Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 250 Kecuali..


__ADS_3

Rengganis berkali-kali keluar kamar dan mengetuk pintu kamar yang disewa untuk putranya. Tetapi lagi-lagi tidak ada jawaban atau yang membuka pintu kamarnya. Wisanggeni tersenyum melihat kegelisahan pada istrinya.


"Ada apa Nimas, apakah ada yang merisaukan hatimu?" untuk menghargai perasaan istrinya, Wisanggeni pura-pura tidak tahu penyebab istrinya melamun sendiri di dalam kamar. Baru setelah Rengganis menceritakan apa yang dirasakannya, baru Wisanggeni mencoba untuk mengajaknya bicara.


"Ashan kakangmas..., anak itu sejak tadi Nimas cari-cari belum ketemu.Nimas sangat mengkhawatirkan anak itu. Bukankan ini kali pertama anak kita pergi sendiri tanpa kita di tempat asing." Tengah menceritakan sumber kegelisahannya.


Wisanggeni tersenyum, tangannya meraih pundak Rengganis, kemudian mendudukkan istrinya di punggung dipan kayu.


"Nimas.. buang rasa khawatirmu! Putra kita sebentar lagi akan beranjak dewasa. Biarkan anak itu berlatih untuk mengambil keputusan sendiri tanpa bantuan dari kita berdua." Wisanggeni mencoba menenangkan Rengganis. Tangan Wisanggeni mempermainkan rambut di kepala Rengganis.


"Bukan seperti itu Akang... Tetapi kali ini perginya putra kita, sudah terlalu lama. Nimas betul-betul gelisah jika ada sesuatu yang menimpa putra kita." perkataan Wisanggeni ternyata tidak mampu meredam kegelisahan yang dirasakan Rengganis.


"Apakah selamanya, Nimas akan selalu mengurung Chakra Ashanka?? Sepertinya aku kurang setuju dengan pemikiran Nimas. Anak kita sudah saatnya berada sendiri di luar, tanpa membutuhkan pendamping dari orang-orang terdekatnya. Bahkan aku memiliki sebuah rencana Nimas.." ucap Wisanggeni dan kemudian menghentikan perkataannya.


"Maksud kang Wisang?" Tengah penasaran dengan perkataan yang diucapkan suaminya itu.


"Nimas... kita sudah pernah membahasnya beberapa waktu yang lalu. Putra kita sudah menjelang dewasa, sudah selayaknya untuk berpisah dengan kita. Banyak kesempatan yang bisa dicari oleh putra kita untuk memperdalam kanuragannya di tempat lain. Mulai saat ini, abaikan rasa khawatir yang menderamu. Yakinlah jika Ashan akan baik-baik saja." sambil tersenyum, Wisanggeni kembali mengajak bicara istrinya. Rengganis terdiam, perempuan itu berpikir tentang perlakuan yang selalu dia berikan selama ini pada putranya.


Jujur dalam hati Rengganis, perempuan itu juga mengakui apa yang diutarakan oleh suaminya. Tetapi jika dia bandingkan dengan masa kecil Wisanggeni dan dirinya sendiri, di usia Chakra Ashanka saat ini, mereka sudah bertualang, bertarung untuk membela kebenaran.

__ADS_1


"Bagaimana Nimas..., apakah keliru apa yang aku katakan?" Wisanggeni mencium pucuk kepala perempuan itu. Rengganis menengadahkan wajahnya ke atas, dan keempat mata itu bertatapan.


Perlahan Wisanggeni menundukkan wajah ke bawah, tanpa tahu siapa yang sudah memulai, kedua bibir itu sudah tertaut dengan erat dan ketat. Beberapa saat kedua bibir kenyal itu saling berpadu.., dan ketika nafas Rengganis terengah-engah baru Wisanggeni melepaskannya. Senyum malu tampak jelas terlihat di pipi perempuan itu. Meskipun mereka memiliki hubungan suami istri, dan sudah memiliki Chakra Ashanka putranya, namun Rengganis terkadang masih bersikap malu pada suaminya.


Melihat pipi merah istrinya,. hati Wisanggeni menjadi gemas. Tanpa diduga, laki-laki itu menurunkan tubuh Rengganis menjadi setengah berbaring di atas ranjang, dengan posisi laki-laki itu berada di atasnya.


"Nimas..., mari kita lakukan!! Setelah ini, jika Ashan belum kembali ke tempat ini, aku akan menemanimu untuk mencari putra kita." bisik Wisanggeni di telinga Rengganis. Tanpa menjawab, Rengganis mengangguk kepala. Dan akhirnya hari itu diisi pasangan suami istri itu dengan menyalurkan kehausan yang dirasakan masing-masing.


********


Di pendhopo desa, Chakra Ashanka dan kedua temannya diberikan penjamuan oleh pemimpin desa tersebut. Tampak terlihat, Tarjono dengan ibunya juga berada dalam kerumunan orang-orang yang turut berada di situ. Para warga mengelu-elukan keberhasilan laki-laki kecil itu dalam menindas Jarwo dan anak buahnya.


"Iya ibu.., anak laki-laki itu adalah anak yang pernah saya ceritakan pada ibunda. Dialah putra pendekar Wisanggeni dan Nyai Rengganis yang memiliki perguruan di perbukitan Gunung Jambu. Anak laki-laki itu sudah mau menerima Tarjono, dan akan mengajakku berlatih di perguruannya. Tetapi dalam hal ini, Tarjono harus bisa menemukan keputusan yang jelas." ucap Tarjono dengan masam. Tatapan matanya tidak beralih dari Chakra Ashanka bersama dengan Sayogyo dan Prastowo yang sedang menikmati hidangan.


Hati ibundanya Tarjono seperti tertusuk mendengar perkataan putranya itu. Perempuan itu mengusap putranya yang kecil, kemudian seperti memiliki pemikiran tersendiri, tanpa berpamitan dengan Tarjono dia pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan Tarjono belum menyadarinya, tatapannya sejak tadi masih diarahkan pada Chakra Ashanka.


*******


Di pendhopo

__ADS_1


"Jadi kedatanganmu kesini sengaja untuk mencari ketiga temanmu nak..? Tetapi dari tadi, paman hanya melihat ada Sayogyo dan Prastowo disini. Siapakah nama temanmu yang satunya lagi, jika bisa membantu.., paman akan membantumu untuk mencarinya." pemimpin desa dimana Chakra Ashanka berada saat ini, bertanya pada anak laki-laki itu.


Chakra Ashanka tersenyum, kemudian mengarahkan pandangan pada laki-laki yang duduk di depannya itu. Sayogyo dan Prastowo saling berpandangan, kedua anak laki-laki itu sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Tarjono yang masih bersembunyi melihat mereka dalam kerumunan.


"Tarjono..., paman. Itu anaknya berdiri di dalam kerumunan." Tarjono tampak terkejut ketika melihat Chakra Ashanka mengarahkan jari tangan dengan menunjuk pada dirinya. Anak laki-laki itu sudah terlambat untuk menghilang, karena tatapan mata dari orang-orang yang duduk di pendhopo terarah dan tertuju padanya. Akhirnya dengan tersenyum masam,. Tarjono menganggukkan kepala.


"Owalah itu bukannya Tarjono yang sudah beberapa waktu ditinggalkan oleh ayahnya untuk merantau ke wilayah barat?" laki-laki tua yang berada di situ mengeluarkan suara.


"Iya..., karenanya anak itu harus menjaga keluarganya. Ibunya tidak mau ditinggalkan sendirian hanya bersama dengan kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Aku mendapat ceritanya beberapa waktu yang lalu." seorang sesepuh masyarakat yang lain ikut menimpali.


"Itulah paman yang menjadi keresahan kami bertiga disini. Saya betul-betul ingin mengabulkan keinginan anak itu, tetapi karena keadaan.. saya menjadi tidak nyaman untuk membawanya pergi. Kecuali..." Chakra Ashanka terdiam tidak melanjutkannya kalimatnya.


Beberapa orang yang berada di situ menunggunya beberapa saat, tetapi Chakra Ashanka tidak segera menyelesaikan kalimatnya, sehingga...


"Kecuali apa nak..., katakan kepada kami semua! Sebagai pemimpin warga di sini, saya akan mengkoordinir warga masyarakat untuk membantu mewujudkannya." pemimpin masyarakat tidak sabar memotong perkataan Chakra Ashanka.


"Kecuali warga masyarakat membantu untuk mengambil alih tugas yang harus ditanggapi oleh Tarjono." ucap Chakra Ashanka sambil tersenyum.


******

__ADS_1


__ADS_2