
Wisanggeni menggandeng tangan Maharani, menuju halaman belakang griya tempat mereka tinggal di Gunung Jambu. Sedikit bawaan mereka masukkan ke dalam kepis yang disimpan di pinggang Wisanggeni. Perlahan mereka mendatangi Singa Ulung yang sudah menunggu dan akan membawa mereka terbang untuk meninggalkan perbukitan Gunung Jambu.
"Apakah Akang serius akan mengantarkan Maharani menuju ke istana ular?" kembali Maharani mencoba menguji kemantapan hati Wisanggeni yang bermaksud untuk mengantarkannya pulang.
"Mau berapa kali aku akan berbicara padamu Nimas..? Kamu dan Nimas Rengganis memiliki hak yang sama atas diriku, hanya saja semakin lama, akang semakin menyadari jika terkadang Akang merasa lebih memperhatikan Nimas Rengganis dari pada kamu Nimas." Wisanggeni berbicara panjang lebar, dan bahkan juga menyatakan perbedaan perlakuannya dengan perempuan muda itu.
Maharani tersenyum kecut, tetapi bagaimanapun keadaan yang dia terima, dia bertekad untuk melakukan tindakan protes. Mendapat kesempatan untuk menjalin ikatan dengan laki-laki itu, sudah merupakan anugrah terindah yang dapat dia dapatkan. Sehingga, perempuan muda itu tidak akan melakukan protes atau keberatan atas perlakuan beda yang dia terima dari suaminya.
"Apakah Nimas Rengganis sudah mengijinkan.., atau Akang mengajaknya untuk pergi bersama dengan kita?" kembali Maharani bertanya.
"Kedatangan Akang bersamamu ke istana ular.., bukan untuk memposisikan diriku sebagai raja Ular Nimas. Kamu harus mengingatnya. Kedatanganku adalah untuk menunjukkan rasa baktiku pada keluargamu, agar mereka tidak memandangmu sebelah mata, atau bahkan memberi hinaan padamu." Wisanggeni menatap mata Maharani, mereka sudah berpamitan dengan Rengganis dan putranya Chakra Ashanka.
"Untuk itu Nimas..., Akang belum bisa membawa Nimas Rengganis dan putra kami Ashan. Ayo kita segera menempuh perjalanan." lanjut Wisanggeni, mereka kemudian mendekati Singa Ulung. Perlahan.., laki-laki itu mengusap lembut punggung binatang itu, kemudian perlahan membantu Maharani menaiki punggung Singa Ulung.
Kebanggaan terlihat di wajah dan mata Maharani, akhirnya dia bisa merasakan akan pergi mengelilingi dunia bersama dengan suaminya, hanya berdua.
Setelah Maharani duduk di punggung Singa Ulung dengan nyaman, Wisanggeni kemudian melompat ke punggung binatang itu. Kedua tangan Wisanggeni melingkari pinggang perempuan muda itu, dan terlihat semburat warna pink kembali mewarnai pipi perempuan muda itu. Perlahan tangan Wisanggeni mengusap leher Singa Ulung dan menepuknya pelan. Tanpa menunggu lagi, binatang itu perlahan menerbangkan sayapnya dan lama kelamaan, binatang itu sudah berada di udara.
Dari balik dinding griya, Rengganis terlihat mengusap air mata. Meskipun kepergian suaminya mendampingi Maharani adalah atas saran dan keinginannya, tetapi melihatnya pergi hanya berdua dengan Maharani, ternyata Rengganis tidak bisa membohongi hatinya. Apalagi dia ditinggalkan di perbukitan Gunung Jambu hanya berdua dengan putra laki-lakinya.
__ADS_1
"Bund.., bund.." terdengar suara anak kecil memanggilnya dari belakang. Rengganis mengusap sudut matanya menggunakan sudut kain yang dia kenakan, kemudian menoleh ke belakang. Terlihat Chakra Ashanka sedang digandeng Manggala menghampirinya datang.
"Ada putra mama Chakra Ashanka ternyata..., dengan kang Manggala." Rengganis menghampiri putra laki-lakinya, kemudian perempuan muda itu berjongkok untuk memeluk putranya itu.
"Terima kasih Manggala sudah mengantarkan Ashan kemari. Pergilah.., kembali berlatih. Ashan biar bersamaku saja." tanpa melupakan Manggala, Wisanggeni mengucapkan terima kasih pada Manggala.
"Sama-sama den ayu.., ijin saya kembali ke tempat pelatihan Den Ayu.." dengan sopan, Manggala meminta ijin pada perempuan muda itu.
"Iya Manggala hati-hati." Rengganis menggandeng putra kesayangannya dan membawa Chakra Ashanka masuk ke dalam rumah.
*********
"Sedang sendirian Nimas.., masak cantik-cantik berada di penginapan sendirian. Sini Akang temani..." seorang laki-laki berpakaian mewah mendekati dan menggoda Maharani. Dengan perasaan jijik, perempuan itu menggeser tempat duduknya dan malas menanggapi orang gila itu.
"Ini aku dekati, kenapa malah menjauh. Kamu belum merasakan keperkasaanku ya.?" laki-laki itu terus memaksa untuk berdekatan dengan Maharani, tetapi dengan tajam mata Maharani menatap laki-laki itu dengan tatapan jijik.
"Kenapa kang..., apakah Akang ditolak oleh perempuan ini?" tiba-tiba dari arah samping, muncul seorang perempuan yang bertanya pada laki-laki menyebalkan itu.
"Tenanglah Wulandari. Gadis ini belum tahu saja bagaimana keperkasaan kakangmas, juga belum tahu latar belakang keluarga kita, jadinya dia pura-pura jual mahal." ucap laki-laki itu, sambil mengarahkan tangannya untuk mencubit dagu Maharani. Tetapi belum sampai tangannya berada di dagu Maharani, tiba-tiba..
__ADS_1
"Plakkk.." sebuah tamparan mendarat di rahang laki-laki itu. Warna merah telapak tangan tampak membekas di rahang laki-laki itu. Mata Maharani melihat laki-laki itu dengan tatapan ingin menghabisi. Kerasnya suara tamparan itu terlihat sampai di seluruh ruangan. Wisanggeni yang sedang mengurus penyewaan kamar penginapan melihat ke arah sumber suara, dan ketika melihat laki-laki itu kesakitan karena tamparan tangan Maharani, Wisanggeni tersenyum.
"Kurang ajar... Berani sekali kamu bertindak gila di depanku." dengan tatapan penuh kemarahan, laki-laki itu berdiri di depan Maharani. Perempuan muda itu tidak sedikitpun memiliki rasa takut, dia malah membalas tatapan laki-laki itu dengan berani.
"Bersujud kamu.., minta maaf dan pengampunan pada kakakku." gadis muda yang sedari tadi bersama dengan laki-laki itu terlihat marah. Dia berteriak pada Maharani. Dari depan meja pemilik penginapan, Wisanggeni hanya bersedekap melihat bagaimana istrinya menghadapi pada penindas itu. Senyuman muncul dari bibirnya, dia akan melihat reaksi yang akan diberikan oleh Maharani pada kedua orang itu.
"Apakah tidak terbalik, harusnya kakakmu yang harus bersujud di kakiku?" dengan sarkasme, Maharani menjawap teriakan perempuan itu dengan santai.
"Bang..., bang.." tiba-tiba perempuan itu mengirimkan serangan pada Maharani. Tidak mau memporak porandakan ruangan depan penginapan, Maharani melompat keluar ruangan. Gadis itu mengikuti kemana Maharani melompat, sambil terus mengirimkan serangan dari belakang.
"Tap..." laki-laki yang tadi ditampar Maharani ikut melompat dan mengikuti kedua gadis itu di halaman depan penginapan.
"Bang.., bang.." kembali gadis itu mengirimkan serangan sambil membuat simbol-simbol segitiga di kedua tangannya. Melihat simbol itu, Maharani hanya tersenyum sinis.
"Pfttt...., blarrr..." belum sempat simbol itu membentuk sebuah senjata, Maharani membubarkan simbol di tangan gadis itu. Tanpa memberi ampun istri kedua Wisanggeni itu mengirimkan serangan, dan langsung mengenai kedua tangan yang sedang membuat simbol.
"Bukk.., jlegarr.." belum sampai gadis itu membela diri, kembali Maharani sudah mengeluarkan serangan. Melihat adiknya dalam bahaya di tangan gadis yang ingin ditindasnya, laki-laki tadi melompat dan menghadang serangan Maharani untuk adiknya itu.
************
__ADS_1