Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 83 Ikatan


__ADS_3

Wisanggeni dan Rengganis mengedarkan pandangan ke sekeliling regol, untuk mencermati apakah ada celah atau lubang kunci untuk memasuk areal pemakaman kuno itu. Tiba-tiba mata Wisanggeni tertuju pada kotak kayu berbentuk kubus yang ada di samping soko, dan seperti melihat ada kayu kecil. Laki-laki muda itu langsung mendatangi kotakan kubus tersebut, dan Rengganis mengikuti di belakangnya.


"Tombol apaan itu Kang?" tanya Rengganis lirih.


"Akang juga belum tahu Nimas.., bagaimana pendapatmu jika Akang mencoba untuk menekan tombol itu?" Wisanggeni meminta pendapat perempuan yang ada di samping bahunya itu.


"Ya Kang.., coba saja Akang tekan tombol itu. Karena Rengganis juga tidak bisa melihat apakah ada kemungkinan lain untuk bisa memasuki dalam areal pemakaman." Rengganis menyetujui usulan Wisanggeni untuk menekan tombol tersebut.


Dengan mengambil nafas panjang, Wisanggeni meyakinkan diri untuk menekan tombol kayu tersebut. Tangan kanannya terulur, dan dengan mantap jari telunjuknya menekan tombol kayu pada kotak kubus itu.


"Sreeet... bang.., bang.." beberapa tombak panjang meluncur deras ke arah mereka. Rengganis bergerak cepat, selendang warna putih terbuka lebar di atas kepala mereka, dan mengibaskan tombak-tombak yang meluncur ke arah mereka.


Beberapa waktu mereka habiskan untuk menghindari serangan tombak-tombak tersebut, dan akhirnya serangan itu berhenti, Dengan nafas terengah-engah Wisanggeni menatap Rengganis.


"Bagaimana keadaanmu Nimas..., untung Nimas segera menghadang luncuran tombak-tombak itu. Jika tidak kita pasti sudah tertancap salah satu tombak tersebut." kata Wisanggeni dengan wajah khawatir.


"Rengganis baik-baik saja Akang.., ternyata banyak jebakan di area regol ini. Kita harus lebih berhati-hati lagi Akang." Rengganis mengingatkan laki-laki itu.


Wisanggeni tersenyum, kemudian dia berdiri lagi mengamati sekeliling. Matanya terpaku pada ukiran naga yang berada diatas daun pintu yang menghalangi areal luar dengan areal dalam pemakaman.


"Apakah ukiran itu merupakan kunci untuk masuk ke dalam ya?" Wisanggeni bertanya pada dirinya sendiri.


"Ada apa Akang..?" tanya Rengganis ingin tahu. Karena tidak ingin, hal yang buruk menimpa Rengganis, Wisanggeni mengangkat tangannya ke atas, dia memberi kode agar Rengganis tidka bergerak. Perlahan Wisanggeni menggunakan telapak tangannya, mengusap ukiran tersebut.

__ADS_1


"Duarr..., ssshh..., ssshh, sshhhh.." seekor naga besar dengan sayap di badannya terbang melintas di atas Wisanggeni dan Rengganis, matanya merah menyala menunjukkan satu kemarahan.


Melihat kemunculan naga terbang itu, Rengganis langsung melompat dan merapatkan tubuhnya ke badan Wisanggeni. Sedangkan laki-laki muda itu hanya tersenyum menatap mata naga terbang tersebut.


"Siapakah kalian..., berani-beraninya mengganggu tidur panjangku?" terdengar suara besar yang menggelegar dari naga terbang tersebut, diikuti kobaran api merah dari mulutnya. Lidah naga tersebut menjulur keluar.


"Kami berdua ingin memasuki pemakaman kuno ini, karena sebagai tanda bakti kami kepada para leluhur kami. Keberadaan kuburan leluhurku, baru saja aku ketahui beberapa saat yang lalu. Tetapi aku tidak menemukan celah untuk dapat memasuki pemakaman ini. Apakah Ki Sanak dapat memberi tahu kami, dimana sandi untuk dapat memecahkan kunci memasuki areal dalam pemakaman?" dengan sikap sopan, Wisanggeni menanyakan kunci untuk dapat masuk ke dalam.


"Berani-beraninya kalian menanyakan perihal kunci untuk masuk ke pemakaman ini. Memangnya siapa kalian, banyak orang yang mengaku memiliki leluhur disini, tetapi hanya berakhir menimbulkan kekacauan di tempat ini. Ha.., ha..., ha.. apakah kalian pikir, begitu mudahnya kamu menipuku?" naga terbang tidak mempercayai mereka.


Tiba-tiba Wisanggeni mengangkat telapak tangannya ke atas, dan menunjukkan telapaknya ke arah naga terbang tersebut. Mustika kepala berwarna ungu bersinar di telapak tangan tersebut, dan melihat sinar itu, mata naga terbang terbelalak. Naga terbang tersebut langsung turun ke bawah dan menunduk di depan Wisanggeni.


"Paduka..., maafkan saya!! Saya telah buta dan tidak mengenali keberadaan Paduka disini." kata Naga terbang menghiba.


Wisanggeni tersenyum, kemudian dia berjalan mendekati naga tersebut dan mengusap mustika naga terbang tersebut.


Tidak menunggu lama, ekor naga terbang diusapkan di regol, dan


"Brak..." terlihat pintu yang perlahan terangkat naik. Wisanggeni dan Rengganis berpandangan, keduanya saling tersenyum.


"Paduka..., jika menemui kesulitan di dalam, pecahkan benda ini. Saya akan datang untuk memberi pertolongan pada Paduka berdua." Naga terbang memberi sebuah plat yang terbuat dari keramik berwarna hijau pada Wisanggeni.


Setelah mengucapkan terima kasih, Wisanggeni dan Rengganis dengan ditemani Singa Ulung berjalan memasuki areal pemakaman.

__ADS_1


***************


Menunggu tidak ada kabar keberadaan dari Wisanggeni, Lindhuaji dan Larasati akhirnya melangsungkan ikatan hubungan mereka di depan Ki Mahesa dan Wijanarko. Keduanya mengikat janji suci di padhepokan Klan Gumilang, dan mereka tidak mau diadakan sebuah pesta karena rasa sedih mereka yang belum mendapatkan kabar tentang keberadaan Wisanggeni.


"Maafkan saya Paman.., restui kami semoga bisa menjadi pasangan yang langgeng." suara lirih Larasati saat melakukan sungkem tanda berbakti pada Ki Mahesa.


Laki-laki tua itu tersenyum, tangannya terangkat dan mengusap lembut kepala gadis itu.


"Jangan panggil aku paman Nimas.., panggil dengan sebutan ayah. Sama dengan suamimu memanggilku. Aku restui hubungan kalian dengan disaksikan oleh langit dan bumi." sambil tersenyum, Ki Mahesa merestui hubungan mereka.


"Terima kasih ayah." Larasati mencium tangan Ki Mahesa, kemudian Ki Mahesa menegakkan badan Larasati kemudian memeluknya, seperti seorang ayah memeluk putrinya sendiri.


Wijanarko saling memandang dengan Lindhuaji yang duduk di samping Ki Mahesa. Lindhuaji kemudian mengikuti langkah Larasati, diapun melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan pasangannya. Setelah mereka melakukan sungkem pada Ki Mahesa, mereka juga melakukannya pada Wijanarko, karena mereka berdua sudah mendahului kakaknya itu dengan melangsungkan ikatan hubungan terlebih dahulu.


"He..., he..., he..., akhirnya adikku satu-satu mendahuluiku. Aku akui, aku kalah dalam hal ini." ucap Wijanarko sambil tertawa.


"Bukannya ada Nimas Kinara yang selalu menunggu Kangmas Wijanarko." terucap kalimat dari mulut mungil Larasati, yang menjadikan Wijanarko terkejut mendengarnya.


"Bagaimana kamu bisa tahu keberadaan Kinara Nimas Larasati?' tanya Wijanarko, Ki Mahesa melihat pada keduanya.


"Kebetulan Nimas pernah diajak Kang Wisang untuk mencari bahan-bahan obat herbal di aula hebat, dan disitu ada seorang perempuan cantik yang memberikan perlakuan khusus pada Kang Wisang. Setelah Nimas bertanya, dijawab jika perempuan itu memiliki ketertarikan dengan Kang Wijanarko. Bahkan perempuan itu yang bernama Kinara, menitip salam untuk Kangmas." sambil tersenyum, Larasati menjawab pertanyaan Wijanarko.


Wijanarko tidak menanggapi ucapan Larasati, dia malah jauh menerawang seperti membayangkan wajah mungil dan cantik dari Kinara.

__ADS_1


"Ehemm....., berarti tugasku sudah selesai. Ketiga putriku sudah menemukan pasangannya masing-masing." sambil berdehem, Ki Mahesa mengeluarkan pernyataan.


****************


__ADS_2