
Wisanggeni berjalan di belakang Rengganis dan Parvati. Untuk melindungi dua orang penting dalam hidupnya itu, Wisanggeni memang sengaja berjalan di belakang mereka. Dengan memberikan pengawalan pada kedua perempuan itu, dapat mencegah orang berbuat jahat pada mereka. Banyak orang berbisik-bisik melihat Wisanggeni beserta putri dan istrinya berjalan, namun mereka mengacuhkannya. Melihat ada orang asing datang ke wilayah mereka yang biasanya jarang mendapat kunjungan dari warga wilayah lain, menimbulkan banyak tanda tanya pada orang-orang itu.
"Nimas.. luruslah ke arah selatan, tadi dari atas udara, kakang melihat ada sebuah penginapan tua yang tidak terurus di ujung jalan." Wisanggeni memberi tahu istrinya arah mereka berjalan.
"Iya kang.. apakah kakang melihat jika ada sekitar empat orang sedang berjalan mengikutin kita?" Rengganis tidak melihat ke arah suaminya, tapi perempuan itu masih terlatih kepekaannya. Rengganis mengatakan jika ada orang yang mengikuti mereka.
"Bunda.. ada lagi di pojok kanan depan kita. Mereka melihat kita dengan mata seperti bersinar, seperti menemukan sasaran empuk. Apakah mereka orang jahat bunda.. ayah..?" Parvati juga melihat lagi di sudut lain.
Wisanggeni tersenyum mendengar pengaduan putri dan istrinya. Sejak tadi, laki-laki itu melirik orang-orang di belakang mereka dengan sudut matanya, namun untuk mengurangi gesekan dengan mereka, Wisanggeni sengaja mendiamkannya. Ternyata putri dan istrinya juga menyadari hal itu.
"Abaikan saja Nimas.. kita harus segera mencapai penginapan secepatnya. Aku tidak mau berurusan dengan mereka, khawatir jika salah sasaran. terkadang karena perut kosong dan lapar, akan memicu orang untuk bertindak jahat. Sebenarnya mereka terbentuk oleh keadaan, bukan karena mereka memang memiliki niat yang tidak baik." sambil terus berjalan, Wisanggeni berpesan pada kedua perempuan itu.
Rengganis meraih tangan Parvati, kemudian menggenggam erat tangan gadis itu. Berjalan di kota yang rusuh, dengan kecantikan putrinya itu, akan dapat mengundang kejahatan menghampiri mereka. Untungnya Parvati menyadari kekhawatiran ibundanya, Gadis itu mengambil selendang di dalam kepis, kemudian mengikatkan di atas kepalanya, dan menutup wajah cantiknya. Dari belakang, Wisanggeni tersenyum melihat kepekaan putrinya.
"Bagus sekali putriku.. kamu memang tidak dibolehkan untuk memancing mereka. Lihatlah.. tatapan mata orang-orang itu seperti kelaparan." sahut Wisanggeni dari belakang.
Untungnya mereka sudah sampai berjalan di depan penginapan. terlihat di depan mereka, sebuah bangunan yang terlihat lusuh, dan tidak terawat. Bahkan orang yang melihatnya seakan enggan untuk mampir karena kelusuhan bangunan tersebut. Melihat kondisi penginapan itu, muncul keragu-raguan di wajah Rengganis.
"Kang.. apakah kita akan tetap menginap di penginapan ini. Penginapan ini terlihat lusuh kakang.." dengan ragu, Rengganis bertanya pada suaminya. Perempuan itu menatap sebuah penginapan yang berada tidak jauh dari tempat itu, dan terlihat lebih bagus.
__ADS_1
"Iya Nimas.. jangan terkecoh hanya melihat penampakan dari luar. Semakin kita tidak mau berkunjung ke penginapan itu, pemilik penginapan tidak akan memiliki pemasukan.. Mari kita ramaikan dan kunjungi penginapan itu." Wisanggeni menasehati istrinya.
"Baik kakang.. maafkan Nimas sedikit silau.." ucap Rengganis menyetujui pendapat Wisanggeni.
Melihat ada pengunjung yang berdiri di depan penginapan, pemilik penginapan bergegas keluar menyambut kedatangan mereka. Laki-laki paruh baya itu tampak gembira, karena akhirnya ada orang yang mau melihat penginapannya.
"Selamat datang Ki Sanak.. apakah kalian membutuhkan tempat untuk menginap?" dengan sopan, laki-laki paruh baya itu bertanya pada Wisanggeni.
"Iya paman.. siapkan dua kamar untuk kami. Ini istri dan putriku.." Wisanggeni tersenyum menyambut keramahan pemilik penginapan itu.
"Baik.., baik.. mari masuklah dulu ke dalam. Kalian bisa memilih kamar sesuai dengan dana yang kalian miliki." tanpa melakukan pemaksaan, pemilik penginapan meminta mereka untuk masuk ke dalam.
"Siapkan kami dua kamar yang paling mahal di penginapan ini. Kami akan segera istirahat.." Wisanggeni tidak bertanya tentang harga kamar, tetapi langsung meletakkan kepingan emas di atas meja pemilik penginapan.
"Ki Sanak.. tidak adakah kepingan koin yang lebih kecil. Kami tidak memiliki keping kembalian, karena sudah sangat lama tidak ada tamu yang berkunjung, apalagi menginap di tempat ini. Hal itu terjadi, setelah penginapan yang besar itu berdiri Ki Sanak.." dengan muka merah menahan malu, pemilik penginapan mengembalikan kepingan emas pada Wisanggeni.
"Paman.. tidak perlu paman berikan keping kembalian untuk kami. Sediakan makanan selama kami menginap di tempat ini paman.. sebagai imbalan atas keping kembalian tersebut." Wisanggeni mengganti keping kembalian, dengan pelayanan makanan untuk mereka selama berada di kota ini.
"Baik.., baiklah jika begitu. Ikutilah putraku.. dia akan menunjukkan dimana kamar untuk Ki sanak bertiga." dengan ramah, pemilik penginapan menunjuk kepada putranya.
__ADS_1
*******
Karena Wisanggeni memesan dua kamar untuk mereka bertiga, Rengganis berada dalam satu kamar dengan putrinya Parvati. Sedangkan laki-laki itu berada dalam sebuah kamar sendiri. Sesuai dengan kamar yang dipilihnya, kamar yang ditempati Wisanggeni terlihat bersih, tidak seperti dinding di luar penginapan. kamar itu memiliki ukuran yang besar, dengan tempat untuk mandi disediakan di dalam kamar tersebut.
Sejak mereka masuk ke dalam kamar, Wisanggeni dan Rengganis sudah merasakan jika ada yang mengikuti mereka. Orang-orang itu ada di atap genteng tempat mereka menginap, namun kedua orang itu mencoba mengabaikannya. Mereka akan melihat, sejauh mana keberanian mereka untuk mengganggu.
"Huh.. kroco-kroco itu beraninya main belakang. Berarti penginapan ini sepi, bukan karena dijauhi oleh pengunjung yang menjadi penyebabnya. Bisa jadi, apra pengunjungnya mendapatkan penindasan, sehingga tidak menginap di penginapan ini." Wisanggeni berpikir sendiri.
Setelah membersihkan tubuhnya, Wisanggeni ingin melakukan meditasi. Laki-laki itu kemudian duduk bersila di atas ranjang, dan mulai memejamkan matanya. Kedua tangannya diletakkan di atas lutut, dengan mempertemukan antara jari manis dengan ibu jari. Sesaat kemudian, laki-laki itu sudah masuk dalam ranah meditasi, dan semua panca indera yang dimilikinya terbuka.
Energi tebal seperti kabut membanjir keluar dari tubuh laki-laki itu, membentuk semacam tabir putih yang menyelimuti tubuh Wisanggeni. Dengan cepat, Wisanggeni menggerakkan kedua tangannya, mengolah energi tersebut, menyesuaikan dengan rasa dan karsanya. Tiba-tiba energi tebal itu memenuhi kamar tempat laki-laki itu bersemedi, dan perlahan ke atas menembus bambu dan genteng kamar tersebut.
"Aaakh.. dadaku kenapa tiba-tiba sesak..?" tiba-tiba terdengar suara mengaduh kesakitan dari atas genteng kamar yang ditempati Wisanggeni.
"Aku juga.. ada apa ini. Apakah ada orang sakti yang mengirimkan serangan kepada kita." satu orang lagi menyahuti.
Wisanggeni terdiam mendengar suara-suara di atas, bukannya dia tidak mendengar, Tetapi laki-laki itu memang ingin memberikan pelajaran pada orang yang melakukan penindasan pada orang yang lain.
********
__ADS_1