Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 494 Menjelang Akhir


__ADS_3

Akhirnya setelah mengalami pemikiran dan pertimbangan yang matang, Rengganis dan Wisanggeni memutuskan untuk meninggalkan padhepokan Gunung Jambu yang sudah lama mereka besarkan. Keduanya sudah sepakat untuk mengasingkan diri di tengan hutan, di tengah goa tempat Wisanggeni pertama kali mengembalikan kekuatannya. Kesempatan untuk menghabiskan waktu hanya berdua sudah ditunggu oleh pasangan itu, dan saat ini merupakan kesempatannya. Kedua putra mereka sudah membangun rumah tangga sendiri, sehingga saat yang tempat untuk menempa diri menjadi petarung yang sesungguhnya.


"Begitu paman yang ingin kami berdua sampaikan kepada para sesepuh di padhepokan ini. Kelola perguruan dengan baik, dan kami tidak akan pernah meninggalkan perguruan ini. Sesekali kami berdua, juga kedua putra kami akan menyambangi perguruan, untuk mengenal ataupun menghabiskan waktu untuk mengenang masa-masa selama kami berada di perguruan ini." Wisanggeni menyampaikan kata pamit pada para sesepuh, dan kepala pengelola padhepokan.


"Kami paham maksud dari Guru berdua.. tetapi tidak bisakah kedua guru tidak berpamitan secara resmi dengan cara begini, hal itu menimbulkan kesedihan di hati kami. Seakan-akan dalam perasaan kami, Guru berdua sudah tidak peduli dengan keadaan padhepokan. Lihatlah Guru... betapa banyaknya murid yang menghuni dan menuntut ilmu serta mengharapkan sesuatu dari perguruan ini. Itu semua bisa terjadi, karena pesona dari guru berdua. Jika hanya kami, mustahil itu semua bisa terwujud." sesepuh padhepokan menanggapi kata pamit dari Wisanggeni.


Tampak kekecewaan tidak hanya membayang pada laki-laki itu, namun semua yang hadir dan ikut duduk di paendhopo itu, semuanya dalam keadaan muram dan sedih. Dalam hati, sebenarnya pasangan suami istri tidak sampai hati untuk meninggalkan mereka, tetapi keadaan yang membuat mereka berdua harus berpikir tegas.


"Paman.. dan semua pengasuh perguruan Gunung Jambu semuanya. Janganlah bersedih atas kepergian kami berdua, karena sebenarnya kami akan tetap ada untuk perguruan ini. Untuk sementara waktu, kami bertekad untuk meningkatkan wening cipto, agar lebih memaknai kehidupan dengan lebih arif dan bijaksana." Rengganis ikut menambahkan.


Pasangan suami istri itu juga memberi tahu pada Chakra Ashanka dan putrinya Parvati, jika mereka akan meninggalkan perguruan untuk sementara waktu, dan tidak tahu akan sampai kapan. Putra putrinya yang memahami bagaimana kedua orang tuanya tidak merasa keberatan, karena sebelum mereka memiliki sebuah keluarga, kedua orang tuanya sudah sering melakukan perjalanan keluar dari pesanggrahan Trah Bhirawa.


"Hah... baiklah Guru Wisanggeni dan Guru putri Rengganis, kami hanya memberikan ucapan selamat jalan. Harapan kami ke depan, Guru berdua tidak melupakan, dan akan tetap kembali ke padhepokan kapanpun Guru berdua kehendaki. Dengan rayi-rayi pengelola perguruan, kami akan berupaya sekuat tenaga untuk mempertahankan perguruan Guru." akhirnya tidak ada yang dapat digunakan lagi sebagai alasan untuk menahan kedua pembesar dan guru padhepokan Gunung Jambu, sesepuh mengijikan pasangan suami istri itu pergi,


Wisanggeni melihat ke arah istrinya Rengganis, keduanya saling tersenyum kemudian berdiri. Dengan tangan bergandengan, pasangan suami istri segera melangkahkan kaki mereka keluar dari pendhopo menuju ke halaman belakang. Terlihat Singa Ulung sudah menunggu pasangan suami istri itu di halaman, dan sudah dalam keadaan siap terbang.

__ADS_1


Tanpa membuang waktu, Wisanggeni segera mengajak istrinya Rengganis untuk melompat ke punggung Singa Ulung. Tidak lama kemudian, binatang itu segera mengangkat ke empat kaki dan mengepakkan sayapnya. Di bawah derai air mata kesedihan warga perguruan Gunung Jambu, pasangan suami istri itu akhirnya meninggalkan perguruan.


*******


Seperti pasangan pengantin baru, Wisanggeni dan Rengganis berada di tengah hutan sendirian. Keduanya tanpa merasa lelah membersihkan goa yang akan mereka gunakan sebagai tempat tinggal sementara di tengah hutan. Goa itu masih sama keadaannya ketika beberapa warsa silam ditinggalkan oleh Wisanggeni, banyak lumut yang menempel di arah pintu masuknya.


"Kang.. Nimas merasakan kesejukan dan ketenangan berada di tengah hutan ini. Sedikitpun tidak ada rasa takut, meskipun kita semua berada jauh dari peradaban." Rengganis mengutarakan perasaannya pada Wisanggeni, ketika mereka sedang beristirahat di dalam goa. Tempat yang saat ini mereka gunakan untuk istirahat sudah dalam keadaan bersih, dan tertata.


"Iya Nimas.. semoga saja, akan banyak kanuragan-kanuragan baru yang dapat kita hasilkan, atau memperkuat ilmu lama yang sudah kita miliki. Kita bisa langsung tinggal malam ini di dalam goa Nimas..., kakang sangat bangga bisa memiliki seorang istri sepertimu. Cantik, bijaksana, dan pandai menata tempat tinggal. Meskipun saat ini kita berada di dalam goa, tetapi Nimas bisa menyulap ruangan ini layaknya sebuah rumah huni.." Wisanggeni tersenyum dan memberikan pujian pada istrinya.


"Kakang terlalu memuji, Nimas jadi merasa malu kang.." dengan muka bersemburat merah, Rengganis menanggapi pujian yang diberikan oleh suaminya.


******


Keesokan Paginya

__ADS_1


Dua tubuh manusia laki-laki dan perempuan tampak sedang duduk bersila di atas sebuah batu datar, dan sepertinya mereka sudah memasuki masa meditasi. Mereka duduk saling berhadapan, dengan maksud agar dapat saling membantu jika salah satu dari mereka mengalami suatu kendala atau halangan.


Angin di luar berderu, dan pohon-pohonan bergerak-gerak mengikuti arah angin. Seperti ada kekuatan besar yang menarik energi angin dan pohon, dan tiba-tiba membentuk sebuah kumpulan energi padat. Energi itu semula bergerak ke segala arah, tetapi tiba-tiba menerobos masuk ke dalam goa. Angin ribut dan pergerakan pohon-pohon menjadi terhenti, dan gerakan energi itu masuk dan terlihat seperti tersedot masuk ke tangan Wisanggeni dan Rengganis. Keduanya masih memejamkan mata, dan seperti merasakan energi alam yang meruah masuk dan tersedot ke dalam tubuh pasangan suami istri itu.


Posisi semedi pasangan suami istri itu berlangsung secara terus menerus, dan pada empat puluh hari, keduanya akan terbangun. Akan lahir sebuah desa baru, dan akhirnya akan berkembang menjadi sebuah kota pada akhirnya, ketika mereka mengetahui jika Wisanggeni dan Rengganis berada di tengah hutan itu. Bahkan raja Abhiseka beserta istrinya Niken Kinanthi mengakui keberadaan kota baru tersebut.


Binatang-binatang yang ada di hutan tidak merasa terganggu dengan keberadaan pasangan suami istri itu. Mereka berdampingan dan hidup saling membutuhkan. bahkan Wisanggeni memberi pengumuman pada orang-orang yang ikut tinggal di tempat itu, untuk tidak menganggu kehidupan para binatang. Jika mereka tidak dalam keadaan terdesak, mereka tidak diperbolehkan untuk semaunya membunuh binatang hanya karena doronga nafsu semata.


******


Para pembaca tercinta... bantu Author yukkk


Author buat karya baru nih, search ya di aplikasi NovelToon dengan judul


CEO Takluk

__ADS_1


Mohon dukungannya untuk baca, Like, dan jadikanlah Favorit.


TERIMA KASIH


__ADS_2