Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 112 Berembug


__ADS_3

Beberapa saat Wisanggeni dan anggota kelompoknya terdiam, dan setelah melihat gelombang uap panas sudah berhenti, laki-laki itu menghentikan tabir pelindung yang sudah dia bentuk. Sesaat angin panas bertiup ke arah tubuh mereka, dan segera orang-orang itu membentengi tubuh mereka masing-masing dengan aura kebatinan yang mereka miliki.


"Apakah sudah tidak berbahaya Wisang.., jika kita lanjutkan perjalanan untuk masuk ke dalam hutan. Meskipun hutan hijau sudah tidak ada lagi, aku ingin segera mengetahui bagaimana nasib saudara-saudara kita di dalam sana." Sudiro berjalan menghampiri Wisanggeni.


"Kita akan mencoba bersama-sama Diro.., tapi sampaikan pada anggota kita. Bagi yang merasa ragu, atau tidak berani, aku menyarankan agar mereka kembali dan mencari desa terdekat. Karena.., jika ada sedikitpun rasa keraguan di hati mereka, perjalanan ini akan gagal." Wisanggeni memberikan informasi pada Sudiro.


"Baik Wisang.., aku akan menyampaikan informasi ini terlebih dahulu pada mereka. Tunggulah dulu..!" saat Sudiro meninggalkan Wisanggeni, laki-laki muda itu mendatangi istrinya yang sedang meneguk air putih. Rengganis mengulurkan botol minuman, dan laki-laki itu kemudian mengambilnya. Setelah minum beberapa teguk, Wisanggeni mengembalikan botol itu pada Rengganis.


"Nimas.., bersiaplah. Kita akan segera masuk ke dalam hutan yang sudah terbakar itu. Kuatkan dirimu!" Wisanggeni mengajak Rengganis untuk bersiap.


"Rengganis sudah siap Akang.  Ayo kita segera bergabung dengan mereka." Rengganis mengarahkan tatapannya ke Sudiro dan orang-orang yang sudah bersiap di belakangnya.


Wisanggeni segera meraih tangan Rengganis, kemudian membawa istrinya menemui Sudiro dan semua anggota kelompoknya.


"Wisang.., ternyata semua anggota kita bersedia untuk masuk lebih dalam ke hutan. Tidak ada yang mau kembali untuk mencari desa terdekat." Sudiro melaporkan hasil pembicaraannya dengan orang-orang itu.


"Baiklah jika itu sudah menjadi keinginan kalian. Mari kita mulai berangkat.." Wisanggeni memimpin mereka dengan berjalan di depan sendiri sambil menggandeng Rengganis. Sudiro menunggu setelah semua anggota kelompok berjalan, laki-laki itu mengambil alih tugas Wisanggeni yang biasanya mengawal kelompok dari belakang.

__ADS_1


Semakin kelompok itu masuk ke dalam, tatapan miris dan prihatin muncul di mata mereka. Hutan yang biasanya hijau, dengan banyak tumbuhan  dan binatang di dalamnya. Saat ini kondisinya berubah menjadi hutan yang mati, dengan asap dan api yang masih tampak menyala di beberapa tempat. Dengan hati-hati mereka berjalan, saling mendukung antara anggota satu dengan anggota yang lain.


Dari arah tenggara, mata Wisanggeni bersinar melihat kedatangan Lindhuaji dan beberapa orang di belakangnya. Lindhuaji langsung mendatangi Wisanggeni yang tampak berhenti menunggunya.


"Kang Aji..., bagaimana keadaanmu Kang..?" mereka saling menanyakan keadaan dengan  saling berpelukan.


"Empat  anggotaku gugur Dimas.., setelah berjuang bersama, akhirnya kita bisa sampai  di tempat ini dengan selamat." Lindhuaji menjawab pertanyaan Wisanggeni.


"Ikut berduka Kakang. Tapi tidak perlu kita pikirkan lagi, karena tidak ada yang bisa menolak dari kehendak takdir. Kita lanjutkan saja perjalanan kita ke dalam Kakang." Wisanggeni segera mengajak Lindhuaji dan rombongannya untuk bergabung bersama untuk masuk ke dalam hutan.


*************


"Kang Janar.." dengan suara pelan, Wisanggeni memanggil kakaknya yang tampak duduk terpekur di pinggir kubah. Matanya menatap ke dalam kubah Candradimuka.., yang mana sudah tidak terjadi lagi pergolakan uap panas di dalamnya.


Mendengar panggilan Wisanggeni, putra tertua Ki Mahesa dan Rayi Ratri itu menoleh dan melihat ke arah sumber suara. Terlihat sinar kebahagiaan di mata Wijanarko, melihat kedua adik laki-lakinya datang dalam keadaan sehat dan selamat. Melihat keberadaan Rengganis disitu, Wijanarko hanya tersenyum pahit. Tiba-tiba dia teringat dengan Kinara istrinya, baru lima hari mereka menikah tetapi mereka harus berpisah karena tugas berat ini. Tetapi dengan cepat, laki-laki itu kembali menguasai dirinya kembali.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang kang Janar? Para sesepuh tidak ada satupun yang berada disini. Sedangkan kita harus bertanggungjawab pada anggota kelompok kita." Lindhuaji bertanya pada Wijanarko saat tidak melihat keberadaan para sesepuh di tempat itu.

__ADS_1


"Para sesepuh mengejar Jalak Geni masuk ke terowongan yang terbentuk di bawah pilar api. Ketika batu identitas dari berbagai Klan disatukan di dalam Kubah Candradimuka, ternyata berdampak pada munculnya terowongan tersebut." Wijanarko kemudian menceritakan, dari saat awal mereka menemukan Kubah Candradimuka, dan memberi tahu siapa Jalak Geni.


"Tapi kenapa pilar api bisa terbentuk Kang Janar.., padahal masih ada dua batu identitas yang belum menggenapi formasi. Karena satu batu identitas ada padaku, dan satu batu yang dipunya Trah Jagadklana ada di tangan Nimas Rengganis." Wisanggeni bertanya pada Wijanarko, dan Rengganis menganggukkan kepala membenarkan ucapan suaminya itu.


"Aku juga tidak tahu Rayi.., kenapa bisa menjadi seperti itu." kata Wijanarko lirih. Suasana menjadi hening kembali.


"Berapapun jumlah batu identitas itu disusun dalam formasi, kemudian diletakkan dalam Kubah Candradimuka, jika ada tekanan diatasnya maka akan dapat membentuk pilar api. Hanya saja.. pilar api tidak akan bisa mewarisi inti dari kekuatan utama yang ada di balik terowongan. DIbutuhkan darah turunan naga untuk membangkitkan kembali kekuatan naga." tiba-tiba suara Maharani memecah keheningan mereka.


"Apa maksudmu Maharani?" Wisanggeni bertanya pada ratu ular itu.


"Iya Paduka.., rahasia tentang batu identitas ada di dalam leluhur kami. Paduka saat ini sudah dipilih leluhur, dan memiliki darah keturunan ular yang mengalir di dalam darah Paduka. Jika Paduka mau mencoba, letakkan kedua batu identitas dalam formasi  di kubah Candradimuka, maka pilar api akan terbentuk kembali. Kita semua bisa masuk dalam terowongan tersebut untuk menemukan para sesepuh." ucap Maharani.


Rengganis menoleh ke wajah suaminya, kemudian perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Maharani. Tampak aura pengabdian dan kepasrahan yang dia temukan di wajah Maharani, saat gadis itu berbicara dengan suaminya. Tetapi sedikitpun Rengganis tidak menemukan aura penerimaan dari wajah suaminya, akhirnya putri Ki Sasmita itu mengambil napas lega.


"Nimas.., apakah kamu setuju dengan apa yang disampaikan Maharami? Jika setuju, maka akupun akan menyetujuinya. Tetapi jika Nimas tidak setuju, kita semua akan kembali ke pesanggrahan. Kita akan mencari cara lagi, bagaimana untuk membebaskan dan membawa kembali para sesepuh." Wisanggeni menanyakan persetujuan Rengganis.


"Asalkan bersamamu Akang.., Rengganis akan merelakan apapun." jawab Rengganis sambil menyandarkan kepala di bahu Wisanggeni. Wisanggeni tersenyum, dengan lembut di depan semua orang yang berada disitu, sebuah ciuman lembut di kening Rengganis dihadiahkan Wisanggeni. Maharani dan Niken Kinanthi langsung membuang muka melihat adegan intim itu.

__ADS_1


"Kamu memang selalu tidak punya perasaan pada kita." pukulan di punggung Wisanggeni dihadiahkan Lindhuaji.


**************


__ADS_2