Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 254 Berdamai dengan Keadaan


__ADS_3

Melihat sikap Rengganis dalam menyambut kedatangannya dan Parvati, hati Maharani menjadi lega. Ketakutannya selama ini, jika istri pertama Wisanggeni tidak menerimanya luntur sudah. Ternyata semua hanya ketakutan yang dia rasakan. Saat ini, di depannya duduk Wisanggeni yang tidak henti menatapnya dari tadi. Lama tidak bersua, hati Maharani terasa berdebar melihat tatapan yang sudah lama tidak di lihat itu.


"Maafkan Nimas kang Wisang..., tanpa ijinmu aku datang menyusulmu ke perguruan ini. Aku hanya ingin mengenalkan pada bayi yang ku kandung saat itu, tentang sosok ayahnya. Tetapi.., jika kang Wisanggeni atau Nimas Rengganis merasa keberatan untuk menerima kehadiran Maharani, maka aku akan membawa Parvati pergi meninggalkan padhepokan secepatnya." Maharani memberanikan diri mengajak bicara Wisanggeni. Perempuan itu betul-betul merasa tidak nyaman dengan keadaan saat ini. Dia merasa sebagai perusak kebahagiaan suami dan istri pertamanya.


"Kamu terlalu banyak berpikir Nimas..., tidak ada yang berpikiran seperti. Aku merasa bahagia, karena kamu bersedia mengorbankan kehidupanmu yang penuh dengan pelayanan di kerajaan ular. Jika aku boleh meminta, temani aku dan Nimas Rengganis bersama-sama di perguruan ini. Aku yakin, Nimas Rengganis juga sangat bahagia dan menerima kehadiranmu bersama dengan Parvati." dengan lembut, Wisanggeni menanggapi perkataan Maharani. Laki-laki itu mendekati Maharani, kemudian memeluk perempuan yang sudah melengkapi kebahagiaannya itu. Hidupnya terasa lengkap dengan hadirnya dua anak, putra dan putri.


"Terima kasih atas penerimaanya Akang.." Maharani menyandarkan kepala di dada laki-laki itu. Kedua manusia itu saling melepas rindu, dan saling memudarkan perasaan masing-masing. Hingga tiba-tiba..


"Tok.., tok.., tok..." terdengar pintu kamar diketuk dari luar. Maharani menarik tubuhnya dari pelukan suaminya itu. Setelah merapikan pakaiannya, perempuan itu melangkah menuju pintu, kemudian membukanya. Terlihat dayang yang dibawa Maharani dari kerajaan ular, berada di depan pintu dengan membawa poci berisi minuman dan tiga buah cangkir dari tanah.


"Apa yang kamu bawa Bibi..?" Maharani tersenyum melihat kedatangan dayang yang selalu setia melayaninya.


"Hanya air jahe hangat Gusti Ratu..., sepertinya tadi Den Wisang sudah datang. Sekalian saya menyediakan untuk Den Bagus Wisanggeni dan juga untuk Den Ayu Rengganis." ucap dayang sambil melangkah masuk ke senthong yang digunakan untuk Maharani. Perempuan itu membungkukkan badan memberi hormat pada Wisanggeni. Dayang sudah beberapa kali bertemu dengan Wisanggeni, sehingga langsung bisa mengenali laki-laki itu.


"SIlakan dinikmati Den Bagus..., air jahe hangat dan kudapan ala kadarnya." dayang meminta Wisanggeni untuk mencicipi minuman dan kudapan yang dibawanya.

__ADS_1


"Terima kasih mbok.., kembalilah ke tempatmu!" Wisanggeni langsung meminta perempuan itu untuk kembali ke tempatnya berada. Setelah kembali membungkukkan badannya untuk memberi penghormatan, dayang segera melangkah keluar dari senthong Maharani.


Maharani segera menuangkan minuman jahe hangat ke dalam cangkir tanah, kemudian memberikannya pada Wisanggeni. Laki-laki itu menerima cangkir itu kemudian mencicipinya. Setelah mencicipi beberapa teguk, kacang rebus menjadi sasaran berikutnya.


*********


Di dalam hutan..


Ketiga teman Chakra Ashanka memundurkan tubuh mereka, dan menjejeri putra Wisanggeni itu. Mereka merasa ketakutan melihat binatang besar yang seperti menghadang mereka di depannya. Chakra Ashanka menghentikan langkahnya, karena laki-laki muda itu merasa sulit untuk berjalan. Sayogyo, Prastowo dan Tarjono tidak lagi berada di samping Chakra Ashanka, ketiga orang itu memegang tubuh Chakra Ashanka sehingga menghambat laki-laki muda itu untuk berjalan.


"Di depan itu ada apa Ashan..., seperti gajah tetapi kenapa menyeramkan?' tanya Tarjono gemetar. Demikian juga dengan kedua temannya yang lain.


Chakra Ashanka tersenyum, anak muda itu bisa melihat dan menembus ke dalam tubuh binatang itu. Merasa energi dan aura kekuatannya melebihi binatang itu, Chakra Ashanka bersikap tenang. Apalagi dalam kepisnya, anak muda itu juga menyembunyikan SInga Resti. Dan harimau itu memiliki kemampuan magic lebih tinggi dari binatang yang menyerupai gajah yang ada di depannya.


"Tenanglah.., aku akan mengajak binatang itu untuk bicara." ucap Chakra Ashanka. Ketiga teman anak muda itu memundurkan tubunya ke belakang. Mereka memberi kesempatan pada anak muda itu untuk mengajak binatang itu berbicara.

__ADS_1


"Uuuk aaaa.., uuukk aaaa.." suara binatang kera di hutan itu seperti mengiringi malam itu, membuat suasana menjadi bertambah menyeramkan.


"Ada apa gajah bercula.., apakah kamu ingin mengajakku dan teman-temanku ini berkenalan?" Chakra Ashanka berjalan mendekat ke arah binatang itu. Melihat kedatangan anak muda itu di depannya, binatang itu terlihat marah.


"Ngiiikkkk... bruummm.." binatang gajah bercula itu menderum, dengan mata merah menghunus ke arah Chakra Ashanka. Binatang itu meruncingkan cula dan gading yang ada di tubuh bagian depannya, siap menyerang keempat laki-laki muda yang ada di depannya.


"Jangan ganggu kami gajah.., kami tidak akan mengganggumu dan juga semua binatang di hutan ini. Kami hanya ingin melewati hutan ini, untuk dapat mencapai desa dan kota yang ada di seberang hutan ini." Chakra Ashanka menanggapi deruan suara binatang itu dengan kata-kata.


Melihat gajah itu semakin mendekat padanya dengan tatapan kemarahan, Chakra Ashanka memundurkan tubuhnya ke belakang. Anak muda itu mengangkat kedua tangannya ke depan tubuhnya, kemudian jari-jarinya membuat simbol. Setelah mengambil nafas panjang, aura dan energi inti diarahkan anak muda itu ke kedua telapak tangannya. Sambil tersenyum, Chakra Ashanka mengangkat satu tangannya ke atas, dan gumpalan energi berwarna jingga terlihat menerangi kegelapan yang ada di sekeliling hutan tersebut. Ketiga teman Chakra Ashanka saling berpandangan, mereka tidak mengira jika anak muda di depannya itu memiliki banyak taktik dalam bertarung.


Mata binatang gajah bercula itu melebar melihat gumpalan energi di tangan anak muda itu. Sambil menggeru, binatang itu berlari kencang ke depan untuk menubruk Chakra Ashanka. Melihat binatang yang terlihat marah dan memiliki niat untuk menyerangnya, anak muda itu menggeser badannya ke kanan, dan mengarahkan gumpalan energi itu ke arah binatang yang tampak marah itu.


"Jeglarrr...., brukk..." suara dentum energi yang bertabrakan terdengar menggemparkan suasana malam dan sepi di hutan itu. Binatang-binatang lain berlari menyingkir merasakan ada sebuah kekuatan energi besar yang terasa menindas kekuatannya.


Hanya dengan sekali serangan, gajah bercula itu terjatuh ke samping. Keempat kaki binatang itu tidak bisa digerakkan, merasa seperti diikat oleh sebuah tali panjang. Chakra Ashanka tersenyum, kemudian menghampiri binatang yang jatuh terkapar di tanah itu.

__ADS_1


**********


__ADS_2