
Setelah Parvati kembali bersama Achala, Rengganis yang sudah menyelesaikan urusan suami istri dengan Wisanggeni, segera memberi tahu pada gadis itu dan memintanya untuk bersiap. Mengetahui tentang rencana yang sudah dibicarakannya siang tadi dengan ibundanya, gadis remaja itu merasa gembira. Parvati langsung bergegas kembali ke dalam kamarnya, dan menyiapkan barang-barang miliknya untuk dia bawa.
"Kakang.. apakah kang Wisang sudah memberi tahu ayahnda tentang kepergian kita untuk menuju kerajaan Logandheng..?" Rengganis mengingatkan suaminya untuk berpamitan dengan ayahndanya Ki Mahesa.
"Nanti sekalian kita berangkat Nimas.., kita akan langsung menuju ke pendhopo kediaman ayahnda. Kita akan berpamitan saat itu juga. Aku yakin.. ayahnda akan maklum dengan keberangkatan kita yang mendadak ini, apalagi hal ini menyangkut cucunya Chakra Ashanka penerus dari Ki Mahesa juga." Wisanggeni menanggapi perkataan istrinya.
"Hmm.. baiklah jika begitu maunya kakang.. Tadi Nimas pikir, apakah tidak akan mengejutkan ayahnda, jika kita pergi secara mendadak tanpa rasan-rasan terlebih dahulu. Namun.. dengan alasan Chakra Ashanka, ayahnda pasti akan memakluminya." Rengganis mengambil nafas, menyetujui usulan yang disampaikan suaminya.
Perempuan itu kembali mengurusi pakaian-pakaiannya sendiri, dan juga pakaian suaminya. Untungnya, mereka berdua termasuk orang yang praktis, tidak suka membawa barang-barang yang tidak perlu dalam setiap perjalanan mereka. Terbiasa sejak kecil melakukan perjalanan jauh, sebagai seorang pendekar, membuat keduanya hanya berpikir praktis, dan cepat meninggalkan suatu tempat tanpa kerepotan memikirkan barang-barang bawaan.
Wisanggeni tersenyum melihat kecekatan istrinya, laki-laki itu masih menikmati minuman yang sudah tersaji di depannya. Namun.. istrinya Rengganis dengan cekatan sudah menyiapkan barang-barang penting yang akan mereka bawa. Bahkan hal-hal kecil juga tidak dilupakan oleh perempuan itu.
"Tok.., tok.. tok.." tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk dari luar.
Rengganis menatap pada Wisanggeni, tapi karena merasa memang mereka tidak membuat janji pada siapapun, laki-laki itu hanya menggelengkan kepala. Wisanggeni berdiri, kemudian laki-laki itu berjalan untuk melepaskan pengait pintu. Tidak lama kemudian, pengait pintu sudah dilepas dari dalam.
__ADS_1
"Achala.. ada apa dirimu kemari..?" Wisanggeni kaget dengan kedatangan keponakannya di depan pintu kamar.
"Paman.., Bibi.. apakah benar pada malam hari ini, paman dan bibi akan kembali ke perguruan Gunung Jambu..?" ternyata anak muda itu menanyakan tentang rencana kepergian mereka nanti malam.
"Masuklah dulu Achala.. Bibimu sedang bersiap untuk perlengkapan yang akan kami bawa nanti malam." Wisanggeni meminta keponakannya itu untuk masuk ke dalam kamar.
Achala dengan muka yang sedikit muram, melangkahkan kaki memasuki kamar tempat beristirahat paman dan bibinya itu. Anak muda itu baru mendengar kabar akan perginya paman dan bibinya dari Parvati. mereka tidak sengaja berpapasan di depan pendhopo, dan gadis muda itu segera bergegas meninggalkannya. Setelah ditanya, Parvati menyampaikan jika mereka akan segera pergi meninggalkan Trah Bhirawa.
"Paman dan Bibi serta Parvati memang harus segera pergi Chala.. Tetapi kepergian kami kali ini, bukan untuk kembali ke perguruan Gunung Jambu melainkan akan pergi ke kerajaan Logandheng. Paman yakin.. kamu sudah tahu bukan, untuk apa paman dan bibi menuju kerajaan itu." setelah melihat keponakannya duduk, Wisanggeni menjelaskan tujuan mereka.
"Iya Paman.. tadi Nimas Parvati juga sudah menyampaikan pada Achala.. Namun.. kenapa harus secepat ini, paman dan bibi serta Nimas Parvati harus pergi meninggalkan kota Laksa. bukannya paman masih memiliki urusan yang harus diselesaikan di kerajaan Laksa,..?" anak muda itu terlihat keberatan dengan rencana kepergian mereka.
"Achala.., meskipun kamu tidak bercerita, bibi memahami keberatanmu nak.. Namun.. untuk kali ini, kami memang harus kembali dan menyusul saudaramu Chakra Ashanka di kerajaan Logandheng. Jika kamu ingin ikut bersama kami untuk menuju perguruan Gunung Jambu, kamu bisa minta ijin pada kedua orang tuamu. Karena tempat lahirmu juga di tempat itu, kamu juga memiliki hak untuk tinggal disana keponakanku." Rengganis berbicara dengan suara pelan pada anak muda itu.
"Iya Chala.. pada saat seusiamu.. ayahndamu Lindhu Aji sudah meninggalkan Trah Bhirawa untuk mendirikan Trah sendiri bernama Trah Gumilang bersama dengan paman Widjanarko. Demikian pula dengan paman Wisanggeni, hampir seluruh kerajaan dan tempat di tlatah timur, tengah, dan barat sudah paman datangi. Tunjukkan keberanian dan kemampuanmu anak muda.." Wisanggeni menyemangati anak muda itu.
__ADS_1
Achala tersenyum dan menganggukkan kepala. Anak muda yang sejak tadi kurang begitu menyetujui paman dan bibinya akan pergi dari tempat itu, saat ini malah mendapatkan pencerahan. Dengan muka cerah, anak muda itu kemudian berpamitan untuk meninggalkan paman dan bibinya.
**********
Di kegelapan malam, ketika orang-orang di Trah Bhirawa sudah tertidur, Ki Mahesa mengantarkan putra dan menantu serta cucunya di halaman depan pendhopo. Singa Ulung sudah bersiap untuk mengantarkan pasangan suami istri itu, dan dengan gagahnya sudah berubah bentuk menjadi SInga Putih yang siap terbang. Kedua sayap di kanan dan kiri tubuhnya, sudah siap untuk mengantarkan keluarga itu pergi.
"Jagalah keselamatan kalian.. dan aku titip salam untuk cucuku Chakra Ashanka.. Wisang.. Rengganis dan cucuku Parvati.." dengan suara tercekat, Ki Mahesa mengucapkan kata-kata perpisahan untuk keluarga putra bungsunya itu.
"Baik ayahnda.. kami akan menjaga diri kami. Tidak lama lagi, Wisang yakin.. jika kita akan bertemu kembali." dengan rasa haru, Wisanggeni menanggapi perkataan yang diucapkan oleh ayahnya itu.
Rengganis dan Parvati berjalan menghampiri laki-laki tua itu, kemudian keduanya mencium punggung tangan Ki Mahesa. Dengan penuh rasa haru, Ki Mahesa mengusap rambut Parvati kemudian melepaskannya.
"Pergilah putraku, cucuku.. Mumpung hari masih malam, pergilah. Ayahnda memberikan restu untuk kepergian kalian, dan untuk kesuksesan garis keturunan dari Ki Mahesa." untuk menghentikan keharuan mereka, Ki Mahesa segera mengusir mereka dengan cara halus.
Tanpa kata, Wisanggeni mengangkat tubuh Parvati, kemudian meletakkannya di atas punggung Singa Ulung. DI belakang Parvati, menyusul Rengganis, dan perlahan Wisanggeni melompat dan duduk di tempat yang paling belakang. Setelah melihat ke bawah, ke arah Ki mahesa berada, ketiga orang itu menganggukkan kepala. Perlahan.. setelah melihat Ki mahesa melambaikan tangan, Singa Ulung mulai mengangkat tubuhnya ke atas. tidak lama kemudian, binatang itu sudah menyibak kegelapan malam.
__ADS_1
Wisanggeni memeluk tubuh Rengganis dari belakang, dan Rengganis juga memeluk tubuh Parvati. Malam yang dingin menjadi terasa hangat ketika Rengganis melebarkan selendangnya untuk membungkus tubuh mereka bertiga, Bahkan di dada Rengganis, Parvati kembali melanjutkan tidurnya, dan tanpa merasa terbebani, Rengganis memegangi kepala putri WIsanggeni suaminya dan Maharani.
**********