Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 24 Adu Kekuatan


__ADS_3

"Semua berkumpul di lapangan..., ayo.. kumpul..kumpul!" terdengar pengumuman dan panggilan dari para senior serta pengawal yang berkeliling di kamar-kamar murid Akademi.


Wisanggeni dan teman-temannya segera mengikuti ajakan tersebut, mereka segera menempatkan diri di lapangan. Dengan cepat lapangan yang kosong menjadi terisi penuh dengan murid-murid Akademi.


"Baiklah karena semua sudah berkumpul, akan kita sampaikan pengumuman. Hari ini akan kita awali dengan adu kekuatan antar semua murid, yang akan menentukan alokasi sumber daya yang akan mereka terima untuk dapat bertahan di tempat ini." terdengar suara seorang murid senior yang membacakan pengumuman.


"Sumber daya itu akan memiliki manfaat bagi kalian untuk mendapatkan sumber uang, dan untuk memasuki pilar kekuatan. Tunjukkan bahwa kalian memang layak dan pantas untuk menjadi seorang petarung yang unggul." lanjut pengumuman tadi.


Beberapa senior dan pengawal mengedarkan nomor undian, untuk menentukan lawan uji kekuatan kepada semua murid.


"Sentono..., berapa nomormu?" tanya Wisanggeni pada Sentono.


"Nomor 24, semoga lawanku tidak begitu tangguh. Kamu sendiri?" Sentono balik bertanya.


"Nomor 33." jawab Wisanggeni singkat.


Suko dan Manggala memandang Wisanggeni dengan tatapan prihatin, karena dia tahu lawan yang akan berhadapan dengan laki-laki itu. Di depan tampak kakak senior, yang dengan pongahnya memamerkan nomor undian yang dia peroleh. Dan nomor itu sama persis dengan yang diperoleh Wisanggeni.


Mereka melihat ke panggung yang berdiri di tengah lapangan, di tempat itu akan menjadi tempat adu kekuatan dilangsungkan. Tampak para pengawal berjaga-jaga, dan di pinggir sebelah baratnya ada tribun yang digunakan oleh para guru dan para juri yang akan menyaksikan pertandingan.


"Secara acak..., yang akan bertandang dalam kesempatan pertama ini adalah nomor undian 10. Silakan para murid yang menerima undian dengan nomor tersebut, segera maju ke depan!" senior kembali menyampaikan panggilan.


Dua orang murid segera maju ke depan, dan langsung diarahkan untuk segera memulai adu kekuatan. Keduanya memulai dengan memberikan salam penghormatan pada tribun guru dan para juri, dan baru dilanjutkan dengan memberi penghormatan pada para murid.


"Menurutmu kira-kira mana yang akan memenangkan adu kekuatan itu?" teriak Wiyono.

__ADS_1


"Aku pegang yang baju hitam." sahut Broto sambil bertepuk tangan menyemangati jagoannya.


Wisanggeni tersenyum, dan dia melihat murid yang mengenakan baju warna coklat sudah mulai keteteran. Berkali-kali dia tidak dapat menahan serangan dari lawannya.


"Bugh... aaauwww." tiba-tiba tubuh murid yang berbaju hitam terlempar dari atas panggung, dan diakhiri dengan kemenangan murid yang berbaju hitam.


Satu persatu murid diadu kekuatannya di atas panggung, dan sudah berpuluh-puluh yang mengalami luka parah terlempar keluar dari panggung pertandingan. Niluh yang kebetulan mendapatkan lawan yang lebih tinggi kekuatannya, sudah bersyukur dapat mengakhiri pertarungan tanpa luka-luka yang berarti.


Semua orang di kelompok Wisanggeni, mendengarkan saran dari laki-laki itu yang jangan memaksakan untuk mengalahkan lawan. Jika saat bertanding, kita dapat menemukan tingkat kekuatan lawan di atas kita, mengalah akan lebih melindungi diri kita. Karena saat beradupun, jika kita nekad untuk berusaha mengalahkannya, maka hanya kesakitan dan sengsara yang akan kita dapatkan.


"Nomor 33 silakan segera ke panggung!" giliran nomor Wisanggeni dipanggil ke atas.


"Jaga dirimu saudaraku!" Sentono memberikan rangkulan pada laki-laki itu saat akan mulai naik ke atas panggung.


***********


"Siuuttt..," tanpa diduga Wisanggeni, lawan mainnya sudah melemparkan satu pukulan terhadapnya, dan untungnya dengan menggeser kepala dia bisa mengambil tindakan menghindar.


Laki-laki di depannya itu membuat tanda silang di depan dadanya,. dan tiba-tiba tanpa diduga sebelumnya, sinar terang menghantam dada Wisanggeni dengan sangat kencang. Tubuh Wisanggeni sedikit terseret ke belakang, tetapi segera laki-laki itu mensejajarkan kakinya dan membuat lingkaran dengan jari tangannya dan menghantamkan pukulan pada lawan di depannya.


"Bang.." pukulan yang dilontarkan Wisanggeni ditangkis dengan sebilah pedang yang tiba-tiba sudah dikeluarkan oleh lawan mainnya. Dengan tersenyum sinis, lawan main Wisanggeni mengacungkan jari tengah dan ditunjukkan padanya.


"Ayo..ayo.. Setyaji.. habisi lawanmu!" terdengar teriakan-teriakan dan tepuk tangan yang mendukung lawan main Wisanggeni. Sebagai murid senior, sangat wajar dia sudah mengenal dan lebih dikenal daripada dia.


Wisanggeni mengambil nafas dalam, dia mencoba tidak terprovokasi oleh lawan tandingnya. Dengan tangkas, dia mengeluarkan pisau belatinya yang langsung dia usap gagang batunya. Tampak sinar warna ungu berkelip di gagang batunya, tetapi dia tidak menyadarinya.

__ADS_1


"Siapa murid itu, darimana dia berasal?" beberapa guru yang tanpa sengaja menyaksikan sinar ungu itu kemudian membicarakannya.


"Dia murid baru. Belum genap lima hari, dia datang kesini." sahut guru lainnya.


Setyaji mengobat-abitkan pedang yang ada di tangannya, dan semakin maju mendesak Wisanggeni. Tiba-tiba..


"Ciattt.., klap..." baju di lengan bagian atas Wisanggeni robek tersambar ujung pedang.


Dengan sudut matanya, dia mengawasi gerakan lawan tandingnya itu. Dan saat Setyaji tepat berada di depannya, laki-laki yang berada pada tingkatan kakak tingkatnya itu menghujamkan pedang ke arah perut Wisanggeni, tapi dengan cepat pisau belati dia benturkan pada pedang itu.


"Clang . jleb.." benturan keras diikuti sambaran api terjadi saat kedua senjata itu beradu.


Pedang yang dipegang Setyaji terlepas dari tangannya, dan langsung jatuh menancap di panggung pertandingan. Tubuh Setyaji terdorong ke belakang dengan keras dan langsung membentur palang pembatas panggung.


Wisanggeni dengan cepat mencabut pedang yang tertancap di panggung, dan melempar ke arah Setyaji, diikuti tatapan heran dari si empunya pedang. Tidak semua orang bisa kuat mengangkat pedangnya, tetapi lawan tandingnya itu dengan ringan mencabut dan melemparkan senjatanya kembali.


Setyaji segera bersiap kembali, kemudian mengangkat telapak tangannya mengirim serangan ke arah Wisanggeni. Serangan yang sangat kuat dengan deras membawa udara panas, dan dengan cepat Wisanggeni menghindar.


"Bruk..." saat Wisanggeni menghindari serangan, angin yang mengalir deras dengan udara panas itu langsung menghantam pohon beringin yang berdiri di dekat panggung. Pohon itu langsung terbakar dauh dan dahannya kemudian ambruk ke tanah.


Saat Setyaji masih terpana dengan kecepatan menghindar Wisanggeni, laki-laki itu sudah menerjang maju dan tanpa sempat dihindari, tangan Wisanggeni telak bersarang di dada Setyaji.


"Bugh.." cairan merah tersembur keluar dari mulut Setyaji, dan tubuhnya terjatuh ke belakang.


Sampai hitungan kesepuluh, ternyata Setyaji tidak bisa terbangun lagi, akhirnya diputuskan Wisanggeni sebagai pemenang pertarungan. Dengan cepat, Wisanggeni melompat keluar panggung, dan kembali pada teman-temannya.

__ADS_1


************


__ADS_2