Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 96 Aliansi Waspodho


__ADS_3

Berbagai perguruan yang mendapatkan surat ajakan untuk bergabung, dan menentang arogansi dari Gerombolan Alap-alap, menyambut baik ajakan dari Cokro Negoro dan Singolodra. Mereka segera mengumpulkan orang-orang pilih tanding yang ada di perguruan mereka, dan segera mengirimkannya ke perbukitan Gunung Jambu untuk menyatukan langkah dan kekuatan. Satu persatu tamu-tamu undangan segera berdatangan, dan kesibukan di puncak Gunung Jambu menjadi lebih bertambah.


Di ruang pendhopo utama, terlihat Cokro Negoro dan Singolodra mengumpulkan orang-orang inti dari tiap perguruan yang hadir, Kedua orang itu saling bertatapan dan tersenyum, kemudian mereka memutuskan untuk segera memulai maksud mereka diundang kesitu.


"Baiklah para saudara-saudaraku dari seluruh pelosok wilayah negeri ini. Terima kasih kami haturkan atas kerelaan saudara semua, untuk sekedar hadir di perbukitan kecil ini, guna menyampaikan semua ide dan pendapat demi kesejahteraan dan kedamaian kita di bumi ini." terdengar suara Cokro Negoro mengawali pertemuan.


"Tidak perlu untuk berbasa-basi Cokro.., dari dulu kita adalah mitra dan teman. Gerombolan Alap-alap bukan hanya menjadi masalah dari perguruan ini, tetapi menjadi permasalahan semua masyarakat yang ada di muka bumi ini. Tanggung jawab besar ada di tangan kita semua, untuk membersihkan wilayah ini dari tekanan dan penindasan mereka. Saya mewakili dari Trah Somapura.. siap untuk bergabung." sesepuh Trah Somapura menyampaikan pendapatnya.


"Demikian juga dari Trah kami.., Banyunibo siap untuk mengirimkan kekuatan kami seutuhnya kesini." perwakilan dari Trah Banyunibo ikut bicara.


"Trah Angkoso siap mengirimkan kekuatan kami."


Tidak berapa lama, semua klan dan trah yang turut hadir di perguruan Cokro Negoro sudah menyampaikan keinginan mereka untuk bergabung dan bersama-sama memberantas kekejaman dari ulah Gerombolan Alap-alap.


"Baiklah.., baiklah.., aku sangat mengucapkan terima kasih pada kalian semua, yang tanpa imbalan apapun siap untuk mengorbankan waktu, tenaga dan material untuk melawan penindasan dari Gerombolan Alap-alap. Kita akan membentuk nama baru dari penggabungan kekuatan kita kali ini agar kita bisa bersatu padu, dan tidak terkesan terpisah-pisah antar satu kalan atau trah dengan klan atau trah yang lain." Singolodra menyumbangkan idenya, dan menawarkan pada semua perwakilan yang ada.


Mendengar ide yang disampaikan Singolodra, suasana di pendhopo utama menjadi sedikit rame. Semua yang hadir membicarakan dan mengusulkan nama baru yang menunjukkan adanya penggabungan kekuatan tersebut.


"Tok.., tok.., tok.., mohon para Saudara untuk diam sebentar. Mungkin ada usulan untuk nama gabungan?" dengan sopan, Cokro Negoro meminta mereka untuk mengakhiri pembicaraan mereka.


"Guyup Rukun.." celetuk salah satu wakil dari perguruan.


"Ombak Samudro.." sahut yang lainnya.

__ADS_1


"Usul saya Aliansi Waspodho, yang menunjukkan suatu penggabungan bersama, dan kita dituntut harus selalu waspada terhadap kejadian di muka bumi ini." usul Wisanggeni.


"Setuju.., usul terakhir."


"Iya.., setuju.., setuju.."


Akhirnya Cokro Negoro dan Singolodra selaku tuan rumah, dengan sesepuh masing-masing perguruan berembug. Mereka akhirnya mengambil nama baru mereka yaiti Aliansi Waspodho.


"Baiklah para saudaraku semua.. Untuk ke depan, kita yang sudah memutuskan untuk bergabung di perguruan ini, kita dilarang untuk menyebutkan nama Klan atau Trah kita masing-masing. Nama kita sekarang satu nama yaitu Aliansi Waspodho, dengan makna seperti yang sudah disampaikan oleh Wisanggeni." akhirnya Cokro Negoro menetapkan nama baru penggabungan kekuatan mereka.


Semua yang ikut hadir disitu menyetujui nama usulan baru tersebut.


****************


"Ayahnda..., Kang Aji.." dengan suara tercekat menahan haru, Wisanggeni menyambut rombongan yang membawa Lindhuaji dan ayahnda Wisanggeni Ki Mahesa. Mereka mewakili kedatangan Klan Bhirawa.., yang langsung berangkat setelah mendapat kabar dari pesan yang dikirimkan Wisanggeni.


"Dimana Kakang Wijanarko dan rombongan dari Klan Gumilang, bukannya ayahnda selama ini berada dengan Kang Janar?" Wisanggeni tampak mencari kakang pertamanya.


Ki Mahesa tersenyum, setelah menatap Lindhuaji..


"Kakangmu Wijanarko tidak lama lagi akan menyusul kesini putraku. Ada urusan yang harus diselesaikan oleh putra sulung ayahnda, doakan semoga urusannya berhasil putraku. Dan ayahnda mengucapkan selamat atas pernikahanmu dengan Nimas Rengganis, meskipun tanpa mengundang ayahnda kamu sudah mengikatkan diri dengan putri dari Trah Jagadklana." Ki Mahesa berkata sambil tersenyum dan mengusap pucuk kepala Wisanggeni.


Wisanggeni langsung berlutut dan mencium kaki orang tua itu. Keharuan melanda mereka berdua, karena sejak menyelamatkan Ki Mahesa dari Gunung Baturetno, Wisanggeni belum pernah bertemu dengan ayahndanya untuk sekian waktu yang lama.

__ADS_1


"Maafkan putranda ayah.., bukan maksud Wisang untuk tidak meminta restu dari ayahnda.., tetapi Eyang Sepuh yang sudah mengikatkan kami di pemakaman kuno." mendengar perkataan putra bungsunya, Ki Mahesa menjadi kaget dan langsung memundurkan kakinya ke belakang.


"Apa maksudmu Wisang.., apa yang kamu katakan putraku? Kenapa kamu menyebut Eyang Sepuh?" dengan tergagap Ki Mahesa seperti tidak mempercayai pendengarannya. Selaku generasi yang lebih tua, Ki Mahesa belum pernah sekalipun memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Eyang Sepuh, tetapi putranya baru saja mengatakan, jika sudah diikatkan dengan gadis pilihannya oleh Eyang Sepuh.


"Iya paman.., eh maaf ayahnda.. Nimas Rengganis dan Akang Wisang disatukan dan diikatkan oleh Eyang Sepuh.., saat kami berdua berkunjung di pemakaman kuno. Maafkan Rengganis yang belum menceritakan hal ini pada ayahnda." tiba-tiba terdengar suara merdu Rengganis yang ikut duduk bersimpuh di samping Wisanggeni.


Wisanggeni yang sama sekali tidak mengira, jika istrinya bersama dengan rombongan ini langsung terkejut, dengan tidak percaya laki-laki itu melihat gadis yang berada di sampingnya. Laki-laki muda ini seperti kehilangan akal sehatnya, dia langsung memeluk gadis ini tanpa memperhatikan orang-orang yang ada di sekelilingnya memandangi interaksi mereka.


"Nimas.., Nimas.., kenapa tidak memberi tahu Akang jika ada Nimas dalam rombongan ini?" Wisanggeni langsung mengabaikan posisinya yang saat ini sedang bersimpuh di hadapan Ki Mahesa.


"Iya Akang.., Nimas sudah tidak dapat menahan diri karena terlalu lama berpisah dengan Akang Wisang." dengan manja, Rengganis langsung menyandarkan kepalanya ke pundak suaminya itu.


Orang-orang yang ada di sekeliling mereka berdua saling berpandangan, kemudian perlahan mereka berjalan meninggalkan Wisanggeni dan Rengganis berdua di ruangan itu. Dari sudut halaman, Maharani berdiri terpaku. hatinya merasa sakit melihat perlakuan yang diberikan Wisanggeni pada Rengganis.


"Ehmm.., uhukk..." suara deheman dan batuk Cokro Negoro mengagetkan Wisanggeni dan Rengganis. Kedua orang itu langsung melepaskan pelukan mereka, dan memandang dengan hormat pada gurunya itu.


"Guru.., ini istri Wisang Guru.., Nimas Rengganis namanya." Wisanggeni dengan malu mengenalkan istrinya pada Cokro Negoro.


"Ijin menantu memberi salam Guru..." dengan lirih, Rengganis ikut memberi salam.


"Bangunlah kalian berdua.., pergilah ke kamar untuk melepaskan kerinduan kalian. Jangan buat malu perguruan ini dengan menunjukkan rasa cinta kalian di muka umum." ucap Cokro Negoro sambil tersenyum.


"Baiklah Guru.., murid minta maaf." ucap Wisanggeni sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


Laki-laki muda itu langsung mengangkat Rengganis dan membawanya masuk ke dalam kamar.


**************


__ADS_2