Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 359 Pengundian


__ADS_3

Chakra Ashanka memegang ibu-ibu tua itu dan membantunya merapikan barang dagangannya. Anak muda itu mengabaikan pertanyaan dari para pengawal itu. Setelah membetulkan letak gendongan ibu-ibu tua itu, anak muda itu mengajak ibu itu untuk berjalan ke pinggir. Tetapi baru saja mereka akan berjalan, tiba-tiba sebuah tongkat menghadang mereka berdua.


Anak muda itu mengangkat wajahnya ke atas, dan melihatmu ada dua orang berdiri di depannya dengan pandangan bengis.


"Dimana telingamu, apakah kamu tidak mendengarkan apa yang sudah kami perintahkan? Majikan kami akan melewati jalan ini, kalian berdua malah menghalangi jalannya." pengawal itu berteriak menghardik Chakra Ashanka dan ibu-ibu tua itu.


"Kalian sudah salah paham dengan tindakanku. Tujuanku datang kesini karena ingin memberi pertolongan pada ibu tuan ini. Tidakkah Ki sanak melihatnya?" Chakra Ashanka menjelaskan apa yang sudah dilakukannya.


"Kebanyakan bicara kamu.." tidak diduga, salah satu pengawal itu mengangkat tongkat ke atas, dan akan menjatuhkan di kepala Chakra Ashanka. Dengan gesit, anak muda itu mengangkat tangannya ke atas, dan tongkat itu sudah berada dalam genggaman tangannya.


Pengawal itu akan menarik tongkat itu kembali, namun sedikitpun tidak ada gerakan dari tongkat tersebut. Pengawal satunya turut memegangi tongkat untuk memberi bantuan pada temannya. Namun hasil sama saja, tongkat itu juga sedikitpun tidak ada pergerakan.


"Oh.. ternyata kamu punya kemampuan juga bocah. Pantas saja kamu berani membuat ulah pada kami. Lepaskan tidak tongkat ini." pengawal dengan suara nyaring kembali bersuara.


Mendengar hal itu, Chakra Ashanka mendorong tongkat itu ke depan. Tiba-tiba dua pengawal itu terjungkal ke belakang. Melihat mereka tidak lagi menghalangi jalannya, Chakra Ashanka segera mengajak ibu-ibu tua itu berjalan ke tempat yang lebih pinggir. Melihat kedatangan putranya, Rengganis menggandeng Sekar Ratih segera mendatangi Chakra Ashanka.


"Kamu telah memprovokasi mereka putraku. Lihat saja ., sebentar lagi kamu pasti akan menjadi pihak yang dipersalahkan." Rengganis berbisik pada putranya.


"Tidak masalah bunda, masa Ashan tega membiarkan ibu tua itu dianiaya oleh orang-orang jahat itu. Merasa memiliki sedikit kepandaian saja, sudah berani menindas pihak yang lemah." dengan santai, Chakra Ashanka menanggapi perkataan ibundanya.


Rengganis tersenyum, dalam hati perempuan itu bersyukur, karena ternyata putranya memiliki hati nurani yang peka. Tidak akan membiarkan terjadinya ketidak Adilan di dekatnya. Ternyata apa yang dikhawatirkan Rengganis menjadi kenyataan, tiba-tiba saja.


"Terimalah ini bocah sombong..." tiba-tiba dua pengawal tadi melompat dan mengirimkan serangan pada Chakra Ashanka.

__ADS_1


Spontan merasakan tekanan angin berdesing di belakang punggungnya, tanpa melihat Chakra Ashanka menangkap kaki yang akan menendang punggungnya. Dengan sigap, anak muda itu memutar kaki itu dan tubuhnya tiba-tiba menghadap pada dua pengawal itu. Di depan tontonan orang banyak, anak muda itu menghempaskan pengawal itu ke belakang.


"Prok... prok.. prokk, hebat.., hebat kamu anak muda." sorak sorai orang-orang di pasar bertepuk tangan memberi dukungan pada Chakra Ashanka. Perlahan anak muda itu berjalan mendekati kedua pengawal itu, kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu mereka berdiri.


Belum sampai kedua pengawal itu berdiri, dari belakang anak muda itu terdengar derap suara kuda. Anak muda itu menoleh ke belakang, terlihat sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda mendekat ke arahnya. Di belakang kereta kuda itu, terlihat dua orang yang sedang mengendarai kuda sepertinya memberi pengawalan seseorang yang berada di dalam kereta kuda.


Chakra Ashanka terdiam, tiba-tiba dua orang penunggang kuda melompat turun kemudian mendatangi mereka bertiga. Untuk memastikan keamanan ibu-ibu tua, Sekar Ratih mengajak perempuan tua itu beristirahat di tepi jalan yang tidak ada gangguan orang.


"Hmmm... melihat tampangmu anak muda, sepertinya kami bukan orang yang berasal dari wilayah ini? Penampilan dan pakaian yang kamu kenakan, juga menandakan jika kamu bukan dari keluarga sembarangan. Hanya saja, kamu keliru mencari tempat untuk mencari masalah." tiba-tiba salah satu dari penunggang kuda berbicara pada Chakra Ashanka dengan nada penuh sindiran.


"Terima kasih atas penilaian Ki Sanak kepada saya. Meskipun kita belum pernah bertemu, Ki Sanak sudah pintar menyimpulkan siapa saya." dengan senyum tersungging di bibirnya, anak muda itu menanggapi perkataan penunggang kuda.


"Diam..., tutup mulutmu! Siapakah yang memberimu hak untuk berbicara?" pengawal yang sempat berhadapan dengannya tadi, berbicara dengan nada tinggi.


"Diamlah dulu ..., aku ingin menyelidiki siapa anak ini." penunggang kuda memberi peringatan pada pengawal.


"Anak muda..., agaknya kita memang perlu untuk berkenalan. Jika kamu bisa bertahan untuk menerima seranganku sampai tiga kali, maka kamu selamat. Demikian juga denganku, akupun juga akan menerima seranganmu. Cukup adil bukan?" dengan tersenyum meremehkan, penunggang kuda itu memberikan tantangan pada Chakra Ashanka.


"Dengan senang hati Ki Sanak." dengan sopan, Chakra Ashanka mengangkat kedua tangannya, kemudian mengepalkan di depan dadanya sambil menundukkan kepala.


"Bersiaplah..."


Pengawal dan penunggang kuda satunya segera mundur ke belakang.. Chakra Ashanka memberikan bungkusan barang yang sudah dibelanjakannya kepada Sekar Ratih.

__ADS_1


"Hati-hatilah kang Ashan.." dengan tatapan cemas, Sekar Ratih berpesan pada anak muda itu.


"Kamu terlalu mengkhawatirkan aku Ratih." ucap Chakra Ashanka sambil mengusap kepala gadis itu. Sekar Ratih tersenyum malu. Kemudahan gadis itu segera mundur ke belakang.


Dengan gagah, anak muda itu mendatangi tempat yang sudah dibuat kalangan oleh para pengawal.. Orang-orang bersorak-sorai dan mengelilingi kalangan tersebut.


"Sepertinya aku tidak perlu untuk membuang-buang waktuku." Chakra Ashanka berpikir sendiri.


Di pihak lawan, dengan senyum meremehkan, salah satu dari penunggang kuda itu menatap Chakra Ashanka yang sudah berada di dalam kalangan.


"Kita akan melakukannya undian terlebih dahulu, barang siapa yang mendapatkan koin dengan penutup di atasnya, maka dia akan melaju serangan terlebih dahulu. Demikian pula sebaliknya.., dan agar adil, aku akan melempar koin yang kedua setelah kamu melemparnya." dengan penuh kesombongan, penunggang kuda menyampaikan aturan permainan.


"Baik dengan senang hati." anak muda itu segera melangkah ke depan, kemudian mengambil koin yang digunakan untuk menentukan giliran menyerang terlebih dahulu. Setelah mendapatkan koin di tangannya, Chakra Ashanka mengangkat tangannya ke atas kemudian mulai melemparkan koin ke atas.


"Cling..." setelah berputar-putar sebentar, akhirnya koin terjatuh di atas tanah.


Beberapa orang maju ke depan untuk melihat koin tersebut.


"Tanpa penutup..., berarti anak.muda ini mendapatkan giliran melakukan penyerangan yang kedua." pengawal mengatakan hasil sesuai perjanjian.


"Tidak masalah.., mari kita segera memulainya." dengan suka rela, Chakra Ashanka menanggapi hasil tersebut.


********

__ADS_1


__ADS_2