Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 157 Menuju Kerajaan


__ADS_3

Seperti yang sudah direncanakan oleh Wisanggeni, laki-laki itu segera menjemput Maharani dari pondok yang ditempati Gayatri. Sebenarnya Maharani minta ijin untuk menginap di kamar Gayatri, tetapi dengan alasan besok harus berangkat ke kerajaan lebih pagi, laki-laki itu tidak mengijinkannya. Seperti memahami perasaan dan hati Wisanggeni dan Maharani, Gayatri akhirnya juga berpura-pura untuk meminta Maharani meninggalkan kamarnya.


"Rani.., benar apa yang dikatakan oleh Wisanggeni. Aku terbiasa bangun sedikit kesiangan, khawatirnya besok pagi-pagi, Wisang harus kesini untuk membangunkanmu. Pergilah kembali bersama Wisang..., jika besok pagi aku tidak mengantarmu pergi, ya maafkan aku ya." ucap Gayatri pada Maharani.


Wisanggeni tersenyum mendengar perkataan Gayatri, dia juga memahami upaya gadis itu agar Maharani mengikutinya malam ini. Laki-laki itu meletakkan tangannya di bahu Maharani.., kemudian..


"Ayo kita segera kembali ke kamarmu Maharani.., Akang ingin merasakan pijatanmu malam ini." tanpa merasa malu pada Gayatri, Wisanggeni langsung berbicara sedikit intim pada istrinya. Muka Maharani langsung memerah mendengar perkataan itu, dan Gayatri hanya tersenyum kecut.


"Iya.., ayo sana segera temani suamimu Rani. Jangan membuat kaum lajang sepertiku menjadi iri atas perilaku kalian." Gayatri pura-pura mengusir Maharani. Sambil tersenyum, Wisanggeni segera merengkuh bahu Maharani kemudian membawanya keluar dari kamar Gayatri.


"Selamat tinggal Gayatri.., semoga lain waktu kita akan bertemu kembali." Maharani menyatakan ucapan selamat tinggal pada Gayatri. Setelah melambaikan tangan, dengan segera dalam kegelapan malam, Wisanggeni mengangkat tubuh Maharani.


"Aaaw..., Kang Wisang.." Maharani memekik kecil, karena kaget dengan perilaku mendadak yang diberikan oleh suaminya itu.


"Akang kangen padamu Nimas Maharani.., layani aku malam ini." bisik Wisanggeni di telinga Maharani. Kulit Maharani merasa bergetar, baru malam ini dia bisa mendengar permintaan untuk dilayani dari suaminya. Bahkan berkali-kali gadis itu harus menahan rasa sakit di hatinya, karena di saat mereka dalam penyatuan dan kenikmatan menguasai mereka, nama Rengganis sering diucapkan oleh suaminya itu.


"Benarkah ini Akang yang meminta pada Maharani.." tanya Maharani gugup, gadis itu ingin mengkonfirmasi perkataan dari suaminya itu. Wisanggeni tanpa menjawab, sambil tetap mengangkat tubuh gadis itu, Wisanggeni memberikan ciuman dalam di leher Maharani.

__ADS_1


"Ah.., aaahh.., Kang.." dengan tergagap, Maharani tidak mampu menahan de**sahan yang keluar dari bibirnya. Sambil tersenyum lembut, Wisanggeni segera melepaskan ciumannya itu, karena khawatir ada orang yang akan melihat tindakan mesumnya pada Maharani.


"Brak.." Wisanggeni lengsung membuka pintu kamar gadis itu dengan menggunakan kakinya. Tanpa sabar.., laki-laki itu langsung membawa Maharani dan merebahkan dengan perlahan tubuh gadis itu di atas ranjang.


"Kang.., pintunya ditutup dulu.." ucap Maharani dengan suara serak. Perkataan istrinya membangkitkan kesadaran pada laki-laki itu, perlahan Wisanggeni berdiri kemudian memasang palang pintu untuk mengunci pintu kamar. Baru saja laki-laki itu mau membalikkan badannya, tangan halus dan lembut sudah memeluknya dari belakang. Tangan halus itu merayap masuk ke dalam baju atasan yang dia kenakan.


"Emm..., uuuuhhh..., sayang.." lenguhan terlolos dari mulut Wisanggeni. Tangan kecil dan ramping itu, perlahan melepaskan kancing baju dan celana yang dia kenakan secara perlahan. Tanpa menunggu waktu lama, laki-laki itu sudah berdiri seperti ukiran patung tanpa busana.


"Nimas.., aku sangat menyukai perlakuanmu ini. Aaah...., uuhh..." kembali tubuh laki-laki itu terasa bergetar, dan aliran udara panas serasa berkumpul di bagian inti tubuhnya. Dengan tidak sabar, Wisanggeni memeluk dan menghujani setiap jengkal tubuh Maharani dengan ciuman memabukkan. Dua bukit kembar di dada gadis itu menjadi pangkalan pertama, laki-laki itu ingin menuntaskan hasratnya.


***************


"Kemana kita akan turun Akang.., apakah langsung masuk ke dalam gapura atau berada di luar gapura saja." dengan suara perlahan, Rengganis bertanya pada Wisanggeni.


"Kita minta turunkan di luar gapuro saja Nimas.., aku khawatir jika kita langsung masuk ke dalam, mereka bisa melukai kita. Karena kita terlihat seperti menerobos masuk ke wilayah yang penuh dengan penjagaan. Apalagi dengan tindakan makar oleh selir kerajaan, meskipun sudah terendus sebelum mereka beraksi, tetapi Akang yakin.., kerajaan sudah meningkatkan penjagaannya." Wisanggeni menjawab pertanyaan Rengganis. Dengan pelan, laki-laki itu mengusap leher Singa Ulung, memberi isyarat pada binatang itu untuk menurunkannya di desa terdekat.


Tanpa menunggu pengulangan perintah, binatang singa bersayap itu segera menurunkan kecepatan terbangnya. Perlahan Singa Ulung segera menjejakkan kakinya di atas tanah, dan Singa Resti mengikuti di belakangnya.

__ADS_1


"Upps..." Wisanggeni segera melompat turun dari atas punggung Singa Ulung, dan kemudian menepuk paha kanan atasnya, dan Singa raksasa itu dengan cepat berubah bentuk menjadi seekor kucing menggemaskan. Rengganis dan Maharani dengan cepat mengikuti langkah Wisanggeni, dan Singa Resti juga sudah berubah menjadi seekor kucing yang terlihat lucu.


"Kita akan istirahat dulu di kedai makanan itu. Kita harus mengisi perut kita terlebih dahulu Nimas..." Wisanggeni merangkul kedua istrinya, kemudian membawa keduanya menuju sebuah kedai yang terlihat menjual berbagai aneka menu masakan.


"Kedainya terlihat lumayan ramai Akang..., apakah masih ada tempat duduk yang tersedia untuk kita?" Rengganis melihat ke dalam kedai yang terlihat penuh dengan orang yang sedang menikmati makanan. Mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling lokasi, dan melihat tempat yang kosong di bawah pohon beringin.


"Sepertinya kita bisa mengambil tempat duduk di luar saja Akang. Lihatlah di bawah pohon beringin ini!" Maharani mengusulkan untuk mereka duduk di bawah pohon.


"Segeralah kalian duduk disana. Akang akan memesankan makanan dan minuman untuk kita bertiga." Wisanggeni meminta kedua istrinya untuk segera menempati tempat duduk di bawah pohon beringin. Setelah melihat kedua istrinya duduk disana, laki-laki itu segera masuk ke dalam untuk memesan makanan.


Tidak berapa lama, Wisanggeni datang dengan membawa nampan yang berisi tiga gelas minuman. Pelayan kedai makanan, mengikuti di belakangnya dengan membawa nampan berisi tiga piring makanan.


"Segeralah kalian menikmati makanan ini, mumpung masih hangat." ucap Wisanggeni ketika melihat pelayan sudah meletakkan piring berisi makanan di atas meja yang terbuat dari batang-batang kayu diikat.


"Iya Akang.., minta tolong pegang Ashan terlebih dulu!" Rengganis memberikan Chakra Ashanka pada Wisanggeni, dan laki-laki itu segera mengajak putra laki-lakinya melihat orang sedang menyabung ayam yang ada di sekitar kedai makan itu.


*****************

__ADS_1


__ADS_2