Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 485 Aku akan Pergi


__ADS_3

Chakra Ashanka membawa Sekar Ratih untuk bertemu dengan Wisanggeni dan Rengganis. Meskipun pertemuan kali ini bukan merupakan pertemuan pertama kali, namun dengan keluarnya kata kesepakatan dari Sekar Ratih untuk mau bersanding dengan putra dari pasangan suami istri, membuat Sekar Ratih kehilangan rasa percaya dirinya. Chakra Ashanka tersenyum melihat sikap gadis muda itu, anak muda itu menggandeng tangan Sekar Ratih dan membawanya untuk bertemu kedua orang tuanya.


"Nimas Ratih.. kali ini bukan pertemuanmu yang pertama dengan ayahnda dan ibunda. Kenapa tiba-tiba saja Nimas merasa gugup.." Chakra Ashanka yang menggenggam tangan gadis itu, menggoda Sekar Ratih.


Sekar Ratih menoleh ke arah anak muda itu, dan wajah itu terlihat pucat. Kegugupan tampak jelas terlihat dalam sikap dan perilakunya,


"Tidak tahu kakang.. kenapa Nimas Ratih berubah menjadi gugup seperti ini. Padahal ini bukan kali pertama, Nimas bertemu dengan paman dan bibi. Bukankah selama ini Nimas Ratih tinggal dan hidup berdampingan bersama dengan beliau berdua.." Sekar Ratih menanggapi pertanyaan Chakra Ashanka.


"Tenanglah Nimas.. kakang akan membantumu jika kakang gugup di depan ayahnda dan ibunda." Chakra Ashanka semakin mengeratkan genggaman tangannya, kemudian segera mengetuk pintu kamar yang ditempati kedua orang tuanya beristirahat. Karena sebelumnya anak muda itu sudah mengatur janji dengan Wisanggeni dan Rengganis, sehingga Chakra Ashanka tidak merasa khawatir akan mengganggu kedua orang tuanya,


"Tok.. tok.. tok.." ketukan tiga kali di daun pintu kamar penginapan, menambah kegugupan Sekar Ratih.


"Masuk nak.. tidak dikancing.." begitu mendengar jawaban dari ibundanya, Chakra Ashanka mendorong pintu perlahan.


Sekar Ratih mengikuti anak muda itu di belakangnya, dan gadis muda itu bertambah gugup ketika melihat pasangan suami istri itu menatap mereka dengan senyum lebar di bibirnya.


"Masuklah Nimas Ratih.. duduklah disini dekat Bibi Nimas..." Rengganis yang menyadari kegugupan yang dialami gadis itu, mencoba menghilangkannya dengan mengajak gadis itu berbicara. Chakra Ashanka segera duduk di depan ayhndanya, kemudian tidak lama Sekar Ratih duduk di sampingnya.

__ADS_1


Pasangan suami istri itu tersenyum dan terus memandangi kedua anak muda itu. Sedangkan Chakra Ashanka yang melihatnya juga tersenyum, kemudian menoleh melihat pada Sekar Ratih.


"Ayah.. bunda.. ijin Ashan menyampaikan rencana bahagia untuk kami berdua.." akhirnya karena merasa kasihan dengan sikap salah tingkah Sekar Ratih, Chakra Ashanka memulai pembicaraan.


"Seperti yang sudah ayahnda dan ibunda bicarakan beberapa waktu lalu dengan Ashan, akhirnya Ashan sudah berani mengutarakan keinginan untuk memiliki Nimas Sekar Ratih. Beberapa saat yang lalu, Nimas Ratih sudah menyampaikan kesediaannya, dan berusaha untuk menghabiskan hidup di kemudian hari dengan Chakra Ashanka. Untuk itu.. kali ini Ashan mengajak Nimas Ratih.. untuk memohon restu pada ayahnda dan ibunda.." dengan tegas, Chakra Ashanka mengutarakan maksud kedatangannya pada kedua orang tuanya.


"Mmm.. ksatria sekali caramu meminang anak gadis orang Ashan putraku. Kali ini ibunda ingin memastikannya pada nak mas Nimas Sekar Ratih, apakah putraku memaksamu untuk bersama dengannya. Jangan takut Nimas, katakan semuanya, Paman dan bibi janji akan melindungimu.." dengan suara lirih, Rengganis bertanya pada Sekar Ratih.


Gadis muda itu terkejut mendengar pertanyaan dari Rengganis, Sekar Ratih tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Sekar Ratih malah menundukkan kepalanya ke bawah, merasa malu untuk menatap mata pasangan suami istri di depannya itu.


"Katakan Nimas Ratih.. apa ada yang kamu takutkan kepada kami?" dari samping istrinya, Wisanggeni turut mempertegas pertanyaan.


"benar paman.. bibi.., kang Ashan tidak berbohong. Kami sudah sepakat untuk menjalin suatu hubungan kedekatan, Nimas Ratih bersedia untuk menjadi pendamping hidup kang Ashan.." dengan muka bersemburat merah, Sekar Ratih mengiyakan perasaannya,


Semua yang duduk di dalam kamar itu merasa lega setelah mendengar Sekar Ratih berbicara mewakili perasaannya. Rengganis meraih tangan gadis muda itu kemudian menggenggamnya. Ketika Sekar Ratih akan kembali menundukkan wajahnya, dengan cepat tangan Rengganis memegang dagu gadis muda itu dan mengangkatnya kembali.


"Tidak perlu merasa sungkan dan malu Nimas Ratih.., pada saatnya semua orang akan melalui tahapan ini. Lihatlah Nimas Parvati.. usianya lebih muda dari usiamu bukan. Parvati juga sudah menetapkan Dananjaya untuk bersamanya mengarungi masa depan.." sambil tersenyum, Rengganis menenangkan Sekar Ratih.

__ADS_1


********


Merasa tidak nyaman dengan keadaan di sekitarnya, pada sore hari Ayodya Putri menemui Chakra Ashanka. Gadis muda itu telah berpikir, ketika dia masih berada di sekeliling Chakra Ashanka dan Sekar Ratih, dia merasa tidak akan dapat menghentikan perasaanya pada Chakra Ashanka. Untuk itu, setelah berpikir untuk beberapa wakti akhirnya gadis muda itu ingin kembali ke tempatnya berasal. Merasa rindu untuk bertemu kembali dengan keluarganya, menjadi alasan yang digunakan Ayodya Putri.


"Benarkan apa yang Nimas katakan kepadaku.. Jika benar, kakang juga tidak memiliki hak untuk melarang kepergianmu Nimas.. Namun juga tidak bisa untuk mengantarmu kembali. Bukankah Nimas Putri juga paham bukan, bagaimana urusan yang harus segera aku selesaikan.." Chakra Ashanka memberi tanggapan ketika Ayodya Putri berpamitan kepadanya.


"Benar kakang.. dan Nimas juga tidak meminta kang Ashan untuk mengantarkan Nimas kembali." sebenarnya terbersit rasa kecewa di hati Ayodya Putri, karena sedikitpun tidak terlihat anak muda itu melarangnya pergi, ataupun berbasa basi untuk mengantarnya. Namun begitu kembali mengingat posisi keberadaannya dalam keluarga ini, perlahan Ayodya Putri memupus rasa kecewanya sendiri.


"Ngomong-ngomong.. kapan Nimas Putri akan mulai berangkat meninggalkan kota ini. Kakang dan juga ayahnda serta ibunda, juga akan segera pergi dari kota ini. Karena arah kepergian Nimas ke arah wilayah barat, sama dengan kepergian ayahnda dan ibunda, bukankah kalian bisa berangkat bersama-sama." tiba-tiba Chakra Ashanka menawarkan perjalanan bersama dengan kedua orang tuanya.


"Tidak kakang.. sepertinya ada beberapa tempat yang masih akan Nimas kunjungi. Jadi.. kemungkinan besar, Nimas akan berangkat sendiri saja untuk kembali ke wilayah barat." dengan cepat Ayodya Putri membuat alasan untuk menolak.


"Baiklah kalau begitu Nimas.. kakang tidak akan melarang. Berhati-hatilah Nimas dalam perjalanan, kapanpun Nimas akan pergi dari kota ini. Apakah hanya itu saja Nimas.. yang akan disampaikan kepadaku. Jika sudah.. kakang masih akan melakukan kegiatan yang lain." tidak bermaksud untuk mengusir gadis muda itu, Chakra Ashanka bersiap untuk pergi,


"Pergilah kang.. sudah tidak ada lagi yang akan Nimas sampaikan.." dengan suara lirih, AYodya Putri menanggapi perkataan anak muda itu.


Tanpa berkata-kata lagi, Chakra Ashanka segera meninggalkan gadis muda itu. Sepeninggalan anak muda itu, Ayodya Putri menghapus air mata yang mulai menggenangi kelopak matanya. Dengan mengambil nafas panjang, kemudian mengeluarkannya kembali secara perlahan, Ayodya Putri telah menutup kembali perasaannya.

__ADS_1


**********


__ADS_2