Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 389 Terlahir dari Seorang Ibu


__ADS_3

Akhirnya pemimpin kelompok penyerang, membawa Chakra Ashanka beserta kedua gadis menuju ke balai desa.. Sebuah balai desa yang terlihat cukup megah, dan sangat kontras dengan keadaan pemukiman warga desa tersebut. Mereka melihat beberapa orang petentang-petenteng tampak berjaga di depan balai desa tersebut. Sepertinya mereka adalah orang-orang bayaran yang dibayar oleh petinggi di desa tersebut. Tanpa kesulitan, karena mereka bersama dengan pemimpin kelompok bayaran, ketiga anak muda itu berhasil masuk dan diterima di pendhopo desa,


"Ki Sanak.. tunggulah sebentar lagi. Kami sedang memberi tahukan pada semua pamong desa, meminta pada mereka untuk menemui Ki Sanak bertiga." dengan penuh ketakutan, pemimpin kelompok meminta ketiga anak muda itu menunggu.


"Jangan khawatir paman.. kami akan menunggunya. Tapi juga jangan lupakan kami.. setelah tadi kedua adikku ini bertarung dengan kalian, sepertinya keduanya tampak kelelahan. Sehingga segelas air hangat akan mengobati rasa lelah mereka. Karena jika mereka sudah merasa lelah, tidak akan ada kesabaran sedikitpun dalam diri mereka, aku takut mereka akan bisa mengamuk dan menghancurkan perangkat di balai desa ini.." sambil mengerling mata pada kedua gadis itu, Chakra Ashanka mengerjai pemimpin kelompok itu.


"Baik.., baik Ki Sanak.. akan segera kami antarkan ke tempat ini. Tolong jangan buat kekacauan di balai desa ini, karena nanti kamilah yang harus mengganti jika ada kerusakan." dengan penuh ketakutan, pemimpin kelompok itu segera menyanggupi permintaan anak muda itu,


Sepeninggalan pemimpin kelompok itu, kedua gadis itu menatap Chakra Ashanka dengan pandangan tajam. Keduanya seperti melakukan protes pada anak muda itu, karena anak muda itu sudah menjual nama mereka di hadapan orang-orang itu.


"Ha.., ha.. ha.. ada apa Nimas Ratih dan nimas Putri. Bersabarlah.. sebentar lagi, rasa haus kita akan segera terobati. Jadi kalian berdua akan cepat mengembalikan tenaga kalian, dan siap untuk melakukan pertarungan jika dari petinggi desa akan melawan kita." dengan tertawa keras, Chakra Ashanka tidak berhenti menggoda kedua gadis itu.


Ayodya Putri dan Sekar ratih tidak menanggapi olok-olok yang dilakukan Chakra Ashanka, keduanya sejak tadi hanya menatap anak muda itu tanpa ada sedikitpun senyum di bibir mereka. Semakin lama kedua gadis itu terus menatap anak muda itu, menjadikan Chakra Ashanka menjadi salah tingkah.


"Iya.. iya .. Nimas.. Jangan hukum aku seperti ini, ampun.. ampun.., aku mohon ampun. Lirikan mata kalian menghentikan detak jantungku, dan jika itu berlangsung terus menerus, maka aku akan bisa menjadi tidak bernafas karena detak jantungku akan berhenti secara drastis." sambil mengacungkan kedua telapak tangan di depan dadanya, Chakra Ashanka meminta ampun.

__ADS_1


Melihat tingkah dan perilaku anak muda itu, kedua gadis itu akhirnya tidak bisa bertahan menahan perasaan mereka. Keduanya menjadi tertawa terbahak, mentertawakan tingkah serba salah anak muda itu.


"Makanya jangan suka meremehkan perempuan. Jika kakang Ashan bersikap seperti itu lagi, maka kami berdua akan pergi meninggalkan kang Ashan.." AYodya Putri membuat pernyataan yang mengancam anak muda itu.


"Ampun Nimas.. aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Lihatlah.. minuman untuk kita sudah datang, kita harus berpura-pura untuk menjada citra kita di depan pelayan itu." melihat ada seorang perempuan tua membawa nampan ke arah mereka, Chakra Ashanka meminta kedua gadis untuk memperhatikan sikap mereka.


"Anak muda.. hanya ini yang bisa kami suguhkan sebagai kudapan. Rahapilah.. sambil menunggu para pamong desa datang kemari untuk bertemu dengan kalian." dengan ramah, perempuan tua itu mempersilakan mereka, setelah meletakkan tiga cangkir air minum hangat, beserta pisang kepok rebus dan kacang tanah rebus,


"Terima kasih mbok atas jamuannya.." dengan cepat, Chakra Ashanka menanggapi perkataan perempuan itu..


*******


Beberapa saat menunggu, akhirnya muncul empat orang yang berpenampilan angkuh menemui Chakra Ashanka dan kedua gadis itu. Begitu melihat, ada dua gadis cantik bersama dengan anak muda itu, para pamong yang semula terlihat sombong, tiba-tiba menjadi berubah bersikap ramah. Ke empat orang itu seperti berusaha untuk mencari perhatian pada Ayodya Putri dan Sekar Ratih.


"Mohon maaf.. sudah terlalu lama yang menunggu kedatangan kami anak-anak muda.." seorang laki-laki paruh baya bertubuh tambun memberi sambutan pada ketiga anak muda itu.

__ADS_1


"Hmmm.." Chakra Ashanka hanya mengangkat satu sudut bibirnya ke atas, memberi tanggapan pada laki-laki itu.


"Iya.. maafkan atas ketidak nyamanan sambutan yang diberikan oleh anak buah kami. Mereka memang sering seperti itu, karena ingin mengibarkan marwah dari desa ini. Sehingga desa ini tetap menjadi perhatian dan dihormati oleh para tamu yang singgah di desa kami." satu laki-laki lain ikut menambahkan.


"Lalu bagaimana dengan sikap kalian pada warga desa ini. Apakah tingkah dan perilaku kalian juga menindas mereka, bahkan sedikitpun tidak memberi kebebasan pada warga untuk membangun dan mendirikan perekonomian sendiri. Semua harus berada di dalam pengaturan dengan penindasan kalian." tiba-tiba Ayodya Putri sudah tidak dapat mengendalikan emosinya. Gadis itu meluapkan isi hatinya dengan berkata pedas pada laki-laki itu....


"Gadis cantik.. jaga bicaramu. Mulutmu terlalu pedas untuk ukuran seorang gadis.. menurutlah padaku. Aku akan menjadikanmu istri ketigaku.. jika kamu mau menurut padaku." dengan tatapan mesum, satu laki-laki memberi tanggapan pada perkataan Ayodya Putri.


"Pletak... bluarr..." merasa tersinggung dan dilecehkan dengan tanggapan dari laki-laki itu.., Ayodya Putri mengirimkan serangan pada laki-laki itu. Tetapi sepertinya laki-laki itu memiliki sebuah kekuatan, karena dengan cepat dia bisa menahan serangan yang dikirimkan Ayodya Putri dengan sangat mudah,


Ke empat orang itu saling berpandangan, dan mereka seperti memahami jika saat ini mereka sedang berhadapan dengan orang-orang yang tidak mudah untuk dibuat tersinggung, apalagi terganggu,


"Aku jadi semakin penasaran dengan gadis-gadis cantik ini.. Sepertinya akan sangat menggemaskan jika mereka berdua berada di atas ranjangku. Ranjangku akan terus terasa hangat, dan aku tidak akan melewatkan waktu sedikitpun ketika berada di kamar bersama dengan mereka." terdengar ucapan dengan nada melecehkan dari orang-orang itu. Ayodya Putri dan Sekar Ratih sudah tidak bisa menahan diri mereka, kata-kata itu terlalu mesum untuk ukuran gadis lajang seperti mereka. Melihat hal itu, Chakra Ashanka segera bertindak, anak muda itu menggunakan tangannya untuk mengendalikan kedua gadis itu.


"Hmm..., lancang dan kotor sekali nada  bicara kalian. Apakah kalian tidak terlahir dari rahim seorang ibu.. dengan sangat mudahnya kalian membuat kata-kata yang meremehkan dan melecehkan seorang perempuan." dengan nada pedas, Chakra Ashanka memberi teguran pada ke empat orang itu.

__ADS_1


**********


__ADS_2