Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 80 Jagasetra


__ADS_3

Satu demi satu lawan yang diatur oleh undian sudah diselesaikan Wisanggeni dan berakhir dengan perdamaian, serta jalinan persahabatan di masa depan. Akhirnya saat sore hari, giliran babak final yang akan dilaksanakan hari itu juga. Dengan gagah, Wisanggeni berdiri di atas panggung. Sudut matanya melihat, jika Rengganis mengikuti Ki Sasmito melihat pertandingan dari sudut kursi di bawah panggung. Dia merasa kangen dengan gadis itu, karena sudah dua hari mereka belum ketemu seperti biasanya.


"Wisanggeni.., ayo semangat!! Buktikan jika orang dari luar wilayah Jagadklana layak untuk berdiri tegak di panggung itu." suara Karno berteriak bercampur dengan suara keramaian yang ada di wilayah alun-alun. Tetapi untungnya Wisanggeni mendengarnya, dia melihat sekilas pada Karno yang sedang bersama dengan keenam orang sedang melihatnya dari bawah panggung. Laki-laki muda itu mengangkat kedua telapak tangan menyambut salam mereka.


"Baiklah.., sekarang kita panggil Jagasetra. Laki-laki ini sudah memenangkan adu kanuragan pada putaran pertandingan pada kelompok A. Sore ini kita semua akan melihat, bagaimana Jagasetra dari Jagadklana akan beradu kanuragan dengan Wisanggeni yang berasal dari wilayah luar yaitu dari Bhirawa." pengarah acara segera menyampaikan sebuah pengumuman.


"Hoi.., Setra.., kalahkan laki-laki itu! Jagadklana tidak akan terkalahkan.." sorak sorai penonton memenuhi alun-alun.


Laki-laki yang dipanggil Jagasetra itu, melambaikan tangan pada penonton yang ada di bawah panggung, dan kembali tepuk tangan dan sorak sorai terdengar.


Wisanggeni melakukan hal yang sama untuk mengawali perkenalan dengan lawan mainnya, tetapi laki-laki di depannya itu tampak arogan malas menjawab salam yang dia berikan.


"Baiklah.., kita akan segera memulai pertandingan ini. Ingat aturan pertandingan adu kanuragan ini, dimana kalian berdua tidak diperkenankan untuk saling membunuh. Pertandingan ini diadakan, untuk memperluas jangkauan Jagadklana, agar dikenal luas ke seantero negeri ini." terdengar wasit menyampaikan aturannya.


"Silakan kalian mulai adu kanuragan ini!"


Begitu wasit selesai menyampaikan arahannya, dengan gerakan agresif Jagasetra maju menyerang Wisanggeni dengan cepat. Wisanggeni tersenyum, dan dia mengimbangi kecepatan lawan tandingnya itu.


"Dukk..., ciaat..." sebuah tendangan tajam terarah ke pinggang Wisanggeni, yang berhasil menyerempet pinggang sebelah kanannya.


"Bang.., bang..." belum sampai Wisanggeni menegakkan badannya, serangan tanpa henti dikirimkan Jagasetra dengan cepat. Kewaspadaan muncul di diri Wisanggeni, dengan cepat matanya melirik setiap gerakan yang dilakukan lawan tandingnya itu.

__ADS_1


"Siuttt.." sebuah hantaman telak bertengger di rahang kanan Wusanggeni, dan setitik darah menetes dari sudut bibirnya yang pecah.


Sebuah senyuman sinis keluar dari bibir Wisanggeni.


"Aku tidak boleh meremehkan laki-laki itu, sepertinya dia punya niat serius untuk menghabisiku. Siapakah dia?" Wisanggeni berpikir sendiri memikirkan lawannya itu.


Wisanggeni mengalirkan tenaga dalamnya ke genggaman tangannya, dan saat Jagasetra kembali menyerangnya, dengan cepat Wisanggeni membenturkan kepalan tangannya dengan tangan Jagasetra.


"Duarrr..," sebuah ledakan diikuti api berkilat muncul dari benturan kedua tangan itu. Wisanggeni dengan cepat melompat ke samping Jagasetra, dan tanpa ampun telapak tangannya dia pukulkan ke punggung lawan mainnya itu. Laki-laki itu terhuyung hampir kehilangan keseimbangan, tetapi Jagasetra kembali melompat untuk menegakkan badannya.


"Ternyata boleh juga kamu anak muda... Aku akui keberanianmu mendekati Rengganis calon istriku." dengan tersenyum sinis dan mata merah, Jagasetra berbicara pada Wisanggeni.


Selesai berbicara, Jagasetra terlihat memejamkan matanya, dan dengan mata kepala sendiri Wisanggeni muncul gelombang di kulit laki-laki itu. Wisanggeni segeri membentuk simbol segitiga menggunakan kedua telapak tangannya, dengan segera kekuatan Pasopati mengalir menuju genggaman tangannya.


************


"Huh.., apakah putriku saat ini sudah kehilangan firasat karena sudah terlalu banyak bersentuhan dengan seorang laki-laki?" tanya Ki Sasmito pelan, dan perkataan itu seperti menghantam Rengganis. Dengan muka merah, Rengganis mengalihkan tatapannya ke mata Ki Sasmito.


"Ayah...., kenapa ayah berbicara seperti itu??" Rengganis merajuk menanggapi perkataan ayahndanya.


Ki Sasmito hanya tersenyum menggoda putrinya, laki-laki tua itu tidak menjawab pertanyaan putrinya. Dia kembali fokus memperhatikan jalannya pertandingan. Dalam hatinya, dia mengakui, ketangkasan dan kecepatan Wisanggeni bisa beradu dengan Jagasetra. Tetapi dia meragukan kemampuan putra Ki Mahesa itu dalam adu kekuatan tenaga dalam.

__ADS_1


"Aura penghancur tulang..." tiba-tiba terdengar teriakan Jagasetra sambil mengirimkan serangan ke arah Wisanggeni. Begitu perkataan itu berakhir, gulungan udara berwarna orange api terlihat menyelimuti kedua orang yang sedang bertarung di atas panggung. Ketegangan mulai merambat di hati para penonton, bahkan beberapa penonton yang tidak kuat hatinya, segera menyingkir ke pinggir alun-alun.


Wajah Rengganis langsung pucat, saat melihat tubuh kekasihnya itu tergulung api di atas panggung. Dengan cepat, tangannya membentuk segel dan muncul uap salju putih di atas genggaman tangannya.


"Apa yang akan kamu lakukan Nimas Rengganis? Jangan bilang, jika kamu akan ikut mengacaukan pertandingan itu." tiba-tiba terdengar suara ayahnda memperingatkannya. Dengan hati geram, perempuan itu kemudian menghentikan tindakannya. Matanya kembali fokus menatap ke arah panggung, dengan hati yang was-was.


Wasit dan beberapa panitia penyelenggara segera mengambil sikap kehati-hatian. Untuk melindungi penonton yang berada di bawah panggung, kelima orang segera membangun barikade benteng yang tak terlihat untuk mencegah serangan kedua orang di atas panggung itu, tidak mengenai penonton.


Sebuah senyuman sinis muncul di hati Jagasetra, dari awal laki-laki itu memiliki niat untuk menghabisi Wisanggeni. Dia sudah mendengar banyak orang membicarakan kedekatan antara laki-laki yang sedang bertarung dengannya itu, dengan gadis yang sudah pernah dijodohkan padanya. Laki-laki itu merubah simbol serangannya pada Wisanggeni sambil mengangkat sudut bibirnya ke atas..


"Penaik api..., kendalikan!" kembali teriakan keluar dari mulut Jagasetra.


"Mampuslah kamu Wisanggeni.., kamu belum tahu siapa aku sebenarnya!" gumam kembali Jagasetra sambil tersenyum sinis.  Tetapi tiba-tiba matanya terkejut, dia melihat aura pergerakan muncul dari Wisanggeni..


"Tenaga Pasopati...., duarrrr..." api tiba-tiba menyebar, dan menyambar jubah yang dikenakan Jagasetra, bahkan ledakan yang terjadi setelah Wisanggeni mengeluarkan serangan, menghancurkan benteng yang dibuat oleh kelima orang dari Jagadklana itu.


Tubuh Jagasetra terlempar tinggi di angkasa..., dan dengan menggunakan telapak tangannya, Wisanggeni membuat gerakan mendorong dan akhirnya menghempaskan tubuh laki-laki arogan itu di ke bawah panggung.


"Brak..., duakk.." tubuh Jagasetra terjatuh menghantam papan, dan akhirnya berakhir dengan mencium tanah di bawah panggung.


Seketika suasana pertandingan menjadi sepi dan hening, semua orang ternganga melihat Jagasetra andalan Jagadklana, saat ini terkapar tidak berdaya di bawah panggung.

__ADS_1


"Prok-prok.., prokk, hidup Kang Wisang..." terdengar teriakan dari mulut mungil Rengganis, yang langsung diikuti dengan sorak sorai penonton yang berada di alun-alun.


**************


__ADS_2