Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 471 Siuman


__ADS_3

Chakra Ashanka terbangun, ada udara sejuk menerpa tubuhnya dan anak muda itu segera terduduk. Mata anak muda itu terpaku pada pemandangan yang terlihat di depan matanya. Siluet kabut energi yang timbul dari gabungan Parvati, dengan dibantu oleh kedua temannya menimbulkan satu penampakan yang bagus. Namun laki-laki muda itu melihat masih ada kekosongan dalam bentukan energi tersebut.


"Hmmm... aku tertinggal oleh Parvati.. kenapa gadis itu tidak membangunkan dan memintaku untuk membantu." Chakra Ashanka berguman, anak muda itu segera bangkit dari posisi duduknya.


Perlahan anak muda itu berjalan menghampiri ketiga anak muda yang sedang menyalurkan energi dan kekuatan mereka pada ibundanya, kemudian Chakra Ashanka masuk dan duduk di belakang Parvati. Kedua tangannya diletakkannya di punggung adik perempuannya itu, d an perlahan anak muda itu masuk dan bergabung mengeluarkan energi dan kekuatannya. Hal itu berlangsung lama, dan tanpa mereka tahu.. Sekar Ratih mendekat ke arah mereka. Mata gadis muda itu berbinar melihat keadaan Wisanggeni dan Rengganis. Tubuh pasangan suami istri itu yang semula berwarna putih pucat sudah mulai bersemburat kemerahan, terlihat jika darah sepertinya sudah mulai kembali mengalir.


"Paman.. bibi.. Nimas Ratih turut merasa senang, kedatangan Nimas Parvati rupanya menjadi salah satu lantaran, untuk kesembuhan paman dan Bibi.." Sekar Ratih bergumam pelan. Tatapan gadis muda itu tidak berkedip terus menatap pasangan suami istri yang terbaring di depannya.


Niat gadis muda itu untuk membersihkan, dan mengganti baluran ramuan herbal yang sudah mengering pada tubuh pasangan suami istri itu diurungkannya. Sekar Ratih tersenyum melihat gabungan kekuatan energi dari ke empat anak muda di depannya itu. Tiba-tiba ketika gadis muda itu melihat ke bawah, samar-samar Sekar Ratih melihat ada gerakan pelan di tangan Wisanggeni, Dengan cepat gadis muda itu memegang tangan ayahnda Chakra Ashanka itu, tetapi dalam sekejap gerakan itu kembali berhenti. Seketika kekecewaan menghampiri Sekar Ratih, dan pandangan gadis muda itu melihat ke arah Parvati.


"Ughhh... ssshhh... ssss.." terlihat dengan jelas oleh Sekar Ratih, Parvati berusaha mengambil nafas panjang, dan menghembuskannya, namun dengan mata terpejam. Perlahan Sekar Ratih mengerutkan dahinya, ketika mendengar suara desisan seperti ular keluar dari bibir gadis muda itu. Tetapi dengan cepat Sekar Ratih mencoba menetralisir perasaannya, karena menyadari jika Parvati adalah keturunan dari Ratu Ular Maharani.

__ADS_1


Parvati seperti merasakan sesak di dadanya, namun dengan segera dari belakangnya, Chakra Ashanka segera meningkatkan kekuatannya dan tenaga dalamnya dengan cepat mengalir melalui punggung adik perempuannya itu. Terlihat Arya dan Dananjaya juga melakukan hal yang sama, dan hal itu berlangsung selama beberapa saat. Sekar Ratih sampai turut merasakan sesak melihat apa yang terjadi di depannya. Namun tidak lama kemudian, kembali Sekar Ratih melihat tangan Wisanggeni dan Rengganis kembali mengalami pergerakan.


"Hyang Widi.. aku mohon beri kesembuhan pada pasangan suami istri ini.. Mereka orang baik.." dalam hati, terucap doa dari Sekar Ratih.


Tiba-tiba Sekar Ratih seperti melihat sebuah keajaiban, mata pasangan suami istri terbuka secara bersamaan. Keduanya seperti merasakan suatu kebingungan, dan hal itu terjadi untuk beberapa saat. Namun lama kelamaan, akhirnya keduanya merasakan kesadaran. Tanpa diminta keduanya segera terduduk kembali, dan tangan Wisanggeni menyentuh pelan tubuh Parvati dan Chakra Ashanka agar mereka menghentikan kekuatan mereka.


********


Seperti tidak percaya dengan kedua penglihatannya, Parvati mengucek kedua matanya, kemudian membukanya lagi secara perlahan. Masih merasa tidak percaya, gadis muda itu kembali melakukannya, Namun apa yang dilihatnya masih sama, terlihat senyum ibundanya Rengganis, dan belum muncul kembali kesadaran Parvati, Rengganis sudah menarik gadis muda itu dalam pelukannya. Chakra Ashanka juga mengalami hal yang sama, anak muda itu juga berada dalam pelukan Wisanggeni,.


"Keamanan dan keselamatan ayahnda dan ibunda, jauh melebihi apapun. Kebetulan Ashan mendapat firasat untuk datang ke Alas kedhaton ibunda.. Ternyata setelah mengikuti petunjuk itu, bersamaan dengan ayahnda dan ibunda sedang berada sebuah goa yang terbakar. Untung Ashan dan Singa Resti datang teoat waktu ayahnda.. ibunda.." Chakra Ashanka segera menjelaskan alasan keberadaannya di tempat itu.

__ADS_1


"begitu juga dengan Parvati bunda.. ayahnda.. Ketika Parvati sedang berlatih dengan eyang.. tiba-tiba saja muncul keinginan untuk segera menemukan keberadaan ayahnda dan juga ibunda. Melalui firasat, dan petunjuk akhirnya Parvati bisa sampai berada di tempat ini." Parvati juga ikut menjelaskan,


Pasangan suami istri yang terlihat masih lemah itu tersenyum, dan memeluk kedua putranya bersamaan. Tiba-tiba tatapan Rengganis melihat keberadaan Sekar Ratih, yang berdiri memandang mereka dengan senyum di bibirnya. Ibunda Chakra Ashanka itu segera melepaskan pelukan pada kedua anaknya, kemudian tersenyum dan menggunakan tangannya meminta Sekar Ratih untuk mendekat., Tanpa berpikir panjang, Sekar Ratih segera mendatangi keluarga kecil itu.


"Ratih.. aku tahu apa yang kamu lakukan semenjak Bibi dan paman Wisanggeni dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dengan sabar, kamu membantu kami berdua Nimas Ratih.., membersihkan tubuh kami, dan juga kembali membalurkan ramuan herbal dengan sabarnya. Terima kasih Nimas Ratih..." dengan bibir mengembang, Rengganis mengucapkan terima kasih pada gadis muda itu.


"Sepertinya Bibi Rengganis terlalu membesar-besarkan hal ini Bibi.. Apa yang Nimas lakukan, tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan kebaikan yang keluarga Bibi lakukan. Kang Ashan sudah mengentaskan Nimas Ratih dan juga keluarga Nimas semuanya.. Bibi.. Hal itu sudah sangat membuat hati saya tidak enak, dan apa yang Nimas lakukan selama ini, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kebaikan paman dan bibi, juga nimas Parvati serta kang Ashan kepada saya dan keluarga saya." dengan wajah merasa malu, Sekar Ratih memberikan tanggapan atas perkataan Rengganis.


Rengganis menarik bahu Sekar Ratih, kemudian memberikan pelukan pada gadis muda itu. Keharuan terjadi di tempat itu, dan Chakra Ashanka hanya melihatnya sambil tersenyum melihat kedekatan itu. Tiba-tiba Rengganis melihat keberadaan Arya dan Dananjaya, yang masih berdiri menatap keluarga itu.


"Siapakah kalian.." Rengganis segera menanyai pada dua anak muda itu.

__ADS_1


"Perkenalkan Bibi.. paman.. kami ini teman dari Nimas Parvati. Nama saya adalah Arya, sedangkan yang di samping Arya adalah Rayi Dananjaya, yang kebetulan adalah rayi saya sendiri paman.. bibi.." dengan cepat Arya mengenalkan dirinya dan juga adiknya, Laki-laki itu segera duduk bersimpuh, kemudian menyalami pada pasangan suami istri itu. Di belakang Arya, Dananjaya juga melakukan hal yang sama.


***********


__ADS_2