Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 23 Pengukuran Kekuatan


__ADS_3

Beberapa orang yang berada di dalam rumah makan itu, melihat ke arah Rengganis yang memasuki rumah tersebut dengan menggandeng seorang anak kecil. Gadis itu mengabaikan tatapan itu, dan langsung mengambil tempat duduk di pojok ruangan. Tangannya yang ramping melambaikan tangan memanggil pelayan rumah makan.


"Iya Nimas mau pesan apa?" seorang pelayan menanyakan pesanan gadis itu.


"Siapkan semua menu yang paling baik yang dihasilkan oleh rumah makan ini!" Rengganis menjawab pertanyaan pelayan itu.


"Baik... mohon tunggu sebentar. Segera akan kami siapkan!" pelayan itu meninggalkan mereka berdua.


"Siapa namamu Thole?" dengan ramah Rengganis memulai percakapan dengan anak laki-laki kecil itu.


"Nama saya Suryo kak.." jawab anak itu sambil melirik takut pada gadis itu.


"Nama yang bagus.. maknanya adalah matahari sang penerang jagad ini. Kenapa kamu tadi melakukan tindakan yang tidak benar Suryo, apakah kmu lapar?" dengan lirih Rengganis kembali bertanya pada Suryo.


"Kue ini bukan untuk saya. Tapi untuk ibu dan adik saya. Ibu saya sedang sakit, dan adik saya dari kemarin belum makan." jawaban anak itu telak memukul hati Rengganis.


"Baiklah tidak perlu kamu lanjutkan lagi ceritamu. Kakak percaya padamu, cuma kakak berpesan. Besok lagi jangan langsung mencuri, bilang baik-baik dengan pemilik warung. Ceritakan kalau kamu sedang lapar, dan minta sedikit sisa-sisa kue untuk dimakan. Kakak yakin akan banyak yang membantumu." Rengganis menasehati Suryo.


"Iya kak..., untung hari ini saya ketemu dengan kakak yang baik." ucap Suryo lirih.


Rengganis tersenyum sambil mengusap kepala anak itu. Pelayan datang membawakan pesanan mereka, kemudian meletakkannya di atas meja.


"Silakan dinikmati Nimas!"


"Terima kasih."


Rengganis segera mengambil nasi dan lauk diatas piring. Saat dia mau memasukkan sendok ke mulutnya, dia melihat ke arah Suryo. Anak laki-laki itu tampak masih terdiam melihati makanan yang ada.

__ADS_1


"Ayo Suryo... makanan ini untuk dinikmati bukan untuk dilihat saja. Jangan khawatir, semua makanan sisa ini nanti kakak bungkus. Kamu bisa membawanya pulang untuk makan ibu dan adikmu." kata Rengganis pada Suryo.


"Benarkah kak?" tanya Suryo seperti tidak percaya.


"Benar..., percayalah padaku!" sambil tersenyum, Rengganis memandang Suryo yang mulai menyendokkan nasi ke piringnya. Rengganis mengambilkan beberapa lauk dan menaruhnya di piring anak laki-laki itu.


Saat Suryo sudah mulai memasukkan makanan ke mulutnya, Rengganis baru mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.


**************


Di pinggir danau, terlihat seorang laki-laki yang mengenakan seragam akademi mendatangi kelompok Wisanggeni. Suko dengan suka cita langsung menghampiri laki-laki itu.


"Kang Waskito.., mereka semua teman-temanku kang. Ada yang dari satu padhepokan, dan beberapa aku mengenalnya saat perjalanan menuju kesini." Suko langsung mengenalkan diri pada laki-laki yang dipanggil Waskito itu.


"Baiklah.., ayo semua ikuti aku! Kalian harus ikut tes kekuatan agar bisa ikut aku masuk ke Akademi." Waskito langsung memimpin langkah mereka, dan 9 orang mengikuti di belakangnya.


"Tunggu disini!" setelah sampai di depan meja antrian, Waskito meminta mereka untuk berhenti. Dia menemui orang yang menjaga meja, dan setelah berbicara dengannya, dia kembali ke tempat Suko dan kawan-kawan kemudian menyerahkan seutas tali pada mereka masing-masing.


Wisanggeni mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tampak burung-burung besar terbang melayang di atas danau dengan membawa beberapa orang menuju Akademi.


"Apakah aku nanti dan mereka juga akan menaiki burung itu?" Wisanggeni bertanya dalam hati.


Dia kemudian mengalihkan pandangan ke tempat lain, terlihat di depannya Beberapa orang yang kecewa karena gagal melewati tahapan pertama pengujian kekuatan. Mereka dengan lesu kembali ke asal mereka datang.


"Suko, Manggala, Cokro, Wiyono, Broto.. cepat kemari! Silakan persiapkan di belakangnya Wisanggeni, Niluh, Gayatri, dan Sentono!" terdengar petugas sudah memanggil namanya untuk segera mempersiapkan diri.


"Wisang..., nama kita sudah dipanggil, ayo kita segera ke depan!" Sentono mengingatkan Wisanggeni.

__ADS_1


"Baiklah.., aku juga mendengar. Ayo.." mereka berempat segera berjalan ke depan.


Suko dan kawan-kawan terlihat naik ke atas sebuah batu dengan sebuah lempengan besi untuk mengukur kekuatan. Setelah beberapa waktu berjalan, terlihat Broto dan Cokro mengangkat tangan menyerah kalah, akhirnya keduanya turun. Mereka berada pada level kedua dari tingkatan terakhir persyaratan untuk dapat menempuh pelajaran di Akademi. Wiyono berada satu tingkat diatas mereka berdua, dan Manggala berada pada level keempat dari bawah. Dengan penuh sukacita kelima anggota kelompok itu dinyatakan memenuhi persyaratan untuk masuk ke Akademi.


"Sekarang kalian maju ke depan!" seorang petugas meminta Wisanggeni dan ketiga temannya maju.


Keempatnya langsung berdiri di atas batu, dan perlahan mereka merasakan sendiri adanya sebuah kekuatan yang menekan mereka. Niluh tampak kesulitan mengendalikan kekuatan yang tidak terlihat, yang terus menekannya ke bawah. Akhirnya dia harus menyerah pada level terendah, tidak berapa lama diikuti Gayatri dan Sentono yang berada pada satu tingkatan level diatasnya.


"Kang Wisang masih bertahan disana." ucap Gayatri lirih.


"Iya.., aku juga tidak menyangka jika anak itu dengan cepat bisa mengembalikan kekuatan." kata Sentono sambil terus melihat ke tengah lapangan.


Sampai level kekuatan tembus pada level paling tinggi, Wisanggeni masih tegak berdiri. Seorang laki-laki tua berjalan ke depan dan mengajak laki-laki muda itu bicara.


"Turunlah dari tempat ini nak, kamu sudah mencapai level yang lebih tinggi dari pengukur kekuatan disini. Terimalah ini, tunjukkan pada petugas yang akan menerbangkan kamu dan kelompokmu ke Akademi." sebuah batu Swarovski diberikan laki-laki tua itu pada Wisanggeni.


"Terimakasih paman atas bantuannya, yang muda ini segera undur diri." dengan menggenggam kedua tangan dan menaruh di depan dada, Wisanggeni berpamitan dan kembali mendatangi kelompoknya.


"Ayo kita segera ke pinggir danau!" Wisanggeni langsung mengajak kelompoknya menuju ke pinggir danau. Suko merasa tak percaya melihat level kekuatan yang dimiliki laki-laki muda itu. Berkali-kali tanpa sadar, dia melirik ke arahnya.


"Paman ini tanda yang diberikan sesepuh pada tempat pengukuran level kekuatan." Wisanggeni memberikan batu Swarovski pada tetua yang ada di depannya.


"Mari ikuti saya!" laki-laki itu segera berjalan di depan, dan sampailah mereka pada sebuah binatang seperti onta tetapi bisa terbang. Di kanan kirinya terdapat papan dari kayu dan ada tempat duduk di dalamnya.


"Naiklah kalian, setelah sampai di perbatasan, akan ada murid-murid senior yang akan mengarahkan kalian."


"Baik terima kasih paman." Wisanggeni kemudian mengajak teman-temannya untuk segera naik ke atas binatang itu.

__ADS_1


Ternyata sudah ada enam orang yang sudah duduk di dalamnya. Karena tidak mau berurusan dengan mereka, Wisanggeni dan teman-temannya mengacuhkan mereka.


**********


__ADS_2