Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 124 Terowongan Jiwa


__ADS_3

"Apakah senista ini aku akan menjebak Paduka untuk menyenangkanku semalam?" sepeninggalan Wisanggeni, Maharani berpikir sendiri. Keinginannya untuk dapat memiliki Wisanggeni seutuhnya, terkadang mengalahkan akal sehat. Dalam kesendirian, Maharani hanya memandang saat pemimpinnya itu sedang bermesraan dengan Rengganis. Dia hanya menunggu, tetapi tidak berbuat sesuatu yang merugikan hubungan Wisanggeni dan Rengganis.


"Tetapi tanpa bantuanku.., mustahil kita semua akan dapat keluar dari sini. Dan akupun tidak akan bisa memberikan bantuan pada para sesepuh.., jika aku belum melakukan pelepasan segelku." kembali pertanyaan bermain di benak Maharani.


Dalam kesepian malam, Maharani merasa diombang-ambingkan oleh pikirannya sendiri. Sesekali senyuman muncul di bibirnya, saat dia membayangkan kejadian di istananya beberapa waktu yang lalu dengan Wisanggeni. Meskipun.., tidak sampai dia melepaskan segelnya, tetapi rasa itu masih jelas terasa hangat di tubuhnya. Ratu ular itu terus melamun, berusaha memikirkan cara untuk dapat membantu memberikan auranya untuk membuat sebuah terowongan jiwa.


"Klak.." terdengar suara ranting pohon patah karena diinjak kaki oleh seseorang. Maharani segera mengambil sikap siaga, tetapi gadis itu segera membatalkan gerakannya setelah melihat siapa yang datang.


"Ada apa Kang Diro.., apakah kamu memataiku?" dengan suara judes, Maharani bertanya pada Sudiro. Terdengar nada kejengkelan dalam pertanyaannya itu.


Sudiro tidak menjawab pertanyaan Maharani, laki-laki itu malah berjalan semakin mendekati perempuan itu.


"Bolehkan aku duduk di sampingmu Nimas Maharani?" dengan nada sopan, Sudiro meminta ijin untuk duduk di samping perempuan itu. Maharani diam, dan Sudiro tanpa ijin langsung duduk di depan perempuan itu.


Kedua orang itu duduk dalam diam, sambil pikiran mereka menerawang menembus malam.


"Aku tahu bagaimana pikiranmu terhadap Wisanggeni Nimas.., dan aku tidak akan menyalahkanmu. Karena perasaan yang muncul itu suci, tidak salah. Kita juga tidak akan bisa menentukan, kemana hati kita akan berlabuh." Sudiro tiba-tiba berbicara pada Maharani.

__ADS_1


"Sama juga dengan perasaanku pada Nimas. Aku juga tidak bisa mengarahkan perasaanku, hatiku ternyata memilihmu meskipun aku tahu jika hatimu hanya untuk Wisanggeni." kembali Sudiro menyatakan perasaannya pada Maharani.


Tetapi gadis yang duduk di samping Sudiro itu tetap diam.., meskipun baru kali ini laki-laki itu menyatakan perasaan padanya. Namun dari perhatian dan perlakuannya yang selalu mengutamakannya, Maharani sudah dapat menebak perasaan laki-laki itu untuknya.


"Tahu apa KangĀ  Diro dengan perasaan dan hatiku?? Apakah kalian manusia berpikir, meskipun aku keturunan manusia ular, aku tidak bisa menyerahkan hatiku untuk manusia tulen?" tiba-tiba Maharani menanggapi perkataan Sudiro. Mendengar tanggapan itu, Sudiro tersenyum. Laki-laki itu menolehkan wajahnya, dan memandang ke mata Maharani.


"Aku tahu dan memiliki firasat tajam Nimas. Firasatku mengatakan bahwa hati dan rasamu suatu saat akan menjadi milikku. Aku akan selalu menunggu kapan saat itu datang." kata Sudiro dengan penuh percaya diri.


Perlahan Maharani menatap ke Sudiro secara langsung, kemudian dia berdiri dan berjalan meninggalkan Sudiro duduk di tempat itu sendiri.


***********


"Uft..., swoosh..boom.." sebuah lingkaran transparan kecil muncul di atas tangan Cokro Negoro. Berbagai gerakan tangan dengan memusatkan aura batin dan tenaga dalamnya, diarahkan ke lingkaran transparan itu. Para sesepuh segera melakukan hal yang sama, kemudian mengarahkan aura batin dan tenaganya ke lingkaran yang sudah dibantuk Cokro Negoro.


"Auuummm.., auuummm.." Singa Ulung dan Singa Resti tanpa diduga, ikut mengeluarkan auranya dan menggabungkan dengan aura yang terpusat pada pusaran di atas tangan Cokro Negoro.


"Tahan dirimu Nimas.., ingat putra kita yang masih ada di rahimmu! Akang yang akan menyempurnakan terowongan jiwa itu, tunggulah disini." Wisanggeni langsung bereaksi melarang Rengganis, saat perempuan itu tidak tega melihat bagaimana orang-orang yang berada disitu memusatkan auranya.

__ADS_1


Wisanggeni menghela nafas saat melihat keringat mulai mengalir di dahi para sesepuh, bahkan beberapa generasi muda yang tidak bisa menahannya, banyak yang darah mengalir dari hidungnya. Putra ketiga Ki Mahesa itu segera mengeluarkan auranya dan menggabungkan dengan aura Gurunya. Aliran warna ungu yang tampak kaya energinya, perlahan memasuki tempat-tempat terowongan jiwa yang masih banyak berlobang. Kejadian itu berlangsung secara terus menerus.., dan akhirnya dengan banyak tubuh yang berjatuhan di tanah.. Cokro Negoro mengakhiri pembuatan terowongan jiwa itu.


"Kita akan menguatkan kembali terowongan jiwa ini besok Wisang. Malam ini.. segeralah istirahat!" Cokro Negoro menepuk bahu Wisanggeni, saat mata laki-laki muda itu menatap terowongan jiwa yang masih dalam tahap awal.


"Masih membutuhkan waktu berapa lama Guru.., karena Wisang yakin, tanpa bantuan dari Maharani.. kita tidak akan bisa menguatkan terowongan jiwa ini. Bahkan Wisang khawatir, saat kita melakukan perjalanan waktu di dalamnya, kita akan terpisah dan tidak dimana kita akan diturunkan." ucap Wisanggeni lirih.


Cokro Negoro tersenyum, dia menyadari beban berat yang harus dipikul oleh laki-laki muda itu. Tetapi meskipun sebagai Gurunya.., dia juga tidak bisa memaksa Wisanggeni untuk melakukannya. Seorang wanita dari suku ular yang sudah mengalami penyatuan dengan lawan jenisnya, maka segel kekuatannya akan membuka. Segel kekuatan itu akan dapat digunakan untuk megeluarkan aura batin yang akan menguatkan terowongan jiwa yang dibuatnya. Manusia ular terbiasa membuat terowongan di bawah tanah sebagai jalan atau rumah mereka.


"Maharani sudah menetapkan hatinya untukmu Wisang. Sebagai manusia keturunan dari suku ular, mereka terkenal dengan keteguhan hatinya untuk hanya memilih satu laki-laki yang akan bersamanya. Bahkan mereka rela untuk bertahan tidak melakukan penyatuan, jika laki-laki yang diinginkannya tidak mau bersamanya." kalimat yang disampaikan Gurunya barusan, perlahan menyadarkan Wisanggeni. Tetapi saat menyadari, Cokro Negoro sudah berjalan meninggalkannya.


"Wisang putraku.." tiba-tiba suara Ki Mahesa terdengar di belakangnya. Wisanggeni membalikkan badannya, dan terlihat ayahndanya sudah berdiri di belakang.


"Dari ketiga putraku.., ayah merasa bangga dan bahagia masih bisa menyaksikan kalian semua. Tetapi situasi saat ini, semuanya terlalu rumit. Saat ini.., kamu sudah bersama dengan istrimu. Bagaimana dengan orang-orang yang lain.., kakak-kakakmu.., ayahnda mertuamu..? Pikirkan itu putraku!" Ki Mahesa menepuk punggung putra bungsunya tiga kali, kemudian sama dengan Cokro Negoro, perlahan laki-laki tua itu meninggalkannya sendiri.


"Apakah aku harus menikahi Maharani..., tetapi bagaimana dengan perasaan Nimas Rengganis? Apalagi saat ini, istriku sedang mengandung calon putraku." Wisanggeni berpikir sendiri.


*************

__ADS_1


__ADS_2