Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 197 Jalan Keluar


__ADS_3

Pangeran Abhiseka mencoba untuk mengangkat tubuhnya, tetapi laki-laki itu terjatuh kembali ke tanah. Dengan tersenyum malu, Pangeran Abhiseka menerima uluran tangan Wisanggeni, dan dengan cepat Wisanggeni membantu laki-laki itu untuk beristirahat di tempat yang lebih bersih.


"Tunggulah sebentar Pangeran, aku akan menolong Andhika dan Jatmiko terlebih dulu. Kedua pengawalmu juga tidak dalam kondisi yang lebih baik." setelah mengantarkan Pangeran Abhiseka ke dalam goa, Wisanggeni berpamitan untuk meninggalkan laki-laki itu sendiri.


"Ya Wisang.., harusnya aku yang melindungi mu. Tetapi situasi malah terbalik, malah kamu yang menolongku akhirnya." ucap Pangeran Abhiseka dengan suara lemah.


Wisanggeni tersenyum dan mengangkat tangannya, kemudian berjalan meninggalkan Pangeran Abhiseka. Di pintu masuk goa, Wisanggeni mengusap lembut kepala Singa Ulung yang tampak senang melihatnya utuh tidak terjadi sesuatu apapun.


"Awasi Pangeran.. Ulung!" ucap Wisanggeni sambil berjalan menuju ke arah dua pengawal itu.


Di depan Andhika dan Jatmiko yang baru tersadar, Wisanggeni menurunkan badannya. Laki-laki itu berjongkok dan meletakkan jarinya memeriksa denyut nadi kedua pengawal itu.


"Untung saja luka kalian hanya luka luar saja.., tidak sampai masuk ke dalam." Wisanggeni bernafas lega, kemudian tangannya merogoh botol porselin dari dalam kepisnya. Untungnya laki-laki itu bisa mengolah pil sendiri, sehingga di waktu senggang, Wisanggeni mengisi waktunya dengan mengolah pil herbal. Perjalanan melintasi hutan yang sering dilakukan oleh laki-laki itu, memiliki manfaat untuk mengumpulkan beberapa bahan mentah untuk ramuan herbal ya. Bahkan terkadang melalui pertarungan-pertarungan yang dia lakukan, Wisanggeni bisa menemukan ramuan herbal yang sudah dikumpulkan musuh-musuhnya.


"Telanlah dulu pil ini, tidak lama lagi kamu akan segera dapat mengembalikan tenaga kalian. Oleskan ramuan oles ini untuk menghilangkan luka memar pada tubuhmu." Wisanggeni memasukkan masing-masing satu butir pil ke mulut Andhika dan Jatmiko. Kemudian membantu kedua pengawal itu untuk meluruskan tubuhnya. Mereka duduk bersandar pada batang pohon yang tumbang dan ambruk di tempat itu.


"Terima kasih Den Bagus Wisanggeni." Andhika dan Jatmiko mengucapkan terima kasih pada Wisanggeni, dan laki-laki itu hanya menjawabnya dengan senyuman di bibirnya.


"Kalian istirahat dulu.., aku akan mengobati Pangeran Abhiseka. Setelah malam ini kalian tidur dan beristirahat, aku yakin besok pagi luka-luka kalian sudah akan mendekati pulih. Kita akan bisa melanjutkan perjalanan." melihat kedua pengawal itu sudah dalam kondisi yang baik, Wisanggeni berdiri dan berjalan meninggalkan mereka.


"Ulung. , aku minta bantuannya. Carikan jamur atau apapun untuk makan kita sore ini. Sepertinya satu di antara kita belum memiliki kemampuan untuk mencari makanan." di depan Singa Ulung, Wisanggeni memerintahkan pada binatang itu untuk mencarikan bahan makanan.


"Auuummm.." setelah mengaum, Singa Ulung langsung melompat meninggalkan Wisanggeni.

__ADS_1


Melihat Singa Ulung hilang di rerimbunan hutan, Wisanggeni tersenyum kemudian berjalan masuk ke dalam goa.. Laki-laki itu segera mendatangi Pangeran Abhiseka yang masih tergeletak di atas batu. Saat Wisanggeni datang, terlihat Pangeran Abhiseka sedang memejamkan mata. Tetapi mendengar ada langkah kaki yang mendekat, laki-laki itu membuka matanya.


"Bagai keadaanmu Pangeran?" sambil mengambil sebuah pil, Wisanggeni menanyakannya keadaan Abhiseka.


"Dadaku masih terasa sakit, panas kayak terpanggang api. Sepertinya kita akan sedikit terhambat untuk penyembuhan ku Wisang." dengan tatapan penyesalan, Abhiseka menjawab pertanyaan Wisanggeni. Laki-laki itu tersenyum, kemudian meletakkan pil di depan mulut Pangeran Abhiseka.


Pangeran Abhiseka langsung menelan pil yang diberikan Wisanggeni, dan putra Ki Mahesa itu memegang lengan laki-laki itu.


"Krekkk..., aaawww.." saat Wisanggeni meluruskan tulang-tulang Pangeran Abhiseka, laki-laki itu berteriak kesakitan.


"Tahanlah sebentar Pangeran.., setelah bangun, badanmu akan kembali segar seperti semula." untuk menahan agar teriakan kesakitan Abhiseka tidak terdengar, Wisanggeni membuat laki-laki itu pingsan sebentar.


*******


Wisanggeni terbangun dari istirahatnya, ketika melihat Pangeran Abhiseka masih tertidur, perlahan laki-laki itu melangkah keluar. Di dekat pintu goa, kedua pengawal juga tampak masih beristirahat.


"Ulung.., kamu berjaga malam ini?" Wisanggeni mengusap pelan kepala Singa Ulung. Binatang itu menggerakkan kepalanya, kemudian menempelkan kepala ke pinggang laki-laki itu. Beberapa saat mereka terdiam, memandang kegelapan malam di depan sana.


Suara binatang tonggerek dan binatang lain terdengar bersahutan, menambah suasana seram malam itu di tengah hutan. Tetapi suasana seperti itu, sudah sangat dikenali dan akrab dengan Wisanggeni.


"Sudah lama kamu duduk disini Wisang?" tiba-tiba terdengar suara Pangeran Abhiseka dari belakang Wisanggeni. Sontak laki-laki itu menoleh ke belakang, dan terlihat Abhiseka sudah jauh lebih segar. Seperti yang dikatakan Wisanggeni sebelumnya, saat Abhiseka sadar, maka kondisi tubuhnya akan membaik.


"Duduklah disini Pangeran, aku juga baru saja keluar menemani Singa Ulung. Lihatlah Andhika dan Jatmiko masih tampak kelelahan, biarkan mereka istirahat dulu, biar aku menggantikannya sementara." Wisanggeni meminta Pangeran duduk.

__ADS_1


Tanpa bicara, Abhiseka duduk di samping Wisanggeni. Keduanya diam dan memandang ke kegelapan.


"Bagaimana rencanamu Wisang..?" tiba-tiba Pangeran Abhiseka menanyakan kelanjutan langkah Wisanggeni.


"Seperti yang sudah aku janjikan pada para sesepuh di suku ular, aku harus segera mengantarkan pil esensi naga ini Pangeran. Tetapi ada yang membuatku gundah, karena aku ingin segera bertemu dengan Nimas Rengganis dan putraku Chakra Ashanka. Aku juga sudah terlalu lama meninggalkan padhepokan." ucap Wisanggeni pelan. Laki-laki itu memang terlihat seperti mengalami kebingungan.


"Apakah harus kamu sendiri yang mengantarkan pil itu kesana?? Bukankah waktumu akan banyak terbuang, dan semakin lama kamu akan meninggalkan istri pertama dan putramu?" dari pertanyaan itu, tersirat makna yang dalam.


"Maksud Pangeran??" tanya Wisanggeni sambil menatap wajah Abhiseka.


"Jika kamu datang kembali ke kerajaan ular, tidak mungkin kamu akan langsung bisa meninggalkan tempat itu dengan cepat. Mungkin sesepuh kerajaan itu, atau bahkan Maharani sendiri akan menghambat kepulanganmu untuk bertemu istri dan putramu." Abhiseka menjawabnya pertanyaan Wisanggeni.


"Kenapa kamu tidak mencoba untuk mengirimkan merpati untuk mengantar pil esensi naga itu? Jadi kamu bisa segera kembali ke perbukitan Gunung Jambu." Abhiseka menambahkan.


Wisanggeni terdiam sebentar, tetapi kemudian...


"Sepertinya apa.yang kamu katakan ada benarnya Pangeran. Aku sudah tidak dapat lagi menunda rasa rinduku, aku ingin segera bertemu dengan Nimas Rengganis dan juga putraku Chakra Ashanka. Tetapi dimana aku akan mendapatkan merpati itu, apakah setelah aku sampai di perbukitan Gunung Jambu?" setelah berpikir sesaat, akhirnya Wisanggeni menyetujui usul yang disampaikannya oleh Abhiseka.


"Jangan khawatir Wisang.. Kerajaan memiliki banyak koleksi merpati untuk bertukar kabar. Aku akan meminjamkan merpati koleksiku sendiri untuk mengantarkan pil itu. Tunggulah sampai besok pagi!" dengan tegas, Abhiseka menawarkan bantuan.


"Baiklah aku terima bantuan mu Pangeran.." dengan cepat, Wisanggeni menanggapi perkataan Abhiseka.


*****

__ADS_1


__ADS_2