Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 466 Belum Siuman


__ADS_3

Ketiga anak muda itu akhirnya menikmati buah-buahan dan bekal yang dibawa oleh kedua anak muda itu. Parvati segera merasa akrab dengan kedua anak muda itu, dan akhirnya mereka berkenalan. Laki-laki yang lebih tua bernama Arya, sedangkan adik laki-lakinya bernama Dananjaya. Tanpa ragu, Parvati menceritakan apa yang menjadi tujuannya sehingga tersesat di hutan tersebut.


"Nimas Parvati.. bagaimana bisa kamu melakukan perjalanan tanpa tahu tempat mana yang akan menjadi tujuanmu.." dengan hati-hati Dananjaya yang memang tertarik dengan gadis muda itu, bertanya tentang tujuan Parvati. Sejak tadi Arya lebih banyak diam dan turut mendengarkan, bahkan saat ini laki-laki itu pura-pura pergi untuk menemukan sumber mata air.


"Iya kakang.. sebenarnya sangat berbahaya apa yang Nimas tuju. Namun tidak tahu mengapa kakang... hati Nimas mengisyaratkan jika Nimas harus menelusuri tempat ini. Tidak lama lagi.. Nimas sepertinya akan bertemu dengan sebuah bukit, di puncak bukit itulah sepertinya aku akan menemukan dimana keluargaku berada.." tanpa sadar, Parvati menjelaskan apa yang mendasarinya sampai di tempatnya berada saat ini.


Dananjaya terdiam, di luar rasa tertariknya pada Nimas Parvati, dalam hati laki-laki muda itu berpikir, jika gadis muda di depannya harus dia bantu. Sebagai laki-laki, tidak mungkin dia tega membiarkan seorang gadis muda yang masih terlihat polos, menempuh perjalanan sendiri melintasi hutan.


"Nimas.. semoga apa yang kamu rasakan benar adanya. Kakang pernah mendengar dari Guru, jika ada seseorang yang sangat winasis dalam menentukan arah tujuan. Biasanya orang-orang seperti itu sudah terpilih, dan mendapatkan karomah. Atau bisa juga karena terlahir dengan garis keturunan yang memang memiliki kemampuan untuk menunjukkan arah." ucap Dananjaya akhirnya.


"Terima kasih kakang.. dan mungkin Nimas tidak bisa untuk berada di tempat ini dalam waktu yang lama, Sebentar lagi, sepertinya matahari sudah akan kembali ke peraduannya. Nimas harus segera meninggalkan hutan ini kakang, karena tempat yang akan Nimas datangi terlihat masih sangat jauh,," tiba-tiba Parvati tampak segera bersiap. Gadis muda itu segera berdiri, namun tiba-tiba tangan Dananjaya mencekal pergelangan tangan gadis muda itu.


Parvati terkesiap, dan gadis muda itu berhenti. Tanpa sadar, matanya melihat ke arah pergelangan tangannya, dan sepertinya Dananjaya juga segera menyadari, karena laki-laki muda itu segera melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan itu.

__ADS_1


"Maafkan kelancanganku Nimas.. aku tidak bermaksud seperti itu. Tunggulah sebentar, kita menunggu kang Arya kembali ke tempat ini terlebih dahulu. Kami berdua akan menemani langkahmu Nimas.. jangan khawatir. Kemanapun tempat yang akan Nimas tuju, aku dan kang Arya akan menemaninya," tidak diduga, Dananjaya  menjelaskan maksud dan tujuannya.


Tidak percaya dengan perkataan laki-laki itu, Parvati menengadahkan wajahnya dan memandang ke wajah Dananjaya. Laki-laki muda itu tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya. Parvati akhirnya diam dan kembali menundukkan kepalanya ke bawah. Dalam hati, gadis muda itu merasa lega karena akan memiliki teman dalam perjalanannya untuk mencari keberadaan kedua orang tuanya.


"Itu kang Arya sudah terlihat.." tiba-tiba Dananjaya menunjuk ke arah samping. Terlihat Dananjaya sudah datang membawa bumbung berisi air bersih. Laki-laki muda itu menyerahkan bumbung ke tangan Parvati, dan satu ke tangan Dananjaya.


"Ambillah Nimas Parvati.. aku sudah memilikinya juga. Bagaimana rencana kita selanjutnya Rayi Dananjaya.." Arya bertanya pada adik laki-lakinya.


"Rayi berencana, kita akan menemani Nimas Parvati kakang untuk mencari keberadaan kedua orang tuanya. Meskipun Nimas Parvati belum mengetahui kemana arah tujuannya, namun Nimas sudah memiliki firasat keberadaan mereka. Kita tinggal mengarahkan perjalanan tersebut.." Dananjaya kemudian menjelaskan rencana mereka berikutnya.


********


Di Puncak Bukit

__ADS_1


Chakra Ashanka duduk termenung di atas sebuah batu yang ada di  bawah sebuah pohon besar. Bhadra Arsyanendra hanya melihatnya dari kejauhan, karena tidak ada yang dapat dilakukannya. Anak muda itu sudah membantu Chakra Ashanka untuk menyalurkan energi dan aura batinnya, namun rupanya masih belum cukup untuk menyadarkan pasangan suami istri itu. Rupanya bertarung berhari-hari dengan kekuatan hitam yang tidak terlihat, sudah menyerap habis tenaga dan kekuatan Wisanggeni dan Rengganis. Yang dapat dilakukan mereka saat ini, hanya mengganti baluran herbal setiap pagi dan sore hari.


"Kakang Ashan.. apakah kita tidak akan memindahkan paman Wisanggeni dan Bibi Rengganis ke tempat yang lebih layak kakang.. Paling tidak kita dapat memanggil tabib untuk mengobati keduanya.." tiba-tiba Ayodya Putri menyampaikan gagasannya pada Chakra Ashanka.


Anak muda itu menoleh ke arah perempuan muda itu, kemudian tersenyum kecut. Tangan Chakra Ashanka membentuk sebuah isyarat, meminta gadis muda itu untuk duduk di sampingnya. Ayodya Putri tidak menunggu, gadis muda itu langsung duduk di samping anak muda itu,


"Nimas Putri.. dalam keluargaku tidak berlaku seperti apa yang Nimas pikirkan. Bukannya kami tidak mempercayai adanya tabib Nimas.. tetapi inilah cara yang sudah berwarsa-warsa ditempuh oleh keluarga kami. Ayahnda Wisanggeni, sebenarnya memiliki banyak keahlian dalam menciptakan beberapa pil herbal, dan hal itu belum bisa kami warisi sebagai anak-anaknya. Dengan tetap membiarkan ayahnda dan ibunda bersatu dengan alam, maka alam itulah yang akan membantunya untuk mendapatkan kesembuhan." ucap Chakra Ashanka pelan.


Ayodya Putri terhenyak mendengarkan jawaban itu. Sangat berbeda dengan prinsip yang dianut oleh keluarganya. Dimana tabib merupakan satu-satunya cara yang akan ditempuh oleh keluarganya, jika ada anggota keluarga yang sedang mengalami sakit. Namun ternyata hal yang berbeda terjadi pada keluarga laki-laki yang ada di sampingnya itu.


"Hmm... baiklah kakang. Tadi Nimas hanya berpendapat saja, karena jujur melihat paman dan Bibi terbaring seperti itu, tanpa ada asupan makanan yang masuk, Nimas tidak tega.." sahut Ayodya Putri. Chakra Ashanka menoleh dan melihat pada gadis yang duduk di sebelahnya itu.


"Jangan khawatir Nimas.. kakang tidak akan mungkin untuk mencelakakan kedua orang tua kakang sendiri. Setelah beberapa waktu, kakang yakin.. ayahnda dan ibunda akan segera sembuh dan beraktivitas seperti sedia kala. Oh ya Nimas.. jika memang Nimas Putri merasa tidak kerasan berada di hutan ini, Nimas bisa mengajak Raden Bhadra untuk meninggalkan hutan ini. Biarlah cukup Nimas Ratih yang akan menemaniku untuk merawat ayahnda dan ibunda.." tidak disangka, Chakra Ashanka mengucapkan kalimat itu.

__ADS_1


Ayodya Putri terdiam, berusaha mencerna kata-kata laki-laki muda itu. Kata itu seperti bermakna pengusiran, namun juga bermakna seperti penghargaan kepadanya. Namun karena merasa khawatir jika terjadi perselisihan pendapat, Ayodya Putri akhirnya hanya diam tidak memberikan jawaban.


***********


__ADS_2