Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 476 Perselisihan Kecil


__ADS_3

Parvati dengan ceria membawa bungkusan hasil belanjaannya ketika berjalan-jalan dengan kakangmasnya Chakra Ashanka. Kedua anak muda itu memasuki penginapan sambil berjalan beriringan dengan senyum yang terus menghiasi wajah mereka. Ketika mereka sudah melewati ruang depan, pandangan parvati melihat keberadaan empat orang duduk di atas pendhopo kecil sambil berbincang. Terlihat kedua orang tuanya tampak cair, berbicara dengan Arya dan Dananjaya. Dari samping, Chakra Ashanka sudah senyum-senyum sendiri melihat hal itu. Sebagai pihak yang lebih tua, sepertinya anak muda itu sudah bisa memahami apa yang dibicarakan oleh ke empat orang itu.


"Kakang.. apakah kakang melihat di pendhopo itu." Parvati menunjuk ke arah pendhopo.


Chakra Ashanka tersenyum, tidak langsung menanggapi ucapan yang disampaikan oleh adik perempuannya. Laki-laki muda ini tidak mau salah menebak, sehingga dapat membuat rasa kecewa pada Parvati.


"Iya Nimas.. kakang juga melihatnya. Jika Nimas tertarik atau ingin mengetahui apa yang mereka bicarakan, kakang bisa menemani nimas Parvati untuk bergabung dengan ayahnda dan ibunda. Toh .. pagi ini kita belum menanyakan bagaimana kondisi kesehatan ayahnda dan ibunda.. setelah tadi malam.." dengan ramah untuk melegakan perasaan adik perempuannya, Chakra Ashanka menggandeng tangan Parvati.


"Apakah tidak apa-apa kang Ashan.. jika kita datang dan bergabung dengan mereka.." masih merasa bingung, Parvati terlihat ragu-ragu untuk mengikuti ajakan dari kakangmasnya. Namun melihat keakaban ayahnda dan ibundanya berbincang dengan Arya dan Dananjaya, membuat gadis muda itu penasaran.


"Kang Arya.. Nimas Parvati.. dari mana kalian berdua sepagi ini, sudah membawa tentengan bungkusan makanan." tiba-tiba suara Ayodya Putri terdengar menyapa mereka berdua, Parvati menoleh ke arah suara berasal, terlihat Ayodya Putri berjalan mendekat kepadanya, dan ada juga Bhadra Arsyanendra mengikut di belakangnya. Mleihat tidak ada Sekar Ratih di antara mereka, Chakra Ashanka melihat-lihat ke belakang. Namun gadis muda yang dicarinya itu juga tidak terlihat.


"Kang Ashan mencari Nimas Sekar Ratih.. kami tidak bersama dengannya kangmas. Setahuku tadi Nimas Ratih berjalan sendiri keluar dari penginapan, malah kami mengiranya gadis muda itu ada janji dengan kalian berdua. Sehingga aku memang tidak menegurnya.." seperti tahu siapa yang dirisaukan oleh Chakra Ashanka, Bhadra Arsyanendra dengan cepat menanyakan pada anak muda itu.


"Sungguh tenangnya hati nimas Ratih ya kangmas.. tanpa dia tahu, ternyata keberadaannya selalu dirindukan dan dicari oleh kang Ashan.." tanpa sadar, Ayodya Putri berbicara dengan nada sarkasme menyoroti mereka.


Parvati terdiam dan mengerutkan kening, gadis muda itu mencium bau-bau aroma kecemburuan dalam kata-kata yang diucapkan oleh Nimas Ayodya Putri. Untuk melindungi Sekar ratih, karena sudah sejak kecil, Parvati lebih dulu mengenalnya, akhirnya muncul keberaniannya untuk membela Sekar Ratih.

__ADS_1


"Nimas Putri.. sepertinya aku melihat dan mendengar ada hal yang aneh dalam kata-katamu. Menurutku merupakan sesuatu yang wajar, jika kang Ashan mencari Nimas Ratih. Mereka tumbuh dan hidup berdua sejak mereka masih kecil, sepertinya tidak salah jika kakang Ashanka mencari, apalagi jika mulai tumbuh perasaan tertarik dengan nimas Ratih. Sebagai adiknya, aku juga mendukung kang Ashan.." tanpa berpikir, Parvati dengan suara tegas menanggapi perkataan yang diucapkan oleh Ayodya putri.


Mendengar nada bicara Parvati, muka Ayodya putri menjadi terbias merah. Perasaan tidak nyaman, bercampur dengan amarah sepertinya mulai memasuki hati gadis muda itu. Ayodya Putri tidak berpikir, ternyata sampai seperti itu Parvati memberikan pembelaan pada Sekar Ratih.


"Nimas Parvati.. jaga dan kendalikan kata-katamu Nimas.. jangan sampai hal ini membuat salah paham, Bukan maksud Nimas Putri untuk seperti itu Nimas.. percayalah." merasa kasihan dengan Ayodya putri, Bhadra Arsyanendra membuat pembelaan untuk gadis muda itu.


"Mmmm.. tidak masalah Raden Bhadra.. aku hanya tidak suka jika mendengar ada yang meremehkan, apalagi merendahkan Nimas Ratih. AKu mengenal gadis muda itu, sejak kami masih kecil, sehingga akulah yang lebih mengenalinya dari pada kalian.." ucap Parvati, yang langsung berbalik badan untuk pergi meninggalkan mereka.


Melihat sikap keras yang ditunjukkan oleh adik perempuannya, Chakra Ashanka tersentak. Dengan sigap anak muda itu menahan tangan Parvati, agar tidak pergi dari tempat itu.


"Tapi kang.. Nimas tidak suka jika mendengar ada orang yang merendahkan Nimas Ratih.." Parvati mencoba membela diri, tapi tatapan kakangmasnya dengan tegas memberi perintah pada gadis muda itu.


"Baiklah.. maafkan kekasaranku tadi Nimas Putri.." Parvati mengulurkan tangan mengajak Ayodya putri bersalaman.


Merasa mendapat bantuan dari Chakra Ashanka, Ayodya Putri tersenyum dan menerima uluran tangan dari gadis muda itu. Setelah mereka bersalaman, tanpa mengucapkan kata pamit lagi, Parvati berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang berbincang dengan Arya dan Dananjaya.


*******

__ADS_1


Tidak tahu apa yang barusan terjadi, Sekar Ratih yang menenteng belanjaan di kedua tangannya masuk ke penginapan dengan muka gembira. Melihat apa yang dibawa oleh gadis muda itu, Chakra Ashanka segera menghampiri gadis muda itu dan mengambil alih barang belanjaannya.


"Terima kasih kang Ashan..." ucapan terima kasih mengalir keluar dari bibir Sekar ratih.


"Dari mana kamu Nimas.. tahu jika akan pergi ke pasar, tadi pagi aku dan Nimas Parvati akan mengajakmu." sahut Chakra Ashanka, keduanya kemudian berjalan masuk dan berhenti di depan Bhadra Arsyanendra dan Ayodya Putri berada.


"Tidak sengaja kang.. tadi Nimas hanya berniat untuk menghirup udara pagi, ternyata melihat ada keramaian. AKhirnya Nimas memutuskan untuk melihat-lihat disana.." sahut Sekar Ratih.


"Tumben ini, ada Raden Bhadra dan juga Nimas Putri disini. Kita bongkar apa yang saya beli.. kita bisa memakannya bersama-sama.." tidak tahu apa yang sudah terjadi, tanpa ada pikiran macam-macam, Sekar Ratih mengajak kedua orang di depannya itu untuk makan bersama.


Ayodya Putri melirik Bhadra Arsyanendra, dan setelah laki-laki muda itu menyetujui serta menganggukkan kepala, akhirnya mereka mengikuti ajakan Sekar Ratih.


"Kita duduk di sebelah sana, tidak baik jika kita bergabung dengan ayahnda dan ibunda. Mungkin mereka sedang terlibat dalam pembicaraan yang penting.." tidak mau mengganggu pembicaraan kedua orang tuanya dengan dua teman laki-laki Parvati, Chakra Ashanka mengajak teman-temannya untuk menuju ke pendhopo kecil yang satunya.


Tidak lama kemudian, empat anak muda itu berjalan menuju ke pendhopo kecil, dengan tatapan kedua orang tua Chakra Ashanka. Ketika melihat mereka duduk menempatkan diri, dari dalam Ki Badri menyiapkan minuman hangat dan meminta pelayan untuk mengantarkan ke tempat duduk mereka.


***********

__ADS_1


__ADS_2