
Melihat ketiga penumpang yang ada di kereta kencana belum ada satupun yang turun, sais kereta turun dan membuka kelambu penutup kereta. Laki-laki paruh baya itu menganggukkan kepala, kemudian tersenyum dan memberanikan diri mengajak Chakra Ashanka berbicara.
"Den Bagus.. kita sudah sampai di Kanoman. Berdasarkan arahan dari Raden Bhadra Arsyanendra, saya diperintahkan untuk membawa Den Bagus dan kedua Den Ayu untuk beristirahat di pesanggrahan ini. Monggo.., kami silakan Den Bagus dan den ayu untuk turun dan melihat-lihat ke dalam." dengan sikap sopan, sais kereta mempersilakan Chakra Ashanka dan kedua gadis yang bersamanya.
"Baik paman.., terima kasih atas pemberi tahuannya. Kami bertiga akan segera turun.." dengan ramah, anak muda itu menanggapi perkataan sais kereta tersebut.
"Nimas.. kita sudah sampai di Pesanggrahan Kanoman. Kita akan turun dan melihat-lihat ke dalam, karena sebelum kita tinggal di tempat ini, kita harus mengenali dan menghafalkan lokasi tenpat yang akan kita tinggali." Chakra Ashanka menoleh pada kedua gadis yang bersamanya. Anak muda itu kemudian turun melompat ke bawah dengan cekatan.
Kedua gadis di belakangnya, mengikuti anak muda itu turun ke bawah. Beberapa pelayan perempuan dan laki-laki mendekati mereka, dan akan membawakan barang bawaan mereka.
"Simbok..., paman.. kami tidak membawa barang apapun. Semua sudah kami bawa sendiri di dalam kepis kami masing-masing. Simbok dan paman antarkan saja kami bertiga untuk melihat-lihat ruangan di dalam. Dimana kami bertiga akan ditempatkan." Chakra Ashanka menghentikan kedua pelayan yang akan masuk ke dalam kereta untuk mencari barang bawaan mereka.
"Baik.. ampuni kami Den Bagus.., Den Ayu.. Mari ikuti kami ke dalam, kami akan mengenalkan nama-nama ruangan dan tempat yang akan kalian tempati selama di kerajaan Logandheng." pengawal laki-laki menjawab perkataan Chakra Ashanka,
Akhirnya ketiga orang itu berjalan memasuki ruangan dengan bangunan limasan di depannya. Setelah masuk ke dalam, tampak sebuah ruangan yang besar seperti ruangan sebuah pendhopo.
__ADS_1
"Den Bagus.. besok jika Den Bagus sudah dilantik dan ditetapkan sebagai patih kerajaan, ruangan besar ini bisa menjadi tempat untuk pasugatan Den Bagus. Ketika menerima tamu-tamu penting.. untuk membahas kerajaan, Den bagus bisa menggunakan ruangan besar ini." pelayan laki-laki menjelaskan fungsi dan manfaat dari ruangan besar tersebut.
Chakra Ashanka tersenyum, dan tangannya memberi isyarat agar pelayan melanjutkan untuk menunjukkan ruangan-ruangan yang lain yang ada di dalam pesanggrahan tersebut. Akhirnya pelayan melanjutkan langkah mereka, dan menerangkan fungsi masing-masing ruangan. Beberapa saat mereka berjalan, mereka akhirnya sampai di ruang Kaputren. Sebuah ruang tamu kecil, dan sebuah taman di depan ruangan yang difungsikan sebagai sebuah kamar tidur tampak rapi dan bersih terlihat di depan mereka berdiri.
"Sekarang kita sampai di ruang Kaputren Den Bagus.. Nimas ayu berdua dapat memanfaatkan ruangan ini untuk beristirahat atau mengasah ilmu. Jika Den Ayu berdua berkenan, kami akan memanggilkan pelayan untuk mengajari Den Ayu membatik, menyulam, maupun kerajinan-kerajinan terkait dengan bagaimana mempercantik penampilan diri seorang wanita." pelayan perempuan menjelaskan keberadaan Kaputren sebagai tempat istirahat kedua gadis itu.
"Baik Simbok.. nanti kami akan mempertimbangkannya. Untuk saat ini, yang kami inginkan hanya segera berbaring di atas dipan. Kami ingin segera beristirahat.." tanpa basa basi, Sekar Ratih menanggapi perkataan simbok pelayan perempuan.
Chakra Ashanka tersenyum, namun diapun juga membenarkan perkataan jujur Sekar Ratih. Dalam keadaan kali ini, memang lebih baik untuk berterus terang, daripada pura-pura menerima semua pelayanan itu. Sedangkan pelayan, mendengar perkataan lugas Sekar Ratih, akhirnya mereka segera mempersilakan kedua gadis itu untuk masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
Kedua gadis muda itu kemudian masuk ke dalam kamar, dan akhirnya Chakra Ashanka melanjutkan sendiri pengenalan setiap ruangan yang ada di dalam Kanoman.
*******
Malam Harinya
__ADS_1
Setelah beristirahat seharian penuh, akhirnya Chakra Ashanka mengajak kedua gadis muda itu untuk berbincang di taman depan ruang Kaputren. Mereka harus mulai membiasakan diri untuk mengenal tentang aturan dan tata cara tinggal di pesanggrahan tersebut, agar tidak melanggar norma-norma yang sudah ditetapkan oleh para pendahulu di kerajaan tersebut. Begitu mereka bertiga duduk di kursi taman, pelayan pesanggrahan dengan sigap memberikan pelayanan kepada mereka.
"Terima kasih simbok atas minuman hangat dan kudapannya untuk kami. Jika simbok memiliki banyak kegiatan, tinggalkan kami bertiga saja di taman ini. Nanti jika kami butuh sesuatu, maka kami akan memanggil simbok kembali." dengan suara pelan, Chakra Ashanka mengajak bicara pada pelayan perempuan itu.
"Baik Den Bagus.. simbok akan kembali ke pawon untuk menyiapkan makan malam. Monggo.. silakan menikmati malam pertama di pesanggrahan ini." pelayan perempuan itu menganggukkan kepala, kemudian memundurkan langkah dan akhirnya pergi dari ruangan itu.
Sekar Ratih yang selama hidupnya melayani, merasa kaget kali ini dirinya yang mendapatkan pelayanan. Tidka henti-hentinya, gadis muda itu mulutnya komat-kamit mengucap rasa syukur yang tidak terhingga. Chakra Ashanka yang mengamati perubahan wajah dan ekspresi gadis muda itu, hanya tersenyum melihatnya.
"Kakang... sampai kapan kita akan menikmati pelayanan seperti ini. Nimas masih merasa kagok kakang.. khawatir jika nanti menyinggung hati para pelayan." Sekar Ratih bertanya pada laki-laki muda itu.
"Hilangkan rasa kekhawatiranmu Nimas.. Pelayanan ini belum seberapa. Jika nanti kakangmas sudah dilantik untuk mendampingi Raden Bhadra menjadi seorang patih kerajaan, maka pelayanan kepada kita akan lebih meningkat. Terimalah semuanya.., kamu sudah cukup lama memberikan pelayanan pada keluargaku Nimas Ratih.., kali ini giliran kami yang mendapatkan balasan, merasakan hidup mendapatkan pelayanan." sambil tersenyum, anak muda itu menjawab pertanyaan Sekar Ratih.
Sedangkan Ayodya Putri yang sudah sering merasakan hidup dalam kemewahan,. dengan banyak pelayan dan pengawal mendampinginya, tidak terlalu kaget dengan perlakuan itu. Gadis muda itu hanya melihat bagaimana sabarnya Chakra Ashanka menjawab setiap rasa ingin tahu dari Sekar Ratih. Terkadang rasa cemburu menderanya, namun dengan cepat gadis itu kemudian memupus rasa itu.
"Baik kakang.. Nimas akan perlahan menyesuaikannya. Namun.. jika suatu saat nanti, tanpa sadar aku menunjukkan sikapku terdahulu.. mohon ampuni dan terima semuanya ya kakang.." Sekar Ratih akhirnya berjanji akan menerima perlakuan itu, dengan sedikit demi sedikit.
__ADS_1
*********