Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 202 Bakal Janin


__ADS_3

Peramu obat untuk menciptakan ramuan yang dapat digunakan sebagai peningkatan bangkitnya kekuatan asli dari suku ular, membutuhkan waktu tiga hari untuk mengolahnya. Berbagai ramuan kuno yang disimpan di tempat rahasia, akhirnya dikeluarkan untuk menciptakan ramuan tersebut. Setelah tiga hari berlalu, dengan penampilan kusut dan kelelahan akhirnya peramu obat membuka pintu pondhoknya dan mengijinkan para sesepuh untuk masuk ke dalam. Dengan perasaan suka cita, akhirnya ketiga sesepuh suku ular segera mendatangi pondhok peramu obat.


"Begitu kusut penampilanmu rayi.., minumlah ini, kemudian istirahatlah dulu." salah satu sesepuh memberikan minuman jamur lingsi untuk mengembalikan stamina peramu obat tersebut.


"Aku menghabiskan waktu tiga hari tanpa istirahat, untuk menyiapkan ramuan bagi Ratu Maharani. Campurkan dengan minuman serai setiap menjelang malam, pada saat Ratu tidur.., obat itu akan memperkuat dan menambahkan  vitalitas untuk bakal bayi yang sudah dikandung Ratu. Kemungkinan Ratu Maharani belum menyadari sampai saat ini, jika dalam rahimnya sudah ada bakal penerus kerajaan dari suku ular. Kendalikan Ratu.., untuk tidak melakukan perjalanan jauh terlebih dulu, karena generasi penerus suku ular yang terpilih sudah ada di dalam rahimnya." tidak diduga, seperti seorang peramal, peramu obat memberi tahukan tentang kehamilan Maharani.


Jika ular biasa, mereka akan mengalami kehamilan selama kurang lebih empat setengah purnama, tetapi hal unik dialami oleh manusia dari suku ular. Dalam waktu dua warsa, manusia dari suku ular mempersiapkan rahim mereka sesudah dibuahi, dan membutuhkan waktu yang cukup lama sampai terbentuknya janin dalam rahim mereka. Mendengar perkataan dari peramu obat tersebut, ketiga sesepuh itu menerimanya dengan mata berbinar. Perasaan mereka untuk menyiapkan ramuan itu, ternyata langsung dapat mereka gunakan dalam waktu yang tidak begitu lama.


"Baiklah rayi..., istirahatlah dulu..! Aku akan memanggil Maharani, dan akan menyampaikan pesanmu dengan hati-hati. Semoga saja gadis itu bisa menerimanya, dan tidak membuat keonaran atau melarikan diri dan meninggalkan kerajaan ini." selesai berbicara, sesepuh itu mengambil ramuan yang sudah disiapkan oleh laki-laki rua tersebut. Kemudian mengajak dua sesepuh lainnya untuk segera meninggalkan pondhok peramu obat.


Sepeninggalan ketiga sesepuh suku manusia ular, peramu obat membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang terbuat dari kayu. Laki-laki tua itu akan membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk memulihkan kembali stamina dan tenaganya seperti sebelum membuat ramuan.


*********


Menjelang tidur, ketiga sesepuh mendatangi Maharani di peraduannya. Melihat kedatangan para sesepuh tersebut, timbul tanda tanya di benak Maharani, tetapi perempuan muda itu tidak bertanya pada mereka untuk menghormatinya. Hanya ketika salah satu sesepuh mencampurkan ramuan dari sebuah tempat kecil ke dalam gelas berisi air serai, Maharani menebak ramuan itu.

__ADS_1


"Apakah esensi naga perak sudah selesai diolah bersama dengan ramuan kuno suku manusia ular Eyang?" Maharani akhirnya bertanya pada sesepuh, saat melihat perempuan tua itu mengaduk ramuan itu dalam cangkir kayu. Tidak berapa lama, setelah memastikan ramuan itu tercampur dengan minuman serai, perempuan tua memberikannya pada Maharani.


"Benar apa yang kamu katakan Maharani, mulai saat ini setiap menjelang tidurmu aku akan memastikan jika kamu meminum ramuan ini. Hati-hatilah kamu membawa dirimu, sudah ada bakal janin di rahimmu. Kamu harus menjaganya dengan sangat baik, dan memastikan akan lahir generasi penerus suku manusia ular yang pilih tanding di rahimmu." akhirnya sesepuh itu memberi tahu Maharani. Mendengar perkataan itu, Maharani seperti tidak percaya. Tetapi untuk tidak mengecewakan para sesepuh itu, dengan segera perempuan muda itu menerima cangkir dan meminum air di dalamnya sampai habis.


Begitu minuman itu masuk ke perutnya, Maharani merasakan ada sedikit pergolakan di dalam perutnya, hingga perempuan muda itu harus mengusap dan mengambil nafas dalam. Setelah beberapa saat, Maharani mengusap perutnya, pergolakan yang terjadi akhirnya sudah mereda. Para sesepuh melihat pada Maharani dengan penuh keprihatinan, karena mereka sendiri belum pernah merasakannya. Maharani sebagai perempuan muda yang beruntung, yang bisa merasakan ramuan esensi naga perak itu.


"Bagaimana rasanya Maharani, apa yang kamu rasakan setelah meminum ramuan itu?" dengan khawatir sesepuh bertanya pada Maharani, setelah melihat perempuan muda itu sudah mampu menguasai perasaannya kembali.


"Hanya ada sedikit rasa ketidak nyamanan di dalam perut Eyang. Seperti ada sesuatu yang bergolak di dalam perut, saat minuman tadi masuk melalui kerongkongan." dengan tersenyum masam, Maharani menceritakan apa yang dia rasakan setelah meminum cairan tadi.


"Baik Eyang..., ijin cucu tidak mengantarkan eyang bertiga sampai di luar." sambil memegang perutnya Maharani menjawab perkataan ketiga sesepuh itu.


Para sesepuh segera berjalan keluar meninggalkan senthong Maharani, dan menutup pintu dari luar. Sepeninggal para sesepuh, Maharani mengusap perutnya perlahan.


"Apakah benar ada janin yang dititipkan kang Wisang dalam rahim ini..?? Berarti akupun juga akan memiliki seorang putra dari kang Wisang, yang nantinya akan menjadi saudara dari Chakra Ashanka." Maharani terus bergumam sendiri, membayangkan seorang bayi kecil yang akan dilahirkannya,

__ADS_1


"Tetapi mungkinkah aku akan melahirkan sendiri bayi ini, tanpa didampingi oleh kang Wisang?" perempuan muda itu terus bergulat dengan pikirannya sendiri.


********


Di wilayah timur


Tanpa terasa setelah melalui bermalam-malam perjalanan, Wisanggeni beserta Pangeran Abhiseka dan kedua pengawalnya sudah memasuki kawasan wilayah timur. Tetapi kedua laki-laki itu heran, karena sudah banyak perbedaan yang ada di depan mata mereka. Wilayah yang semakin mendekati perbukitan Gunung Jambu, saat terakhir kali mereka tinggalkan hanya berupa hutan belantara, saat ini sudah banyak muncul pemukiman baru.


"Apakah kita tidak salah mengambil jalan Wisang..., sepertinya tempat ini belum pernah aku datangi?" Pangeran Abhiseka mengutarakan keraguannya ketika melihat banyak perbedaan disitu.


"Sama denganku Pangeran. Semula aku meragukan jika kita berada di wilayah timur, dan hampir mendekatan perguruan. Karena apa yang ada di depan kita sudah jauh berbeda. Tetapi lihatllah gunung api purba itu.., aku tidak akan dapat melupakannya. Karena gunung api purba itu sebagai sebuah petunjuk awal, untuk kita masuk ke kawasan perbukitan Gunung Jambu." Wisanggeni menunjuk sebuah bukit dengan tebing-tebing berupa batu-batu hitam di pinggirnya. Sebuah bukit kecil, yang sering digunakan sebagai lahan pertanian bagi warga masyarakat yang tinggal di sekitar itu.


"Baiklah Wisang.., kamu sudah jauh lebih lama berada di wilayah ini. Kamu pasti tidak akan keliru, baiklah kita akan melanjutkan perjalanan ini." akhirnya Pangeran Abhiseka mempercayai penglihatan Wisanggeni. Keempat orang itu segera kembali berlari dan melompat ke wilayah yang ada di seberang Gunung Api purba.


***********

__ADS_1


__ADS_2