Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 337 Beradu Kekuatan


__ADS_3

Wisanggeni mengangkat satu sudut bibirnya ke atas, matanya dengan tajam menatap laki-laki paruh baya yang ada di depannya. Mata laki-laki itu tampak meremehkan dan penuh dendam dalam menatap Wisanggeni, dan ayahnda Chakra Ashanka hanya tersenyum mencibir melihatnya. Tetapi mengamati aroma racun yang keluar dari senjata yang ada di tangan laki-laki paruh baya itu, Wisanggeni langsung dapat mengenali jika laki-laki itu pernah berurusan dengan Maharani istrinya.


"Datanglah dengan permisi, atau membawa undangan untuk memasuki perguruan Gunung Jambu Ki Sanak. Sebagai orang tua, hendaklah kita membawa dan meninggalkan kebiasaan baik untuk anak cucu kita." dengan nada datar, Wisanggeni mencoba mengajak bicara Patih Wirosobo.


"Tidak ada lagi yang bisa kamu harapkan dariku anak muda.. Perguruan ini sudah memiliki noda hitam yang tidak mungkin dibersihkan lagi, dengan meninggalnya putraku Senopati Wiroyudho. Dan kalian semua harus mempertanggung jawabkannya. Ha.., ha..., ha..." dengan sorak kemarahan, Patih Wirosobo menanggapi perkataan Wisanggeni.


"Kanjeng Patih Wirosobo..., baru saja saya dapat mengenali kehadiran Kanjeng Patih di tlatah Perguruan Gunung Jambu. Marilah kita hentikan pertumpahan darah ini, tidak akan ada yang diuntungkan dari adanya peperangan. Yang kita dapatkan hanyalah kehancuran dan kesengsaraan, rakyat, anak-anak, perempuan.." Wisanggeni mencoba untuk menawarkan perdamaian. Laki-laki ini berusaha menekan nada bicaranya, untuk tidak menimbulkan gejolak baru. Tetapi apa yang dia lihat dari laki-laki di depannya,... sangat berbeda dengan apa yang dia harapkan.


"Ha.., ha..., ha... nyawa dibayar nyawa. Darah ditumpas dengan darah, itu barulah harga yang seimbanng. Jangan pernah mencoba untuk mengalihkan masalah, dan mencuci perbuatan kotormu dengan berdalih untuk berdamai dengan kami. Itu semua hanya mimpimu anak muda. Terimalah ini.... Trisula Putaran Api.... blarrr...." dari tangan Patih Wirosobo tiba-tiba muncul dua trisula kembar. Kedua senjata itu berputar-putar di kedua tangan laki-laki itu, dengan membawa kobaran api di sekitarnya.


Wisanggeni memundurkan tubuhnya beberapa langkah ke belakang, dari hidungnya laki-laki itu bisa mengenali jika udara di sekitar trisula itu mengandung hawa beracun. Yang ada di pikiran laki-laki itu saat ini adalah bagaimana mencegah agar racun tidak terhembus masuk ke dalam wilayah perguruan. Kedua kaki Wisanggeni membentuk kuda-kuda, dengan tangan bersiap di depan dadanya. Tidak lama kemudian, laki-laki itu mengangkat tangannya ke atas dan kabut keluar dari kedua tangannya itu, kemudian dikibaskan ke belakang. Tidak lama kemudian, daerah yang ada di belakang laki-laki itu seperti berada dalam sebuah pelindung.


"Kabarkan pada teman-temanmu yang lain, cegah mereka untuk tidak melewati kabut ini..." Wisanggeni berteriak memberikan arahan pada murid yang terlihat berjaga di belakangnya.


"Baik Guru .., akan segera kami informasikan.." murid-murid itu segera berlari untuk mengabarkan pengumuman yang dikatakan oleh Gurunya itu.

__ADS_1


Mata Patih Wirosobo tampak berkilat, laki-laki itu terlihat melemparkan trisula ke arah kabut, untuk menghilangkan perlindungan pada kabur tersebut.


"Trang.., trang..." tetapi trisula itu seakan membentur sebuah besi, yang dengan cepat memantul keluar tidak dapat menembusnya,


"Kekuatan laki-laki itu betul-betul tidak bisa dipandang remeh. Seorang diri, laki-laki itu bisa membuat tabir pelindung sekuat itu, yang membutuhkan aura dan kekuatan tenaga dalam yang tidak sedikit. Aku harus berhati-hati menghadapinya." Patih Wirosobo berbicara pada dirinya sendiri. Laki-laki itu mengagumi kekuatan Wisanggeni, tetapi amarah kehilangan putranya, lebih menguasai daripada akal sehatnya.


Belum selesai Wisanggeni berdiri tegak. Patih Wirosobo sudah melempar kembali trisula ke arah laki-laki itu. Dengan mudah, Wisanggeni menangkal serangan itu, dengan satu kaki mundur ke belakang.


"Blaasss,,," tampak pohon yang terkena lemparan trisula langsung layu dan mengering, yang menandakan betapa berbahayanya racun yang ada di trisula tersebut.


"Aku harus memikirkan cara untuk menghindari racun itu." Wisanggeni berpikir sendiri. Tiba-tiba tangan Wisanggeni menggenggam seperti sebuah batu, membesar dan mengeras, Dengan menyipitkan matanya, laki-laki itu melirik gerakan Patih Wirosobo dari sudut matanya,


"Bluar..., bluarr...., blamm.." tiba-tiba tangan Wisanggeni mengeluarkan serangan tanpa henti, dan terus memberikan serangan pada Patih Wirosobo. Serangan itu tidak berjeda, dan akhirnya bertumbukan dengan trisula kembar laki-laki paruh baya itu.


"Jegllarr...." seperti yang sudah dipikirkan oleh ayahnda Chakra Ashanka, ledakan trisula mengeluarkan racun yang sangat berbahaya dan dengan cepat melebar di sekitar tempat tersebut.

__ADS_1


Wisanggeni segera menutup saluran pernafasannya dengan menggunakan tenaga dalam, dengan mata terpejam tanpa jeda, Wisanggeni terus merangsek maju.


"Tenaga Pasopati... " tidak diduga, Wisanggeni mengeluarkan tenaga Pasopati yang sudah dilakukan modifikasi dengan ilmu yang diwarisi dari trah Bhirawa. Kumpulan kanuragan yang sudah dipelajari oleh pemimpin perguruan Gunung Jambu ini tidak bisa dianggap remeh. Berbagai tempat, berbagai bahaya sudah didatangi laki-laki ini, dalam rangka meningkatkan ilmu kanuragannya, Jika hanya orang biasa, tidak akan ada yang mampu untuk menghadapinya,


"Trisula kembar... berputarlah..." begitu teriakan keluar dari mulut Patih Wirosobo, kedua trisula itu kembali membentuk lingkaran dan mengeluarkan percikan-percikan api yang sangat berbahaya. Beberapa meter di belakang patih tersebut, puluhan prajurit sudah tidak mampu menahan nafas. Udara yang bercampur racun sudah menyebar di sekeliling tempat tersebut.


Melihat pemandangan itu, sudut hati Wisanggeni tidak mampu untuk melihatnya. Pemandangan itu sangat kejam, dimana seorang pemimpin tega menghabisi anak buahnya hanya untuk menuntaskan rasa dendam yang ada di hatinya. Sebenarnya bisa saja Wisanggeni mengabaikannya, tetapi mengingat mereka juga bagian dari manusia biasa, yang membutuhkan perlindungan untuk bertahan hidup, membuat sudut hati Wisanggeni tergerak.


"Trang.. trang..., blaamm.." benturan kekuatan kedua orang itu terus terjadi, dan sambil menggerakkan satu tangannya, Wisanggeni mengirimkan kekuatannya untuk membuat tabir melindungi para prajurit kerajaan Logandheng. Melihat perlindungan yang dikirimkan oleh Wisanggeni kepada mereka, para prajurit berpandangan kemudian mereka bersimpuh untuk mengucapkan terima kasih pada lawan dari Patih Wirosobo itu.


"Clap... srett..." Wisanggeni seketika kaget dan melompat, ketika serangan Patih Wirosobo tanpa diduga mengarah pada dirinya. Untungnya laki-laki itu tepat waktu untuk membuat penghindaran, sehingga hanya kain bajunya yang perlahan terbakar terkena serangan racun itu.


Sambil tersenyum mencibir, Wisanggeni menarik pakaian yang terbakar itu, kemudian membuangnya ke atas tanah. Jadilah saat ini Wisanggeni hanya bertelanjang dada dan mengenakan bawahan ****** ***** bertarung dengan Patih Wirosobo.


Merasa serangan dapat menyerempet tubuh Wisanggeni, membuat Patih Wirosobo menjadi terbuai kemenangan. tanpa henti, laki-laki paruh baya itu terus merangsek dan mengirimkan serangan pada Wisanggeni. Tetapi laki-laki itu tidak menyadari, jika trisula yang mengeluarkan racun itu membutuhkan aura dan kekuatan yang besar,

__ADS_1


*************


__ADS_2