
Setelah menghabiskan waktu tiga hari di dalam pesanggrahan Nini Sinto Rini, tibalah saatnya Wisanggeni dan Rengganis harus berpisah dengan putrinya itu. Tampak keharuan ketika mereka akan berpisah, namun dengan sekuat tenaga Rengganis menjaga agar air matanya tidak keluar dari kelopak matanya. Demikian juga dengan Parvati... gadis muda yang belum pernah merasakah tinggal terpisah dari keluarganya itu, lebih tidak bisa menahan perasaannya. Sinto Rini hanya melihat pada keluarga itu dengan tersenyum.
"Bagaimana putriku.. apakah hatimu sudah merasa yakin dengan niat dan tekadmu. Sebentar lagi, ayahnda dan ibunda akan meninggalkan pesanggrahan ini. Dan kamu akan berada di tempat ini dengan Nini Sinto, bukan dengan ayahnda dan ibunda lagi.." kembali Rengganis menanyakan tekad dari putrinya itu.
"Parvati siap ibunda.. Relakan kepergian Parvati sementara ibunda.. jika ada waktu, suatu saat Parvati akan datang kembali ke perguruan Gunung Jambu." Parvati mencium punggung tangan Rengganis, kemudian kedua perempuan itu kembali berpelukan.
Dengan penuh rasa haru, dan rasa khawatir akan berpisah sebentar lagi, Rengganis mencium dahi Parvati untuk waktu yang lama. Tangan perempuan muda itu mengusap-usap punggung Parvati, dan setelah beberapa saat, dengan mantap Rengganis melepaskan pelukannya pada gadis muda itu.
Perlahan Wisanggeni juga melakukan hal yang sama, laki-laki itu juga merasa sesak di rongga dadanya. Tidak seperti ketika mereka melepaskan Chakra Ashanka untuk berlatih sendiri, tetapi ada rasa yang beda ketika mereka harus terpisah dengan putri perempuannya. Ayah dan putrinya itu saling berpelukan erat untuk beberapa saat, kemudian Wisanggeni melepaskan dan tanpa sadar menghapus air di sudut matanya.
"Parvati.. ikuti NIni sebelum sinar matahari menjadi tinggi. Ibunda dan ayahndamu akan kembali melaksanakan tugasnya yang tertunda.. Apakah kamu akan merubah kembali keinginanmu..?" dengan nada datar, SInto Rini bertanya pada Parvati yang terlihat masih enggan untuk berpisah dengan kedua orang tunya.
Parvati menoleh ke arah Nini Sinto Rini, kemudian mengangukkan kepala sambil tersenyum. Setelah itu, gadis muda itu kembali mencium punggung tangan Wisanggeni kemudian berjalan menghampiri perempuan tua itu.
"Segeralah pergi dari tempat ini, aku tidak akan bisa mengantarmu sampai ke depan. Pergilah lurus ke arah utara, setelah bertemu dengan pohon Gaharu.. ketuklah sebanyak tiga kali batang pohon itu, maka kamu akan dapat keluar dari dalam tempat ini.." sebelum pergi membawa Parvati, Sinto Rini mengucapkan pesan pada Wisanggeni dan Rengganis.
__ADS_1
"Baik Nini.. kami akan segera pergi.." jawab Wisanggeni singkat.
Sinto Rini kemudian menarik tangan Parvati, kemudian kedua perempuan beda generasi itu berjalan meninggalkan pasangan suami istri itu. Mereka masuk kembali ke dalam goa batu, kemudian setelah mereka masuk, pintu batu hitam kembali menutup dengan sendirinya. Wisanggeni menoleh ke arah Rengganis, dan setelah Parvati tidak tampak lagi, air mata sudah tidak dapat dibendung lagi. Rengganis menangis sesenggukan, dan Wisanggeni menyandarkan wajah istrinya di dadanya yang bidang.
"Kita harus segera pergi dari tempat ini Nimas.. kita ingat pesan dari Nini Sinto bukan?" Wisanggeni bertanya pelan.
"Iya kakang... Nimas juga mendengar dan mengingatnya.." sahut Rengganis. Perempuan itu kemudian menegakkan kembali kepalanya, dan menganggukkan kepada pada suaminya.
Beberapa saat kemudian, kedua orang itu segera berjalan lurus ke arah utara sesuai dengan perkataan yang diucapkan oleh perempuan tua tadi. Beberapa waktu berjalan, mereka kebingungan mencari pohon Gaharu.
"Kakang.. apakah sudah melihat keberadaan pohon Gaharu seperti yang dikatakan Nini Sinto tadi..?" Rengganis bertanya tentang pohon Gaharu.
Tiba-tiba mata Wisanggeni melihat sebuah pohon dengan batang besar, dan daun rimbun di atasnya. Batang pohon itu terlihat hitam pekat dan rata di seluruh permukaan, yang merupakan salah satu ciri dari pohon yang sedang mereka cari. Selain itu, aroma harum semerbak tampak menguar dari batang pohon tersebut,
"Kita sudah menemukannya Nimas.. lihatlah di arah sana.." Wisanggeni menunjuk ke arah utara.
__ADS_1
Pasangan suami istri itu segera mendatangi pohon itu, dan keduanya berdiri terpukau mencium keharuman batang pohon itu. Tidak ada bosannya, mereka terus mencium keharuman itu, namun Wisanggeni teringat pesan yang disampikan oleh Nini SInto Rini tadi. Laki-laki itu kemudian mengusap batang pohon, kemudian mengetuk batang pohon itu sebanyak tiga kali.
"Kreett... srettt..." tiba-tiba mereka mendengar suara gemuruh dari arah samping mereka. Tidak lama kemudian, pasangan suami istri itu melihat pagar batuan hitam bergeser dengan sendirinya, dan mereka bisa melihat suasana di luar pagar batu tersebut.
"Mari Nimas.. bukan saatnya lagi kita tetap berada di dalam, dan menikmati harum aroma gaharu. Kita masih harus melanjutkan langkah kita.." Wisanggeni segera menggandeng tangan Rengganis. Tidak lama kemudian, pasangan suami istri itu sudah berada di luar pagar batuan hitam.
Begitu Wisanggeni dan Rengganis berada di luar pagar batu hitam, pintu yang mereka lewati kembali menutup dengan sendirinya. kedua orang itu tidak bisa kembali masuk ke dalam dengan sendirinya. Dengan tatapan getir, Rengganis kembali melihat ke arah pagar batu hitam tersebut, perasaan kehilangan berpisah dengan Parvati, kembali dirasakan oleh perempuan itu.
"Kita harus segera pergi dari sini Nimas.. semakin kamu memandangi pagar batuan itu, kamu akan selalu teringat akan putri kita Parvati.. Tugas kita hanya mengantarkan putri kita Nimas.. sudah saatnya putri kita mencari jalan hidupnya sendiri. Kita masih sangat beruntung, putri kita ditemukan dan diminta langsung pada kita, bukan pergi sendiri untuk mendapatkan pengalaman hidupnya." Wisanggeni mengajak Rengganis untuk segera berlalu dari tempat itu. Rasa kehilangan sebenarnya juga menghantuinya, tetapi karena sebagai seorang laki-laki, Wisanggeni lebih bisa untuk menahannya.
"Baik kakang.." sahut Rengganis pelan.
Kedua orang pasangan suami istri itu kemudian melanjutkan langkah mereka kembali. Keduanya berjalan lurus, dan ketika melihat sebuah sungai kecil, keduanya berhenti dan berpikir untuk mencuci wajah mereka dengan menggunakan air sungai tersebut. Beberapa saat kemudian..
"Sangat segar sekali air sungai ini kakang.. Perasaanku menjadi kembali segar, semua kesal dari permasalahan tadi seakan hilang terbawa kembali oleh aliran sungai ini.." Rengganis segera duduk di atas batu di pinggir sungai, kedua tangannya meraup air dan membasuhkan berkali-kali ke wajahnya.
__ADS_1
Wisanggeni segera turun dan melakukan hal yang sama. Kesegaran juga terasa mengalir di pembuluh darahnya, dan ketika mata laki-laki itu menatap ke seberang, tiba-tiba senyuman cerah muncul dari bibir Wisanggeni. Laki-laki itu melihat sebuah gapura seperti tanda yang diberikan oleh pemilik penginapan, dimana tanda itu merupakan awal masuk ke dalam padhepokan Ki Bawono.
*********