Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 330 Pemulihan Suasana


__ADS_3

Keesokan Harinya


Di padhepokan Gunung Jambu, suasana duka terlihat di wajah orang-orang yang berada disitu. Tatapan Wisanggeni sangat nanar melihat kerusakan yang terjadi di tapal batas. Suasana perguruan Gunung Jambu yang semula damai, dan banyak aktivitas jual beli di perbatasan tersebut, kali ini terlihat sepi. Tidak ada satu orangpun yang melintas, kecuali para murid perguruan yang membersihkan puing-puing reruntuhan.


Semenjak menempatkan Maharani di ruang istirahatnya di padhepokan, Wisanggeni belum sempat bertemu dengan Rengganis. Bahkan laki-laki itu belum membuat upaya lanjutan untuk kesembuhan istrinya itu, sepertinya  ada yang dirahasiakan dari dirinya. Sejak kedatangan dini hari di perguruan Gunung Jambui, laki-laki itu langsung melakukan pemeriksaan di titik-titik tempat terjadinya pertarungan.


"Selamat pagi guru..., maafkan kami yang tidak becus untuk menjaga perguruan dalam keadaan aman. Sepeninggalnya Guru Wisanggeni dan Den Bagus Chakra Ashanka, banyak pihak yang ingin mencari keributan dengan perguruan ini. Sepertinya mereka terlihat ingin memanfaatkan peluang tidak adanya Guru di perguruan. Beban berat Guru putri Den Ayu Rengganis dan Den Ayu Maharani untuk mengatasi semuanya." murid senior menyampaikan apa yang terjadi di perguruan pada Wisanggeni.


"Iya Sampurno.., semua diluar perkiraanku. Saat ini Nimas Maharani terluka, dan aku juga belum sempat untuk menemui Nimas Rengganis. Aku mendengar kabar juga, jika putraku Chakra Ashanka sudah kembali juga ke perguruan." ucap Wisanggeni lirih, sambil matanya terus mengamati ke sekeliling lokasi.


"Pengalaman dan pembelajaran untuk kita Guru.., meskipun banyak hal yang harus kita korbankan. Tadi malam Den Bagus Ashan juga datang tepat pada waktunya, ketika Den Ayu Rengganis terdesak oleh Senopati Wiroyudho, untungnya Den Bagus kebetulan sampai dan langsung menghajar Senopati dan pasukannya sampai kocar kacir." Sampurno menambahkan.


Mereka berdiri dalam diam, dan tidak beberapa lama kemudian..


"Sampurno.., perketat penjagaan di tapal batas. Aku akan meminta SInga Ulung dan SInga Resti untuk membantu penjagaan disini. Inilah dampak yang ditimbulkan dari adanya perang. Makanya sejak dari dulu, aku selalu menyampaikan pada kalian, usahakan damai dengan keadaan. Tetapi sudahlah.., nasi sudah menjadi bubur. Akan sangat sulit untuk merubahnya menjadi nasi kembali." Wisanggeni menyampaikan pesan pada murid senior tersebut, kemudian membalikkan badan untuk meninggalkan tempat tersebut,


"Baik.., sendiko dhawuh Guru Wisanggeni.." Sampurno menyanggupi pesan yang disampaikan Gurunya itu, dan hanya tersenyum kecut melihat Wisanggeni melompat pergi untuk meninggalkan tempat itu.


***********


Dari depan pintu kamar istirahat Maharani, Wisanggeni melihat bagaimana Parvati ditemani Rengganis sedang menangis memeluk tubuh Maharani yang sangat lemah. Dari pojok ruangan, Chakra Ashanka dengan seorang bocah laki-laki berkulit putih bersih sedang berdiri menatap mereka. Dahi Wisanggeni berkerut melihat keberadaan bocah kecil itu, karena baru pertama kali ini dia melihatnya berada di padhepokan.

__ADS_1


"Ayahnda.." tiba-tiba Chakra Ashanka yang menyadari keberadaan Wisanggeni, berjalan menghampiri laki-laki itu. Anak muda itu segera melakukan sembah sungkem pada ayahndanya, dan Wisanggeni memeluk tubuh putra laki-lakinya dengan erat.


"Kamu datang di saat yang tepat putraku.., terima kasih." bisik Wisanggeni pada putranya.


"Sudah menjadi kewajiban Ashan ayah.., ngomong-ngomong bagaimana dengan keadaan bunda Maharani ayah..?" Chakra Ashanka menyinggung keadaan Maharani. Wisanggeni hanya tersenyum pahit, kemudian..


"Keadaan ibundamu Maharani saat ini sedang bertarung dengan racun putraku, dan itu diluar kewenangan ayahnda. Tetapu ayah sudah mengirimkan merpati menuju Trah Bhirawa, agar paman Lindhu aji segera membawa Bibi Larasati kesini, untuk memberikan pengobatan pada bunda maharani." ucap Wisanggeni dengan tatapan yang kehilangan semangat.


"Sampai begitukah penderitaan ibunda Maharani..?" Chakra Ashanka menjadi sedikit panik.


Mendengar perbincangan dengan suara pelan di belakangnya, Rengganis menolehkan, dan senyum lebar muncul di bibir perempuan itu.


"Kang Wisang..., mohon maaf belum sempat memberikan penyambutan khusus untuk Akang.." Rengganis segera berdiri, dan Wisanggeni langsung merengkuh tubuh istrinya, dan mengabaikan orang-orang yang berada disitu, laki-laki itu memberikan kecupan ke bibir Rengganis.


Seusai berbicara, Wisanggeni membawa Maharani keluar, kemudian mengajaknya duduk di kursi rotan yang ada di luar kamar. Di belakang, Chakra Ashanka dengan menggandeng bocah laki-laki berkulit putih juga mengikutinya keluar.


"Siapakah bocah laki-laki itu Nimas.., melihat dari pembawaanya, bocah kecil itu seperti keturunan bangsawan?" Wisanggeni bertanya tentang Bhadra Arsyanendra.


"Akang benar.., bocah itu sebenarnya putra mahkota kerajaan Logandheng yang berlari dan menuju ke padhepokan ini untuk bersembunyi Akang. Sangat panjang ceritanya,.." Rengganis menjawab pertanyaan Wisanggeni.


"Maafkan saya dan Nimas Maharani Akang..., yang tanpa sengaja telah melanggar kesepakatan perguruan ini dengan kerajaan yang memiliki perbatasan yang bersinggungan langsung dengan perguruan Gunung Jambu." Rengganis dengan lirih menambahkan.

__ADS_1


Melihat situasi keberadaan Bhadra Arsyanendra di perguruan ini, Wisanggeni bisa membayangkan bagaimana situasi yang dihadapi oleh kedua istrinya. Melihat kenyataan yang ada di depan mereka, dimana ada yang membutuhkan pertolongan, akan sangat sulit untuk menghindarinya. Hal itulah yang pasti dihadapi oleh kedua istri dan orang-orang di perguruan Gunung Jambu selama ini.


"Lupakan semuanya Nimas.., aku memahami apa yang sudah terjadi dengan kalian berdua.. Saat ini, penting bagimu untuk fokus pada kesembuhanmu, dan semoga saja kedatangan Nimas Larasati tidak tertunda. Sehingga perempuan itu bisa mengeluarkan racun yang ada di tubuh Nimas Maharani." ucap Wisanggeni lirih.


Tidak lama kemudian, Chakra Ashanka ditemani Sekar Ratih dan Bhadra Arsyanendra berjalan menghampiri ayahnda dan ibundanya.


"Ayah.., kenalkan ini Raden bhadra putra mahkota kerajaan Logandheng, Dan ini Sekar Ratih, aku sengaja membawanya dengan alasan yang tidak penting untuk Ashan sampaikan di tempat ini." Chakra Ashanka mengenalkan kedua bocah itu pada Wisanggeni.


"Salam dari Bhadra Arsyanendra paman, dan mohon maaf yang tidak terhingga. Karena kedatangan Bhadra di perguruan ini, telah menimbulkan banyak korban dan materi yang tidak terhitung.." Bhadra Arsyanendra memperkenalkan dirinya, dan mengucap salam pada Wisanggeni.


"Tidak perlu banyak berbicara Raden Bhadra, kehormatan bagi perguruan ini dapat menjadi tempat persinggahan bagi raden.." tidak mau mengecilkan perasaan bocah kecil itu, Wisanggeni menanggapi perkataan putra mahkota kerajaan Logandheng itu dengan ramah,


"Terima kasih paman.." jawab Bhadra Arsyanendra singkat.


Wisanggeni kemudian mengarahkan pandangannya pada Sekar ratih, dan bocah kecil itu seperti merasa malu untuk mengenalkan dirinya.


"Siapa namamu tadi gadis cantik..., paman tidak mendengarnya dengan jelas?" untuk mengurangi rasa malu dan rendah diri bocah kecil itu, Wisanggeni menyapa duluan.


"Sekar Ratih paman.., tidak ada yang bisa dibanggakan dari Ratih.." ucap gadis kecil itu pelan.


Rengganis menarik tubuh Sekar Ratih kemudian memeluknya erat.

__ADS_1


"Gadis ini yang selalu menemaniku Akang.., sudah seperti putri kita.." ucap Rengganis sambil tersenyum.


***********


__ADS_2