
Wisanggeni dan Sentono mengumpulkan dua puluh lima orang, yang mereka dapatkan di Pilar Kekuatan untuk berkumpul di halaman utama. Mereka ingin membaiat mereka, agar kembali menjadi murid Akademi yang benar, dan membangun kembali Akademi yang sudah porak poranda. Orang-orang yang tidak mau bergabung dengan mereka, langsung dihabisi oleh orang-orang Sentono, karena mereka tidak mau dipusingkan oleh urusan mereka.
"Dimana pemimpin kalian.., tidak mungkin hanya dengan kekuatan yang kalian dan orang-orang itu miliki, kalian bisa menguasai Akademi ini." dengan suara keras Wisanggeni bertanya pada orang-orang itu.
Mereka tidak segera menjawab, tetapi malah saling berpandangan. Orang-orang itu sendiri juga merasa kebingungan. Setelah orang-orang dari Trah Jagadklana, mengambil para murid yang memiliki potensi dan kemampuan ilmu kanuragan yang tinggi, untuk dibawa ke Jagadklana. Seharusnya mereka membebaskan diri mereka, tetapi mereka masih mengikuti ajakan dari orang-orang Jagadklana, bahkan sampai sekarang.
"Kenapa kalian tidak menjawab?" teriak Sentono. Laki-laki itu semakin mendekati ke tempat orang-orang itu berada. Beberapa dari mereka, terlihat ketakutan.
"Jika kalian mau tahu..., Wisanggeni adalah putra menantu dari Ki Sasmita. Mereka baru saja kembali untuk menyelamatkan wilayah-wilayah kita dari cengkeraman Gerombolan Alap-alap. Tetapi orang-orang Trah Jagadklana malah mengejar dan menganggap Nyai Ageng sebagai orang yang dicari." Sentono melanjutkan lagi.
Mendengar penjelasan Sentono, lebih dari separo orang di halaman langsung menjatuhkan kaki dan lutut mereka di atas rumput. Orang-orang yang berlutut adalah orang-orang yang dikirimkan Laksito untuk berlatih kekuatan di Pilar Kekuatan. Sedangkan orang-orang yang berasal dari tempat lain, hanya saling berpandangan.
"Ampuni kami Ki Sanak.., kami kehilangan arah. Orang-orang muda di Jagadklana saat ini tidak memiliki pilihan lain. Orang-orang Ketua Trah Laksito tidak akan segan-segan untuk menghabisi kami, jika kami tidak mengikuti perintahnya." beberapa orang memohon pengampunan. Melihat reaksi mereka, Wisanggeni tersenyum kemudian berbicara pada mereka..
"Baiklah.., jadilah ksatria dan bersikap baiklah kalian pada sesama. Hilangkan kesombongan dan rasa tinggi hati kalian. Kita akan memperbaiki Akademi ini secara bersama-sama, dan sebagian akan mencari kabar dan kembali ke Jagadklana." Wisanggeni tidak menyalahkan kesalahan orang-orang itu sepenuhnya, karena hasutan dan tekanan bisa menjadikan seseorang berubah. Laki-laki ini masih memberi kesempatan pada mereka untuk memperbaiki diri, dan juga untuk menambah jumlah orangnya yang akan dia gunakan untuk mengambil lagi kedudukan Ketua Trah untuk keluarga mertuanya.
__ADS_1
Sentono dan orang-orangnya kemudian mengelompokkan mereka, dan membagi tugas untuk membersihkan serta memperbaiki Akademi. Sebagian berlatih ilmu kanuragan untuk bersiap menyerang ke Jagadklana. Tiba-tiba...
"Akang..., Akang..." dari kejauhan, tampak anak buah Sentono berlari memanggil Wisanggeni.
Wisanggeni dan beberapa orang yang berada disitu memperhatikan orang tersebut, kemudian tangan Sentono menghentikannya.
"Ada apa Karyo..., untuk apa kamu berlari-lari seperti ini?? Apakah ada hal yang kamu anggap gawat, sehingga dengan tergesa-gesa kamu berlari kesini?" Sentono segera menanyakan keperluan orangnya yang bernama Karyo itu.
"Iya Sentono..., aku membawa kabar untuk Kang Wisang. Nimas Rengganis.., Nimas Rengganis.. saat ini sedang berjuang untuk melahirkan bayi. Nimas dibantu Gayatri dan Niluh .. Akang." dengan tersengal-sengal, Karyo membawa kabar yang menyentakkan Wisanggeni. Tanpa menanyakan lebih lanjut pada Karyo, Wisanggeni langsung melompat meninggalkan tempat itu.
***************
"Nimas..., apakah saat ini Akang tidak sedang bermimpi?" tangan laki-laki itu bergetar saat menyentuh bayi laki-laki yang sedang dipangku oleh istrinya. Tangannya memberi usapan ke seluruh wajah bayi itu, dan perlahan dengan hati-hati, Wisanggeni mengangkat bayinya dengan kedua tangannya. Seperti mendapatkan kehangatan baru, bayi itu tiba-tiba berhenti tangisnya saat berada di gendongan ayahndanya.
"Putra kita langsung bisa mengenali siapa ayahndanya Akang... Sejak dari tadi, begitu dia lahir ke dunia ini, bayi ini terus mengeluarkan suara tangisan. Mungkin dia protes, kenapa ibundanya tidak ditunggui ayahndanya." Rengganis menggoda Wisanggeni.
__ADS_1
"Cup.." tanpa melihat Niluh dan Gayatri.., Wisanggeni memberi kecupan sekilas di pipi Rengganis,
"Jangan siksa lajang-lajang seperti kami ini Kang Wisang.. Tunggulah sampai kami tidak ada disini." protes Niluh melihat perlakuan Wisanggeni pada istrinya. Gayatri tersenyum.., kemudian karena merasa urusannya membantu Rengganis sudah selesai.. gadis itu mengajak Niluh untuk segera pergi dari ruangan itu.
"Niluh.., ayo kita segera periksa di belakang. Biarkan dua manusia ini melanjutkan aktivitas mereka.." Gayatri segera meraih tangan Niluh, kemudian membawa gadis itu keluar dari ruangan.
"Terima kasih Nimas.., tanpa adanya kalian yang menemani istriku, entah bagaimana jadinya." dengan tulus, Wisanggeni menyampaikan ucapan terima kasih pada Gayatri dan Niluh. Kedua gadis itu hanya melambaikan tangan, menanggapi ucapan terima kasih itu. Setelah dua gadis itu pergi, Wisanggeni duduk di samping Rengganis kemudian menidurkan bayi yang sudah tenang memejamkan mata itu di atas tempat tidur.
"Bagaimana Akang.., apakah anak-anak muda dari Jagadklana mau mengalah?? Jika tidak, ijinkan Nimas untuk menemui mereka." Rengganis menanyakan bagaimana usaha yang sudah dilakukan oleh suaminya danSentono. Karena memperhatikan kehamilannya, Wisanggeni tidak mengijinkannya untuk ikut menemui anak muda dari Jagadklana itu. Tetapi ketika bayinya sudah lahir, Rengganis merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu memnyelesaikan sendiri masalah yang ada di Trahnya.
"Jangan terlalu banyak berpikir Nimas.., semua sudah selesai. Sentono dan beberapa orang yang kita bawa ke Pilar kekuatan, saat ini sedang mengelompokkan mereka untuk kita bagi tugas masing-masing." Wisanggeni meminta Rengganis untuk tidak berpikir keras dulu. Rengganis menjatuhkan kepalanya di bahu Wisanggeni, tetapi..
"Akang.., apakah Akang sudah menyiapkan nama untuk putra kita?" tiba-tiba Rengganis menanyakan untuk bayi yang baru saja dia lahirkan. Wisanggeni tersenyum,....
"Akang sudah menyiapkannya Nimas. Chakra Ashanka sepertinya nama yang pas untuk putra kita. Chakra berarti inti sukma manusia, sedangkan Ashanka bermakna pemberani. Bagaimana menurutmu Nimas?" Wisanggeni menanyakan balik pada Rengganis.
__ADS_1
"Sebuah nama yang bagus dan menyiratkan makna yang jelas Akang. Nimas sangat menyukainya.., kita akan memanggil putra kita dengan sebutan Ashan.." Rengganis menyetujui usulan nama tersebut, dan sudah menemukan panggilan untuk putra mereka.
************