
Trah Bhirawa
Wisanggeni tersenyum melihat Singa Ulung mendatanginya sambil mengusap-usapkan bulu di kaki laki-laki itu. Perlahan Wisanggeni mengangkat binatang itu, kemudian meletakkannya di pangkuannya. Elusan lembut dilakukan laki-laki itu di kepala Singa Ulung.
"Hmm... aku memahamimu Ulung.. Tidak lama lagi, Nimas Rengganis dan putraku Chakra Ashanka akan segera tiba di Trah Bhirawa ini. Kamu akan bertemu kembali dengan Singa Resti.. demikian pula aku. Sudah lama, aku merindukan kemunculan Nimas Rengganis di sisiku. Kamu memahamiku bukan, sebagai sesama laki-laki." dengan ucapan lirih, Wisanggeni mengungkapkan isi hatinya pada binatang itu.
Bersama dengan binatang itu sejak lama, menjadikan keterkaitan dua makhluk itu sangat erat. Terkadang lewat gerakan-gerakan pada anggota tubuhnya, binatang menyampaikan isyarat-isyarat pada laki-laki itu. Beberapa saat Wisanggeni dan binatang itu saling bercengkerama, dan tidak lama kemudian..
"Baik.., baik Ulung.. Kita akan menjemput kedatangan pasangan kita di tengah jalan, bukannya itu yang kamu inginkan..?" melihat kegelisahan yang terus ditunjukkan oleh binatang itu, Wisanggeni mencoba menangkapnya dengan kata-kata. Begitu Wisanggeni selesai berbicara, Singa Ulung langsung berdiri dan melompat dari pangkuan laki-laki itu. Melihat reaksi cepat binatang itu, Wisanggeni tersenyum.
Tidak lama kemudian, Wisanggeni dengan diikuti SInga Ulung berjalan keluar dari padhepokan. Di dekat ruang pendhopo, laki-laki itu berpapasan dengan Ki Mahesa yang baru saja berlatih di halaman belakang.
"Mau kemanakah putraku.., sepertinya kamu tergesa-gesa untuk melakukan sesuatu?" laki-laki tua itu bertanya pada putranya, karena melihat jalan cepat yang dilakukan Wisanggeni.
"Ada urusan sebentar ayahnda.., Wisang dan Ulung akan menyelesaikannya di ujung wilayah ini." untuk memberikan kejutan pada ayahndanya, laki-laki itu tidak memberi tahu hal yang sebenarnya.
"Baiklah.. pergilah Wisang.. Ayahnda akan membersihkan badan dulu, kemudian akan beristirahat." Ki Mahesa memberi ijin pada putranya, kemudian melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Wisanggeni tersenyum menatap punggung Ki Mahesa yang berjalan meninggalkannya. Laki-laki itu kemudian melanjutkan langkahnya dengan diikuti oleh Singa Ulung.
*********
Di depan pendhopo depan terlihat Parvati sedang bersama kakang sepupunya yang bernama Achala putra dari Lindhu Aji dan Larasati. Meskipun usia mereka berselang beberapa tahun, namun ketika bersama anak muda itu, Parvati merasakan seperti sedang bermain bersama kakangnya Chakra Ashanka, Anak muda itu juga dengan sabarnya menemani dan meladeni gadis kecil itu.
"Kang Achala.., apakah kakang mau menemaniku bermain dakon..?" tiba-tiba Parvati mengusulkan untuk memainkan sebuah permainan pada kakang laki-lakinya itu.
Mendengar ajakan Parvati, Achala tersenyum sambil melihat ke wajah cantik gadis kecil itu. Kulit bersih dan mata bersinar, sangat sesuai dengan wajah cantik gadis kecil itu. Sebagai anak muda yang sudah memasuki masa remaja, melihat kecantikan adik sepupunya itu, hati Achala terkadang bergetar melihatnya. Tetapi dengan cepat, anak muda itu memupus rasanya itu.
"Ada apa Nimas Parvati.., kamu mengajakku bermain dakon. Apakah tidak ada permainan yang lain selain permainan itu. Karena Nimas.., kakang ini laki-laki, dan terlihat sangat lucu serta tidak enak dipandang jika orang melihatnya aku sedang bermain permainan itu." dengan tutur kata halus, Achala berusaha menolak ajakan untuk memainkan permainan anak perempuan itu.
Achala kembali tersenyum, tanpa sadar anak muda itu mengangkat tangan kanannya ke atas, dan mengusap rambut gadis kecil itu sambil menatap mata beningnya.
"Tidak perlu memaksakan untuk permainan anak laki-laki Nimas, karena akan membuatmu merasa tidak nyaman. Sama halnya denganku, aku juga akan merasa kurang nyaman untuk memainkan permainan anak perempuan. Bagaimana jika kita mengisi waktu kita untuk berjalan-jalan di pasar sore. Di tempat itu, kita akan bisa mendapatkan banyak jajanan pasar, dan juga pernak-pernik untuk anak perempuan." tiba-tiba Achala membuat usulan untuk berjalan-jalan sore.
"Benarkah Akang.. sepertinya sangat menarik tawaran yang diberikan oleh kakangmas. Nimas Parvati akan sangat menyukainya.. ayo kang temani Nimas.." mendapat penawaran itu, dengan cepat gadis kecil itu meresponya. Parvati menarik tangan Achala, dan memeluk lengannya untuk segera mengajaknya berangkat.
__ADS_1
Achala tersenyum, kemudian anak muda itu menurunkan wajahnya ke bawah, melihat bagaimana gadis kecil itu memeluk erat tangannya. Desiran halus kembali muncul di hati anak muda itu, tetapi dengan pipi yang agak memerah, Achala kemudian menepis perasaan itu.
"Baik Nimas.. ayo kita segera berangkat keburu senja datang." akhirnya anak muda itu mengabulkan ajakan gadis kecil itu, Dengan memeluk erat tangan Achala, Parvati dan Achala berjalan meninggalkan komplek pesanggrahan Trah Bhirawa. Orang-orang yang melihat kedekatan kedua anak muda itu, hanya tersenyum dan membatin jika keduanya merupakan pasangan yang cocok.
**********
Dari dalam pondhok samping, terlihat Larasati tersenyum melihat keakraban dan kedekatan putra laki-lakinya, dengan adik sepupunya Parvati. Tanpa perempuan itu sadari, di belakangnya berdiri Lindhu Aji yang sejak tadi mengawasinya yang tersenyum sendiri melihat Parvati dan Achala berbincang bersama. Dengan perlahan, Lindhu Aji mengangkat tangannya dan meletakkan di pundak perempuan itu.
"Apa yang sedang kamu lihat Nimas.., apakah kamu akan mengurusi permasalahan anak muda." melihat arah tatapan Larasati, tiba-tiba laki-laki itu bertanya pada istrinya. Larasati terkejut mendengar suara suaminya yang ternyata sudah berdiri di belakangnya,
"Hmm.. lihatlah kakang putra kita sudah semakin remaja. Ketika bersama dengan Nimas Parvati, sepertinya Achala memiliki ketertarikan dengan gadis kecil putri Rayi Wisanggeni dan Nimas Maharani." Larasati menyampaikan apa yang menjadikannya tertarik mengamati putra dan keponakannya itu.
"Mereka memang pantas dan layak untuk menjadi pasangan yang cocok. Jika Nimas Parvati menyetujui untuk berpasangan dengan putra kita, kakang akan menyetujuinya Nimas." Larasati terkejut dengan arah pembicaraan Lindhu Aji. Perempuan itu menengadahkan wajahnya melihat pada laki-laki itu.
"Kakang... kakang Aji tidak salah bicara bukan. Parvati dan Achala itu saudara sepupu kakang, mereka tidak pantas untuk menjadi pasangan." terdengar kekhawatiran dari nada bicara perempuan itu.
Lindhu Aji kembali tersenyum, kemudian mendekatkan badan perempuan itu lebih dekat padanya. Tanpa diduga, laki-laki itu memberikan kecupan di dahi perempuan itu.
__ADS_1
"Mereka tidak memiliki satu garis hubungan darah Nimas.. hal itu diperbolehkan. Memang, jika masih ada pilihan lain, mereka bisa memilih pilihan itu. Namun, jika sudah tidak ada pilihan, mereka bisa menjalin sebuah ikatan.." dengan tegas Lindhu Aji membuat pernyataa.
**********