Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 205 Berkumpul Kembali


__ADS_3

Wisanggeni membungkukkan badannya, laki-laki itu memeluk erat tubuh Chakra Ashanka, dan tatapannya memandang wajah Rengganis yang sangat dirindukannya. Melihat apa yang dilihat di depannya, Rengganis seperti belum mempercayai pandangannya itu. Perempuan muda itu mengucek kedua matanya, dan ketika membuka matanya lagi, ternyata Rengganis masih melihat laki-laki itu di depan matanya.


"Nimas.., Ashan putraku... aku kembali." dengan suara tercekat, Wisanggeni berbicara lirih. Dengan cepat Rengganis berjalan mendatangi suaminya, dan ketiga orang itu berpeluang erat.


Rengganis tidak dapat mengendalikan perasaannya, kebahagiaan hatinya dapat melihat dan menyentuh kembali kulit Wisanggeni, tidak dapat menghentikan tangis kebahagiaan. Dengan sigap, Wisanggeni menghapus air mata di pipi perempuan muda itu.


"Maafkan akang Nimas..., akang terlambat untuk kembali ke padhepokan ini." Wisanggeni perlahan melepaskan pelukan pada kedua orang itu, dengan terbata laki-laki itu mengakui kesalahannya.


"Tidak apa Akang..., yang penting akang sudah kembali lagi untuk menemui kami berdua." dengan perasaan haru, Rengganis menanggapi perkataan yang diucap suaminya itu.


"Ashan sudah semakin besar..., sudah menjadi penjaga dan pengawal dari ibunda ya?" dengan suka cita, Wisanggeni menatap wajah putra laki-lakinya. Melihat putranya bertambah besar, muncul penyesalan di mata laki-laki itu. Wisanggeni merasa kehilangan waktu untuk mengawal dan mengawasi tumbuh kembang putranya itu.


"Kenapa ayahnda sangat lama meninggalkan ibunda sendiri di padhepokan ini?? Untungnya banyak yang datang membantu ibunda untuk membesarkan perguruan ini ayah.. Ayahnda bisa melihat sendiri bagaimana keadaan perguruan ini sekarang." seperti menghakimi, kata-kata Chakra Ashanka meluncur dengan derasnya. Wisanggeni hanya diam dan tersenyum kecut, tidak berusaha untuk membela diri. Laki-laki itu menyadari kesalahan besar yang sudah dia perbuat pada keluarganya.


"Ashan..., biarkan ayahnda istirahat dulu nak..! Bisakah putra ibunda membantu untuk menyiapkan minuman panas untuk ayahnda?" berusaha menjaga perasaan suaminya, Rengganis memberi putranya itu pekerjaan.


"Ya ibunda.., Ashan akan segera menyiapkannya. Tunggu sebentar ayah.." dengan sigap, Chakra Ashanka langsung berlari keluar dari dalam senthong. Melihat kegesitan putranya itu, dan tubuhnya yang sudah bertambah besar, Wisanggeni melihatnya dengan hati bahagia.

__ADS_1


"Terima kasih Nimas..., kamu sudah merawat putra kita dengan sangat baik. Juga saat akang memasuki wilayah perbatasan, rasa keterkejutan melihat wilayah ini tidak bisa aku tutupi. Ternyata padhepokan peninggalan Guru Ki Cokro Negoro sudah berkembang sedemikian majunya. Tidak ada andil sedikitpun dariku Nimas.., terima kasih." dengan rasa haru, Wisang mengucapkan terima kasih pada Rengganis.


"Itu sudah menjadi kewajiban Nimas.. Akang. Di saat suami akang menjalankan tugas yang lebih penting, maka Nimas harus menjaga dan memajukan tinggalan itu." mendengar perkataan itu, Wisanggeni merasa tersindir. Laki-laki itu seperti diingatkan jika dia sudah mengabaikan kehidupan dengan Rengganis dan Chakra Ashanka, dia lebih mengutamakan tuntutan persyaratan dari para sesepuh suku ular.


"Apa yang akang pikirkan?" melihat suaminya terdiam dan merenung, Rengganis bertanya pada Wisanggeni. Perempuan muda itu berjalan mendekat pada suaminya, dan Wisanggeni langsung memegang tangan Rengganis dan mendudukkan perempuan muda itu di pangkuannya.


"Akang merasa bersalah pada kalian Nimas.., padamu dan juga kepada Ashan. Bahkan peninggalan gurupun tanpa sadar juga Akang lupakan, sangat besar rasa bersalahku padamu Nimas.." Wisang mengambil tangan Rengganis, kemudian memberi ciuman di punggung tangan gadis itu. Pasangan suami istri itu saling berpandangan, dan tiba-tiba Chakra Ashanka masuk membawa sebuah Bali dengan tiga cangkir kayu di atasnya.


*****


Malam itu, Wisanggeni menghabisi waktu bertiga dengan istri dan putranya. Mereka sama sekali tidak keluar dari dalam senthong, dan bahkan membiarkan Pangeran Abhiseka dan kedua pengawalnya untuk mengurus diri mereka sendiri. Ketiganya berbaring di tempat pembaringan yang sama, dengan kepala Chakra Ashanka di dada ayahndanya.


"Ashan..., jaga perkataan! Tidak boleh bertanya seperti itu pada ayahnda." dengan cepat, Rengganis memotivasi perkataan putranya. Perempuan muda itu kaget mendengar pertanyaan yang diajukan Chakra Ashanka.


"Biarlah Nimas.., putra kita sudah beranjak menjadi seorang pemuda. Dia harus tahu apa yang sudah dilakukan oleh ayahndanya, tidak ada yang akan aku sembunyikan." Wisanggeni menenangkan suasana.


"Akang melakukan tapa Brata di puncak semesta selama empat puluh hari Nimas, untuk mendapat esensi naga perak." Wisanggeni mengambil nafas panjang.

__ADS_1


"Puncak semesta..., bukannya perjalanan sangat sulit untuk menuju kesana Akang. Bahkan sepertinya Singa Ulung pun tidak akan bisa terbang untuk mencapai puncak gunung itu. Karena gunung itu hanya semacam mitos.." Rengganis menanggapi perkataan suaminya.


"Iya Nimas, benar apa yang sudah kamu katakan. Hampir dua purnama, waktu yang Akang habiskan untuk dapat mencapai ke puncak itu. Akhirnya setelah melalui perjuangannya yang panjang, Akang dengan ditemani Singa Ulung dapat mencapai puncak itu dan melakukan tapa Brata disana, dan akhirnya karomah dari esensi itu berhasil akang dapatkan." Wisanggeni menceritakan perjalanan untuk mendapatkan esensi naga perak pada Rengganis.


"Esensi itu memiliki kegunaan untuk meningkatkan kekuatan seseorang. Bahkan bayi yang baru lahir saja, akan memilih manfaat jika ibundanya mengkonsumsi esensi itu. Tetapi itu hanya mereka sebuah cerita yang Nimas dapat dari ayahnda. Untuk apa Akang mencarinya, dan bahkan berusaha untuk memilikinya?" dengan tatapan yang menuntut penjelasan, Rengganis mengejar pertandingan pada laki-laki itu.


Wisanggeni tersenyum masam, laki-laki itu melihat ke arah putranya. Ternyata tanpa mereka sadari, cerita Wisanggeni membuat anak laki-laki itu tertidur. Dengan penuh rasa cinta, Wisanggeni memindahkan kepala putranya ke sebuah bantal. Rengganis menyelimuti tubuh putranya, dan tersenyum menatap wajah putranya itu.


Setelah memastikan putranya tidur dengan nyaman, Wisanggeni meraih kepala istrinya. Dengan lembut, laki-laki itu menyandarkan kepala Rengganis di dadanya, sama seperti Chakra Ashanka tadi.


"Nimas.., sekali lagi maafkan Akang! Hal.ini bukan berarti Akang mengabaikan Nimas dan putra kita." ucap Wisanggeni pelan.


"Apa yang Akang maksud?" tanya Tenggara bingung. Kedua mata pasangan ini bertatapan, dan sebuah kecupan di kening Rengganis diberikan oleh Wisanggeni. Perempuan muda itu tersenyum malu, tetapi karena ada putranya di dalam kamar ini, pasangan itu menunda ha**srat mereka untuk menyatu.


Wisanggeni kemudian kembali menceritakan tuntutan dari para sesepuh kaum ular, sebagai syarat menjadikan Maharani sebagai istrinya. Dengan takjub, Rengganis mendengarkan cerita suaminya itu tanpa memotong sedikitpun.


"Sampai segitunya cobaan yang harus akang jalani untuk menunjukkan tanggung jawab pada kekuatan Maharani." tampak prihatin, Rengganis menanggapi cerita dari suaminya itu.

__ADS_1


"Tapi jangan khawatir Nimas...,. aku menyisakan lima butir pil dari esensi naga perak untuk keluarga kita." tangan Wisanggeni mengambil sebuah botol porselin dari dalam kepis, dan menyerahkannya pada Rengganis.


********


__ADS_2