Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 242 Luapan Energi


__ADS_3

Setelah selesai melakukan ritual di pemakaman leluhur Jagadklana, Wisanggeni mengajak Rengganis dan Chakra Ashanka untuk berkunjung ke makam kuno tempat leluhur Trah Bhirawa. Baru beberapa langkah mereka berjalan. terlihat laki-laki tinggi besar dengan tampang menyeramkan menghadang mereka. Baru sekali melihat penampilan yang mengerikan, Chakra Ashanka menghentikan langkahnya dan melihat pada ayahndanya. Wisanggeni tersenyum, kemudian memegang bahu Wisanggeni dan membawanya mendekati penampakan manusia dengan penampilan yang menyeramkan itu.


"Saudaraku Tapak Berdarah.., apakah Ki Sanak sudah melupakanku, setelah sekian lama kita tidak bertemu?" Wisanggeni menyapa laki-laki itu, yang ternyata adalah Tapak Berdarah yang pernah menjadi pengawal pribadi Den Ayu Ratri, leluhur perempuan dari Trah Bhirawa.


"Ho.., ho.., ho..., mana mungkin aku melupakan keturunan dari den Ayu Ratri Muda. Setelah lama berlalu anak muda, akhirnya kamu masih mengenaliku.  Kamu datang kembali ke pemakaman kuno ini, dengan membawa perempuan yang sama dengan yang pernah kamu bawa beberapa waktu yang lalu. Selamat datang kembali anak muda.., Tapak Berdarah menyambut dan mengucapkan salam kepadamu.." sambil tertawa senang, Tapak berdarah memberi salam pada Wisanggeni. Laki-laki tinggi besar itu mengangkat kedua tangan, dan menggenggamnya di depan dadanya.


Wisanggeni melakukan hal yang sama, dan memberi isyarat pada putra dan istrinya untuk melakukan hal yang sama. Rengganis dan Chakra Ashanka yang sangat memahami etika dan tata pergaulan pada kaum yang lebih tua, sehingga melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Wisanggeni.


"Iya paman.., perempuan muda ini sudah menjadi istriku saat ini. Kemanapun aku pergi, aku sudah memiliki janji untuk selalu membawanya, dan laki-laki muda ini adalah putraku Chakra Ashanka. Ashan.., beri salam pada paman Tapak Berdarah.." Wisanggeni segera mengenalkan putranya pada manusia itu.


"Kenalkan paman..., dan ijinkan yang lebih muda memberi salam kepada pihak yang lebih tua. Saya Chakra Ashanka putra ayahnda Wisanggeni dan ibunda Rengganis memberi salam." Chakra Ashanka memberi salam pada Tapak Berdarah.


"eorang anak yang ramah dan sopan, sama persis dengan garis keturunan yang terlahir di tubuhmu. Aura batinmu terlalu pekat anak muda, tidak sebanding dengan usiamu. Jika kamu dapat mengolahnya menjadi esensi dan energi inti, kamu akan menjadi pendekar pilih tanding. Lawan-lawan tandingmu akan bertekuk lutut kepadamu."  tanpa diminta, Tapak Berdarah mengusap kepala Chakra Ashanka dan mengomentari kekuatan yang dimiliki anak laki-laki itu.

__ADS_1


"Terima kasih paman.., anak muda ini siap untuk meminta arahan dan bimbingan." dengan sopan, Chakra Ashanka mengucapkan terima kasih.


"Sangat menyenangkan berbicara denganmu anak muda.. Den bagus Wisanggeni.., apakah kamu masih ingat dimana letak makam leluhurmu, jika masih ingat aku tidak akan mengantarmu. Aku akan berkeliling makam, untuk memastikan tidak ada yang bermaksud membuat kekacauan di makam kuno ini." setelah bertegur sapa, Tapak berdarah meminta ijin untuk meninggalkan mereka.


"Terima kasih paman..., aku masih mengingatnya. Kami pergi dulu.." setelah mengangkat kedua tangan di depan dadanya, Wisanggeni segera meninggalkan tempat itu, dengan diikuti Rengganis dan Chakra Ashanka. Mata anak laki-laki muda itu berbinar cerah, dia mendapatkan sebuah pengalaman melakukan ritual di pemakaman leluhurnya. Merupakan sesuatu yang langka bagi anak muda lainnya.


"Tetap berada di samping ibunda Ashan.. Jangan berjalan sendirian, karena setiap saat makam ini akan bisa menyesatkanmu. Aura batin dari orang-orang yang dimakamkan di pemakaman ini masih terlalu kuat, meskipun mereka sudah tidak ada lagi di dunia ini, Hal ini juga menandakan bagaimana kekuatan yang dimiliki para tokoh dan pesohor disini pada masa hidupnya." sambil berjalan Rengganis menasehati Chakra Ashanka. Dengan cepat laki-laki muda itu berjalan mendekatI Rengganis dan Wisanggeni,


**********


Tiba-tiba suasana terlihat mencekam, dan suasana terasa menjadi sangat sepi. Kabut asap putih perlahan turun dan menyelimuti mereka bertiga. Dalam kungkungan kabut putih pekat tersebut, Chakra Ashanka merasa sesak. Laki-laki muda itu merasa kekuatannya terserap habis, dan sesaat dia merasa tersesat dan kebingungan. Jiwa Chakra Ashanka merasa seperti diterbangkan di antara gugusan awan, tetapi dia tidak dapat melakukan apa-apa.


"Kendalikan dirimu putraku..., olah dan serap habis energi tiada tara ini. Murnikan, dan olah menjadi esensi yang akan bermanfaat untuk kekuatanmu." tiba-tiba Chakra Ashanka mendengar bisikan perkataan ibundanya. Seperti tersengat, laki-laki muda itu kembali tersadar. perlahan Chakra Ashanka melakukan gerakan seperti yang dia dengar dari Rengganis.

__ADS_1


Chakra Ashanka duduk bersila dan meletakkan kedua tangannya dengan menangkupkan di depan dadanya. Meskipun laki-laki muda itu belum dapat melihat apapun, tetapi dia masih merasakan hangatnya aura yang dialirkan ibunda dan ayahndanya. Seperti digerakkan oleh sesuatu, kabut pekat dan gelap itu seperti masuk dan terserap melalui ubun-ubun Chakra Ashanka. Sesaat kemudian, laki-laki muda itu merasa berjalan memasuki sebuah kehampaan, dan terlihat di depannya seorang laki-laki tua yang tersenyum menyambutnya.


"Aku mengenali garis keturunanmu anak muda..., aku merasa kamu memiliki darah yang sama denganku." laki-laki tua yang merupakan perwujudan dari Ki Widjanarko menyapa putra dari Wisanggeni dan Rengganis itu.


"Mohon ijin yang muda ini menyapa pihak yang lebih tua kakek. Kenalkan saya adalah Chakra Ashanka putra dari Wisanggeni dan Rengganis, keturunan dari Trah Bhirawa," dengan sopan, anak laki-laki ini mengenalkan dirinya.


"Sama persis dengan yang ada di benakku, kamu pasti merupakan keturunanku. Pihak yang tertua dari Trah Bhirawa menyambut kedatanganmu cucuku..." perwujudan Ki Widjanarko mengangkat tangannya. Dari tangannya terlihat ada cahaya terang, dan laki-laki tua itu mengarahkan cahaya tersebut pada dada Chakra Ashanka. Rasa panas perlahan mendera tubuh Chakra Ashanka, tetapi laki-laki muda itu menahannya dengan mengambil nafas panjang.


Kejadian tersebut terjadi untuk beberapa saat, dan Chakra Ashanka mengatur pernafasannya yang mulai kacau untuk menahan cahaya terang yang mengandung energi yang pekat. Luapan energi pekat dengan deras mengalir ke tubuh laki-laki muda itu. Rasa pusing yang teramat sangat tiba-tiba menerpa kepala Chakra Ashanka, tetapi laki-laki muda itu terus berusaha menahan dan menerima aliran energi pekat yang membanjir di sekujur tubuhnya.


"Seperti yang kuduga, kamu memiliki tekad dan semangat yang tinggi anak muda.." gumam perwujudan dari Ki Widjanarko. Laki-laki tua itu terus mengalirkan esensi energinya pada anak laki-laki itu.


************

__ADS_1


__ADS_2