
Ayodya Putri seperti tidak mempercayai pendengarannya, gadis muda itu menoleh ke belakang. Terlihat di depannya Chakra Ashanka tersenyum menyambutnya sambil satu tangannya menggandeng Sekar Ratih. Gadis itu berusaha menekan perasaan kurang nyaman yang muncul di dalam hatinya melihat pemandangan itu. Saat ini yang menjadi kesenangannya adalah Chakra Ashanka sudah mengajaknya untuk berbicara.
"Kemarilah.. jangan menjauh dari kita, nanti kamu bisa tersesat. Masih ingin bukan, menemani perjalanan kami berdua untuk menuju perguruan Gunung Jambu..?" ucap Chakra Ashanka membuka pembicaraan,
"Iya kakang, Putri masih ingin pergi bersama kang Ashan.. apapun keadaannya, Putri akan selalu menemani kang Ashan." dengan suara pelan, Ayodya Putri menanggapi perkataan Chakra Ashanka. Gadis muda itu kemudian berjalan mendekat, dan tidak diduga setelah berada di dekat anak muda itu, tiba-tiba tangan Chakra Ashanka meraih dan menggandengnya untuk berjalan bersama.
Ayodya Putri terlihat sangat gembira, dari jauh jika orang tidak tahu, akan melihat Chakra Ashanka sedang menggandeng dua istrinya. Akhirnya tidak lama kemudian, ketiga anak muda itu sampai di sebuah kedai makan. Terlihat kedai makan itu sudah penuh, dan tidak memiliki lagi tempat duduk kosong yang tersedia.
"Bagaimana kang.. apakah kita juga akan makan di tempat ini. Lihatlah sudah tidak tersedia lagi tempat duduk untuk kita kakang.. " Sekar Ratih bertanya pada anak muda itu.
"Tidak Nimas Ratih.. lihatlah di ujung sana. Sepertinya juga ada kedai makan disitu, dan lihatlah.. sepertinya tidak ada pengunjung yang datang ke kedai makan tersebut. Kita bisa mencobanya untuk makan dan mengisi perut disana, apakah kalian berdua keberatan." anak muda itu menunjuk sebuah kedai yang terletak di ujung jalan.
"Tidak masalah kang Ashan.. lagian kita kan hanya untuk makan saja. Tidak ada tujuan yang lain.." Ayodya Putri menanggapi. AKhirnya ketiga anak muda itu menuju ke arah kedai di ujung jalan. Namun tanpa mereka bertiga sadari, banyak tatapan marah melihat mereka yang berjalan ke arah kedai tersebut,
Tidak lama kemudian, ketiga orang itu sudah sampai di dalam kedai makan tersebut. Dan kedai itu memang terlihat lengang, tidak ada satu orangpun yang ada di dalamnya. Padahal jika dilihat, kedai makan itu terlihat bersih, dan semua makanan juga tertata dengan rapi. Melihat mereka bertiga masuk, seorang pelayan datang untuk menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
"Selamat datang di kedai makan kami Ki Sanak.. silakan duduk. Ki Sanak bisa memesan makanan dan minuman kepada saya, sebentar lagi akan kami sajikan pesanan tersebut." dengan ramah, pelayan menawarkan makanan dan minuman pada ketiga anak muda yang baru datang itu.
"Iya paman.. sediakan kami tiga minuman panas. Jika ada minuman secang saja, dan tiga porsi makanan dengan menu andalan kedai makan ini." Sekar Ratih menjawab pertanyaan pelayan kedai makan tersebut,
"Baik Den Ayu.. tunggulah sebentar. Paman akan segera menyiapkan pesanan makan kalian.." dengan bersemangat laki-laki itu kemudian berbalik ke dalam untuk menyiapkan pesanan ketiga anak muda itu.
Chakra Ashanka mengambil kudapan yang terbungkus daun pisang. Laki-laki itu kemudian membuka bungkusnya, dan mulai menikmati makanan yang diambilnya itu. Melihat anak muda itu sangat lahap memakan kudapan itu, Ayodya Putri dan Sekar Ratih tidak ketinggalan. Tidak lama kemudian, pelayan kedai tadi datang untuk membawakan makanan dan minuman yang mereka pesan.
"Paman.. kenapa kedai makan paman terlihat sepi. Tidak ada satu orangpun yang makan disini, padahal di sisi sebelah sana, kedai makan itu sangat ramai dan bahkan tidak ada satupun kursi kosong. Bahkan banyak orang yang mengantri untuk mendapatkan giliran." untuk menghilangkan rasa penasaran. Ayodya Putri bertanya pada pelayan tersebut.,
Chakra Ashanka menghentikan makannya mendengar jawaban dari pelayan tersebut. Anak muda itu menatap wajah laki-laki tua itu, kemudian..
"Apa sebenarnya yang sudah terjadi paman.. ceritakan pada kami! Siapa tahu kami akan bisa memberikan dan membantu jalan keluar dari masalah itu." dengan antusias, anak muda itu menanyakan.
Pelayan itu meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja, kemudian mengambil nafas panjang dan melihat keluar kedai. Setelah memastikan tidak ada orang di luar, laki-laki itu baru memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Saat dulu sebenarnya hanya kedai makan ini, merupakan kedai satu-satunya di tempat ini. Semua orang akan mengisi perut mereka di kedai makan ini. Namun.. beberapa purnama terakhir, keadaan mulai berubah. Petinggi di desa ini mendirikan kedai makan yang sama, dan memilih tempat tidak jauh dari kedai makan ini berada. Para pengawal mereka tidak segan-segan akan memberikan pelajaran pada pelanggan-pelanggan yang datang ke kedai makan ini. Orang-orang berani datang ke kedai ini, setelah kedai makan di depan sudah tutup." dengan suara pelan, laki-laki itu menceritakan keadaan yang sebenarnya,
"Kurang ajar sekali orang-orang itu. Apa maksud dari perilaku memuakkan mereka itu, apakah tidak ada yang memberi mereka pelajaran." mendengar perkataan laki-laki tua itu, Ayodya Putri berteriak dengan suara marah,
"Tenanglah Nimas Putri.. kita dengarkan dulu cerita paman sampai tuntas." Sekar Ratih menenangkan Ayodya Putri, dan Chakra Ashanka juga memberi isyarat agar gadis itu diam sejenak.
"Kita tidak bisa melakukan apapun Ki Sanak, sebenarnya saya khawatir dengan keselamatan Ki Sanak bertiga. Biasanya orang-orang itu akan mencegat pembeli setelah selesai makan di kedai ini. Mereka adalah para petinggi, yang dengan kekuasaannya bisa menindas kaum lemah seperti kami. Menunggu dan bersabar, hanya itu yang bisa kami lakukan saat ini." pelayan itu tersenyum kecut.
"Hmm.. benar apa yang paman lakukan. Bersabar adalah yang terbaik, rejeki tidak akan pernah tertukar paman, bersabarlah. Semua pasti akan ada tujuan dan manfaatnya di depan. Terima kasih paman sudah mau berbagi cerita dengan kami, paman tidak perlu khawatir dengan apa yang akan kami alami nanti. Semua akan menjadi tanggung jawab dari kami sendiri," Chakra Ashanka mencoba menghilangkan kekhawatiran pelayan tersebut,
"Baik terima kasih Ki Sanak.. sudah mau mendengarkan kegundahan hati paman.. Nikmatilah makanan kalian, paman akan kembali ke dalam. Jika membutuhkan apa-apa, pukul kentongan di dekat pintu.." pelayan itu berpamitan untuk meninggalkan ketiga anak muda itu.
Tanpa menjawab mereka menganggukkan kepala dan kembali melanjutkan menikmati makanan mereka. Sepeninggalan pelayan itu, mereka saling berpandangan.
********
__ADS_1