
Mata Pangeran Abhiseka menyipit, laki-laki itu segera menyiapkan kuda-kuda untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan. Dengan gagah laki-laki itu menghadang laki-laki tua yang tertawa dengan pongahnya meremehkan keberadaan Pangeran Abhiseka dan kedua pengawalnya. Singa Ulung bergeser menuju ke depan pintu gua. Matanya menatap orang-orang yang mengincar untuk masuk ke dalam goa.
"Ha..., ha.., ha... apa yang bisa kamu banggakan padaku anak muda?? Apakah kamu tidak melihat jika orang-orangku sudah mengepung tempatmu?" sambil tertawa keras, orang tua itu mengejek Pangeran Abhiseka dan kedua pengawalnya.
Pangeran Abhiseka hanya memicingkan mata, tidak menanggapi perkataan laki-laki tua itu.
"Tap.., tap.., tap..." tidak diduga oleh Pangeran Abhiseka, tiba-tiba dari arah lain, lima orang sudah melompat dan berdiri mengelilinginya dan kedua pengawalnya.
"Atau kita bisa berdamai untuk sementara. Kami berjanji tidak akan membuat kamu celaka, tetapi kita harus berbagi hasil dengan pil obat yang sedang dilakukan pengolahan. Melihat pengolahan itu sampai bisa memanggil pusaran badai seperti itu, aku yakin jika obat yang diolah itu memiliki kekuatan yang sangat tinggi. Apakah aku salah anak muda?" dengan nada sombong, laki-laki tua itu mengajak bernegosiasi dengan Pangeran Abhiseka.
"Huh.., hanya ulah orang-orang yang serakah, yang mengharapkan hasil jerih payah orang lain. Tanpa ikut berusaha, ingin mendapatkan pembagian keuntungan." dengan mencibir, Pangeran Abhiseka berbicara dengan nada sarkasme.
"Ha ., ha.., ha... ternyata cukup besar juga nyalimu anak muda. Baiklah karena kamu tidak bisa kita ajak berbicara baik-baik, maka kita akan melakukan tindakan kasar. Kami akan merampas semua hasil pengolahan obat tingkat tinggi tersebut." mendengar perkataan Pangeran Abhiseka, orang tua itu malah kembali tertawa mengejek. Tiba-tiba tangan laki-laki itu terangkat ke atas, seakan memberi isyarat pada orang-orangnya.
Pangeran Abhiseka tiba-tiba merasakan ada tekanan kekuatan besar yang terarah kepadanya. Tetapi karena dia sudah berjanji akan melindungi Wisanggeni selama proses pengolahan obat, laki-laki muda itu tetap bertahan, dan segera memberi isyarat kepada dua pengawalnya untuk mempersiapkan diri. Aura batin yang tebal tiba-tiba keluar dan melapisi tubuh Pangeran, ketika tekanan dari orang-orang yang baru datang itu semakin menekannya.
Melihat Pangeran Abhiseka dan kedua pengawal siap untuk bertahan, kelima orang itu berputar mengelilingi mereka. Sambil tersenyum mengejek, laki-laki tua itu mengeluarkan jurus untuk menyerang Pangeran Abhiseka.
"Kamu memang tidak bisa untuk diajak bicara. Terimalah ini... bang..., bang.." sebuah serangan beruntun diarahkan pada Pangeran Abhiseka, dan segera laki-laki itu melompat. Tetapi belum sempat untuk menginjakkan kaki ke tanah, kelima orang lainnya sudah menyambut Pangeran dengan serangan yang tidak kalah mematikan.
__ADS_1
"Tidak semudah itu aku akan menyerah.., jeglarr.." Pangeran Abhiseka membalas serangan mereka sambil sudut matanya mengawasi gerak-gerik beberapa orang yang turut mengelilinginya.
"Ha..., ha...,. ha.. hanya serangan anak kecil.." kembali suara tertawa mengejek terdengar di telinga Pangeran Abhiseka. Sedikitpun Serangan Abhiseka tidak mengenai bagian tubuh dari laki-laki tua itu. Baru saja pangeran akan meluncurkan kembali serangannya..
"Siutttt... jleb.." sebuah senjata berduri tiba-tiba diluncurkan oleh orang-orang yang ada di belakang Abhiseka. Dengan cepat, Andhika menangkis serangan tersebut. Jatmiko segera melompat merapatkan diri ke tubuh Andhika.
"Trang.., Trang.." tidak diduga, serangan pedang dari musuh yang lain turut menyerang Pangeran Abhiseka. Sebuah pertarungan yang tidak adil terlihat di depan gua tersebut. Singa Ulung ingin membantu ketiga orang tersebut, tetapi binatang itu juga tidak bisa meninggalkan pintu masuk ke arah gua.
*******
Tanpa disadari oleh orang-orang yang bertarung di depan gua, tiba-tiba langit sudah menghitam. Awan tebal terlihat sudah menggayut di atas langit. Keenam orang itu terus menghujani Pangeran Abhiseka dan kedua pengawalnya dengan serangan -serangan mematikan. Untungnya sesekali, Singa Ulung mengeluarkan auman panjang untuk mengacaukan pertarungan.
Tampak kilat berwarna merah jingga melesat dari atas langit, dan tanpa mereka duga petir itu melesat masuk ke dalam gua.
"Jeglerr.." suara dentuman dashyat terdengar dari dalam gua.
"Sehebat apa pil.obat itu..., sampai bisa memanggil pusaran angin dan petir menggelegar seperti itu." gumam laki-laki tua itu. Dari sudut bibirnya, muncul lengkungan ke atas. Melihat fenomena alam yang mengerikan itu datang pada saat proses pengolahan sebuah pil, meningkatkan ha**srat orang-orang itu untuk mendapatkan keuntungan dari pil tersebut.
Pangeran Abhiseka langsung berlari menuju ke depan pintu gua, laki-laki itu ingin melihat apa yang terjadi di dalam gua itu lagi. Tetapi kabut gelap seperti asap hitam menutupi pandangan matanya. Menyadari hal tersebut, tiba-tiba Pangeran Abhiseka teringat dengan orang-orang yang baru saja bertarung dengannya. Ketika laki-laki itu menengok ke belakang, keenam orang itu sudah berdiri di belakangnya, dan ikut mengintip ke dalam gua.
__ADS_1
"Lancang sekali kalian semua, tidak ada etika tata Krama langsung mengintip kegiatan kami." Pangeran Abhiseka berteriak dengan nada marah. Matanya mendadak berubah menjadi warna merah, dengan tajam Abhiseka menatap pada keenam orang tersebut.
"Ha.., ha.., ha.., ternyata kamu menyembunyikan seorang pengolah obat di dalam gua. Terimalah penawaranku.., maka kamu akan selamat anak muda." melihat tatapan kemarahan Abhiseka, laki-laki tua itu kembali mengajak kerjasama.
"Tutup mulutmu bandot tua.., terimalah ini! Ajian penghancur tulang.... blaam.., blamm.." Pangeran Abhiseka langsung menjawab dengan mengirimkan serangan pada laki-laki tua itu. Dengan cepat laki-laki tua itu membuat gerakan menghindari Serangan dari Abhiseka. Kelima orang yang datang bersama dengan laki-laki tua itu membuat formasi melingkar, dan mereka membuat simbol yang menyatukan gerakan tangan mereka.
"Formasi lingkaran iblis datanglah..." begitu kelima orang itu berteriak, formasi lingkaran itu bergerak cepat dan terlihat jelas di mata Abhiseka.
"Blarrr..., blaar.." belum hilang keterkejutan Abhiseka, tiba-tiba formasi itu mengirimkan serangan mendadak kepadanya. Rasa panas menyebar ke seluruh tubuh laki-laki itu, dan tanpa bisa mengendalikan gerak tubuhnya, tubuh Abhiseka terangkat ke atas dan terpukul mundur jauh ke belakang.
"Brukk.." tubuh Pangeran Abhiseka terpental jauh dan menghantam batang pohon di belakangnya.
"Hugh... Hoek.." sambil memegangi wilayah dadanya yang terasa panas, Abhiseka memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Melihat Pangeran Abhiseka yang terlihat tidak berdaya terjatuh di tanah, Jatmiko mengirimkan serangan pada laki-laki yang membentuk formasi itu. Tetapi belum sampai serangan Jatmiko dikirimkan, laki-laki itu memiliki nasib yang sama dengan Abhiseka. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas dan terpental jauh ke belakang.
"Bang..., bang..." saat formasi itu mengirimkannya serangan ke arah Jatmiko, Andhika sempat mengirimkan serangan balasan. Tetapi karena kalah dari segi kekuatan, akhirnya pengawal itu juga memiliki nasib yang sama.
********
__ADS_1