Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 120 Penggulingan


__ADS_3

Dengan mata tajam Nyai Ageng terus menatap seorang laki-laki muda, dan beberapa orang sudah dalam posisi siaga untuk menjaga istri dari pemimpin trah Jagadklana itu. Sebaliknya Laksito sebagai anak muda yang datang berkunjung.., sedikitpun tidak memiliki rasa gentar maupun takut bertanya pada seorang perempuan paruh baya.


"Ingat Laksito.., aku tidak akan mendengarkan ucapan provokasi yang keluar dari mulut kurang ajarmu itu. Aku berada dalam posisi pemimpin ini.., bukan untuk menggantikan Kang Sasmita. Tetapi hanya menjalankan sementara waktu.., sampai Kang Sasmita kembali. Bukan level seorang anak kemarin sore yang ingin memintaku turun." dengan ucapan pedas, Nyai Ageng kembali berbicara pada Laksita.


"Ha.., ha.., ha..., ajian apa yang akan kamu gunakan untuk bertahan Nyai..? Apakah kamu tidak melihat.., orang-orang penting Trah kita sedang tidak ada disini?? Orang-orang yang menggantikannya.., saat ini semua berada disini untuk mendukungku. Lepaskan apa yang saat ini kamu jalankan Nyai Ageng..!" denganĀ  suara tawa.., Laksito meminta Nyai Ageng untuk melepaskan posisinya.


"Tutup mulut busukmu anak muda! Tidakkah kamu ingat apa posisimu di trah ini? Nyai Ageng menjalankan amanah dari pemimpin kita, dan saat itu kita semua menjadi saksi, dan menerima semua keputusan itu. Tetapi kenapa.., saat ini dengan mengesampingkan subosito.., kamu memaksa Nyai Ageng untuk menyerahkan posisinya padamu." seorang sesepuh yang masih ada, memarahi Laksito.


"Tenanglah Paman Lugito.., biarkan anak kemarin sore belajar sendiri tentang apa yang sudah paman sampaikan! Bukannya aku serakah dan ingin berada dalam posisi sekarang ini, tetapi amanah suamiku yang menjeratku untuk bertahan anak muda. Aku tidak peduli apa yang ingin kamu lakukan padaku.." Nyai Ageng tetap keukeuh bertahan.


Mendengar perkataan Nyai Ageng yang tetap tidak mau menyerahkan posisinya, raut kemarahan tampak jelas di wajah laki-laki muda itu. Laki-laki muda itu dengan mengabaikan sopan santun di hadapan yang lebih tua, tiba-tiba berdiri dan mengangkat tangannya ke atas.


"Kalian semua sudah mendengar sendiri apa yang dikatakan oleh Nyai Ageng. Sekarang kita akan menggunakan dengan cara-cara yang kasar. Ayo kita turunkan perempuan itu!" dengan ucapan provokasi, Laksita mengajak orang-orangnya untuk melawan dengan cara kasar.


"Swing.., jleb.., jleb..." tiba-tiba dari arah belakang ada yang mengirimkan anak panah ke depan.


"Trang.., trang.." beberapa orang langsung berlari maju menghalangi anak panah itu dengan menggunakan pedang yang ada di tangan mereka. Suasana keributan langsung terjadi di arena pendhopo. Untuk menyelamatkan Nyai Ageng.., paman Lugito langsung berlari melindungi istri dari pemimpinnya itu. Laki-laki tua menyeret Nyai Ageng pergi untuk mengamankannya, meskipun perempuan paruh baya itu menolak.

__ADS_1


"Aku tidak akan pergi paman.., menjaga marwah Trah ini menjadi tugasku saat ini." ucap Nyai Ageng yang melarang Lugito membawanya untuk melarikan diri.


"Masih banyak cara Nyai Ageng.., saat ini kita kalah akan jumlah dan orang-orang yang trampil. Hal yang konyol jika kita memtuskan untuk bertahan disini." Lugito tetap berusaha keras untuk membawa Nyai Ageng pergi. Melihat istri dari pemimpin Trah itu tetap bertahan dengan keputusannya, Lugito tidak bisa menunggu lagi. tangan laki-laki tua itu tiba-tiba terangkat ke atasĀ  dan memukul tengkuk Nyai Ageng.


"Dukk.., aaww." pekikan kecil muncul di bibir Nyai Ageng, tetapi tiba-tiba perempuan itu terkulai lemas. Dengan cepat Lugoto dan tiga orang temannya menyambar Nyai Ageng dan membawanya pergi.


Saat orang-orangnya akan mengejar perempuan itu, Laksito menghentikan mereka.


"Biarkan mereka pergi.., mereka juga tidak akan bisa pergi kemana-mana. Sementara pintu akses keluar dari wilayah ini aku nyatakan untuk ditutup sementara." suara Laksito menahan orang-orangnya untuk mengejar Nyai Ageng.


****************


Setelah pemberontakan yang dilakukan Laksito dan orang-orangnya, berhasil menguasai kepemimpinan Trah, semua pengurus digantikan oleh orang-orang dari laki-laki muda itu. Rasa dendamnya karena gagal untuk mendapatkan Rengganis putri dari pemimpin Trah sebelumnya, menjadi pendudung rasa ketamakan dan keserakahan untuk menguasai Jagadklana.


"Strategi apa yang akan kita lakukan Ndhoro Laksito?" anak buah Laksito menanyakan arah ke depan pengelolaan Jagadklana.


"Hal pertama adalah perkuat pertahanan kita. Bentuk pasukan yang akan menjaga Trah ini dari masuknya orang luar ke wilayah kita."

__ADS_1


"Hal kedua tutup semua pintu masuk ke wilayah kita. Aku tidak ingin orang luar bisa mengetahui apa yang akan kita lakukan di dalam. Kita membesar dulu di dalam.., jika sudah berhasil.., baru kita yang akan aktif merangsek keluar untuk menguasai mereka." Laksito menyampaikan dua hal besar rencananya pada orang-orang yang berada disitu.


"Baik Ndoro.., segera akan kita sampaikan pengumuman ini pada semua pengurus. Juga akan kita sampaikan pada semua lapisan warga masyarakat yang berada di wilayah ini." salah satu pengurus menyatakan kesanggupan dan menerima hal yang disampaikan Laksito.


"Bagaimana dengan perempuan itu.., apakah dia bisa keluar dari wilayah ini?" Laksito tiba-tiba menanyakan tentang keberadaan Nyai Ageng.


"Untuk keberadaannya istri dari Ki Sasmita belum terlacak dan terketahui Ndoro.., tetapi aku yakin jika perempuan itu tidak akan berhasil meninggalkan wilayah ini. Orang-orang kita sudah menghentikan layanan perjalana keluar wilayah, sejak malam kita merebut kepemimpinan ini dari Nyai Ageng." pengurus yang lain menanggapi pertanyaan Laksito.


Laksito terdiam.., di sudut mulutnya muncul senyuman licik dan serakah.


"Kita akan membiarkannya dulu.., siapa tahu suatu saat perempuan itu akan memiliki manfaat untuk kita." suara pelan muncul dari mulut Laksito.


"Kemudian jangan lupa.., naikkan upeti untuk operasional pengurus Trah. Kita tidak akan mampu berkembang menjadi lebih besar jika tidak memiliki modal untuk menjalankan kepemimpinan ini." kembali Laksito menambahkan hal baru. Beberapa pengurus yang masih merupakan pengurus pada jaman kepemimpinan Ki Sasmita merasa terkejut dengan hal baru itu.


"Ndoro.., sepertinya kita perlu mempertimbangkan hal terakhir yang baru saja disampaikan. Akan sangat menjerat warga masyarakat, jika upeti mereka dinaikkan." salah satu pengurus menyampaikan keberatannya.


"Aku menyetujui usulan dari pemimpin Trah. Sudah sangat lama.., tarif upeti kita tidak naik. Kita perlu untuk merubahnya.., lihatlah di sekitar kita. Apakah pantas barang-barang kumuh ini masih berada di pendhopo ini? Kita harus segera berbenah dan berhias.., kita akan tunjukkan kemakmuran melingkupi kita disini." anggota pengurus yang lain menyatakan rasa setujunya.

__ADS_1


"Cukup.. Aku tidak membutuhkan pendapat atau usulan dari kalian. Apa yang sudah aku keluarkan dari mulutku adalah sebuah perintah. Laksanakan kesepakatan-kesepakatan yang tadi sudah aku keluarkan. Aku akan berlatih dulu.., jangan ganggu aku!" dengan nada tinggi, Laksito memutus perdebatan yang terjadi. Laki-laki itu langsung meninggalkan wilayah pendhopo, dan dua perempuan mengikut di belakangnya.


*************


__ADS_2