
Dengan pongah dan tatapan kemarahan, pemimpin desa itu menyambut kedatangan Pangeran Abhiseka dan rombongannya di balai desa. Beberapa orang-orang punggawa desa bersiap-siap mengarahkan senjata tajam berupa tombak dan parang kepada mereka. Seorang sesepuh berlari-lari dari luar balai desa kemudian berlutut di depan Pangeran Abhiseka.
"Pangeran.., pangeran.., terimalah sembah sujud dariku yang sudah tua ini. Selamatkan desa kami Pangeran!" dengan perkataan menghiba, sesepuh itu mengucapkan sembah sungkem, dan memintanya menolong warga masyarakat.
Mendengar perkataan laki-laki tua itu, pemimpin dan para punggawa saling berpandangan. Memang, sebagai pemimpin dan punggawa desa yang belum lama memimpin desa itu, mereka tidak mengenali raja dan keturunannya. Bahkan mereka menganggap jika desa mereka merupakan desa yang bebas tidak berada di bawah sebuah kerajaaan.
"Bangunlan sesepuh.., tidak baik dipandang orang. Masa sesepuh yang sudah lanjut usia, harus bersimpuh di depanku." sambil memegang kedua bahu laki-laki tua itu, Pangera Abhiseka membangunkan laki-laki tua tersebut. Sesepuh itu memberanikan diri menatap Pangeran, dan tatkala melihat senyuman muncul di bibir Pangeran itu, sesepuh kemudian berdiri dan tetap menunduk di depan Pangeran Abhiseka.
"Hentikan kelakuan kalian yang menyebalkan itu!! Apakah kalian tidak tahu dimana kalian berada saat ini?? Beri hormat pada pemimpin desa!" punggawa desa berteriak menghardik Pangeran Abhiseka dengan suara lantang. Melihat kesombongan orang-orang itu, tanpa bicara Wisanggeni berjalan menuju orang-orang itu. Tatapannya memindai satu persatu orang yang berada di situ.
"Sangat sombong sekali tatapanmu anak muda...,apakah telingamu tidak mendengar apa yang barusan aku sampaikan pada kalian semua?" melihat keberanian Wisanggeni dengan tatapan seakan menantang mereka, para punggawa desa dan orang-orangnya bertambah kemarahan.
"Terimalah ini..., Blang.. Blang..." tanpa diduga orang-orang itu mengirimkan serangan untuk menakuti Wisanggeni. Laki-laki muda itu hanya tersenyum dan tidak membuat serangan untuk mempertahankan dirinya.
"Hanya begini saja ya kekuatan yang kamu gunakan untuk menakuti warga desa?? Ini hanya gerakan anak usia dua tahun di perguruanku." ucapan pelan yang dikeluarkan Wisanggeni, membuat beberapa orang itu ketakutan. Perlahan beberapa orang memundurkan langkahnya ke belakang.
"Tetap berdiri di tempat kalian berdiri. Mereka hanya mencoba menggertak kita, dan siapa yang berani untuk meninggalkan tempat ini, aku akan memberi hukuman mematikan pada keluarga kalian." pemimpin desa berteriak mengancam orang-orang itu. Mendengar ancaman menakutkan untuk keluarganya, membuat orang-orang itu saling berpandangan. Mereka bisa menahan serangan untuk diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak merelakan jika keluarganya yang harus menjadi korban kebengisan mereka.
__ADS_1
"Apa yang kalian takutkan saudaraku semua?? Tidakkah kalian tahu, siapa laki-laki yang berdiri di belakang saya?" dengan senyuman, Wisanggeni menunjuk ke arah Pangeran Abhiseka. Orang-orang itu kembali berpandangan, mereka memang tidak bisa disalahkan jika tidak mengenali keturunan dari raja mereka. Jarak yang jauh karena mereka berada di wilayah terluar dari kerajaan, dan tidak pernah turunnya pihak kerajaan untuk menyambangi mereka menjadi penyebab hal itu terjadi.
"Laki-laki muda di belakangku itu akan lebih dapat menjamin dan memperbaiki masih kalian ke depannya. Berilah salam untuk beliau!" kembali Wisanggeni berbicara pada orang-orang itu. Sebagai warga masyarakat terkecil, mereka tidak dapat disalahkan untuk tidak mengenali pemimpin tertinggi di kerajaan mereka. Hal itu akan menjadi pembelajaran untuk Pangeran Abhiseka, agar lebih memperhatikan rakyat jika dia memimpin di masa depan.
Dengan tatapan polos, dan saat melihat laki-laki muda yang tampak bersih di belakang Wisanggeni, orang-orang itu langsung terdorong mendatangi Pangeran Abhiseka. Melihat wajah pangeran itu, seperti ada magnet yang menarik mereka untuk mengadu dan menyandarkan nasib mereka.
*******
"Kurang ajar kalian semua..., berani-beraninya kalian mempengaruhi orang-orangku." dengan tatapan merah mengekspresikan kemarahannya, pemimpin desa berteriak dengan suara keras. Para punggawa segera berdiri di depan pemimpin desa, sedangkan orang-orang mereka yang sudah menyerah pada Pangeran Abhiseka langsung berlindung di belakang tubuh laki-laki muda itu.
"Serang mereka semua.... ajian batu meronta... bang..., bang.., bang..." lontaran batu hitam tiba-tiba menyerang keberadaan Wisanggeni dan orang-orang yang ada di belakang. Laki-laki muda murid Cokro Negoro itu hanya tersenyum sinis melihatnya. Tanpa ada yang menduga, sebuah selendang melayang dan menghalau serangan batu-batu tersebut.
"Bodoh kalian semua..." pemimpin desa berteriak keras, kemudian berjalan lebih mendekat ke Wisanggeni.
"Rengganis.., urus Chakra Ashanka! Tarik kembali kekuatanmu!" dengan telepati, Wisanggeni berbisik memerintah istrinya agar fokus menjaga putranya. Laki-laki muda itu memang lebih suka mengajak bicara baik-baik dengan para lawannya. Jika mereka tidak bisa diarahkan dan diajak bicara, baru kekuatan yang akan berbicara. Tetapi emosi para perempuan memang terkadang lebih sulit untuk dikontrol.
"Baik Akang .., Nimas tidak sabar untuk mengakhiri secepatnya." bisik Rengganis.
__ADS_1
Wisanggeni tersenyum, dia hanya bisa melakukan itu jika berhadapan dengan Rengganis.
"Batu meronta di lautan api... bluarr.., bluarr.." batu-batuan yang dikelilingi api membara kembali terlontar ke arah Wisanggeni dan orang-orangnya. Pangeran Abhiseka menjejeri Wisanggeni, kedua tangannya terangkat sambil membentuk sebuah simbol lingkaran.
"Aku akan meladeni permainan kalian.., sampai dimana dan sampai kapan, kami akan bertahan." ucap Pangeran Abhiseka sambil tersenyum sinis.
"Salju di musim kemarau keluarlah .. blam.. blam..." tiba-tiba tangan Pangeran Abhiseka diselimuti dengan salju berwarna putih bersih, dengan cepat salju-salju itu diarahkan pangeran menuju batuan-batuan api yang dikirim pemimpin desa.
Dengan cepat batu-batuan itu langsung kembali berwujud batuan hitam, dan kedua tangan Wisanggeni dihentakkan ke depan. Tanpa bisa dibendung, batu-batuan itu kembali dengan cepat dan memberikan serangan pada pengirimnya. Mata pemimpin desa melotot terbelalak, mereka tidak sempat membuat pertahanan diri untuk menerima senjata mereka sendiri.
"Apakah kamu akan melanjutkan pertarungan ini Ki Sanak..?" tangan Wisanggeni tiba-tiba sudah berada di leher Pemimpin desa itu. Kedua mata pemimpin desa melotot keluar, karena menahan cekikan dari Wisanggeni.
"Ampun... am...pun.., lep.... lepaskan tanganmu!" dengan tergagap dan tersendat, pemimpin desa meminta Wisanggeni untuk melepaskan cekikannya.
Satu tangan Wisanggeni mengangkat tubuh laki-laki paruh baya itu ke atas, kemudian dengan sedikit kekuatan membanting tubuh itu ke tanah. Mata punggawa terbelalak melihat betapa mengenaskan pemimpin mereka, tetapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya.
"Aku menyerah..., ampuni kami Ki Sanak, ampuni kami!" merasa nyawanya selamat, pemimpin desa itu langsung menyatakan diri untuk menyerah. Para punggawa kemudian menjatuhkan lutut mereka di tanah, tanpa disuruh mereka mengikuti apa yang dilakukan oleh pemimpinnya.
__ADS_1
**********