
Chakra Ashanka berencana untuk kembali ke kerajaan Logandheng dengan membawa dua gadis muda yaitu Sekar Ratih dan Ayodya Putri. Melihat ada hal yang ganjil dalam kehidupan putranya itu, Wisanggeni dan Rengganis memanggil anak muda itu untuk menemuinya di dalam kamar sebelum mereka pergi. Mereka akan menanyai langkah tegas yang akan diambil Wisanggeni untuk masa depannya.
"Mau kemana kang Ashan..?" Sekar Ratih menanyakan tujuan Chakra Ashanka, ketika laki-laki muda itu meninggalkannya sendiri. Tanpa bicara, tiba-tiba laki-laki muda itu berdiri dan akan berjalan meninggalkannya sendiri.
"Barusan mendapatkan pesan dari Parvati, katanya ayahnda dan ibunda ada yang akan dibicarakan kepadaku. Maafkan ya Nimas Ratih.. aku tidak bisa mengajakmu. AKu yakin.. ada urusan keluarga yang akan dibicarakan ayahnda dan ibunda kepadaku.." seperti terlihat ada penyesalan, di mata Chakra Ashanka karena tidak bisa mengajak gadis muda itu.
"Pergilah sendiri kang.. Nimas paham, ada kalanya paman dan bibi ingin berbicara hal penting denganmu, tanpa ada pihak lain yang turut mendengarnya. Jika Nimas Parvati saja tidak bisa menemani kakang, apalagi Ratih kakang.." Sekar Ratih tersenyum melihat anak muda itu.
Tanpa bicara lagi, Chakra Ashanka berdiri dan berjalan meninggalkan Sekar Ratih sendiri. Gadis muda itu hanya tersenyum melihat punggung anak muda itu berjalan keluar dari tempat mereka berada. Untuk mengalihkan perhatiannya, Sekar Ratih kemudian ikut berdiri dan juga berjalan keluar dari dalam ruangan itu. ketika Sekar Ratih berjalan keluar, terlihat Parvati sedang berbincang serius dengan Dananjaya, dan gadis muda itu bermaksud untuk menjauh dari tempat itu, karena tidak mau mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.
"Nimas Ratih... kemarilah.. temani aku disini mengobrol dengan kang Danan.." ternyata Parvati sudah terburu melihatnya, rayi dari Chakra Ashanka itu memanggilnya. Dananjaya yang ada di samping Parvati, turut melihat ke arah Sekar Ratih yang menoleh dan melihat ke arah mereka.
Sekar Ratih melambaikan tangannya membalas sapaan dari Parvati, kemudian perlahan berjalan mendekati Parvati dan Dananjaya. Seperti paham dengan apa yang harus dilakukannya, melihat kedatangan Sekar Ratih..., Dananjaya menggeser posisi duduknya, dan memberi ruang untuk gadis itu agar duduk di samping Parvati.
"Sedang bicara tentang apa kalian.. kedatanganku kesini mengganggu pembicaraan kalian berdua ya.." merasa tidak enak, Sekar Ratih berbasa basi bertanya tentang obrolan mereka.
__ADS_1
"Duduklah dulu di sampingku Nimas.. Tidak perlu enak hati seperti itu Nimas Ratih.. kita sudah sejak kecil hidup dan tumbuh bersama. Tidak ada perbedaan antara kita, biasalah karena kang Danan denganku sudah akan mengikat janji, kami perlu bertukar banyak pikiran Nimas Ratih. Dan itu juga bukan merupakan hal yang rahasia, dan banyak dilakukan oleh orang-orang lain juga.." sambil tersenyum, Parvati menjelaskan apa yang dilakukannya dengan Dananjaya berdua.
"Iya Nimas Parvati.. aku percaya padamu. Tadi sebenarnya aku berencana untuk menghirup udara segar di luar penginapan. Tapi malah tidak sengaja, malah bertemu dengan kalian berdua di tempat ini." Sekar Ratih menjelaskan apa yang akan dilakukannya melewati tempat itu.
Ketiga anak muda itu akhirnya berbincang-bincang tentang banyak hal, dan ternyata Dananjaya bisa menjadi pendengar yang baik. Anak muda itu tidak mencampuri pembicaraan yang dilakukan oleh Parvati dan Sekar Ratih, ketika dirinya memang tidak dilibatkan dalam pembicaraan. Dananjaya hanya turutĀ tersenyum ketika pembicaraan kedua gadis yang ada disampingnya itu memang mengandung kata-kata yang lucu.
************
Chakra Ashanka menatap kedua orang tuanya dengan penuh tanya, karena tidak biasanya mereka memanggilnya hanya sendirian saja. Rengganis menepuk kursi yang ada di sampingnya, memberi isyarat pada anak muda itu agar segera menduduki kursi tersebut. Wisanggeni terus menatap putra pertamanya itu, dan mencoba mencari tahu apa yang ada di pikiran Chakra Ashanka.
"Ayah.. bunda.. adakah hal yang wigati, yang akan ayahnda dan ibunda sampaikan pada Chakra Ashanka..?" laki-laki muda itu seperti tidak sabar untuk segera mengetahui maksud dari kedua orang tuanya.
Wisanggeni tersenyum, dan tanpa berkedip melihat pada putranya. Chakra Ashanka menjadi merasa serba salah, melihat sikap kedua orang tuanya.
"Tidak ada putraku Ashan... hanya saja ayah dan bunda ingin mengetahui apa rencanamu ke depan. Bukankah kamu juga sudah tahu, bagaimana rayimu Nimas Parvati sudah akan menjalin ikatan dengan nak mas Dananjaya. Sebagai kakaknya, yang lahir lebih dahulu dari Nimas Parvati, tidak salah bukan, jika ayahnda dan ibunda bertanya kepadamu.." sambil tersenyum, Rengganis melanjutkan maksud mereka mengundang putra sulungnya itu.
__ADS_1
Chakra Ashanka kembali mengangkat wajahnya ke atas, kemudian menatap secara bergantian mata ibunda dan ayahndanya. Lagi-lagi kedua orang dewasa itu hanya mengulum senyum sambil terus melihatnya. Hal itu semakin membuat anak muda itu penasaran, apa sebenarnya maksud dari kedua orang tuanya memanggilnya datang.
"Maksud ibunda.. masa depan seperti apa. Ashan berencana akan kembali ke kerajaan Logandheng ayah, bunda.. bagaimanapun tidak bisa, seenaknya Ashan meninggalkan tanggung jawab sebagai Patih kerajaan. Apalagi Raden Bhadra juga sudah kembali lebih dulu. Namun.. sepertinya, Ashan tidak akan bisa selamanya untuk menjalankan tanggung jawab itu.." ucap anak muda itu pelan.
"Ashan.. ayah dan bunda tidak akan pernah campur tangan dalam kerjaan yang akan kamu pilih dan lakukan. Tetapi kali ini, ayah dan bunda akan bertanya tentang kepastian yang sudah kamu tetapkan, apa yang akan kamu lakukan dengan Nimas Sekar Ratih, ataupun Nimas Ayodya Putri. Kamu tidak bisa bermain-main dengan dua perempuan sekaligus.." Wisanggeni melihat ke arah istrinya, karena laki-laki itu pernah menduakan perempuan yang ada di sampingnya itu.
"Kenapa kang Wisang melihat Nimas seperti ini, kali ini kita akan membicarakan tentang masa depan putra kita. Bukan membahas tentang masa lalu kita," seperti paham dengan tatapan suaminya, Rengganis mengomentari sikap suaminya.
Melihat dan memahami maksud perkataan ibundanya, Chakra Ashanka tersenyum.
"Begini bunda.., ayah.. jika yang dimaksud adalah gadis mana yang akan Ashan pilih untuk menjadi pendamping hidup Ashan di masa depan, Sekar Ratih lah yang akan Ashan pilih. Gadis itu sudah jelas asal usulnya, dan bagaimana sikap serta perilakunya, semua sudah tahu dan memahaminya.." akhirnya dengan tegas, Chakra Ashanka mengakui apa yang dirasakannya.
"Benarkah yang kamu ucapkan Ashan.. bukannya Ayodya Putri juga menarik. Sepertinya gadis itu bukan berasal dari keluarga sembarangan.." Rengganis tersenyum dan memancing perasaan putranya.
"Ashan tidak mencari ketenaran atau kekayaan di dunia ini bunda.. hidup dalam keadaan cukup, itulah yang menjadi impian Ashan. Beberapa kali, Ashan sudah memancing Nimas Ratih.. tapi sepertinya gadis itu belum mengerti dan menjawab keinginan Ashan. Mungkin ibunda atau ayahnda akan lebih bisa meminta gadis itu untuk Ashan pinang.." Wisanggeni kaget mendengar keterus terangan yang diucapkanĀ anak muda itu. tidak disangkanya kedua putranya sudah bertumbuh untuk menjadi dewasa.
__ADS_1
********