
Hampir satu hari perjalanan di udara, tanpa memperhatikan sinar matahari yang menyengat ke atas kepala mereka, akhirnya Rengganis mengajak Chakra Ashanka untuk turun beristirahat. Perempuan itu juga tidak tega melihat keadaan Sekar ratih yang sudah terkantuk-kantuk sejak tadi. Untungnya Rengganis duduk di belakangnya, sehingga perempuan itu berkali-kali memegangi tubuh gadis kecil itu agar tidak terjatuh.
"Perintahkan pada Singa Resti putraku..., di pinggiran kota depan, kita bisa meminta binatang ini untuk membawa kita turun. Kita akan beristirahat beberapa hari di kota ini, sambil melihat-lihat siapa tahu ada yang cocok untuk kita bawa pulang." Rengganis mengingatkan putranya untuk beristirahat turun ke bawah.
"baik ibunda.., kita putuskan untuk beristirahat dulu." Chakra Ashanka menyanggupi keinginan ibundanya Rengganis. Perlahan telapak tangan Chakra Ashanka mengusap pelan paha atas kaki belakang SInga Resti.
"Singa Resti.., turunkan kami di pinggiran kota yang terlihat di bawah. Kita akan mengambil waktu untuk istirahat beberapa saat. tidak baik untuk memaksakan diri dalam perjalanan, kecuali ada hal penting yang harus segera kita jumpai." dengan cepat, Chakra Ashanka berbicara pada Singa Resti.
"Auuuummm..." terdengar auman panjang SInga Resti. Tidak lama kemudian, binatang itu sudah mengurangi kecepatan terbangnya, dan perlahan mulai menukik turun.
"Turunkan kami di pinggir hutan itu, agar tidak banyak yang melihat kita. Karena jika banyak orang yang melihat kita, maka kita harus memberikan penjelasan atau jawaban atas pertanyaan mereka." untuk menghindari banyaknya orang yang penasaran, Chakra Ashanka meminta binatang itu menurunkan mereka di pinggir desa.
Tidak lama kemudian, kedua kaki Singa Resti akhirnya menginjak di atas tanah. Ketiga orang itu segera bergantian melompat turun dari punggung binatang itu. Rengganis melakukan peregangan, demikian juga dengan Chakra Ashanka dan Sekar ratih. Seharian duduk di atas punggung SInga Resti menjadikan pinggang dan punggung mereka terasa tegang. Setelah beberapa saat mereka meregangkan urat-urat, akhirnya punggung mereka menjadi terasa lemas.
Perlahan Chakra Ashanka kembali menepuk pelan punggung dan kaki atas SInga Resti, dan tidak lama kemudian binatang itu berubah menjadi seekor kucing yang terlihat menggemaskan. Dengan penuh kasih sayang, Chakra Ashanka mengangkat tubuh binatang itu kemudian menempatkannya di atas lengannya. Tidak lama kemudian, dengan beberapa kali usapan binatang itu sudah memejamkan mata.
"Binatang ini terlihat menggemaskan kang Ashan, setelah berada di tangan kang Ashan, kucing ini langsung tertidur." dengan takjub, Sekar ratih mengamati kucing yang tertidur pulas di tangan Chakra Ashanka.
"Iya Ratih.., biarlah Singa Resti beristirahat beberapa saat di tanganku. Binatang itu pasti sangat lelah setelah seharian membawa kita bertiga terbang melintasi langit." Chakra Ashanka menanggapi perkataan Sekar ratih.
__ADS_1
Gadis kecil itu tersenyum dan menganggukkan kepala, dan Rengganis melihat interaksi kedekatan gadis kecil itu dan putranya dengan tersenyum. Namun saat ini bukan merupakan waktu yang tepat untuk mempertanyakan hal itu pada kedua anak muda itu.,
"Ayo kita segera lanjutkan perjalanan kita, kali ini kita harus berjalan kaki untuk mencari penginapan dan kedai makanan." Rengganis mengajak kedua anak muda itu untuk segera melanjutkan perjalanan.
"Baik ibunda.." Chakra Ashanka kemudian berjalan mengikuti Rengganis , demikian juga dengan Sekar Ratih. Mereka akhirnya berbaur dengan orang-orang yang juga banyak sedang berjalan kaki. Melihat ada sebuah penginapan di ujung jalan, akhirnya Rengganis mengarahkan langkahnya menuju ke tempat itu.
*********
Selepas makan malam, Rengganis dan Sekar ratih langsung memasuki kamar. Untungnya begitu mereka masuk ke penginapan, masih tersisa dua kamar untuk mereka, Sehingga satu kamar digunakan untuk Chakra Ashanka beristirahat, dan satu kamar digunakan oleh Rengganis serta Sekar ratih. Begitu sampai di dalam kamar, gadis kecil itu langsung merebahkan badannya di atas pembaringan. Rengganis tersenyum melihatnya.
"Apakah kamu sudah mengantuk Ratih..?" dengan ramah, Rengganis bertanya pada gadis kecil itu.
Rengganis memasukkan tangan ke dalam kepis, kemudian tangannya keluar dengan memegang sebuah botol berisi obat-obatan herbal buatan suaminya. Perempuan itu mengeluarkan satu buah pil herbal, kemudian menyerahkan pil itu pada gadis kecil itu.
"Ini obat apa Bibi.., apakah Ratih harus meminumnya?" Sekar ratih yang belum terbiasa dengan pil-pil herbal, karena memang selama ini keluarganya tidak mampu untuk membelinya. Jadi melihat pil-pil itu, Sekar ratih menganggapnya seperti barang mewah.
"Iya minumlah satu butir. Pil herbal ini berkhasiat untuk menghilangkan rasa pegal-pegal di tubuhmu. Kamu juga akan dapat tidur lebih nyenyak." Rengganis menjelaskan manfaat obat yang diberikannya itu.
"Pasti harganya sangat mahal ya Bibi.., Ratih merasa sayang untuk memakannya, akan Ratih simpan saja." dengan polosnya gadis kecil itu tidak sampai hati untuk memakan pil herbal itu.
__ADS_1
"Tenanglah Ratih.., bibi dan juga Chakra Ashanka tidak membelinya. Pil-pil herbal ini diramu dan dibuat sendiri oleh ayahnda Chakra Ashanka, kakangmas Wisanggeni. Jadi kita tidak mengeluarkan koin yang banyak untuk mendapatkannya. Minumlah dulu ratih.., tidak perlu kamu khawatir. Pamanmu Wisanggeni akan membuatnya kembali, jika persediaan pil-pil ini sudah habis." menyadari kekhawatiran Sekar ratih, Rengganis mencoba menenangkan gadis kecil itu.
"Baik Bibi.., Ratih akan meminumnya." setelah mendengarkan penjelasan dari Rengganis, tanpa ragu lagi Sekar ratih meminum pil yang ada di tangannya itu dengan menggunakan segelas air. Rengganis tersenyum prihatin melihat kepolosan gadis kecil itu.
Beberapa saat kemudian, terlihat wajah Sekar ratih sudah segar lagi. gadis kecil itu duduk di pinggir dipan dan menyandarkan punggungnya pada sandaran dipan kayu tersebut.
"Ratih.., apakah aku boleh bertanya padamu..?" tiba-tiba Rengganis mengajukan pertanyaan pada gadis kecil itu.
"Boleh Bibi.., apapun terkait Ratih.., Bibi boleh menanyakannya." dengan cepat Sekar ratih menanggapi pertanyaan Rengganis.
Rengganis mengambil nafas dalam, kemudian mengeluarkannya kembali secara perlahan. Dengan senyum terkulum di bibirnya, Rengganis memandang ke wajah Sekar ratih.
"Bagaimana hubunganmu dengan putraku Chakra Ashanka.., apakah kamu memiliki ketertarikan dengan putraku Ratih..?" Sekar ratih sangat kaget mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Rengganis ibunda Chakra Ashanka.
"Maksud Bibi..?? Ratih dan kang Ashan dipertemukan oleh nasib Bibi.., dan bagi Ratih kang Ashan menjadi penyelamat hidup keluarga Ratih. Kebersamaan Ratih bersama dengan kang Ashan, Ratih niatkan untuk mengabdi dan melayani kang Ashan. Untuk hal yang lainnya, ratih tidak berani untuk merasakannya Bibi.." dengan suara pelan, Sekar ratih akhirnya mengungkapkan perasaannya pada ibunda Chakra Ashanka.
Mendengar jawaban dari gadis kecil itu, Rengganis hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
***********
__ADS_1