Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 479 Menemukan Belahan Hati


__ADS_3

Parvati terkejut mendengar perkataan yang diucapkan Dananjaya. Hatinya tiba-tiba menjadi berdebar tak karuan, dan kegugupan mulai menyertai gadis itu. Wajah Parvati yang putih mulai bersemburat merah, dan gadis muda itu merasa tidak ada yang akan dia gunakan untuk mengabaikan perasaan yang dirasakannya itu. Tatapan Dananjaya menghujam, dan terasa menguliti kulit-kulitnya.


"Nimas.. benar yang aku ucapkan kepadamu, sedikitpun tidak ada kebohongan, dan tidak maksud apapun. Aku memberanikan diri untuk menyampaikan hal ini kepadamu, karena banyak hal yang harus aku selesaikan dengan segera Nimas.. Untuk itu aku meminta kepastian darimu.." ucap Dananjaya, dan membuat bibir Parvati menjadi semakin kelu.


Tanpa sadar, tangan Dananjaya memegang kedua tangannya kemudian mengangkatnya ke atas. Parvati masih berada dalam lamunannya, tidak tahu akan memberikan jawaban seperti apa. Namun dalam hati gadis muda itu, ada kehangatan dan kesenangan yang dirasakannya. Tiba-tiba Parvati terkejut ketika merasakan sebuah kecupan mendarat di punggung tangannya. Baru kali ini, gadis muda itu merasakan diperlakukan seperti itu oleh seorang laki-laki.


"Kang Danan.. lepaskan tangan Nimas kakang.. Jujur.. Nimas merasa tidak nyaman, apalagi banyak orang di tempat ini, apakah kakang tidak memiliki rasa malu.." Parvati tersentak, kemudian menarik kedua tangannya, namun anak muda itu masih menggenggamnya dengan erat. Dengan senyum simpul, laki-laki muda itu menatap kedua mata gadis muda di depannya itu.


"Nimas Parvati.. aku beranikan diriku untuk memintamu menjadi pendamping hidupku NImas... Bahkan pada paman Wisanggeni, dan juga bibi Rengganis.. aku sudah secara resmi memintamu. Hanya saja, paman dan Bibi menyerahkan semuanya kepadamu Nimas.. jangan kecewakan aku Nimas.." dengan pandangan penuh harap, Dananjaya terus menatap gadis muda yang tampak salah tingkah di depannya itu.


Parvati yang merasa malu, dan tidak bisa mengendalikan apa yang dirasakannya saat ini, mencoba untuk mengalihkan pandangan dari tatapan anak muda di depannya itu. Gadis muda itu menolehkan kepalanya, untuk mencoba melihat ke arah lain, namun tanpa diketahuinya, Dananjaya memegang sisi kepala, kemudian mengarahkan kembali pandangannya pada anak muda itu.


"Jangan hindari aku Nimas.. aku betul-betul sangat mencintaimu Nimas.. dan ingin segera menjadikanku sebagai pendamping hidupku. Pahamilah aku Nimas..' kembali anak muda itu mencium punggung tangan gadis yang tertunduk malu di depannya. Anak muda itu seperti tidak memberi kesempatan pada Parvati, untuk menolaknya. Sedangkan Parvati, yang baru pertama kali mendapatkan perlakuan dari seorang laki-laki seperti ini, tidak bisa dan tidak mampu berbuat banyak.


Bayangan-bayangan laki-laki yang selalu berusaha mendekatinya selama ini, tiba-tiba tercetak jelas dalam pikiran Parvati. namun gadis itu tidak merasakan apapun pada mereka. Bahkan ketika wajah Bhadra Arsyanendra juga berkelebat dalam pikirannya, tidak ada sesuatu yang khusus, yang dirasakan Parvati terhadap laki-laki itu. Meskipun sudah berkali-kali, hanya saja tidak dalam waktu dan kesempatan khusus anak muda itu sering berusaha merayunya. Hanya saja, selama ini parvati hanya menanggapi sebagai sebuah candaan belaka.

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan Nimas.. apakah kamu memiliki sikap tega untuk menolakku. Memang Nimas.. baru beberapa hari saja kita dipertemukan oleh takdir, dan aku sudah lancang untuk memintamu. Namun.. percayalah Nimas.. perasaanku tidak main-main, hanya Nimaslah yang aku harapkan untuk selalu berada di sisiku selamanya." dengan suara lirih, kembali Dananjaya mengungkapkan perasaannya.


Perlahan Parvati mengangkat wajahnya ke atas, dan kedua anak muda berlainan jenis itu saling berpandangan. Sambil mengulum senyum, dan rasa percaya diri yang kuat, terlihat Dananjaya menganggukkan kepala dengan tatapan mata mereka saling bertubrukan. Dengan senyum malu, tanpa sadar Parvati menganggukkan kepalanya juga. tampak senyum lebar terbuka di bibir Dananjaya, dan tiba-tiba laki-laki muda itu berdiri dengan tetap menggenggam tangan Parvati dan membawanya ke atas.


"Untuk semua pengunjung kedai makan ini, kebetulan hari ini aku sedang berbahagia. AKu sudah menemukan belahan hatiku yang hilang, dan mulai hari ini sudah menyetujui untuk menyatu kembali dengan hatiku. Untuk itu, agar kalian juga merasakan kebahagiaanku, aku akan membayar apa yang kalian makan dan minum di tempat ini. Percayalah padaku, dan berkati perjalanan kami.." tidak diduga, Dananjaya membuat pengumuman di kedai makan itu. Merasa kaget dan juga malu, Parvati mencubit pinggang laki-laki muda itu, dan Dananjaya menoleh kepadanya sambil tersenyum.


"Prok.. prok.. prok.." tiba-tiba pengunjung kedai makan itu berdiri dan bertepuk tangan. Satu persatu mereka mendatangi Dananjaya dan Parvati, dan memberikan jabat tangan pada mereka berdua.


Dengan muka merah menahan malu, Parvati terpaksa menerima uluran tangan itu meskipun dengan berat hati. Tanpa henti, Dananjaya terus menatap wajah perempuan muda yang sudah setuju untuk terus bersamanya itu.


********


"Kita akan kemana Nimas.. kakang akan mengantarmu.." suara lirih Dananjaya mengejutkan Parvati yang masih tidak mempercayai kejadian yang baru saja dialaminya itu.


"Sepertinya kita harus kembali ke dalam penginapan saja kakang.. Aku belum melihat kembali bagaimana ayahnda dan ibunda, Nimas khawatir jika mereka mencari keberadaanku.." tidak berani menatap mata Dananjaya, Parvati juga menjawab lirih pertanyaan itu.

__ADS_1


Dananjaya tersenyum, dan anak muda itu tidak membantah apa yang diinginkan oleh gadis muda yang sudah setuju untuk bersama dengannya itu. Namun ketika anak muda itu meraih tangan Parvati untuk menggandengnya, ternyata gadis muda itu melepaskannya.


"Kakang Danan.. jangan seperti ini dulu ya.. Nimas tidak suka, kita belum terikat secara resmi. Tolong lepaskan tanganku.." dengan tatapan tidak berkenan, Parvati meminta laki-laki muda itu melepaskan tangannya.


Memahami apa yang dirasakan oleh gadis muda itu, dan juga untuk menghormati adat kebiasaan, dengan suka rela Dananjaya melepaskan genggaman tangannya.


"Maafkan Nimas.. aku khilaf.." ucap tulus Dananjaya.


Kedua anak muda itu segera berjalan menuju arah pulang ke penginapan. Dari jauh, terlihat Arya tersenyum dan menganggukkan kepala melihat kebersamaan rayinya Dananjaya dengan putri dari keluarga Wisanggeni dan Rengganis. Melihat mereka berjalan dengan melangkah bersama, Arya sepertinya sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi di antara mereka.


"Selamat untukmu Rayi Dananjaya,,. ternyata di tlatah ini akhirnya kamu berhasil menemukan hati seorang gadis muda untuk bisa kamu pinang.." perlahan Dananjaya bergumam, sambil tersenyum melihat ke arah pasangan anak muda itu.


Perlahan anak muda itu kemudian berjalan mengikuti arah yang dituju oleh Dananjaya dan parvati, Arya juga menuju arah kembali ke penginapan.


*********

__ADS_1


__ADS_2