
Sore hari semua berkumpul di pendopo menyambut kedatangan Wisanggeni dengan Gayatri dan Niluh. Lindhuaji langsung memerintahkan untuk menyembelih sapi, agar digunakan sebagai lauk untuk makan malam bersama. Niluh dan Gayatri terlihat sangat bahagia melihat orang tuanya, mereka sama sekali tidak menyangka jika masih bisa bertemu dengan mereka. Padahal mereka mengira jika orang tuanya meninggal pada saat terjadi pertempuran.
"Bagaimana kabarmu nak? Ayahnda tidak mengira masih bisa bertemu dengan kamu." ayahnda Niluh memeluk dan mencium putrinya yang sudah lama tidak ditemuinya.
"Niluh senantiasa dikaruniai kesehatan ayah.. Syukurlah Hyang Widhi telah menjaga ayahnda dan ibunda." dengan penuh haru keluarga kecil itu berpelukan.
"Hanya kakangmu Niluh..., sampai saat ini belum terdengar keberadaannya." air mata mengalir di wajah ibunda Niluh.
"Kita doakan saja bunda.., semoga kakangmas selalu dalam perlindungan Hyang Widhi." ucap Niluh lirih.
Di sudut pendopo yang lain, Lindhuaji segera meminta orang-orang untuk maju ke depan. Hidangan daging sapi dan ayam sudah menanti untuk segera dinikmati.
"Saudara-saudaraku semuanya..., segera tempatilah posisi di bagian depan. Ada beberapa hal yang ingin disampaikan oleh ayahnda kepada kita semuanya." ucap Lindhuaji sambil berdiri dan menatap semua anggotanya dari Klan Bhirawa.
Orang-orang segera bergeser memenuhi tempat yang ada di depan. Demikian juga dengan Niluh dan keluarganya. Gayatri juga sedang menyandarkan kepalanya di bahu ayahndanya. Setelah tempat duduk di depan sudah terpenuhi, dan semua orang terdiam, Ki Mahesa langsung berdiri.
"Saudara-saudaraku semuanya Anggota keluarga dari Klan Bhirawa. Puji syukur yang tidak terhingga kita panjatkan ke Hyang Widhi. Dimana kita masih dapat merasakan nikmat sehat dan nikmat rasa bahagia, sehingga kita bisa berkumpul bersama pada malam ini." Ki Mahesa mengawali kalimatnya.
__ADS_1
"Ada hal yang ingin aku sampaikan pada kalian semuanya, dan aku berharap kalian bisa menerimanya dengan rasa senang. Niat kita bersama adalah selalu bersatu dalam syukur dan kesejahteraan. Aku merasa dan sangat menyadari jika usiaku sudah terlalu renta untuk mengawal kalian mengembangkan padhepokan ini. Padhepokan yang sudah mengalami jatuh dan bangun, akhirnya bisa berkembang sebesar ini." semua mata menatap Ki Mahesa, bahkan Lindhuaji dan Wisanggeni tidak memahami apa yang akan disampaikan ayahndanya. Laki-laki tua itu mengambil nafas dan menghembuskan secara perlahan.
"Aku akan mengistirahatkan raga dan rasa ini, sudah saatnya aku untuk memasrahkan diriku pada Kuasa Hyang Widhi. Aku akan mulai proses meditasi..., dan aku pasrahkan posisi Ketua Klan pada dua putraku Lindhuaji dan Wisanggeni." kalimat terakhir yang diucapkan Ki Mahesa, mengagetkan kedua putranya. Tanpa ada pembicaraan terlebih dahulu, tiba-tiba laki-laki tua itu menyerahkan posisinya. Tetapi mendengar niat baik ayahndanya, sebagai putra yang berbakti.. mereka hanya bisa mendukung.
"Hanya itu yang bisa aku sampaikan pada kalian semua saudaraku. Tetaplah rukun, guyup, dan tanggung semua beban secara bersama-sama. Terima kasih." Ki Mahesa mengakhiri perkataannya. Suasana di pendopo menjadi terdiam dan hening. Tidak ada satupun yang bersuara, semua tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
"Terima kasih ayahnda atas kepercayaan kepada kami putra-putra ayah. Kami mendukung niat baik ayahnda untuk menghabiskan waktu dengan bermeditasi, lebih mendekatkan diri pada Hyang Widhi. Untuk Kang Aji..., aku sebagai putra bungsu dari ayahnda dan ibunda.. juga menyerahkan Klan Bhirawa untuk Kang Aji kelola dengan baik." Wisanggeni segera memecah keheningan.
"Apa maksudmu Rayi..?? Apakah kamu akan melepaskan diri dari tanggung jawab ini?" dengan nada kurang suka, Lindhuaji memotong perkataan Wisanggeni.
Putra bungsu Ki Mahesa itu tersenyum, kemudian memegang kedua bahu Lindhuaji.
Untuk beberapa saat Lindhuaji terdiam.., tetapi setelah memikirkan perkataan ayahnda dan Wisanggeni, akhirnya laki-laki putra kedua Ki Mahesa itu bisa menerima amanah besar itu.
"Baiklah aku menerima amanah dari ayahnda dan Rayi Wisanggeni. Kita akan mengembangkan Klan Bhirawa bersama-sama, dan akan kita tunjukkan bahwa Klan ini akan menjadi sebuah klan yang layak diperhitungkan." Lindhuaji menyanggupi dirinya untuk memimpin Klan Bhirawa.
********
__ADS_1
Pagi harinya secara resmi Ki Mahesa menyerahkan posisinya sebagai Ketua Klan pada Lindhuaji. Suka cita menyelimuti suasana di kota Laksa, karena sebagai Klan yang cukup diperhitungkan dan sudah memiliki nama di kota itu, pergantian pemimpin segera tersebar dan terinformasi di penjuru kota. Bahkan secara pribadi, Pangeran Abhiseka mengutus orang untuk memberikan ucapan selamat. Secara khusus, Pangeran itu juga mengundang Wisanggeni untuk mampir di kota kerajaan.
"Akang .., bagaimana langkah kita selanjutnya?" Rengganis bertanya pelan pada Wisanggeni. Wisanggeni tersenyum dan menoleh ke wajah Rengganis.
"Nimas.., nanti kita akan mampir dulu di kota kerajaan. Kita akan memenuhi undangan dari Pangeran Abhiseka. Setelah itu, Akang akan langsung kembali ke perbukitan Gunung Jambu. Apakah Nimas sukarela untuk mengikuti Akang kesana?" Wisanggeni kembali bertanya balik pada istrinya. Setelah melihat Rengganis, Wisanggeni mengalihkan tatapannya pada Maharani.
"Bagaimana juga denganmu Nimas Maharani, apakah kamu juga akan sukarela untuk mengikuti Akang?" ucap Wisanggeni dengan lembut pada Maharani. Tangan Wisanggeni meraih pundak perempuan itu, memintanya untuk lebih mendekatkan padanya. Sampai saat ini, Maharani memang masih menjaga diri untuk mendekatinya.
"Maharani akan mengikuti Akang kemanapun, jika Akang mengijinkan." ucap Maharani pelan, pipinya bersemburat warna pink.
"Nimas Rengganis juga akan mengikuti Akang kemanapun." Rengganis tidak ketinggalan, perempuan itu juga menyanggupi untuk kemanapun mengikuti suaminya.
Wisanggeni memeluk kedua istrinya bersamaan, menyandarkan kepala masing-masing di sisi pundaknya. Meskipun jujur dalam hati laki-laki itu masih berat sebelah rasa sayangnya pada Rengganis, tetapi dia selalu berusaha untuk bertingkah laku adil pada Maharani.
"Baiklah.. kita akan menghabiskan malam ini di Klan ini. Besok pagi kita berangkat ke kota Laksa untuk menemui Pangeran Abhiseka. Barulah setelah beberapa saat di kerajaan, kita akan segera kembali ke perbukitan Gunung Jambu." ucap Wisanggeni perlahan.
Mereka akhirnya kembali ke griya pondok untuk beristirahat. Maharani seperti tahu diri, menyadari posisinya, perempuan itu berpura-pura untuk menemui Gayatri dan Niluh. Perempuan itu akan selalu memberi waktu pada Rengganis dan Wisanggeni untuk menghabiskan waktu berdua. Di sela-sela kesenggangan waktu Wisanggeni, baru perempuan itu akan diperlakukan selayaknya sebagai seorang istri oleh laki-laki itu.
__ADS_1
Wisanggeni hanya tersenyum melihat istri keduanya itu, dia berjanji akan segera menjemput Maharani jika sudah memberikan kewajibannya pada Rengganis.
********