Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 76 Pelayanan Tamu


__ADS_3

Wisanggeni bersila di atas ranjang yang ada di kamar penginapannya. Dia tidak mau mengikuti ajakan temannya untuk berkeliling ke wilayah Jagadklana, sejak masuk kamar dia hanya berdiam diri di atas ranjang. Laki-laki itu melakukan meditasi untuk menetralkan aura negatif yang menemani hembusan nafasnya. Tetapi tiba-tina matanya terbuka, dia merasakan ada aura yang dengan akrab dikenalnya sedang mendekat ke arahnya. Wisanggeni tersenyum,  dia ingin melihat kejutan seperti apa yang akan ditemuinya sebentar lagi.


"Kreeet.." tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dari luar. Wisanggeni pura-pura memejamkan matanya, dari aroma tubuhnya, laki-laki muda itu tahu siapa yang saat ini berada di dalam kamarnya.


Lama tidak ada gerakan di belakangnya, Wisanggeni tetap menunggu untuk beberapa saat. Karena tidak sabar ingin melihat wajah gadis pujaannya, Wisanggeni membalikkan badannya, dan matanya menjadi bersinar melihat seorang wanita cantik tanpa riasan berdiri memandanginya tanpa berkedip.


"Nimas.., Akang rindu padamu." tanpa menunggu lagi, Wisanggeni maju dan langsung mendekap tubuh perempuan itu di pelukannya.


Tanpa berpikir malu, atau norma yang ada di masyarakat, Rengganis membalas pelukan laki-laki yang dirindukannya itu dengan erat. Dia merasa bersyukur dapat melihat laki-laki itu masih berdiri utuh di hadapannya. Pertemuan terakhir saat di Gunung Baturetno menyisakan rasa penyiksaan atas batinnya.


Wisanggeni melonggarkan pelukannya, kemudian mengangkat wajah Rengganis. Dia menatapnya lama, seakan itu tidak cukup mengobati rasa kerinduannya pada gadis itu. Tiba-tiba air mata menetes di pipi Rengganis, dengan cepat jari-jari Wisanggeni terulur untuk menghapus tetesan air mata itu.


"Kenapa Nimas menangis, apakah Nimas tidak suka bertemu denganku lagi?" bisik Wisanggeni di telinga perempuan itu.


"Nimas tidak percaya Akang..., Nimas takut semua yang ada saat ini hanya merupakan sebuah mimpi." bisik Rengganis sambil terisak.


"Ini semua nyata Nimas..., aku Wisanggeni putra bungsu Ki Mahesa. Aku masih hidup, kaumku sudah menyelamatkan aku dan membawanya untuk berganti kulit selama berbulan-bulan." ucap Wisanggeni meyakinkan Rengganis.


"Maksud akang?" tanya Rengganis bingung.


Wisanggeni mengajak Rengganis duduk di tepian ranjang di dalam kamarnya. Dia memegang kepala perempuan itu, kemudian menyandarkan di bahunya.


"Apakah Nimas pernah mendengar Mustika Nabau?" tanya Wisanggeni pelan. Rengganis menganggukkan kepalanya.


"Akang memiliki mustika Nabau Nimas.., yang tanpa sengaja sudah Akang temukan saat masih berdua dengan Nimas Larasati di dalam hutan." mendengar laki-laki yang dicintainya menyebut nama perempuan lain, tiba-tiba Rengganis merasa sesak, Dia langsung cemberut dan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ada apa denganmu Nimas, apakah kamu cemburu? Jika ya, Akang tidak akan melanjutkan cerita ini." kata Wisanggeni sambil tersenyum.


Mendengar ancaman itu, Rengganis mengangkat wajahnya kemudian menatap laki-laki yang tengah memeluknya itu.


"Sedikit Akang.., lanjutkan! Nimas ingin mendengarkan cerita itu." ucap lirih perempuan itu.


"Ternyata mustika nabau itu tanpa Akang sadari, sudah menjadikan Akang menjadi seorang pemimpin ular dan naga di negeri ini. Saat akang terbakar menjadi arang, ternyata Maharani ratu ular sudah membawaku pergi ke istananya,  dan mengerami selama 6 purnama jika tidak salah. Akhirnya aku bisa terlahir kembali seperti ini Nimas." kata Wisanggeni mengakhiri ceritanya.


"Maharani..., Nimas dengan meskipun perwujudannya seekor naga besar, tapi Maharani bisa berubah wujud menjadi seorang perempuan yang sangat cantik. Perempuan itu bisa memikat laki-laki manapun dengan pesonanya. Jangan-jangan Akang dan Maharani sudah..." ucap Rengganis penuh selidik.


Wisanggeni sedikit teringat kejadian antara dia dan Maharani, yang hampir setitik lagi mereka melakukan penyatuan. Wajahnya tiba-tiba merah menahan malu saat mengingatnya.


"Benarkah Akang, sudah terjadi sesuatu antara kamu dan Maharani? Dari semburat merah di wajah Akang, jangan coba-coba untuk membohongi Rengganis." kata Rengganis sambil cemberut kembali.


"Jangan khawatir Nimas.., memang pada awalnya Akang sedikit tergiur dan tergoda dengan penampilan ratu ular itu. Tetapi pesona dan kharisma perempuan yang saat ini berada disisiku, jauh lebih menggoda dan menggiurku untuk bertindak lebih jauh." bisik Wisanggeni kembali memberikan ciuman lembut di bibir kenyal perempuan itu.


*************


Keesokan harinya, setelah memberi tahu Ki Sasmito tentang kedatangan Wisanggeni di Jagadklana, pemimpin trah itu langsung menugaskan beberapa orang untuk memindahkan putra bungsu Ki Mahesa ke wisma yang ditempatkan khusus untuk tamu. Tetapi Wisanggeni tidak dapat membawa rombongan teman-temannya, sehingga teman-temannya tetap menginap di tempat yang sama.


Wisanggeni membuka lebar jendela yang ada di wismanya yang baru. Udara dingin masuk dan membawa kesegaran udara di kamar yang ditempatinya. Pemandangan telaga yang dibelakangnya ada sebuah gunung, seperti sebuah lukisan pemandangan yang indah. Laki-laki muda itu kemudian merentangkan kedua tangannya, dia menghirup udara segar sampai kerongkongannya.


"Tok.., tok.., tok,..." tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang dari luar.


"Masuk.., tidak dikunci." ucap Wisanggeni sambil melihat tamu yang masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Seorang perempuan muda masuk ke dalam kamar, di tangannya membawa nampan berisi minuman panas dan kudapan. Sementara di bahu perempuan itu tergeletak sebuah lipatan kain.


"Den.., kenalkan nama saya Kunthi. Saya yang ditugasi untuk memberikan pelayanan selama  Aden berada di wisma ini. Apapun yang Aden inginkan, Kunthi siap untuk melayani, termasuk menemani Aden untuk tidur." ucap Kunthi tanpa kenal malu.


Wisanggeni terdiam, dia terkejut dengan kepolosan dan kejujuran perempuan yang saat ini berada di dalam kamarnya itu. Dia bingung bagaimana akan menanggapi perempuan itu. Tiba-tiba perempuan itu berdiri, kemudian memegang bahu Wisanggeni..


"Akan mau Kunthi temani mandi dulu, atau Kunthi pijat dulu." ucap Kunthi sambil menggayut manja di pundak Wisanggeni.


Wisanggeni kaget akan keberanian perempuan itu, dia melepaskan tangan Kunthi dari pundaknya kemudian menjauhkan dari badannya.


"Nimas.., menjauhlah sedikit dariku! Aku tidak membutuhkan pelayanan seperti itu darimu." kata Wisanggeni menolak perempuan itu.


"Aden.., jangan tolak Kunthi. Nanti Kunthi akan mendapatkan hukuman jika Aden merasa tidak puas dengan pelayanan yang Kunthi berikan untuk Aden." dengan tatapan memohon, Kunthi berusaha mempengaruhi Wisanggeni.


Wisanggeni bingung, dia garuk-garuk kepala yang tidak gatal.


"Tenanglah Nimas.., aku akan berbicara sendiri dengan Ki Sasmito. Yakinlah.., tidak akan ada yang bisa memarahimu, aku sudah merasa dipuaskan dengan pelayanan yang kamu berikan. Tanpa kamu merendahkan harga dirimu."


Tiba-tiba diluar dugaan Wisanggeni, jari-jari Kunthi tiba-tiba melepas kancing baju atasan yang saat ini dia kenakan. Tulang selangkanya terlihat putih dan seketika membuat kepala Wisanggeni pusing. Matanya tidak dapat lepas dari pemandangan syur yang tersaji di hadapannya.


"Brak..." tiba-tiba pintu terbuka dari luar.


"Enyahlah dari kamar ini Kunthi, atau aku akan membunuhmu!"


**************

__ADS_1


__ADS_2