Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 98 Kepastian


__ADS_3

Wijanarko pergi ke kota Laksa, dia sengaja menunda keberangkatan untuk bergabung dengan keluarganya di perbukitan Gunung Jambu karena ingin menemui Kinara terlebih dahulu. Dia tidak tahu perjuangannya untuk menegakkan kedamaian, dengan menumpas gerombolan Alap-alap akan dapat menyelamatkan nyawanya atau tidak. Tetapi sebelum semuanya terjadi, laki-laki putra pertama Ki Mahesa itu akan mengutarakan maksud hatinya pada perempuan yang bekerja di aula obat.


"Antrian nomor 53 dipersilakan memasuki ruang yang ada di lantai 2, dekat dengan ruang pemandu acara lelang." petugas jaga memanggil nomor urut yang dipegang Wijanarko di tangannya.


Laki-laki itu segera beranjak mengikuti pelayan yang mengantarkannya menuju ruangan yang sudah disiapkan untuknya. Dia sengaja memberi uang lebih pada petugas jaga pendaftaran, agar memilihkan tempat di dekat ruang pemandu acara. Laki-laki itu ingin melihat respon yang ditunjukkan Kinara, saat melihatnya kembali datang ke aula obat.


"Tuan.., silakan duduk dulu. Sebentar lagi acara akan dimulai, dan nanti pelayan akan mengantarkan minuman danĀ  camilan untuk Tuan." pelayan mempersilakan Wijanarko duduk.


"Sampaikan tulisan ini pada pemandu acara. Bilang padanya, jika aku duduk di tempat ini." dengan memberi lebihan coin emas, Wijanarko menitip gulungan surat untuk diberikan pada Kinara. Pelayan itu agak ragu untuk menerima coin emas, tetapi Wijanarko langsung menaruh coin tersebut di saku pelayan tersebut.


"Akan kami sampaikan Ki Sanak.., tapi saya tidak bisa menjamin apakah Rara Ayu Kinara bersedia meresponnya. Karena banyak bangsawan yang melakukan hal yang sama, tapi dibaca saja tidak isi suratnya." pelayan menyampaikan hasil negatif respon yang mungkin akan diberikan oleh Kinara.


"Tidak masalah bagiku, kamu hanya perlu menyampaikan titipan surat ini dari WIjanarko Klan Gumilang. Tidak ada lagi yang perlu kamu bicarakan." Wijanarko menitipkan pesan khususnya untuk Kinara.


"Baik kisanak.., saya akan permisi terlebih dahulu."


Wijanarko tersenyum melihat punggung pelayan yang meninggalkannya. Perlahan laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan pelelangan. Dia melihat jika semua tempat sudah penuh terisi, beruntung dia bisa mendapatkan satu bilik kosong yang langsung dia blok hanya untuk dirinya.


Tidak berapa lama, Wijanarko terpana melihat kedatangan seorang perempuan muda cantik, yang langsung menempatkan diri di panggung pemandu acara. Laki-laki terpesona dengan aura dingin pada perempuan itu.

__ADS_1


"Ternyata penampilan Kinara lebih berani saat ini, dan bahkan garis-garis ketuaan tidak mampu ada di wajahnya yang mungil. Akankah kamu mau menemuiku Kinar?" gumam Wijanarko, saat matanya tanpa berkedip melihat seorang perempuan muda sedang membawakan dan memandu jalannya lelang.


"Plok.., plok.., plok..., marilah segera kita mulai acara pelelangan malam ini. Para tamu yang terhormat, silakan yang terbaik dari coin kalian untuk bisa mendapatkan bahan-bahan herbat, maupun obat-obatan jadi, kitab-kitab kuno kanuraganĀ  dan masih banyak lagi." suara merdu Kinara seperti magnet yang membuai para tamu yang hadir malam ini. Semua tamu mengarahkan pandangannya pada perempuan cantik dengan pakaian seksi yang berdiri di atas panggung.


Dengan kemampuan komunikasinya, menit demi menit, Kinara memandu jalannya lelang dengan penuh konsentrasi. Wijanarko memang tidak memiliki keinginan untuk melakukan lelang apapun, dia hanya ingin menyampaikan isi hatinya pada Kinara. Tidak peduli tanggapan apa yang akan diberikan gadis itu, Wijanarko akan langsung meninggalkannya untuk bergabung di perbukitan Gunung Jambu.


*************


"Minumlah dulu Ki Sanak.., Rara Ayu Kinara sedang berganti pakaian. Sebentar lagi, akan turun untuk menemui Ki Sanak." seorang pelayan aula obat, meletakkan minuman dan camilan di depan Wijanarko duduk. Beberapa saat yang lalu, setelah rangkaian acara proses lelang berakhir, pelayan yang dia titip pesan tadi menemuinya. Laki-laki itu diajak datang ke ruang tamu khusus untuk kamar Kinara.


"Baik.., terima kasih. Aku akan menunggunya." dengan sopan dan andhap asor, Wijanarko membalas sapaan pelayan tersebut. Wijanarko segera mengambil cangkir, kemudian menyesap minuman panas aroma herbal yang sudah disiapkan oleh pelayan itu.


"Nimas Kinara.., aku datang kesini untukmu." dengan suara lirih dan mata tanpa lepas memandang perempuan itu, Wijanarko menyapa Kinara.


"Huh.., Kang Janar. Bagaimana kabar kang Janar saat ini.., seperti mendapatkan hujan mutiara malam ini bagi Kinara. Tidak menyangka sama sekali, ada seorang Arjuna yang bersedia mengunjungi aku yang hina ini." dengan senyum masam, Kinara membalas sapaan Wijanarko.


Wijanarko menelan ludah, dia mengambil nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali dengan pelan.


"Maafkan aku Nimas.., aku datang kesini hanya untuk pamitan kepadamu. Maukah kamu meluangkan waktu untuk mendengarkan isi hatiku?" ucap Wijanarko pelan, sambil tangannya meraih pergelangan tangan Kinara, kemudian memegangi telapak tangan lembut tersebut.

__ADS_1


Kinara berusaha menarik tangannya, tetapi tangan Wijanarko terlalu kencang memeganginya. Kinara menatap mata Wijanarko, demikian pula dengan laki-laki tersebut. Perlahan Kinara menganggukkan kepala.


"Nimas.., aku akan pergi ke perbukitan Gunung Jambu. Aku akan bergabung dengan saudara-saudaraku, kami akan menumpas Gerombolan Alap-alap. Yang mungkin, dalam pertempuran itu aku bisa tidak akan kembali lagi. Maka ijinkanlah aku untuk mengatakan isi hatiku kepadamu Nimas.." Wijanarko terdiam sejenak.


"Jika masih ada waktu untukku, apakah kamu mengijinkan aku untuk kembali kesini. Aku akan menjemputmu, dan menjalin sebuah ikatan untuk kita. Kita akan meneruskan generasiku, suatu saat nanti. Tapi jika kamu tidak memberi kesempatan padaku.., mungkin sampai disini kesempatan kita untuk bertemu yang terakhir kali." Wijanarko mengangkat telapak tangan Kinara, dan memberikan kecupan lembut di atasnya.


Kinara terkejut dengan kedatangan Wijanarko yang sudah lama tanpa kabar, dan tiba-tiba laki-laki itu datang dan berbicara hal seperti itu di depannya.


"Bagaimana Nimas.., apakah kamu mengijinkanku?" kembali Wijanarko berusaha memastikan, dia kembali menatap mata perempuan di depannya itu.


"Kinar tidak bisa menjawab Akang.., terlalu lama Kinar merasa sudah diombang-ambing perasaanku sendiri. Kinar tidak mampu hidup beralaskan mimpi lagi Akang.." dengan suara lirih, Kinara mengeluarkan suaranya yang seperti tercekat.


"Maksud Nimas..?" tanya Wijanarko yang merasa tidak percaya dengan tanggapan perempuan itu.


"Apakah kurang jelas perkataanku Akang.., Kinar tidak bisa menjawab." kembali Kinara menegaskan.


Wijanarko tersenyum masam, kemudian dia berdiri dan melepaskan kedua tangan Kinara dengan pelan.


"Aku akan pergi Nimas.., sepertinya tidak ada kesempatan bagi kita untuk bersama di masa depan." tanpa menoleh, Wijanarko segera meninggalkan Kinara sendirian.

__ADS_1


***************


__ADS_2