
Di Trah Bhirawa
Rengganis berpikir sendiri, perempuan itu memikirkan tentang keberadaan putra laki-lakinya yang diperkirakan sudah sampai di kerajaan Logandheng. Meskipun dirinya dan Wisanggeni sudah membuat sebuah kesepakatan untuk membiarkan Chakra Ashanka, menjalani nasib dan takdirnya sendiri di kerajaan itu, namun kali ini hati sebagai seorang ibu tidak bisa dibohongi. Perempuan ini ingin menyaksikan proses pengukuhan dan penetapan putranya untuk menjadi seorang Patih di kerajaan Logandheng.
Dari depan pintu, Parvati tersenyum melihat ibundanya sedang melamun. Gadis kecil itu berjalan pelan, mendatangi ibundanya. Tanpa kata-kata, Parvati meletakkan kepala di sisi pundak Rengganis. Ibunda Rengganis menoleh dan tersenyum melihat kemunculan gadis itu di sisinya,
"Ada apa Nimas.. apakah ada yang membuat pikiranmu resah. Tiba-tiba saja tanpa kata, sudah berada di samping ibunda.." Rengganis bertanya pada gadis cantik yang ada di sebelahnya itu,
"Tidak ibunda.. harusnya Parvati yang bertanya pada ibunda. Sejak tadi, dari luar pendhopo.. Parvati melihat sepertinya ada kegundahan di hati ibunda. Sehingga ibunda tidak melihat kedatangan Parvati di ruangan ini. Benar kan ibunda..??" Parvati tidak menutupi rasa penasarannya. Gadis itu langsung bertanya pada Rengganis.
Rengganis tersenyum ampang, dan tatapan matanya teralih ke depan. Perlahan tangan kanan Rengganis, mengusap kepala gadis kecil yang ada di sebelahnya itu.
"Ibunda memikirkan kakangmu Nimas.. jika kakangmu sudah menetapkan bersedia untuk menerima tawaran dari Raden Bhadra Arsyanendra, tentang kedudukan menjadi seorang Patih di kerajaan Logandheng. Dalam waktu yang tidak lama lagi, pasti penetapan dan pengukuhannya akan segera dilakukan. Sebagai seorang ibu Nimas.., ibunda ingin hadir dan menyaksikan keberkahan itu datang menghampiri Chakra Ashanka." dengan putrinya Parvati, Rengganis mengutarakan apa yang mengganggu pikirannya.
"Kenapa ibunda tidak menyampaikan hal ini pada ayahnda.. Nimas yakin bunda.. ayahnda akan mengabulkan keinginan ini jika bunda bicara kepada ayahnda. Nimas juga akan sangat senang sekali bisa berjumpa lagi dengan mbakyu Ratih dan mbakyu Putri di kerajaan Logandheng. Selain itu Nimas juga bisa bertemu dengan kang Ashan, dan juga Raden Bhadra.." dengan muka cerah, Parvati terlihat gembira mendengar perkataan ibundanya.
__ADS_1
"Ini kenapa menjadi terbalik Nimas.. Ibunda yang ingin segera bertemu dan menyaksikan upacara pengukuhan Chakra Ashanka, kenapa malah kamu yang terlalu bersemangat. Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan, dan sengaja tidak kami beritahukan pada ibunda.." melihat reaksi gadis di sampingnya itu, Rengganis bertanya pada Parvati.
Gadis kecil itu tersenyum malu.. memang dalam hatinya, Parvati ingin bertemu dengan Bhadra Arsyanendra. Melihat bocah laki-laki itu, tidak tahu menjadi hiburan tersendiri bagi Parvati. Rengganis geleng-geleng kepala melihat putrinya yang sudah mulai menapaki usia remajanya. Sebagai seorang ibunda dua putra, harus lebih berhati-hati dan lebih memperhatikan ketika keduanya sudah mulai menapaki usia remaja.
"Baiklah.. tidak perlu kamu menjelaskan pada ibunda Nimas.. Nanti ketika ayahnda sudah sampai kembali ke tempat ini, ibunda akan menyampaikan keinginan ini pada ayahndamu.." Rengganis akhirnya memutuskan untuk memberi tahu suaminya.
"Iya ibunda.. semoga ayahnda Wisanggeni dapat mengabulkan keinginan kita bunda. Parvati kembali ke pondhok dulu bunda.. tadi pagi kang Achala meminta Parvati untuk menemaninya ke tambak ikan, untuk melihat apakah ikan sudah mulai bisa dipanen.." Parvati meminta ijin pada Rengganis.
"Pergilah putriku.. tetapi dengarkanlah pesan ibunda.. Saat ini Parvati.. kamu sudah harus mulai menjaga jarak dengan laki-laki yang tidak ada hubungan darah denganmu Nimas.. Usiamu sudah mulai menginjak remaja, kamu paham maksud ibunda bukan.." untuk membatasi interaksi putrinya dengan Achala, Rengganis berpesan pada gadis muda itu.
*******
Setelah mendengarkan perkataan istrinya Rengganis, Wisanggeni langsung menyetujui ajakan istrinya itu tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu. Bahkan niatnya untuk berkunjung ke kerajaan Laksa, guna mengunjungi Raja Abhiseka, harus dikesampingkan dulu demi memenuhi keinginan istrinya. Sangat jarang, Rengganis membuat permintaan untuknya, sehingga sangat disayangkan jika dia menolak keinginan dari Rengganis tersebut,
"Bersiaplah Nimas.. malam ini juga kita akan berangkat. Aku yakin.. putra kita Chakra Ashanka tidak akan lama berada di perguruan Gunung Jambu., Begitu.. anak itu menyampaikan persetujuannya pada Raden Bhadra, anak muda itu pasti langsung mengajaknya untuk menempuh perjalanan menuju kerajaan Logandheng. Jadi.. kita tidak memiliki banyak waktu, segeralah bersiap." tidak diduga, saat itu juga Wisanggeni mengabulkan permintaan Rengganis.
__ADS_1
"Terima kasih kakang.., Nimas akan mencari dan memberi tahu Parvati jika akan segera meninggalkan Trah Bhirawa. Tadi anak itu berpamitan akan menuju ke tambak ikan di ujung desa, Parvati menemani Achala untuk melihat-lihat ikan disana." Rengganis segera menyambut baik ajakan dari suaminya. Tidak mau terlalu banyak menghabiskan waktu, perempuan itu bergegas untuk keluar dari dalam kamar meninggalkan suaminya Wisanggeni sendirian.
Namun ketika perempuan itu melewati Wisanggeni, tiba-tiba tangan laki-laki itu mencekap pergelangan tangannya. Karena perempuan itu tidak dalam kondisi bersiap, perempuan itu terjatuh dan terduduk dalam pangkuan laki-laki itu. Wisanggeni tersenyum, dan menyibakkan rambut istrinya Rengganis kemudian menyelipkan di atas telinga perempuan itu.
"Nimas mau kemana.., masak suami baru datang, sudah akan ditinggal pergi lagi. Nimas Parvati sudah menjelang remaja.. kita harus sedikit memberi keleluasaan untuk gadis itu berpikir tentang dirinya sendiri. Biarlah.. sementara waktu, gadis itu mengenal kakang sepupunya dengan baik." tidak diduga, Wisanggeni meminta Rengganis untuk tidak mencari dan mengganggu Parvati.
Perempuan itu terdiam dan tertunduk malu, dan memberanikan diri menatap suaminya. Sudah sekian lama, banyak waktu yang hilang dari kehidupan mereka untuk bersama-sama seperti dulu lagi. Semakin bertambahnya usia mereka, ternyata semakin banyak aktivitas yang menyela dan mencampuri urusan mereka. Hanya saat-saat tertentu saja, mereka bisa menghabiskan waktu untuk berdua, hanya berdua antara Wisanggeni dan Rengganis.
Perlahan, Wisanggeni menurunkan wajahnya dan meniup pelan belakang telinga wanita yang duduk di pangkuannya itu. Rengganis merasa gemetar, tubuhnya mendadak gemetar merasakan seperti kedinginan berada di atas pangkuan laki-laki itu.
"Kakang.. jangan goda Rengganis seperti ini.." dengan nafas terasa sesak, perempuan itu berbicara dengan nafas terengah pada suaminya.
Wisanggeni tersenyum, kemudian bibir laki-laki itu sudah menempel dan bermain-main di leher perempuan itu. Keduanya terbuai berdua di dalam kamar yang sepi. Bahkan Rengganis sudah tidak bisa mengingat kembali apa yang akan dilakukannya tadi, perempuan itu menikmati setiap belaian, hembusan nafas dari Wisanggeni yang membuatnya bergetar, dan merasa ketagihan untuk terus meminta diulangi. Mendengar dengusan dan getaran tubuh perempuan dalam pangkuannya, Wisanggeni sudah tidak dapat menahan dirinya lagi. Laki-laki itu berjalan menuju ke arah pintu, kemudian memasang pengait dari dalam kamar. Akhirnya waktu di sore hari itu, menjadi waktu penyatuan kedua orang pasangan suami istri itu.
***********
__ADS_1