Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 216 Penjara Bawah Tanah


__ADS_3

Dengan menundukkan kepala, Wisanggeni memasuki jalan menurun untuk menuju penjara bawah tanah. Laki-laki itu berusaha untuk menekan aura kesaktiannya, agar tidak dikenali oleh orang-orang yang berjaga disitu. Seperti yang  sudah dia perkirakan, para penjaga yang ditugaskan untuk mengamankan penjara tidak ada yang mengenalinya. Beberapa orang mengenakan pakaian dengan tanda pengenal janur kuning di pundak kanan, sama seperti yang saat ini ada di pundak kanannya sendiri.


"Hei apa yang kamu bawa?" tiba-tiba suara keras bertanya pada Wisanggeni. Laki-laki itu berhenti, menunggu orang tersebut datang ke depannya,


"Sepertinya ransum makanan kang, aku juga tidak tahu akan aku kemanakan ransum-ransum ini. Tadi aku hanya dicegat dan dipanggil penjaga yang ada di atas sana. Laki-laki itu memintaku membawakan ransum ini ke bawah tanah." dengan berpura-pura bukan penjaga di penjara bawah tanah, Wisanggeni meletakkan bawaan yang ada di kedua tangannya di atas batu.


"Go**blok kamu..., apakah kamu berpikir jika makanan ini untuk tawanan?? Makanan ini untuk kami yang berjaga di bawah sini. Kamu orang baru ya.., sudah berapa lama direkrut dan ditempatkan disini?" laki-laki berperawakan besar itu, segera mengambil satu bungkus makanan. Kemudian tanpa menawarkan pada Wisanggeni, mulai membukanya di depan laki-laki tersebut.


"Iya kang..., belum genap separo purnama, saya di bawa ke kerajaan ini. Jika boleh tahu, bedanya apa kang, penjara yang di bawah sini dengan penjara yang ada di atas." Wisanggeni mulai mengulik keterangan dari laki-laki tersebut. Untuk menghilangkan kecurigaan, Wisanggeni merapikan bungkusan makanan yang ada di depannya.


"Penjara bawah tanah ini untuk orang-orang yang dianggap penting.., sststt..., di pojok yang paling bawah, ada bekas raja kerajaan Laksa. Di sebelahnya berisi istri dari bekas raja tersebut... Jangan ceritakan pada siapapun, agar rahasia ini tidak tersebar..." sambil mengunyah, laki-laki itu menjawab pertanyaan Wisanggeni.


Mendengar jawaban tersebut, Wisanggeni pura-pura menganggukkan kepalanya. Dari arah bawah, terlihat dua orang berpakaian sama menuju ke arah mereka berada saat ini. Sepertinya, dua orang itu merupakan penjaga yang ditugaskan di area bawah sendiri.


"Woo.., wooo..., rupanya ransum kita sudah datang Sar... Ayo kita makan dulu.... dan kamu pengantar makanan. Sementara kamu gantikan tugas kami untuk berjaga di area bawah sana ya. Kami akan menikmati makanan dulu." dengan tidak sopan satu dari dua laki-laki itu, meminta Wisanggeni untuk menggantikan tugasnya dengan kata-kata kasar.


"Pergilah anak muda.., gantikan sementara orang-orang itu. Siapa tahu, suatu saat kamu akan ditugaskan di tempat itu. Sekalian untuk mengenali situasi dan kondisi di tempat tersebut." laki-laki yang pertama kali bertemu dengan Wisanggeni, langsung turut meminta pada Wisanggeni.

__ADS_1


Tanpa berdebat untuk menolak permintaan tersebut, Wisanggeni langsung berdiri kemudian berjalan ke bawah meninggalkan orang-orang itu.


"Haus..., hauss..., beri kami minuman.." terdengar suara lemah dari laki-laki yang ada di dalam salah satu bilik. Wisanggeni menoleh ke belakang, ketika menyadari jika para penjaga masih sibuk menikmati makanan, laki-laki merogoh kepisnya. Satu buah pil untuk mengembalikan kekuatan dan tempat air dalam botol kecil, dikeluarkan oleh laki-laki itu. Kemudian tanpa sepengetahuan penjaga yang lain, Wisanggeni memasukkan minuman tersebut lewat anyaman kayu yang ada di bilik tersebut.


"Terima kasih..., bukannya kamu adalah sahabat Pangeran Abhiseka..?" dengan mata berbinar, dan suara tercekat laki-laki yang ternyata Senopati kerajaan itu menatap tidak percaya pada Wisanggeni. Untuk menghindari kecurigaan penjaga, Wisanggeni meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya, memberi isyarat agar orang tersebut menutup mulutnya. Tidak berapa lama, Senopati tersebut memahami isyarat dari Wisanggeni, kemudian segera meneguk habis air yang sudah dicampur dengan pil tersebut.


"Jangan bergerak dulu.., tunggu aku! Aku akan membebaskan raja dan permaisuri dulu..!" bisik Wisanggeni, dengan menggunakan kekuatan auranya, tangan kanan laki-laki itu melepas segel yang mengunci pintu bilik tersebut. Senopati menganggukkan kepala,..


*********


Wisanggeni mencari tempat yang agak bersih, kemudian duduk bersila. Tetapi dari arah atas, dua penjaga yang tadi sedang menikmati makanan tiba-tiba berjalan turun ke arah Wisanggeni.


"Apa yang sedang kamu lakukan anak muda.., kembalilah ke tempatmu ditugaskan untuk berjaga. Aku akan menggantikan tugasmu." salah satu laki-laki itu, berkata pada Wisanggeni.


"Saya masih tertarik berada di tempat ini Kang.., apalagi di luar jujur saya merasa bosan, tidak ada tantangan sama sekali." Wisanggeni mencoba untuk mencari alasan agar dia masih dibolehkan berada di tempat ini.


"Hush.., hati-hati dengan nada bicaramu!! Kamu akan mendapatkan hukuman berat, jika jawabanmu diketahui oleh Kepala Pasukan." dua laki-laki itu sudah berada di dekat Wisanggeni. Tanpa diketahui oelh dua orang tersebut, Wisanggeni bergerak cepat, kemudian melakukan totok pada syaraf utama dua laki-laki tersebut. Tidak lama kemudian, dua laki-laki itu terkulai, dan dengan kakinya Wisanggeni mendorong merek perlahan.

__ADS_1


Setelah memastikan dua orang tersebu sudah tidak berkutik, dengan cepat Wisanggeni membuka aura batinnya. Dengan kekuatan Pasupati dan ilmu pembuka tabir, Wisanggeni menghilangkan dengan cepat kekuatan tabir pelindung untuk sementara. Beberapa saat kemudian, tabir pelindung keamanan mulai hilang, dan Wisanggeni segera membuka segel pengunci bilik raja dan permaisuri.


Di depan Wisanggeni tergeletak tubuh permaisuri yang sudah lemas kehabisan tenaga. Segera Wisanggeni memasukkan pil ke mulut permaisuri, dan tidak berapa lama, permaisuri mulai sadar dan membuka matanya.


"Si.., siapakah kamu..? Kenapa kamu menolongku..?" melihat wajah Wisanggeni, permaisuri terkejut. Untung Senopati tiba-tiba sudah berada di belakang Wisanggeni.


"Senopati.., bawalah dan jaga permaisuri. Aku akan membebaskan raja terlebih dahulu.." melihat Senopati, Wisanggeni berbagi tugas. Kemudian tanpa bicara, Senopati segera memapah permaisuri dan membawanya keluar bilik. Dengan sigap, Wisanggeni memasukkan penjaga penjara ke dalam bilik yang ditempati permaisuri. Merasa permaisuri sudah berada di tangan yang aman, Wisanggeni bergegas berjalan menuju bilik untuk mengurung raja.


Di bilik raja, Wisanggeni melakukan hal yang sama. Kemudian setelah membebaskan raja dan permaisuri, Wisanggeni mengeluarkan Singa Ulung dari dalam kepisnya.


"Ulung.., bawa raja  dan permaisuri ke pondhok di tengah hutan. AKu dan Senopati akan menghadapi penjaga di bilik penjara." ucap Wisanggeni sambil mengusap pelan kepala binatang itu.


Tangan Wisanggeni menepuk kaki atas bagian kanan binatang itu, dan tidak lama Singa Ulung sudah menjadi binatang singa dengan kedua sayap di kanan kirinya. Segera Wisanggeni menempatkan raja dan permaisuri di punggung binatang itu, kemudian pelan menepuk punggungnya. Tidak lama kemudian, Singa Ulung sudah melesat terbang keluar dari penjara bawah tanah.


"Penyusup..., penyusup..., kita hadang mereka, dan kejar binatang itu!" dari arah atas, suara keributan para penjaga terdengar bergema di seluruh ruangan itu. Senopati melirik ke arah Wisanggeni, kemudian menganggukkan kepala.


***********

__ADS_1


__ADS_2