
Kelima saudara yang sedang berhadapan dengan Maharani saat ini, terlihat menyukai apa yang mereka lihat saat ini. Mereka merasa mendapatkan lawan yang sepadan saat ini. Ketika mereka bertarung dengan warga desa, tidak ada satupun dari mereka yang memberikan perlawanan yang berarti. Warga desa lebih banyak berteriak kemudian bersembunyi atau melarikan diri. Kelima saudara itu tidak mempedulikan luka-luka yang mereka peroleh dari serangan yang dilakukan perempuan muda itu.
"Ha.., ha..., ha..., baru kali kita mendapatkan lawan yang mumpuni. Mari kita berpencar, kita akan mengecoh perempuan ini. Dan akan kita lihat sejauh mana perempuan ini bisa bertahan." terdengar teriakan bercampur dengan suara tawa keras salah satu dari mereka. Mendengar teriak itu, kelima orang kembali memposisikan diri mereka. Satu orang berhadapan langsung dengan Maharani, masing-masing satu di kanan kiri perempuan itu, dan dua lainnya berada di belakang.
Mata Maharani berkilat mendengar tertawa sombong orang-orang itu, Dengan penampilannya kali ini, sisi-sisi keibuan yang ada di diri perempuan itu musnah sudah. Rasa haus untuk menghabisi lawan, tampak tergambar jelas di mata dan sikap yang ditunjukkan perempuan itu sekarang.
"Ssshhh..., ssshhh... bersembunyilah keparat. Apakah kalian berpikir, dengan berpencar mengitari tubuhku, kamu akan bisa menyelamatkan diri kalian semua. Saat ini akan menjadi akhir dari kehidupanmu, kamu salah telah memilih lawan kali ini." dengan lidah menjulur keluar, Maharani berbicara pada kelima orang itu.
"Terlalu banyak bicara kamu.... terimalah ini, lima kekuatan putar bergeraklah..." begitu terdengar teriakan dari kelima orang itu, tubuh kelimanya berputar-putar menjadi satu mengelilingi Maharani, dengan kecepatan yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
Maharani sedikit pusing menyaksikan kecepatan putaran itu, tetapi perempuan itu segera menutup matanya, dan memusatkan perhatiannya pada fokus pertempuran. Beberapa saat, kemudian..., Maharani mengibaskan ekornya ke arah kelima orang itu. Tubuh perempuan muda itu mengikuti putaran kelima orang tersebut dengan kencang. Tanpa mereka ketahui, Maharani mencampurkan bisa naga di ekor yang dia pergunakan untuk menebas kelima orang itu.
"Aaaaaw....." terdengar jeritan pilu dari orang-orang itu. Warna biru tiba-tiba muncul di tubuh kelima orang itu.
"Kurang ajar.., racun apakah yang kamu berikan kepada tubuh kami. Berikan kami penawarnya..!" orang-orang utu berteriak kesakitan meminta penawar racun yang masuk ke dalam tubuh mereka.
__ADS_1
"Apakah kamu melihat aku ini seorang perempuan baik-baik, yang dengan mudah memberikan ampunan kepada orang-orang yang sudah dengan sadis menyakitinya. Terimalah racun itu yang akan menyiksa tubuhmu untuk beberapa hari. Aku masih berbaik hati padamu, aku tidak memberikan racun yang mematikan kepada kalian semua. Dalam beberapa hari, tubuhmu akan pulih seperti semula. Semoga kamu dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini." Maharani memberi peringatan kepada orang-orang itu. Perempuan itu memejamkan mata sejenak, dan setelah mengambil nafas panjang, penampilan dalam bentuk ular hilang seketika. Maharani sudah kembali menjadi seorang perempuan yang cantik.
"Jahanam kamu manusia ular.., bebaskan kami!" kelima orang itu berteriak menghujat Maharani.
Perempuan itu tersenyum, kemudian menatap mereka dengan tatapan sengit. Dia sudah berbaik hati memberi ampun pada orang-orang itu, agar mereka bertobat. Tetapi sepertinya keinginannya itu hanya merupakan khayalan perempuan itu semata.
"Aku menyesal tidak langsung membunuh kalian semua. Kalian tidak merasa, aku sudah memberi kalian hati, tetapi ternyata kalian menginginkan jantung." mata Maharani kembali berkilat dan bersinar tajam, menatap ke mata orang-orang itu. Melihat perubahan cepat pada ekspresi wajah perempuan itu, salah satu dari kelima orang itu memohon ampun pada perempuan itu.
**********
Setelah memberi ampun pada orang-orang itu, dan membiarkan mereka untuk pergi dari tempat itu, Maharani kembali mendatangi orang-orang yang terluka. Perempuan itu memberi isyarat dengan menggunakan tangannya, memberi tahu pada orang yang selamat dan dalam keadaan sehat, untuk memberi pertolongan pada teman-temannya.
"Jatmiko kemarilah...!" melihat salah satu murid perguruan yang berjaga di tapal batas, Maharani memanggil laki-laki itu untuk datang mendekat padanya.
"Iya Guru putri.., apa yang bisa Jatmiko lakukan untuk Guru putri" murid laki-laki itu langsung mendatangi ke tempat dimana Maharani berada.
__ADS_1
"Apakah masih ada tempat yang kosong untuk dapat menampung mereka?? Mereka warga desa yang tinggal di perbatasan dengan perguruan kita. Kerajaan mereka sedang kacau, terjadi perebutan kekuasaan untuk menggantikan posisi raja. Dan mereka menjadi korban akibat kekejaman dari mereka." Maharani menceritakan tentang keadaan orang-orang itu.
"Akan kami siapkan Guru putri. Kebetulan ada tempat penampungan sementara untuk keluarga murid yang berkunjung, atau mengantarkan anggota keluarganya ke perguruan kita. Mereka untuk sementara bisa menempati tempat tersebut." Jatmiko segera menanggapi perkataan perempuan itu. Setelah berpamitan dengan Maharani, laki-laki itu segera berjalan meninggalkan perempuan itu. Untuk sementara, Maharani duduk dan menyandarkan punggungnya di tempat penjagaan yang ada di tapal batas tersebut. Perempuan itu belum bisa meninggalkan para pengungsi itu, sebelum mereka mendapatkan tempat yang layak untuk beristirahat.
Beberapa saat mengistirahatkan matanya di tempat itu, Maharani terlelap kelelahan. Perempuan itu tidak menyadari kedatangan Rengganis yang menggendong Parvati di pinggangnya. Rengganis menatap perempuan yang tertidur itu dengan tatapan prihatin.
"Apakah pantas seorang pemimpin yang menggantikan kang Wisanggeni tertidur di tempat ini Nimas Maharani?" Rengganis bertanya dengan suara lirih pada Maharani. Tetapi tingkat kewaspadaan yang tinggi pada perempuan itu, membuatnya dapat mendengar pertanyaan itu.
Maharani dengan cepat membuka matanya, dan menatap wajah Rengganis dengan sedikit malu. Apalagi putrinya Parvati melihatnya dalam keadaan tersebut.
"Nimas Rengganis..., Parvati.., apakah sudah lama kedatangan kalian di tempat ini?" sambil meluruskan punggungnya, Maharani kemudian berdiri dan menghampiri Rengganis dan putrinya. Tangannya terulur untuk meraih Parvati, tetapi anak kecil itu menolaknya.
"Biarkan Parvati bersamaku dulu. Anak ini mungkin takut dengan penampilanmu kali ini Maharani. Apa yang terjadi, kenapa kamu melakukannya sendiri, tanpa mengajak atau paling tidak memberi tahuku?" terdengar kembali suara Rengganis mengingatkannya.
"Iya Nimas Rengganis, penampilanku kali ini memang kurang layak dilihat oleh putriku. Aku terpaksa melindungi mereka Nimas.., mereka sudah tidak memiliki tempat tinggal." Maharani mengungkapkan alasan memberi pertolongan pada orang-orang itu.
__ADS_1
"Aku memahami apa yang kamu lakukan Nimas.., jika aku berada dalam posisimu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Tetapi yang terpenting kali ini adalah kita harus bersiap untuk menghadapi serangan balik dari mereka." ucap Rengganis,
************