Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 239 Ujian Kanuragan


__ADS_3

Dari sudut jalan, terlihat dua gadis yang tadi bersama dengan keluarga Wisanggeni di penjual perhiasan sedang menatap ke arah  Chakra Ashanka yang berjalan mendatangi kelima orang tersebut. Dari sudut mata para gadis itu, terlihat kekaguman terhadap laki-laki itu. Mereka seperti sedang menunggu apa yang akan segera terjadi. Sedangkan Wisanggeni dan Rengganis, sambil tersenyum menatap putra mereka. Kedua orang itu, segera menepi dan duduk di atas batang kayu yang ada di pinggir jalan tersebut.


"Ki Sanak..., bisakah kalian berlima memberi kami jalan..?? Lihatlah.., banyak orang yang akan menggunakan jalan ini untuk menuju ke tempat tujuan mereka. Tetapi jika kalian berdiri dengan sikap seperti ini, aku yakin mereka ketakutan untuk dapat melintas di jalan ini. Beri kami jalan sebentar..!" dengan sikap sopan, Chakra Ashanka mengajak kelima laki-laki itu berbicara.


"Ha..., ha..., ha..., kamu menyuruh kami anak muda..?? Apa yang bisa kamu tawarkan kepada kami, agar kami mau menuruti apa yang kamu katakan?" dengan nada sinis, satu dari laki-laki tersebut bertanya pada Chakra Ashanka. Kelimanya tertawa keras, dengan pandangan mengejek dan meremehkan putra Wisanggeni dan Rengganis tersebut.


"Tidak ada yang akan aku tawarkan untuk mengajak kalian berbicara. Hanya yang aku tahu.., jalan ini adalah jalan umum. Semua orang memiliki hak untuk melintas dan lewat disini. Tetapi jika kalian berdiri di tengah jalan seperti ini, kalian bisa mengganggu perjalanan kami." masih dengan sabar, Chakra Ashanka menjawab pertanyaan orang tersebut.


"Terlalu banyak bicara kamu.. Serahkan perhiasan bermata merah muda tadi yang kamu beli di penjual perhiasan!" dengan kasar, salah satu dari mereka berteriak.


"Hmmmm...., ternyata keberadaan kalian disini untuk merampas sesuatu yang bukan menjadi hak untuk kalian. Tetapi juga perlu kalian ketahui.., saya tidak menyukai ada yang menganggu barang-barang kami. Jadi.., bisa disimpulkan.., kalian tidak akan bisa menindasku." dengan tersenyum, Chakra Ashanka menanggapi permintaan orang-orang tersebut.


Tidak diduga, seseorang dari kelima orang itu mengirimkan serangan pada Chakra Ashanka, dan tanpa bicara, putra Wisanggeni itu dengan cepat menghindar, dan memindahkan tubuhnya dengan cepat ke belakang orang-orang tersebut. Chakra Ashanka menggunakan Ajian Panglimunan untuk menghindarkan diri dari serangan musuh, dan tubuhnya terlihat seperti bayangan kabut.


"Jangan melarikan diri kamu anak muda..., hadapi kami berlima.." melihat lawannya menghilang, mereka berteriak memanggil Chakra Ashanka.

__ADS_1


"Siapa yang melarikan diri.., mata kalian saja yang tertutup oleh kejahatan sehingga tidak mampu untuk melihatku." dengan tersenyum, Chakra Ashanka menepuk punggung kelima orang tersebut masing-masing tiga kali dari belakang. Merasakan tepukan tersebut, kelimanya langsung membalikkan badan, tetapi tidak dapat melihat tubuh anak laki-laki itu  dengan jelas.


"Cetar.., blarr...." tidak diduga, salah satu dari orang-orang itu mengeluarkan senjata mereka, sebuah cemeti yang langsung digunakan untuk mencambuk gumpalan kabut di depan mereka itu. Dengan cepat Chakra Ashanka berkelit menghindari serangan, dan tangan kanannya memegang ujung dari cemeti tersebut kemudian sambil berlari menariknya dengan kencang ke depan.


"Brukk.." merasa tidak siap dengan pertahanan, karena tidak bisa melihat ke arah lawan tandingnya, laki-laki yang memegang cemeti tersebut terjerembab ke depan. Keempat orang yang lain saling berpandangan, mereka mulai mengeluarkan ilmu kanuragan mereka. Tetapi mereka tidak mengetahui siapa yang sedang mereka hadapi saat ini. Sampai beberapa saat, kelima orang itu akhirnya kewalahan, dan karena tidak bisa menyentuh Chakra Ashanka, akhirnya mereka melarikan diri dari tempat tersebut.


*********


Keesokan Harinya


Merasa sudah bisa mengembalikan tenaganya, Wisanggeni mengajak Rengganis dan putranya untuk melanjutkan perjalanan menuju ke tempat penyeberangan di danau. Untuk tidak menarik perhatian orang-orang yang ada di kota itu, Wisanggeni sengaja melanjutkan perjalanan melalui darat, Selain itu, mereka juga memberi kesempatan pada Singa Ulung untuk beristirahat sementara waktu.


"Ashan siap untuk menerima ujian dari ayahnda.." dengan merendah, Chakra Ashanka menjawab pertanyaan Wisanggeni.


"Baiklah.., di pinggir hutan depan sana, ayah akan melihat bagaimana kemampuanmu." sambil tersenyum, Wisanggeni menanggapi putranya. Kemudian ketiga orang itu melanjutkan perjalanan, dan Rengganis berjalan di tengah diapit oleh suami dan putranya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, hutan yang tidak begitu lebat terlihat di depan mata mereka. Udara bersih berhembus menyegarkan paru-paru mereka. Wisanggeni merentangkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri, untuk menghirup udara bersih agar memasuki saluran pernapasannya.


Setelah beberapa saat mereka berjalan masuk ke dalam hutan, Wisanggeni memberi isyarat pada Rengganis. Ketika melihat istrinya menganggukkan kepala, dengan cepat Wisanggeni sudah melompat menghilang dari tempat tersebut, kemudian diikuti oleh Rengganis. Chakra Ashanka yang belum memiliki persiapan, memandang kepergian kedua orang tuanya hanya terpana.


"Apakah ayah dan bunda sedang mengujiku saat ini..?" gumam anak laki-laki itu.


"Baiklah akan aku tunjukkan pada mereka, jika putra laki-laki mereka tidak akan mempermalukan mereka berdua.." sambil tersenyum, Chakra Ashanka kemudian menerapkan Ajian Sapu Angin, dan dalam sekejap laki-laki muda itu sudah melesat maju ke depan untuk menyusul ayahnda dan ibundanya.


Melihat bayangan manusia berada di belakang mereka, Wisanggeni dan Rengganis saling menatap dan tersenyum. Mereka mengagumi kecepatan putra mereka dalam menyerap berbagai ilmu kanuragan yang mereka ajarkan. Tidak disangka-sangka Chakra Ashanka sudah berada di samping mereka.


"Ayahnda.., ibunda.., Ashan sudah berhasil menyusul kalian berdua.." dengan senyum bangga, Chakra Ashanka berbicara pada kedua orang tuanya.


"Bagus putraku.., kamu memang hebat. Ingat pesan ayah dan bunda.., gunakan ilmu kanuragan yang kamu kuasai untuk selalu membela kebenaran! Jangan pernah melakukan penindasan pada kaum yang lemah, merunduklah seperti ilmu padi. Semakin tua, semakin berisi, dan semakin merunduk pada siapapun." sambil melakukan lompatan, Wisanggeni kembali memberi wejangan pada putra laki-lakinya.


"Baik ayahnda.., Ashan akan selalu mengingat dan mengamalkan semua wejangan dari ayah dan bunda." smabil tersenyum, Chakra Ashanka menjawab perkataan tersebut.

__ADS_1


Tanpa bicara dan tanpa peringatan, pasangan suami istri kembali mempercepat lompatan mereka. Jika orang yang tidak memiliki kemampuan melihatnya, mereka seperti terbang di atas udara. Chakra Ashanka segera meningkatkan kecepatan, dan segera mengejar ketertinggalan dari ayahnda dan ibundanya. Ketiga orang itu tanpa bicara, segera menembus kepekatan hutan yang semakin dalam. Tidak berapa lama kemudian, mereka melihat hamparan danau di depan mata mereka. Rengganis tersenyum bahagia, melihat keberadaan Jagadklana di seberang danau.


***********


__ADS_2