
Tatapan sinis dengan senyuman mengembang muncul di bibir Rengganis mendengar perkataan yang diucapkan oleh laki-laki itu, Perempuan itu berjalan mendekati laki-laki itu, kemudian dengan senyuman di bibir yang masih mengembang, tiba-tiba Rengganis mengangkat tangannya ke atas..
"Plak..., cuci dulu mulut busukmu dengan air sungai Ki Sanak. Kamu tanpa sadar sudah berani merendahkan harkat martabatku sebagai seorang perempuan." tamparan keras dengan dilandasi kekuatan, diberikan Rengganis ke rahang laki-laki itu. Tidak diduga, tubuh laki-laki itu tiba-tiba terjengkang mundur beberapa langkah ke belakang. Tampak bekas tangan merah menghitam, tercetak jelas di pipi dan rahang laki-laki itu.
"Kurang ajar..., beraninya kamu memberi tamparan kepadaku. Serang perempuan ini, jangan beri ampun kepadanya." laki-laki itu segera berteriak memberi perintah untuk melakukan penyerangan kepada Rengganis.
Para murid perguruan Gunung Jambu yang sudah mulai berdatangan, segera berlari untuk memberi perlindungan pada Rengganis. Perempuan muda itu tersenyum, kemudian mundur beberapa langkah ke belakang.
"Menyingkirlah kalian.., aku masih mampu memberikan pelajaran kepada tamu-tamu kita yang tidak memiliki adab dan sopan santun." Rengganis menoleh kepada para murid perguruan, kemudian memberi perintah pada mereka untuk menyingkir.
"Tapi Den Ayu Rengganis...?" beberapa murid menolak untuk mundur.
"Tidak ada tapi-tapian, aku masih mampu menghadapi mereka sendiri. Mundurlah.., ini merupakan sebuah perintah." dengan tegas, Rengganis memerintahkan pada para murid perguruan untuk mundur dari tempat itu.
"Serang..., kita beri pelajaran pada perempuan ini..." pemimpin kelompok berteriak memerintahkan orang-orang yang datang bersamanya untuk menyerang pada Rengganis. Dengan menghunus senjata yang mereka pegang, belasan orang itu kembali berlari ke depan dan mengarahkan senjatanya kepada Rengganis.
Rengganis tersenyum, dengan sigap tangan kanannya mengusap selendang yang dia pegang di tangan kirinya. Kemudian perempuan itu memberikan ciuman pada selendang yang berada di tangannya itu, seakan menghirup wangi yang melekat pada selendang tersebut. Tidak diduga, begitu Rengganis melompat ke atas, selendang itu berubah menjadi kaku dan berkelebat menyapu senjata yang dibawa oleh orang-orang itu.
"Trang..., trang..." senjata-senjata yang dibawa oleh belasan orang itu tiba-tiba sudah jatuh ke tanah. Orang-orang itu terlihat pucat, dan saling berpandangan.
__ADS_1
"Maju terus, jangan hiraukan senjata kalian. Keluarkan kekuatan kalian.." pemimpin kelompok mereka terus berteriak meminta orang-orang itu untuk mengeluarkan kekuatan mereka. Belasan orang itu kemudian membentuk simbol di tangan mereka, tetapi...
"Siuuwww... byakkk...," kembali selendang yang ada di tangan Rengganis menghancurkan formasi yang akan mereka bentuk. Tidak butuh waktu lama, belasan orang itu sudah kembali terdorong ke belakang, dan akhirnya jatuh terjungkal.
"Kurang ajar..., kamu sudah berhasil menarik kemarahanku perempuan sundal. Terimalah serangan dariku... Kekuatan Iblis datanglah...." ketua kelompok itu berteriak dengan suara keras. Tiba-tiba terlihat dalam pandangan mata orang-orang yang berada disitu, banyak bayangan hitam terbang dan meluncur deras menuju ke tubuh laki-laki itu. Rupanya laki-laki itu memanggil iblis-iblis yang berada di tempat itu untuk memperkuat dirinya.
Rengganis kembali tersenyum, perempuan muda itu kembali memundurkan langkahnya ke belakang. Setelah beberapa saat, tangan Rengganis terlihat diayunkan ke atas membentuk sebuah tarian. Gerakan tangan yang semula lembut itu, tiba-tiba menjadi berputar kencang.., dan..
"Tap.., tap.." tiba-tiba tubuh Rengganis melayang tinggi, dengan matanya yang terpejam, perempuan itu menggunakan tangan yang tetap memainkan selendang merangsek ke depan. Bayangan-bayangan hitam yang kini sudah menguasai pemimpin kelompok itu, beradu kekuatan dengan selendang yang ada di tangan Rengganis.
"Aaaww.., aaaw..." terdengar teriakan melengking dari para iblis yang terkena pukulan dari selendang yang ada di tangan Rengganis. Kejadian itu berakhir untuk beberapa saat, dan akhirnya menjelang dini hari pemimpin kelompok itu terlihat lemas, tubuhnya tiba-tiba terkulai ke bawah.
*******
"Apa begini sopan santun orang berkunjung ke tempat orang lain?" suara Maharani mengejutkan beberapa orang yang masuk dengan cara mengendap-endap itu.
Orang-orang itu menghentikan langkah mereka, dan mengalihkan pandangan ke tempat Maharani. Seorang perempuan cantik dengan bentuk tubuh yang menggai**rahkan tampak menutup pandangan mereka. Dengan tatapan berminat, orang-orang itu menatap Maharani kemudian perlahan berjalan mendekati perempuan itu.
"Siapakah kamu perempuan cantik, malam-malam begini berada di tempat ini sendirian? APakah kamu merasa kedinginan, dan ingin salah satu dari kami menemanimu." dengan penuh minat, salah satu orang yang terpukau dengan kecantikan dan bentuk tubuh perempuan itu menanggapi perkataan Maharani.
__ADS_1
"Mmmm..." Maharani sekilas menanggapi mereka, dengan tatapan sinis, tidak menunggu lama, tubuh perempuan itu berubah menjadi seorang naga yang cantik.
Orang-orang itu terkejut, dan belum sampai mereka bertindak, sabetan keras ekor Maharani, sudah melambungkan tubuh orang-orang itu ke atas. Tidak lama kemudian, beberapa orang itu terjatuh ke bawah dengan suara keras.
"Brakkk.." orang-orang itu memegang pinggang mereka, dan berusaha bangkit dan berdiri sambil memandang ke arah perempuan itu.
"Perempuan tidak tahu diuntung..., terimalah ini. Blam..., blam..." salah satu dari orang tersebut, mengirim serangan ke arah perempuan itu. Dengan mudah serangan itu memantul kembali ketika terkena kulit licin naga Maharani.
Orang itu terkejut, tetapi tidak menyurutkan niatnya untuk kembali menyerang pada perempuan itu. Orang-orang itu kemudian menyebar, dan mengelilingi tubuh licin Maharani. Tatapan mereka terlihat marah, dan masing-masing sudah mengeluarkan simbol di tangannya untuk formasi mengirim serangan.
"Blam..., blam..." kembali dengan serempak, orang-orang itu mengirimkan serangan ke arah Maharani. Dengan mata berkilat, dan tatapan marah, Maharani mengangkat tubuhnya ke atas.
"Sretttt..., bruk.. bruk..." tiba-tiba Maharani mengibaskan ekornya dari atas, dan orang-orang yang terkena kibasan ekornya langsung terjatuh terjungkal ke belakang.
"Blamm..., blaam..." pada saat mereka terjatuh, mereka masih sempat mengirimkan serangan balasan ke arah Maharani. Karena banyaknya orang yang mengelilingi perempuan itu, salah satu serangan yang dikirimkan oleh salah satu dari mereka, dapat mengenai leher Maharani.
"Aaaaww.." Maharani menjerit kecil, tetapi luka kecil itu tidak menghalangi langkahnya kembali. Dengan tatapan yang lebih marah, Maharani lebih maju dan turun mendekati orang-orang itu.
*************
__ADS_1