
Mata Wisanggeni dengan tajam menelanjangi ketiga laki-laki yang duduk di sampingnya. Tetapi laki-laki itu sadar bagaimana harus menyelamatkan istrinya, sehingga dia langsung mengalihkan pandangannya pada Maharani.
"Nimas.. lupakan, memutarlah untuk mengambil jalan masuk kamar." Wisanggeni mengalah, dia meminta Maharani tidak terpancing dengan tingkah memalukan ketiga laki-laki itu. Dia meminta istrinya segera kembali ke kamar sesuai dengan perintahnya pertama kali.
Wisanggeni berdiri dan memegangi istrinya, sambil matanya melirik pada ketiga laki-laki itu. Orang-orang yang ada di sekitar tempat makan menahan nafas melihat kejadian itu, mereka mengetahui bagaimana kekuatan yang dimiliki oleh kedua orang itu. Dan kekuatan mereka juga telah melindungi mereka dari ganasnya serangan yang dilakukan oleh ketiga orang di hari kemarin. Tetapi akhirnya mereka mengambil nafas lega, ketika melihat jika pasangan suami istri itu tidak terpancing oleh tingkah tiga orang itu.
"Baik Akang.., hanya perintah dari Akang yang akan selalu Nimas dengan dan lakukan." seperti mengetahui jika suaminya menghindarkannya dari pertarungan, Maharani mengikuti perintah yang diberikan Wisanggeni.
Setelah melihat punggung Maharani menghilang ke ruang tengah, Wisanggeni sengaja duduk kembali ke mejanya. Matanya tanpa tedeng aling-aling, menatap tajam laki-laki setengah tua, yang sudah menjulurkan kakinya untuk menghadang kaki Maharani.
"Ada apa anak muda.., kenapa matamu dari tadi menatap kami?? Apakah salah jika tidak sengaja kakiku menghalangi langkah perempuan binal yang bersamamu tadi?" dengan berani Aswojo mengajukan pertanyaan pada Wisanggeni. Mata laki-laki itu langsung merah menahan marah, mendengar laki-laki itu menyebut Maharani sebagai perempuan binal.
"Bisa tidak Ki Sanak menjaga lisan? Perempuan itu adalah perempuan baik-baik, dia adalah istriku. Siapapun yang menjuluki istriku seperti itu, aku tidak akan segan-segan memukul mulutnya sampai berdarah." laki-laki yang biasanya sangat pandai mengendalikan amarah, kali ini pertahanan itu gugur karena penghinaan orang terhadap pendamping hidupnya. Bagi Wisanggeni istrinya adalah kehormatannya. Siapapun yang mengganggu istrinya, sama saja sudah menginjak-injak kehormatannya.
"Jangan banyak bicara anak muda... clap.." sambil berbicara laki-laki disamping Aswojo mengirimkan serangan ke arah Wisanggeni. Wisanggeni tersenyum sinis melihat serangan itu dengan menggunakan sudut matanya.
"Prang.. braak.." karena Wisanggeni menghindar, serangan itu mengenai salah satu meja, dan meja itu langsung hancur berserakan.
__ADS_1
Suasana di ruang makan menjadi kacau, orang-orang yang sedang menikmati sarapan pagi pada berlari meninggalkan tempat itu. Mereka ketakutan melihat serangan yang diluncurkan oleh orang asing itu dan mengenai meja di ruang makan tersebut.
"Tolong.., tolong... kendalikan amarah kalian. Penginapanku bisa hancur, jika kalian bertarung disini. Hentikan Ki Sanak!" laki-laki tua pemilik penginapan berlari keluar, dia mencoba untuk menghentikan perkelahian itu dengan kata-katanya.
"Kebanyakan suara kamu.., jika kamu tidak mau rugi, jangan membuka usaha. Plakk.." tiba-tiba satu dari laki-laki itu memberikan tamparan keras ke pipi pemilik penginapan.
"Aaaaw.. ampun Ki Sanak.., jangan sakiti aku!" dengan cepat laki-laki pemilik penginapan memohon ampun pada laki-laki yang sudah menampar wajahnya.
"Dasar cemeng kalian, beraninya menindas yang lemah." Wisanggeni berjalan keluar sambil berkata secara perlahan, Laki-laki itu sengaja menghentikan pertarungan di dalam penginapan, karena akan menyebabkan banyak kerugian materiil bagi pemilik penginapan. Dengan cepat Wisanggeni berjalan keluar menuju halaman yang ada di depan penginapan.
**********
"Jangan hanya berani melihat pada kami anak muda. Keluarkan ajian atau kekuatan yang kamu miliki. Kami ingin tahu kekuatan yang anak muda miliki sehingga berani memamerkan kekuatan pada keluarga kami." teriakan satu dari ketiga laki-laki itu terdengar jelas di pendengaran Wisanggeni.
"Ehmm..., rupanya mereka salah paham terhadapku. Siapa mereka, apakah mereka saudara dari orang yang bertarung denganku kemarin? Biarlah.., aku akan melihat bagaimana kekuatan yang mereka miliki sebenarnya. Itung-itung aku menggerakkan anggota tubuhku dan melakukan olah raga pagi." Wisanggeni tersenyum sinis menanggapi perkataan mereka. Dia berpikir sendiri tentang mereka bertiga.
"Dasar sombong.., apakah dengan kamu hanya berdiam saja, kamu seolah-olah menunjukkan jika kekuatan yang kamu miliki sudah tinggi. Sehingga kamu berani mencari masalah dengan keluarga bangsawan dari kota Laksa." mendengar mereka menyebut bangsawan kota Laksa, Wisanggeni tersenyum sinis. Jika pangeran Abhiseka tahu bagaimana orang-orangnya sudah bertindak kurang ajar kepadanya, laki-laki itu pasti akan marah dan menghajar orang-orangnya sendiri.
__ADS_1
"Ternyata kalian dari kota Laksa. Kota itu akan malu memiliki bangsawan yang berpikiran picik dan bejat seperti kalian semua." Wisanggeni mencibir ucapan mereka. Tanpa sadar ucapan Wisanggeni itu menyinggung satu dari mereka bertiga.
"Ajian Penghancur Sukma... keluarlah.. blarr.. blar.." laki-laki di belakang Aswojo melemparkan ajian penghancur sukma. Kedua orang lainnya juga mengikuti langkah Aswajo. Tanpa ampun, mereka ikut mengirimkan serangan ke arah Wisanggeni.
"Godam penghancur tulang... bang..., bang..." pohon yang ada di pinggir halaman langsung tumbang terkena sambaran ajian itu. Wisanggeni hanya menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri menghindari serangan. Tetapi suasana di halaman sudah porak poranda. Beberapa orang melarikan diri menyingkir dari tempat itu, mereka takut terkena sambaran serangan.
"Jaring penyerap darah..." tiba-tiba sebuah jaring berwarna merah terbentuk di tangan laki-laki itu, dan dengan cepat jaring itu mengarah ke tubuh Wisanggeni.
Laki-laki putra dari Klan Bhirawa itu tersenyum dan menyipitkan matanya. Kedua tangannya bergerak cepat membentuk segel yang tidak terlihat, dan tanpa kentara keluar gumpalan angin berwarna merah bara api di atas kedua tangannya.
"Kekuatan api berpadulah dengan kekuatan penghancur... jeglarr..., jeglar.." suara keras terdengar di lapangan. Serangan itu mengejar ketiga serangan yang dikirimkan oleh ketiga laki-laki itu. Benturan keras terdengar, dan api berwarna merah membubung tinggi.
"Awan pelecut halilintar.. turunlah..." Wisanggeni mencoba menggabungkan ilmu warisan dari Cokro Negoro yang dia temukan di dalam kepis yang ditinggalkan oleh laki-laki itu. Dia sendiri belum pernah mengetahui bagaimana efek yang ditimbulkan jika serangan itu digabungkan dengan serangannya yang lain.
Tiba-tiba suasana di tempat itu berubah menjadi gelap. Langit dengan matahari yang bersinar cerah, tiba-tiba menghilang berganti dengan awan hitam yang menakutkan.
"Duarr..." tiba-tiba kilat menyambar turun dengan suara yang membisingkan telinga. Kilat itu menyambar keras dan langsung menyerang ketiga laki-laki yang dengan garang menantang Wisanggeni.
__ADS_1
************