kedua tangannya ke depan, kemudian menangkupkan tangan-tangan mereka dengan posisi saling menempel, tepat berada di atas dada Parvati. Tidak lama kemudian, kabut energi dan kekuatan muncul di tangan kedua laki-laki muda itu, kemudian merambat turun dan bergabung dengan energi yang dikeluarkan oleh Parvati. Hal seperti itu terus berlangsung, tanpa ada satupun dari ke empat anak muda yang tengah tertidur itu tahu.
__ADS_1
************