
"Bukk..krek.." seorang penjaga terjatuh dan lehernya langsung patah. Wisanggeni menyeret tubuh orang tersebut ke tempat yang tersembunyi. Dia melepaskan pakaian yang dikenakan penjaga tersebut, kemudian mengenakannya untuk melakukan penyamaran. Setelah berganti pakaian, Wisanggeni mengenakan topi lebar untuk menutupi wajahnya.
"Blip.., blip.." terdengar suara asing dari dalam kotak penyimpanannya. Wisanggeni merasa aneh, karena tidak menambah benda asing dalam koleksinya. Setelah mengerenyitkan dahi, dia merogoh kotak dan mengeluarkan Singa Ulung dalam bentuk seekor kucing yang imut.
"Singa Ulung..., apakah ada sesuatu yang tidak biasanya di dalam sana? Kenapa aku mendengarkan suara aneh dari kotak penyimpanan." Wisanggeni bertanya pada Singa Ulung.
Kucing berwarna putih itu menganggukkan kepala, dan mengibaskan ekornya. Laki-laki itu kemudian memasukkan telapak tangannya ke dalam kotak penyimpanan, dia merasakan getaran lain dari dalam. Tidak berapa lama, dia mengambil cincin yang diberikan oleh Ki Brahmono dan membawanya keluar.
"Blip.., blip.." kembali cincin itu berkedip di telapak tangan Wisanggeni.
"Apa ini maksudnya, apakah cincin ini memberi isyarat padaku? Atau aku akan menanyakannya dengan Nimas Niken dulu, siapa tahu dia mengenal dengan baik cincin kepunyaan ayahndanya." Wisanggeni berpikir sendiri. Dia mengangkat cincin itu ke atas, dan ternyata kedipannya semakin cepat.
Tiba-tiba dari arah agak jauh, laki-laki itu melihat Niken Kinanthi sedang berjalan dengan 2 orang laki-laki tidak dikenal. Wisanggeni tersenyum melihat penampilan putri dari Klan Suroloyo itu. Dia kemudian pura-pura berjalan ke arah Niken Kinanthi dan orang tersebut.
Sesampainya di dekat Niken Kinanthi, Wisanggeni mengangkat wajahnya dan memberikan kedipan mata ke arah gadis itu. Untungnya gadis itu cepat tanggap dengan isyarat yang disampaikannya.
"Kenapa kamu malah berjalan-jalan kesini, dimana tempatmu berjaga?" tanya salah satu dari laki-laki itu.
"Bang.." tubuh dua laki-laki itu langsung roboh ke tanah, terkena pukulan mendadak dan cepat dari Wisanggeni dan Niken Kinanthi.
Setelah menyingkirkan tubuh keduanya ke tempat tersembunyi, Niken Kinanthi dan Wisanggeni segera berjalan masuk lebih ke dalam rumah. Sambil berjalan, Wisanggeni menunjukkan cincin akik dengan batu berwarna ungu pemberian dari Ki Brahmono pada Niken Kinanthi.
__ADS_1
"Nimas.., apakah kamu mengetahui isyarat apa yang disampaikan oleh cincin ini? Sejak dari tadi, batu yang ada di dalam cincin ini membunyikan suara aneh. Aku yakin, dia ingin memberi isyarat pada kita." tanya Wisanggeni pada Niken Kinanthi.
Niken Kinanthi tersenyum, dia tidak memegang cincin yang diberikan laki-laki itu padanya.
"Akang.., apakah saat ini Akang memiliki pisau belati yang diberikan oleh leluhur Akang?" tanya Niken Kinanthi serius.
"Iya Nimas..., apakah ada hubungannya antara pisau dan batu akik ini?" Wisanggeni merasa bingung, dia tidak bisa menghubungkan antara sebuah cincin akik dengan sebuah pisau belati. yang dia tahu, dia mendapatkan pisau itu dari kotak penyimpan yang ditinggalkan oleh ibunya yang sudah lama meninggal.
"Akang..., ibunda Kang Wisang dengan ibundaku memiliki hubungan emosional yang sangat dekat. Mereka berdua berasal dari satu perguruan yang memiliki derajat tinggi dalam dunia persilatan. Cincin akik dan pisau belati ini sama-sama menggabungkan dua kekuatan ruh dari leluhur. Jika Akang bisa mendapatkan satu lagi barang pelengkapnya, Niken yakin.., Akang akan menjadi seorang petarung yang akan sangat disegani di wilayah dunia ini." Niken Kinanthi menceritakan hubungan antara kedua benda itu.
Wisanggeni diam, dia sama sekali tidak menyangka jika pisau belati itu memiliki nilai yang sangat tinggi. Setelah beberapa saat..,
"Tapi untuk apa Nimas..., di saat seperti ini kedua benda ini malah menunjukkan keberadaan mereka?" Wisanggeni masih ingin menggali tentang keberadaan dua benda itu.
Tanpa berpikir lama, Wisanggeni mengeluarkan pisau belati dari dalam sarungnya. Setelah melihat-lihatnya sejenak, dia menemukan sebuah lobang berbentuk setengah lingkaran jika diamati dari luar. Dia kemudian mencoba memasukkan cincin pemberian Ki Brahmono ke dalamnya, dan terlihat sebuah sinar ungu yang cerah keluar dari pisau belati tersebut. Keanehan terjadi, ketika sinar warna ungu itu membentuk arah seperti menunjukkan sesuatu.
"Hati-hati Akang, simpan kembali kedua benda itu! Niken khawatir, efek penggabungannya akan memancing kecurigaan orang-orang disini." seru Niken Kinanthi sedikit cemas.
"Baik Nimas, ayo kita mencoba menuju arah yang ditunjukkan oleh sinar ungu tadi!" setelah menyimpan kembali dua benda itu, Wisanggeni segera meraih tangan Niken Kinanthi. Dengan satu lompatan, kedua orang itu sudah menghilang.
*************
__ADS_1
Di dalam Padhepokan Gunung Baturetno. Seorang berpakaian hitam-hitam tampak tergesa-gesa masuk ke dalam senthong untuk menemui seseorang. Raut wajahnya menunjukkan kecemasan tetapi juga sedikit harapan.
"Ada sasmita apa yang ingin kamu sampaikan padaku Badar? Tanpa membuat janji, kamu sudah lancang masuk ke dalam senthongku." suara besar dengan aura menakutkan menyapa orang yang dipanggil dengan sebutan Badar.
"Maaf Ki Tumbak Seto.., aku merasakan ada kekuatan besar melebihi kekuatan arwah seperti dekat dengan kita saat ini. Tetapi, aku belum bisa menemukannya. Kekuatan apa ini." ucap Badar melaporkan.
"Ternyata sasmitamu juga masih awas Badar. Aku juga merasakannya, mungkin lebih baik saat ini perketat penjagaan dari Ki Mahesa. Sebelum kekuatan dari pusat mengirimkan utusan untuk membawa laki-laki tua itu pergi, kita harus menjaganya dengan baik." laki-laki dengan nama Tumbak Seto memberi perintah.
"Baik.., aku juga tidak mengira jika pemimpin Klan Bhirowo itu betul-betul keras kepala. Jika dia mengaku, dimana mereka menyembunyikan senjata andalan istrinya, sudah aku habisi dia dari dulu." Badar tersenyum sinis.
"Sudah jagalah dia dulu! Aku yakin laki-laki itu masih memiliki kekuatan yang akan dapat kita gunakan di masa depan. Awasi dan perketat penjagaan, aku akan melakukan semedi dulu. Siapa tahu ada petunjuk yang ditelepatikan oleh pusat kepadaku." Tumbak Seto langsung mengambil sikap duduk bersila. Melihat pemimpinnya sudah dalam posisi itu, perlahan Badar segera keluar dari senthong.
Badar masuk ke dalam satu ruangan luas dengan sebuah kolam mata air di dalamnya. Di dalam kolam tersebut, terlihat seorang laki-laki tua yaitu Ki Mahesa sedang diikat dengan rantai yang dikaitkan dengan batu besar di belakangnya. Jika orang tidak mengenal dengan baik Ki Mahesa, maka mereka tidak akan mengenali laki-laki tersebut dengan kondisinya saat ini.
"Mahesa., bangun!!" teriak Badar dengan suara keras pada Ki Mahesa.
Laki-laki tua dalam kolam mata air itu membuka matanya, dengan tenaga yang masih tersisa dia melihat dengan sinis ke arah Badar.
"Cih.." Ki Mahesa membuang ludah.
"Kurang ajar kamu.., terimalah ini. Bang.." Badar melempar sebuah kekuatan pada Mahesa.
__ADS_1
"Bang.., clang.." Badar terkejut karena serangan yang dia kirimkan pada Mahesa membelok ke arah lain, seperti ada kekuatan yang membelokkannya.
****************